
Davira hanya diam dengan rasa penasaran dan pertanyaan-pertanyaan yang sudah muncul di kepalanya. Nathan dan pria yang bersama Emma barusan terlihat tidak akur, aura permusuhan keduanya begitu kentara.
"Ada lagi yang ingin kau beli?" tanya Nathan yang langsung mendapat gelengan kepala dari Davira.
"Sudah tidak ada, kita pulang saja," jawabnya membuat Nathan berpikir untuk sejenak.
"Kenapa?" Davira mengernyit melihat raut wajah pria itu.
"Mari kita ke pantai," ucap Nathan langsung membuat mata Davira berbinar mendengarnya.
"Pantai? Kau serius kita akan ke pantai?" tanya Davira terdengar bersemangat.
Nathan tersenyum tipis kemudian mengusap puncak kepala wanita itu.
"Aku tahu kau akan senang."
Mereka berdua segera masuk ke dalam mobil dan menyuruh Elio untuk mengemudikannya ke pantai terdekat. Mobil itu mulai melaju membelah jalan raya.
Nathan terus memandangi senyuman di wajah Davira yang tidak kunjung luntur, dia tidak tahu bahwa ternyata cara membuat Davira bahagia begitu sederhana. Wanita itu bahkan terlihat lebih bersemangat dari pada saat dia membelikannya barang-barang bermerek. Mungkin karena Davira sudah terbiasa, jadi hal itu tidak lagi berarti untuknya.
Sekarang Nathan semakin memahami Davira, dan dia berharap selalu bisa membuat bibir itu tersenyum ketika bersamanya.
"Kenapa senang sekali memandangiku?" tanya Davira dengan semburat merah di pipinya.
"Memangnya siapa yang tidak senang memandangi mu?" Nathan mengangkat satu alisnya kemudian mengusap lembut pipi Davira dan mencubitnya pelan, Nathan benar-benar merasa gemas kepada Davira.
Nathan tidak mengerti dengan dirinya, dulu dia merasa tertarik kepada Davira karena kecantikan dan keberanian wanita itu. Nathan jatuh cinta pada sikap dingin dan kejam yang selalu Davira perlihatkan kepada orang banyak. Tetapi saat sikap Davira yang asli mulai terlihat, nyatanya Nathan semakin jatuh cinta.
Tiba-tiba saja Nathan menjadi menyukai sikap manja, pemalu dan juga lembut. Padahal Nathan selalu membenci wanita yang seperti itu, tapi saat Davira yang melakukannya, semuanya terasa sempurna di matanya.
Rupanya selama ini dia tidak jatuh cinta kepada sifat, tetapi murni kepada Davira. Jadi bagaimana pun perilaku wanita itu, dia akan selalu menyukainya. Baik itu lembut ataupun kasar, yang terpenting wanita itu adalah Davira.
Davira terkekeh, "Apa aku secantik itu, Nathan?"
"Apa kau tidak pernah bercermin Davira?"
"Kenapa kau selalu menjawab pertanyaan ku dengan pertanyaan? Benar-benar menyebalkan," Davira menyandarkan punggungnya dengan tatapan tajam kepada Nathan.
"Karena kau menanyakan sesuatu yang kau sudah tahu pasti apa jawabannya. Kau tahu aku memandangi mu karena aku sedang menikmati kecantikan mu, lalu untuk apa lagi bertanya, Davira?"
Nathan tersenyum kecil kemudian menyandarkan kepala di bahu Davira hingga membuat wanita itu cukup terkejut.
"Kau seperti anak kecil, bagaimana jika musuh-musuh mu tahu bahwa ternyata kau seperti ini?" Davira terkekeh kemudian mengusap kepala Nathan.
Mendapat usapan lembut di kepalanya membuat hati Nathan terasa menghangat, dia seolah sedang mendapatkan kasih sayang yang selalu dia dambakan. Usapan lembut Davira benar-benar membuatnya merasa tenang dan bahagia, entah sudah berapa lama kepalanya tidak di usap. Mungkin sejak dia berumur 7 atau 8 tahun.
"Musuh-musuhku tidak akan melihat aku seperti ini," ucap Nathan dengan tangan yang menggenggam tangan Davira.
"Nathan, aku memiliki beberapa pertanyaan yang aku tidak tahu jawabannya."
