Tawanan Tuan Xie

Tawanan Tuan Xie
Part 27 - Melewati Batas!


__ADS_3

Nathan hanya diam setelah mendengar jawaban Davira yang mengatakan bahwa para berandal jalanan itu sudah habis di tangan anak buahnya. Nathan merasa lega karena mereka menemukan Davira tepat waktu, dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika Davira terluka lebih dari ini.


Nathan tampak begitu fokus mengobati luka di lutut Davira, pria itu mulai melilitkan perban dengan sangat hati-hati. Setelah selesai dengan urusan luka di lutut Davira, Nathan menurunkan kaki wanita itu dari atas pahanya. Ia bergeser ke depan, semakin mendekat kepada Davira membuat wanita itu menatapnya waspada.


"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Davira panik ketika Nathan menarik tengkuknya hingga wajah mereka berdua semakin dekat jaraknya.


Nathan memegang wajah Davira dengan satu tangannya, keduanya saling menatap selama beberapa saat dengan cara pandang yang sangat berbeda. Mata Nathan beralih menatap bibir Davira, wanita itu tentunya mulai merasa gugup ditatap seperti itu dari jarak yang begitu dekat dan dengan wajah yang masih ditahan oleh Nathan.


"A-aku tidak akan memaafkan mu jika kau menciumku lagi, Nathan," ucap Davira memperingati, namun hal itu malah membuat Nathan terkekeh kecil.


Entah mengapa wajah gugup Davira dan segala kecurigaan wanita itu tentangnya terasa begitu menggemaskan baginya.


"Dan jika aku tidak menciummu, apakah kau akan memaafkan ku?" Nathan menatap manik mata Davira yang kini terpaku membalas tatapannya.


"Tentu saja tidak akan, kau pikir setelah semua yang terjadi, aku akan memaafkan mu begitu saja?"


Natha segera mengeluarkan anti septik dari kotak obat dan menuangkannya pada kapas, pria semakin memajukan wajah Davira agar dia lebih mudah mengobati luka di sudut bibir wanita itu.


Davira meringis pelan merasakan perih dan dia cukup kaget karena ternyata Nathan ingin mengobati lukanya, bukan menciumnya. Padahal dia sudah menuduh pria itu, dan sekarang dia merasa malu.


"Aku lupa dengan kenyataan itu, tidak masalah jika kau tidak akan pernah memaafkan ku. Setidaknya kau berada di sini dan menjadi milikku, bukan hanya untuk saat ini, tapi untuk selamanya."


"Kau sudah gila, Nathan. Aku akan membalas dendam padamu," desis Davira kembali teringat dengan kejadian di hari pernikahannya, dan setiap kali kejadian itu terlintas di pikirannya. Maka kebenciannya kepada Nathan bertambah seratus kali lipat.


"Aku tahu, aku akan waspada terhadapmu," ucap Nathan kemudian mengecup bibir wanita itu.


Tubuh Davira seketika menegang, ia menatap Nathan dengan mata yang melebar.


"Menciummu atau tidak, bukankah kau tidak akan pernah memaafkan ku? Keduanya sama saja, jadi aku lebih memilih untuk menciummu."


"Kau!" bentak Davira bersamaan dengan tangannya yang melayang ke pipi kiri Nathan.


Plaak.


Suara tamparan terdengar begitu renyah, Nathan hanya tersenyum kecil walaupun pipinya terasa panas.


Cup.


Nathan mengecup pipi Davira kali ini, dan sebuah tamparan kembali mendarat di pipinya.


"Kau benar-benar keterlaluan Nathan!" teriak Davira kemudian meraih bantal di dekatnya kemudian memukul Nathan berkali-kali.


"Aku membencimu! Kau sudah melewati batas mu!"


Nathan menangkap tangan Davira lalu melempar asal bantal yang dipegang oleh wanita itu. Nafas Davira terdengar memburu, ia menatap Nathan dengan nyalang.


"Kau yang sudah melewati batas mu, sayang."


Davira mengernyit mendengarnya, "Kau yang mencium ku tapi aku yang sudah melewati batas? Arghh....... kau memang sudah gila ternyata, dan jangan pernah memanggil aku dengan sebutan itu lagi!"


"Batas mu memang sudah kau lewati Davira!" sentak Nathan dengan suara yang meninggi membuat Davira tersentak kaget.


"Kau adalah milikku, sudah ku katakan berulang kali kepadamu. Tidak seharusnya kau melarikan diri dariku, dan ini terakhir kalinya aku membiarkanmu melewati batas mu, Davira," ucap Nathan dengan penuh penekanan di akhir kalimat.


