Tawanan Tuan Xie

Tawanan Tuan Xie
Part 65 - Fakta yang Sebenarnya


__ADS_3

"Selamat datang Jonathan, senang karena akhirnya kau datang untuk menengok tawanan mu."


"Apakah semuanya aman, Carlos?" tanya Nathan dengan tangan yang terus menggenggam tangan Davira saat mereka mulai memasuki mansion milik Carlos.


Mansion itu sangat besar namun tidak terkesan mewah sama sekali, di dalamnya tidak terlihat adanya benda-benda mahal yang biasanya akan dipajang agar setiap orang yang melihatnya merasa terpukau.


Tapi sepertinya Carlos lebih suka mansionnya di isi oleh barang-barang klasik dan antik yang malah membuat mansionnya menjadi terlihat tua.


"Semuanya aman, Jonathan. Tawanan mu juga masih bernafas, sesuai dengan permintaanmu."


"Bagus, pengamanan di mansion mu ternyata sangat ketat," ucap Nathan sembari memperhatikan puluhan pengawal bersenjata yang terus terlihat berada di segala penjuru mansion.


"Itu harus, pengamanan tidak boleh longgar karena aku masih ingin hidup," Carlos terkekeh kecil lalu melirik Davira.


"Dia ini.....wanita malang yang kau ceritakan?" tebak Carlos membuat Davira mengernyit.


Nathan sontak berdecak, "Jangan berkata seperti itu," desisnya tidak ingin Delleraz berpikir bahwa dia telah menceritakan hal-hal yang menyedihkan tentangnya kepada Carlos.


Carlos tertawa, "Maksudku, apakah dia Davira Handoko?"


"Iya benar, kenapa? Apa yang Nathan ceritakan kepadamu?" tanya Davira dengan tatapan penuh selidik.


"Bukan apa-apa, Jonathan hanya bercerita sedikit tentangmu agar aku tidak merasa kebingungan saat bertemu denganmu dan saat menampung seorang pria yang merupakan tahanan Jonathan di ruang bawah tanahku."


"Siapa yang sebenarnya kau tahan, Nathan?" tanya Davira beralih menatap Nathan.


"Seseorang yang kau kenali, kau akan merasa terkejut melihatnya," jawab Nathan membuat jantung Davira semakin berdebar-debar.


"Yang pasti bukan Damian, dia benar-benar sudah mati," ucap Nathan tidak ingin jika Davira berharap Damian tetap hidup.


"Aku tidak mengatakan dia sudah hidup, kau sendiri yang menembak kepalanya di depan mataku," Davira memutar bola matanya walaupun dadanya masih terasa sesak mengingat kejadian waktu itu.


Biar bagaimanapun dia mencintai Damian, sebelum Nathan merenggut nyawa pria itu di hadapannya.


"Dia ada di dalam ruang tahanan, di sana ada beberapa penjaga, kau bisa menyuruh mereka keluar jika ingin privasi. Aku tidak akan ikut," ucap Carlos saat mereka sudah sampai di depan pintu ruang bawah tanah yang terbuka.


"Terima kasih banyak, Carlos. Aku akan menghargai apa yang kau lakukan untukku saat ini."


Carlos hanya tersenyum mendengar ucapan terima kasih dari Nathan yang selama ini dikenal dengan keangkuhannya.


"Sama-sama, aku siap membantumu dalam hal apapun. Kecuali jika itu menyangkut uang, karena aku tidak bisa memberikan uang sebanyak yang kau miliki," Carlos tertawa kemudian menepuk pelan pundak Nathan sebelum melangkah pergi.


"Apa saya juga perlu masuk, Tuan?" tanya Paul yang mana langsung mendapat anggukan kepala dari Nathan.


Mereka bertiga segera masuk ke dalam ruang bawah tanah dengan menyusuri tangga, Paul memberi isyarat agar para penjaga yang berada di sana segera menjauh meninggalkan mereka.

__ADS_1


Langkah kaki Davira memelan saat mereka semakin mendekat ke arah satu-satunya ruang tahanan yang lampunya dihidupkan.