Nathan sontak mengangkat kepalanya dan kembali menatap Davira, tiba-tiba saja dia merasa takut jika Davira menanyakan sesuatu yang bisa membuat hubungan keduanya kembali memburuk dan merusak suasana bahagia keduanya.
"Tentang apa, Davira?"
"Tentang kejadian di mall," jawab Davira membuat Nathan bernafas lega di dalam hati.
"Memangnya apa yang terjadi saat di mall?" Nathan kembali menyandarkan kepalanya di bahu wanita itu.
Davira berdecak kesal, "Tidak terjadi apa-apa, tapi aku merasa penasaran. Sebenarnya apa hubungan Emma dan pria yang tadi? Dan kenapa kau dan pria itu seperti bermusuhan? Aku melihat wajah Emma yang langsung panik dan khawatir saat kita mendatangi mereka, seperti orang yang ketahuan berselingkuh. Apa kalian berpacaran?"
Nada bicara Davira terdengar sedikit ketus di akhir kalian terakhirnya. Hal itu membuat Nathan tersenyum kecil.
"Mana mungkin aku mempertemukan kekasihku dengan tawanan ku, Davira."
"Benar juga, lalu?"
"Emma dan Erick berteman, sama seperti Emma dan diriku," jawab Nathan, namun Davira masih belum puas mendengar jawaban tersebut.
"Bagaimana bisa kau berteman dengan seorang wanita? Ku lihat Emma adalah wanita yang lembut dan penuh tata krama, sangat aneh karena Emma bisa bergaul dengan pria tidak beraturan sepertimu."
"Kau menghinaku, Davira?"
"Itu adalah faktanya, Nathan," jawab Davira santai.
"Terkadang fakta adalah hinaan," timpal Nathan lalu menegakkan kembali tubuhnya.
__ADS_1
"Begini, Davira. Aku dan Emma sudah berteman sedari kami kecil karena ayahku dan ayahnya juga sudah bersahabat dalam dunia bisnis. Emma dan aku memang sangat berbeda, dunia yang dijalani Emma terlalu bersih. Sedangkan aku? Kau tahu sendiri bagaimana. Tapi dia tetap bersikeras untuk menjadi sahabatku, sedari kecil dia selalu datang ke mansion sampai akhirnya aku terbiasa dengan keberadaannya dan benar-benar menganggapnya seperti seorang sahabat. Seorang adik perempuan yang harus dilindungi, jadi ku harap kau tidak salah paham terhadapnya."
Davira berdehem singkat, "Aku tidak pernah salah paham, lagi pula bukan urusanku jika kau dan dia memiliki hubungan spesial."
"Jangan berkata seperti itu," tegur Nathan merasa tidak suka.
Nathan tidak ingin jika Davira berpikiran bahwa dia dan Emma memiliki hubungan spesial, karena Nathan tidak akan pernah dan tidak bisa mencintai Emma. Hanya Davira, dan selamanya Davira yang bisa.
"Jadi kenapa kau dan pria bernama Erick itu seperti sedang perang dingin? Padahal kalian sama-sama teman Emma, kenapa tidak berteman saja kalian berdua?"
Davira terus mencercanya berbagai pertanyaan tentang Erick, dan Nathan tidak berniat untuk menjawabnya. Dia hanya diam membuat Davira merasa kesal dan melayangkan tatapan tajam. Nathan terkekeh kecil, dia kira selama ini Davira benar-benar seorang wanita dingin dan tidak peduli dengan sekitarnya. Ternyata Davira memiliki keinginantahuan yang sangat besar.
"Nathan, kau sangat menyebalkan. Kenapa tidak pernah menjawab pertanyaan ku?" Davira menarik tangannya dari genggaman Nathan.
"Kita sudah sampai," Nathan turun dari mobil terlebih dahulu.
Sebelum Nathan membukakannya pintu, dia langsung turun secara buru-buru membuat Nathan geleng-geleng kepala. Wajah Davira yang awalnya begitu ketus langsung berusaha ketika melihat pantai di depan matanya.
"Ini sangat indah," gumam Davira ingin segera berlari, namun tangannya segera ditahan oleh Nathan.
"Aku tidak akan kabur, Nathan," ucap Davira berusaha melepaskan tangannya dari cekalan Nathan.
"Kau harus melepas high heels mu jika ingin berlarian di pantai," Nathan berjongkok di hadapan Davira, membuat wanita itu sedikit terkejut melihatnya.
"A-aku bisa melepaskannya sendiri."