Tatapan Nathan berubah menjadi begitu mengintimidasi hanya dalam waktu sekejap, Nathan melepaskan cekalan nya dari pergelangan tangan Davira, ia mengusap pelan kepala wanita itu sebelum berdiri.


"Sebaiknya ganti pakaian mu yang basah kuyup ini, setelah itu istirahat lah dan renungkan kesalahanmu. Kau harus sadar bahwa tidak ada tempat aman untukmu selain bersamaku, sekarang kau benar-benar sendirian Davira, dan hanya aku yang bisa melindungimu karena aku adalah pemilik mu. Tidak akan ku biarkan milikku terluka," tangan Nathan bergerak mengelus pipi Davira.


"Aku bukan barang, Nathan. Kau benar-benar merendahkan ku!" Davira merasa tidak terima saat Nathan mengatakan bahwa dirinya adalah milik pria itu berulang kali, dia juga tidak terima saat dia diposisikan sebagai orang yang bersalah di situasi mereka sekarang ini.


Melarikan diri bukanlah sebuah kesalahan, itu memang hal yang harus dia lakukan. Kesalahan dia hanyalah satu, yaitu bertemu dengan para berandal hingga dia harus kembali lagi kepada Nathan.


"Kau memang bukan barang, tapi kau adalah milikku. Jangan berusaha untuk menyanggah kenyataan ini, Davira," setelah mengatakan hal itu, Nathan berniat untuk keluar dari kamar.


Namun saat dirinya sudah berada di depan pintu, ia berbalik dan kembali menghampiri Davira yang sudah turun dari ranjang untuk pergi ke kamar mandi.


"Apa lagi?" tanya Davira begitu ketus.

__ADS_1


"Ini adalah kamarku," jawab Nathan yang baru tersadar, begitu juga dengan Davira.


"Baiklah, kalau begitu aku yang akan keluar."


Nathan segera menahan tangan Davira, "Diam lah, jangan kemana-mana. Tetaplah di kamar ini."


"Jadi kau yang akan pergi?" tanya Davira memastikan.


"Tidak, aku juga akan berada di sini," Nathan segera kembali ke pintu dan menguncinya agar Davira tidak bisa kabur darinya.


"Aku tidak mau Nathan! Aku tidak mau sekamar denganmu!"


"Berhenti berteriak dan ganti pakaianmu, kau mau masuk angin?" Nathan menjatuhkan tubuhnya di atas kasur dengan sangat nyaman.


Davira berdecak kesal kemudian melangkahkan kakinya dengan rasa bingung karena ada beberapa pintu di dalam kamar yang begitu luas itu.


"Kamar mandinya ada di balik pintu yang ada di sana," tunjuk Nathan membuat Davira segera berjalan dengan tertatih ke sana.


"Tunggu, aku harus mengganti pakaianku dengan apa?"


"Aku tidak ingin memanggil pelayan untuk mengambilkan mu pakaian," jawab Nathan yang kini sudah bersandar di ranjang.


"Kau benar-benar keterlaluan! Jadi kau ingin aku telanjang?!"


"Jadi kau ingin telanjang?" Nathan mengangkat satu alisnya.


"Tentu saja tidak, aku masih waras!"


Nathan terkekeh kemudian beranjak dari tempat tidurnya, pria itu segera berjalan memasuki walk in closet-nya, mata Davira terus mengikutinya hingga dia keluar dengan membawakan baju di tangannya.


"Pakailah ini," Nathan memberikan kaos berwarna hitam dan juga boxer membuat Davira tercengang menatapnya.


"Kau serius menyuruhku memakai kaos ini? Sangat besar dan apa ini? Aku tidak mungkin memakai boxer pria! Dan mana pakaian dalamnya?"


"Pakai kaos itu, kau lihat sendiri kaosnya akan sangat kebesaran di tubuhmu. Jadi kau tidak membutuhkan dalaman, lagi pula ukuran dada mu juga tidak sebesar itu dan tidak ada salahnya wanita memakai boxer pria. Atau kau ingin telanjang saja?"


Davira menggigit bibir bawahnya sembari meremas kuat kaos yang saat ini berada di pelukannya.


"Arghh Nathan sialan!" teriak Davira yang sebenarnya masih bisa didengar oleh pria yang sedang dia teriakkan namanya.


Nathan hanya tersenyum kecil kemudian kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, sedangkan Davira mulai memasang kaos serta boxer milik Nathan setelah menanggalkan seluruh pakaiannya yang sudah basah.