Dapat Davira lihat seseorang tengah meringkuk di sudut ruangan, membuatnya tidak bisa melihat dengan jelas karena cahaya lampu tidak menyinari sampai ke sana.


"Ada yang mengunjungimu, mendekatlah," ucap Nathan membuat orang itu segera mengangkat wajahnya secara perlahan.


Pria itu terdengar meringis kesakitan sembari bergeser ke arah cahaya, sedikit mendekat pada jeruji yang sudah cukup lama mengurungnya.


"Arghh.....kau datang, tolong bunuh saja aku. Aku sudah tidak tahan lagi, kau sudah mengetahui semuanya, tidak ada lagi yang harus kau ketahui," pria itu masih belum menyadari kehadiran Davira, ia terus menatap Nathan dengan mata yang begitu berharap Nathan akan segera membunuhnya.


Sudah cukup lama dia disiksa terus menerus kemudian di obati saat hampir mati lalu kembali disiksa ketika sudah pulih, dia benar-benar seperti berada di neraka.


"Aku memang sudah mengetahui semua kebenaranya, tapi tidak dengan Davira."


Pria itu sontak tertegun kemudian menoleh pelan ke arah Davira yang sedari tadi hanya diam di tempatnya. Wanita itu terlihat begitu terkejut dan seolah tidak percaya dengan apa yang saat ini dilihat oleh mata kepalanya.


"Keenan?"


Davira menatap sepupu dari Damian yang ia kira telah mati di hari pernikahannya seperti yang lainnya, tetapi ternyata pria itu masih hidup dan kini berada di balik jeruji besi sebagai seorang tawanan Tuan Xie.


"Davira aku-"


"Apa yang sudah terjadi sebenarnya?" Davira menatap Keenan dan juga Nathan secara bergantian.


"Bukankah Keenan juga sudah tiada? Bagaimana bisa dia berada di sini? Apa yang kau lakukan kepadanya?"


"Dia masih hidup karena aku memang sengaja menyuruh orang-orang untuk tidak membunuhnya, aku sengaja menculiknya untuk mencari tahu kebenaran tentang kecurigaanku terhadap mereka semua. Aku tidak memiliki cukup bukti waktu itu, tapi aku memiliki keyakinan yang kuat dan aku mengambil resiko dengan membantai seluruh keluarga Lee di hari pernikahanmu."


Nathan menatap Keenan, "Sekarang ceritakan semuanya kepada Davira, jika kau benar-benar ingin penderitaanmu berakhir."


Davira segera berjongkok membuat dirinya kini berhadapan dengan Keenan, ia memperhatikan tubuh kurus Keenan dan juga seluruh lebam yang tampak masih baru.


Davira tertegun saat melihat satu kaki Keenan.


"Kakimu patah?"


Keenan hanya mengangguk pelan tanpa berani menatap wajah Davira.


"Keenan katakan sesuatu, apa saat ini kau berada di bawah ancaman? Apa Nathan memaksamu mengakui sesuatu yang tidak pernah kalian lakukan?"


"Aku tidak pernah memaksanya untuk mengakui hak yang bukan kesalahannya Davira."


"Diamlah Nathan!" sentak Davira kembali beralih menatap Keenan.


"Tolong katakan sesuatu, Damian tidak mungkin melakukan hal itu bukan? Damian tidak mungkin membunuh keluargaku hanya untuk menguasai semua bisnis dan asetku bukan?" tanya Davira penuh harap.

__ADS_1


"Memang Damian pelakunya, Davira. Kami adalah dalangnya," ucap Keenan sembari mengangkat kepalanya.


Air mata yang sedari tadi ditahan-tahan oleh Davira langsung luruh seketika, hatinya hancur mendengar pengakuan Keenan.


"Jangan mengatakan kebohongan," gumam Davira masih belum bisa percaya.


"Dengarkan aku, Davira. Semua yang ku katakan saat ini adalah kebenaran dari sesuatu yang selama ini kau cari-cari, aku sudah tidak tahan lagi disiksa, mungkin setelah aku menceritakan semua fakta ini aku akan segera dibunuh, karena itu lebih baik untukku. Jadi dengarkan aku baik-baik."