"Aku bisa melepaskannya untukmu," sahut Nathan lalu mengusap punggung kaki Davira yang begitu mulus.
Davira mengangkat sedikit kakinya untuk memudahkan Nathan melepaskan high heels yang ia kenakan. Setelah selesai, Nathan meletakkannya di dalam mobil.
"Sekarang kau bisa berlarian."
Davira tersenyum lebar dan segera berlari ke tepi pantai untuk menyambut air laut dengan kakinya. Angin berhembus begitu kencang, rambut panjangnya berkibar ke sana - ke mari, terlihat begitu indah membuat Nathan lebih fokus memandanginya dari pada pantai di hadapannya.
Nathan melangkah menghampiri Davira yang kini berdiri menyambut ombak yang datang menyapu bibir pantai. Dapat ia lihat senyuman cerah di wajah wanita itu.
"Teruslah tersenyum Davira, aku menyukai senyummu," gumam Nathan begitu pelan.
Melihat Davira yang mulai memejamkan matanya membuat Nathan tersenyum tipis, Davira benar-benar menikmati hembusan angin kencang yang menerpa tubuhnya.
"Aku memang sangat menyukainya, Nathan," ucap Davira kemudian membuka matanya untuk menatap wajah Nathan.
"Lalu kenapa kau sangat jarang ke pantai?" tanya Nathan membuat Davira tertegun untuk sejenak.
"Karena aku tidak memiliki teman," jawab Davira lalu mengalihkan pandangannya.
Davira menatap ke arah depan, langit di atas sana begitu cerah. Melihat ombak yang bergulung kecil membuatnya merasa tenang, Davira sangat menyukai pantai sampai rasanya dia ingin ke sana setiap harinya.
Namun sayangnya pekerjaannya tidak memungkinkan hal itu, dia terlalu sibuk. Dia juga tidak memiliki teman yang bisa dia ajak untuk menemaninya ke pantai, selama ini dia bertemankan para pengawal dan hanya Damian yang selalu ada sebagai teman ataupun kekasihnya. Dan sialnya, Damian tidak menyukai pantai, sama sekali tidak suka.
Davira pernah mengajak Damian, pria itu setuju karena dia terus memaksa. Dan Davira menyesal karena telah memaksa, Damian berdiam diri di dekat mobil dan membiarkannya sendirian bermain di pantai, sangat tidak menyenangkan.
"Aku merasa bingung saat kau memiliki seorang sahabat wanita, karena selama ini ku kira kehidupan seperti yang kita jalani saat ini tidak akan bisa membuat kita memiliki seorang teman. Tapi ternyata hanya aku yang mengalaminya," ucap Davira tersenyum miris.
"Sekarang kau tidak akan sendirian lagi, kau pergi aku pergi."
Davira menatap Nathan lekat-lekat, "Tapi kau bukan temanku, bukankah kau mengatakan bahwa kau pemilik ku?"
Nathan sontak tertawa mendengarnya lalu mengalungkan kedua tangannya di leher Davira.
"Aku pemilik mu, jadi aku akan selalu menemanimu. Kau menyukai pantai, maka kita ke pantai."
"Kau juga menyukai pantai?" tanya Davira merasa penasaran.
"Aku menyukaimu," jawab Nathan sembari merapikan rambut Davira yang mulai menghalangi wajah cantiknya.
"Aku serius bertanya."
"Aku juga serius menjawab, kau suka membaca, aku akan menemanimu karena aku menyukaimu. Kau suka pantai, dan aku di sini bersamamu."
Davira tertegun di tempatnya, tenggelam di dalam netra milik Nathan yang benar-benar membuatnya merasa terpaku. Ini kali pertama Davira merasakan cinta yang begitu besar, dia dapat merasakannya dari Nathan. Mungkin karena obsesi dan cinta adalah sesuatu yang berbeda tipis, Nathan memiliki keduanya dan Davira bisa merasakannya.
Dia tahu, perasaan Nathan begitu besar. Pria itu selalu ingin memilikinya dan itu adalah sebuah obsesi, tetapi kini Nathan sudah mendapatkannya. Dan itu ternyata cinta, Nathan benar-benar mencintainya.
Tiba-tiba saja Davira memeluk tubuh Nathan, menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu. Nathan begitu terkejut karena pelukan Davira yang tidak ia duga-duga.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Nathan segera membalas pelukan wanitanya.