Davira menatap pantulan dirinya di cermin berukuran besar, kaos yang Nathan berikan benar-benar besar di tubuhnya yang jauh lebih kecil dari pada pria itu. Sekarang tubuhnya terlihat rata seolah dia tidak memiliki payudara, padahal dia tidak menggunakan bra, namun tidak ada apapun yang terlihat menonjol.


Davira memegang *********** sendiri dan mengingat perkataan Nathan yang mengatakan bahwa ukurannya tidak terlalu besar, Davira semakin merasa kesal dengan pria itu.


"Kau tidak melihat saja," gumam Davira merasa sangat tidak terima.


Davira segera mengenakan boxer berwarna hitam yang mana langsung tenggelam karena tertutup oleh kaos yang ia kenakan. Sesekali Davira menariknya ke atas karena terasa longgar.


Dapat Davira hirup aroma khas Nathan yang dari kaos yang ia kenakan, Davira menghela nafasnya panjang. Tubuhnya benar-benar merasa lelah dan juga sakit, dia memang perlu istirahat. Namun saat ini dia sedang berada di kamar Nathan.


"Bagaimana mungkin aku bisa istirahat dengan tenang jika ada Nathan yang sangat menyebalkan itu, sepertinya dia benar-benar berniat menyiksaku dengan cara yang halus," Davira membatin.


Ia menatap rambutnya yang terlihat kusut karena tidak di sisir, tapi Davira tidak berniat untuk melakukannya.


"Biarkan saja Nathan melihat aku berantakan," gumamnya kemudian keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju ke arah tempat tidur.


Nathan hanya bisa mengulum senyum melihat penampilan Davira saat ini, wanita itu semakin terlihat menggemaskan dengan kaos yang kebesaran. Davira memang wanita yang sangat sempurna, wajahnya begitu cantik, terkadang tubuhnya bisa terlihat seksi, tetapi juga imut secara bersamaan.


Davira menatapnya tajam sembari mengambil bantal serta menarik selimut yang sedang Nathan pakai secara paksa tanpa mengatakan sepatah kata pun dari mulutnya. Davira langsung meletakkan bantal ke atas sofa panjang yang berada tidak jauh dari ranjang.


"Kau tidak boleh tidur di sofa, Davira!"


"Jadi kau yang akan tidur di sofa? Karena aku tidak ingin tidur satu ranjang denganmu! Aku juga sudah sangat lelah, jadi diam lah dan biarkan aku istirahat!" sahut Davira kemudian membungkus tubuhnya dengan selimut tebal lalu merebahkan dirinya di atas sofa dengan membelakangi Nathan membuat pria itu kini hanya menatap punggungnya.


Nathan menghela nafasnya panjang sebelum turun dari tempatnya tidurnya, dia segera melangkahkan kakinya menuju kepada Davira. Tanpa mengatakan apa-apa, Nathan langsung mengangkat tubuh Davira yang terbungkus selimut membuat wanita itu terperanjat kaget.

__ADS_1


Baru saja Davira ingin memejamkan matanya, kini tubuhnya sudah melayang dan berada di dalam gendongan Nathan.


"Turunkan aku, Nathan. Kau tidak bisa membiarkan aku istirahat dengan tenang dan nyaman? Aku bersumpah, aku sangat lelah saat ini."


"Karena aku ingin kau istirahat dengan nyaman, maka dari itu aku membawamu ke tempat tidur, agar kau bisa istirahat. Aku tahu tubuhmu pasti sangat kelelahan, ku harap kau tidak pernah berniat untuk melarikan diri lagi setelah ini. Kabur itu sangat melelahkan, Davira."


Nathan meletakkan tubuh Davira di atas tempat tidur kemudian merebahkan dirinya di samping wanita itu dan langsung memeluknya hingga Davira kini terkurung.


"Lepaskan, aku akan tidur di sini. Tapi jangan memelukku," dapat Davira rasakan satu tangan pria itu sudah melingkar di pinggangnya, dan yang satunya bergerak mengusap kepalanya.


"Aku ingin memelukmu, jadi tidurlah."


"Tapi aku tidak ingin, lepaskan aku sekarang," Davira berusaha untuk melepaskan diri, namun tentu saja tidak bisa.


"Lihat? Jika ingin beristirahat dan sudah sangat lelah, harusnya kau diam dan tutup matamu ini."


Davira menyumpah serapah di dalam hati, dia tidak akan bisa menang dari Nathan untuk saat ini. Merasa percuma dan sudah sangat mengantuk, Davira memilih untuk memejamkan matanya di dalam dekapan pria itu.