Davira terduduk di lantai yang kotor, air matanya terus mengalir tanpa diminta.


"Kami sudah lama merencanakannya, Om Rayn, Tente Amanda, ayahku, semuanya terlibat. Seluruh keluarga Lee mengincar bisnis kalian yang meroket tinggi, selain itu aset-aset yang kalian miliki bernilai fantastis. Damian memang mencintaimu, tahun pertama hingga tahun kedua dia adalah pria yang benar-benar tulus mencintaimu. Tapi permintaan Tante Amanda, nenek, dan juga semua keluarga membuat pandangan Damian berubah. Damian akhirnya setuju dengan rencana itu, dia menjadi terobsesi untuk menguasai semua yang dimiliki oleh keluarga Handoko."


Keenan menghela nafas panjang, ia menatap wajah Davira yang kini sudah tidak memperlihatkan ekspresi apapun, wanita itu bahkan mulai menyeka kasar air matanya.


"Setelah semua rencana matang, Damian tentunya ingin kau tetap hidup agar kau bisa menjadi istrinya. Kau sendirian, hal itu akan memudahkan rencana kami untuk menguasai semua bisnis peninggalan keluargamu. Itulah kenyataannya, Davira. Semuanya palsu, kau hidup dalam kebohongan Damian dan kami semua selama bertahun-tahun hingga puncaknya kau kehilangan hampir seluruh anggota keluargamu," Keenan tertegun untuk sejenak sebelum kembali melanjutkan ucapannya.


"Menjebak keluarga Xie adalah rencana kami, dengan mentatto beberapa anak buah kami dengan tatto yang biasa digunakan oleh kelompok Xie, itu akan membuat tuduhan mengarah kepada mereka. Kau harus tahu Davira, Damian turun langsung dalam pembantaian itu. Dan aku......adalah salah satu dari orang yang menembak kedua orang tuamu."


Davira mengepalkan tangannya kuat kemudian berdiri pelan sembari menahan rasa sesak di hatinya. Davira marah, terluka dan juga hancur. Dia benar-benar merasa begitu bodoh, telah ditipu habis-habisan oleh Damian dan juga seluruh keluarga Lee yang selama ini sangat ia percaya.


Davira menyeka air matanya yang jatuh lalu melayangkan tatapan yang begitu dingin kepada Keenan.


"Katakan padaku bahwa kau sedang ditekan, katakan bahwa itu semua hanyalah kebohongan."


Keenan menggeleng pelan, "Tidak Davira, aku tidak akan berbohong lagi. Itu semua adalah kebenaran, jika kau ingin bukti nyata, aku sudah menyerahkan bukti cctv yang selama ini disembunyikan oleh Damian."


Mendengar hal itu membuat Davira segera mendekat kepada Nathan kemudian mengambil pistol yang ada di pinggang pria itu.


"Maafkan aku Davira," gumam Keenan penuh penyesalan. 


Tanpa mengatakan apapun lagi, Davira langsung menarik pelatuknya, membuat timah panas mendarat di dada Keenan.


Dor. 


Tidak hanya satu tembakan, Davira membuat Keenan dihujani oleh puluhan timah panas hingga pada peluru terakhir, Davira menembakkannya tepat mengenai kepala Keenan.


Pistol itu langsung terlepas dari tangan Davira, tubuhnya seketika lemas, dadanya benar-benar terasa sesak seolah sedang dihimpit oleh sesuatu.


Nathan sontak menarik tubuh Davira ke dalam pelukannya, ia mendekap erat tubuh Davira yang mulai bergetar.


"Kenapa harus Damian?" gumam Davira membuat Nathan mengusap pelan kepalannya..


Nathan tahu bahwa Davira pasti akan sangat terluka ketika mengetahui kebenaran ini. Nathan mendekatkan mulutnya ke telinga Davira. 


"You have me, Davira. And you know i alawsy be there to hold you." 

__ADS_1


__ADS_2