"Aku hanya ingin memelukmu," jawab Davira membenamkan wajahnya di dalam pelukan Nathan yang benar-benar terasa nyaman.
"Aku menyukai jawabanmu."
Cukup lama mereka berpelukan hingga akhirnya Davira melonggarkan, ia mendongakkan kepalanya untuk bisa menatap wajah Nathan yang masih memeluk pinggangnya.
"Aku ingin mengambil foto," ucap Davira membuat Nathan segera mengeluarkan ponselnya.
"Aku akan mem-fotomu."
Davira tersenyum dan segera melangkah mundur untuk mengambil posisi menghadap pantai. Nathan tersenyum kecil sembari terus menangkap wajah cantik Davira dengan kamera ponselnya.
"Apakah aku terlihat cantik?"
"Kau terus menanyakan hal itu, Davira," jawab Nathan bahkan mulai mengambil beberapa foto Davira yang bahkan belum siap, tetapi tetap terlihat cantik.
"Sudah, sekarang denganmu," Davira menghampiri Nathan dan merebut ponselnya.
"Denganku?"
Davira mengangguk cepat, "Kau tidak ingin?"
"Mari mengambil foto."
Davira tersenyum miring dan segera mengangkat ponsel milik Nathan untuk mengambil selfie mereka berdua, Davira terkekeh kecil karena raut wajah Nathan begitu datar, tanpa ekspresi dan itu sangatlah lucu untuk Davira.
"Bisakah kau tersenyum?"
"Apakah harus?"
"Tidak, tapi aku ingin kau tersenyum di foto," jawab Davira membuat Nathan langsung memasang senyum tipis di wajahnya.
Davira tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia mengambil beberapa foto dengan tangan Nathan yang memeluk dirinya.
"Elio!" teriak Davira memanggil Elio yang sedang berdiri di samping mobil bagaikan robot.
"Untuk apa memanggilnya?"
"Aku ingin foto full badan denganmu," jawab Davira kembali berteriak membuat Elio segera menghampirinya.
"Ada apa Nona?"
"Tolong foto kami berdua," Davira memberikan ponsel Nathan kepada Elio dan segera berdiri di sebelah Nathan yang langsung merangkulnya.
Davira tersenyum lebar ke kamera sembari memeluk Nathan menyamping, bahkan beberapa foto memperlihatkan dia yang sedang tertawa dan Nathan yang lebih memilih untuk menetap wajahnya dari pada ke kamera.
Setelah selesai sesi berfoto ria, Davira dan Nathan duduk di tepi pantai tanpa mempedulikan pakaian mereka yang akan kotor.
"Sepertinya sunset masih sangat lama," gumam Davira menatap hamparan pasir dan laut di depannya.
"Kau ingin melihatnya?"
Davira tersenyum kecil, "Masih beberapa jam lagi, kita bisa melihatnya lain kali."
"Kita bisa menginap, ada penginapan di sekitar sini," ucap Nathan membuat Davira benar-benar merasa diprioritaskan.
Nathan menunjukkan bahwa dia mendahulukan kebahagiaan dan keinginan Davira.
"Kenapa kau menjadi begitu baik setelah memilikiku, Nathan? Dan kenapa kau begitu jahat saat ingin menjadikanku milikmu?" tanya Davira tanpa ingin menatap wajah Nathan.
Pria itu hanya diam, tidak bisa mengatakan apapun untuk saat ini. Dia tidak memiliki jawaban untuk diberikan kepada Davira, masih belum memilikinya.
Davira tersenyum tipis, "Nathan, apakah kau memang berada di balik pembantaian keluargaku di malam itu? Kau hanya perlu menjawab 'ya' atau 'tidak', ku mohon beri aku jawaban."
Mata Davira mulai terasa memanas setiap kali mengingat tentang keluarganya yang benar-benar telah habis dibantai pada malam itu.
Nathan terdiam selama beberapa saat, keduanya saling menatap satu sama lain dengan perasaan yang sulit untuk di artikan.
"Tidak, bukan aku Davira."
Satu tetes cairan bening langsung keluar dari pelupuk mata Davira tanpa bisa ia tahan-tahan lagi, jawaban Nathan sontak membuatnya sedikit bisa bernafas lebih lega. Rasa sesak di dadanya sedikit berkurang mendengarnya.
Melihat Davira yang meneteskan air mata membuat Nathan segera menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Aku sangat takut kau mengatakan 'iya', Nathan."