Kepalanya kini ia sandarkan di kepala Nathan untuk mencari posisi yang nyaman. Tanpa sadar, satu tangannya memeluk tubuh Nathan bersamaan dengan alam bawah sadar yang perlahan-lahan mengambil alih dirinya.


Tidak perlu waktu lama karena tubuhnya memang perlu istirahat saat ini, selain itu Davira juga merasa kenyamanan saat berada di dalam pelukan Nathan. Terasa begitu hangat dan menenangkan saat usapan lembut terus terasa di kepalanya. Untuk sejenak, Davira melupakan siapa yang sedang memeluknya saat ini.


Davira terlelap dengan nafas yang terdengar begitu teratur, Nathan tersenyum tipis kemudian mengecup puncak kepala wanita itu sebelum memejamkan matanya.


"Te quiero mucho, Davira."


( Aku sangat mencintaimu ).


Pagi harinya, Davira membuka matanya lebih dulu dari para Nathan. Tubuhnya terasa remuk redam, namun sudah lebih baik dari pada kemarin. Davira terpaku menatap wajah Nathan yang berada tepat di hadapannya, ia baru sadar bahwa ternyata dia ber-bantalkan lengan pria itu.


Dapat ia dengar suara helaan nafas Nathan yang begitu teratur, wajah pria itu tampak begitu sempurna membuatnya terlena untuk sejenak.


"Puas memandangiku, Nona?"


Davira terperanjat kaget, kelopak mata Nathan perlahan terbuka membuat netra keduanya saling bertubrukan.


"Aku tidak sedang memandangi mu," elak Davira kemudian berniat untuk bangkit dari tempat tidur. Namun Nathan langsung menahannya dan mulai memeluknya dengan erat.


"Lepaskan aku Nathan, aku sudah berbaik hati dengan membiarkanmu memelukku semalaman," Davira mendorong dada Nathan yang tidak dilapisi oleh apapun.


"Kapan dia melepaskan baju?" batin Davira yang memang tertidur begitu nyenyak tadi malam sehingga tidak mengetahui saat Nathan melepaskan pelukannya dan juga bajunya.


"Kalau begitu teruslah berbaik hatilah kepadaku."


Davira memutar bola matanya malas, dia sudah tidak tahu lagi harus mengatakan apa. Tenaganya masih belum pulih untuk berdebat dengan Nathan, jadi sebisa mungkin dia menyimpan tenaganya dan mencoba untuk tetap sabar.


Nathan merapikan rambut Davira yang berantakan.


"Racun apa yang kau gunakan? Kenapa pengawal-pengawal itu langsung mati di tempat? Dan di mana kau mendapatkan racun itu?" tanya Nathan merasa penasaran.


Davira tersenyum miring, "Mansion ini dipenuhi dengan cctv bukan? Kenapa kau tidak memeriksanya saja? Jangan bertanya kepadaku karena aku bukan orang yang jujur."


Davira segera menyingkirkan tangan Nathan yang begitu berat dari atas perutnya, wanita itu langsung turun dari tempat tidur. Kaki tanpa alasnya kini menginjak lantai yang terasa dingin.


"Buka pintunya, aku ingin ke kamarku," Davira melangkahkan kakinya terlebih dahulu hingga ke depan pintu kamar Nathan.


Pria itu segera menyusulnya kemudian memasukkan password agar pintu kamarnya terbuka.


"Kenapa kau menggunakan tanggal lahir ku sebagai password?" tanya Davira merasa tidak suka.


"Karena aku ingin," jawab Nathan singkat.


Davira menatapku datar lalu segera keluar dari kamar Nathan dan membawa langkah kakinya hingga sampai ke dalam kamarnya.


"Pada akhirnya aku kembali menjadi tawanan di mansion ini," Davira menghembuskan nafasnya kasar sembari memandangi pantulan dirinya di cermin besar.


"Sepertinya aku adalah Rapunzel di dunia nyata, dan Nathan adalah ibu tiri penculik yang benar-benar licik, jahat dan pastinya menyebalkan!"

__ADS_1


Davira terus menggerutu kemudian duduk di tepi ranjangnya sembari terus memandangi dirinya. Davira meremas kuat sprei di kasurnya.


"Sepertinya aku harus mulai bermain dengan rapi, aku tidak akan bisa terbebas dari tempat ini jika orang yang mengurungku masih bernafas. Nathan akan terus mendapatkan ku, dan aku harus mulai membalaskan dendam keluarga ku serta dendam Damian kepadanya."


__ADS_2