
Warning!
Ada adegan kekerasan dan penyiksaan, jadi yang belum cukup umur dan gak suka bisa skip dulu yaa🙏*
🦋🦋🦋
Setelah memanggil dokter untuk mengobati Davira, Nathan segera melangkahkan kakinya menuju ke ruang bawah tanah. Dia baru bisa pergi karena harus menenangkan Davira yang sepertinya masih merasa ketakutan, Namun Nathan merasa senang karena Davira memeluknya dan menjadikannya sandaran di saat-saat seperti ini.
Nathan kira Davira akan sangat marah kepadanya setelah dia meninggalkan kiss mark di lehernya untuk menutupi tanda dari Dante yang mungkin sebentar lagi akan kehilangan nyawanya. Tetapi ternyata Davira tidak memarahinya, hal itu membuatnya merasa lega karena hati Davira mulai melembut secara perlahan.
Pintu yang terhubung ke ruang bawah tanah langsung dibukakan oleh salah satu pengawal yang berjaga di depannya, Nathan segera masuk, menuruni undakan tangga satu persatu.
Ruang bawah tanah itu terlihat kosong karena Nathan memang tidak memiliki satupun tahanan di Roma. Jika dia sedang memiliki masalah di sini, maka permasalahan itu akan langsung selesai karena Nathan pasti lebih memilih untuk membunuh musuhnya dari pada menyekapnya.
Di pojok ruangan, terlihat Dante yang sedang terduduk dengan wajah yang sudah babak belur. Pria itu masih menatapnya dengan tajam membuat Nathan terkekeh kecil dan segera mengeluarkan silet kecil dari saku celananya.
Nathan berdiri tepat di hadapannya, ia menatap Dante dengan tatapan yang begitu merendahkan. Nathan mengepalkan tangannya kuat ketika mengingat bagaimana Davira diperlakukan. Dia tidak terima ketika miliknya disentuh oleh orang lain, tidak ada yang boleh menyakiti Davira atau menyentuhmu selain dirinya.
Menurut Nathan, hanya dialah satu-satunya yang berhak untuk hal itu.
"Apa yang kau pikirkan sehingga begitu berani menculik dia dariku?" suara Nathan terdengar serak karena sedang menahan amarah.
"Padahal aku tidak berpikir bahwa kau pelakunya, ternyata saat aku sampai di lokasi, kaulah orang yang sudah begitu berani itu," Nathan terkekeh kecil.
Dia benar-benar tidak menyangka bahwa ternyata Dante lah yang sudah menyerang mansion-nya dan menculik Davira darinya, karena orang yang mereka curigai pertama kali adalah Erick. Mereka bahkan hampir saja mendatangi Erick ke hotelnya jika Nathan tidak memeriksa GPS nya terlebih dahulu, beruntung Davira memakai kalung itu.
Nathan memberikan Davira sebuah liontin yang sebenarnya di dalamnya terdapat sebuah alat pelacak. Jika saja Davira tidak mau memakai kalung itu, maka sekarang dia bisa saja masih berada di tempat Erick, menghajar orang yang tidak seharusnya, dan sesuatu yang buruk akan terjadi kepada Davira.
"Harusnya kau tidak melakukan ini, Dante. Sangat ingin menghancurkan bisnis ku, tapi yang kau culik adalah kekasihku. Apa hubungannya hal itu dengan bisnis? Kenapa semua musuh-musuhku begitu bodoh? Selalu saja mengincar orang-orang terdekatku untuk menghancurkan aku. Apa kalian tidak bisa langsung melakukannya kepadaku?"
Tiba-tiba saja Dante tertawa terbahak-bahak untuk beberapa saat, Nathan dan Paul hanya tersenyum kecil mendengarnya.
Dante geleng-geleng kepala, "Semua orang juga tahu bahwa kelemahan seorang pria adalah wanita yang dicintainya. Aku tahu kau begitu tergila-gila dengan wanita itu sampai-sampai kau menculiknya di hari pernikahannya bukan? Kau menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya, maka kau pasti akan gila dan hancur saat kehilangannya!"
Dante tersenyum miring, dia tahu bahwa saat ini dia tidak akan dilepaskan oleh Nathan. Itu adalah hal yang mustahil, Dante yakin bahwa setelah ini dia akan dibunuh. Maka tidak ada salahnya jika dia menantang Nathan dan mengatakan hal-hal yang membuatnya merasa puas sebelum kematiannya.
"Apa kau tahu Nathan? Tubuh wanita itu sangatlah menggoda, aku sampai tidak tahan melihatnya. Dan ternyata...... rasanya memang senikmat itu, rasanya aku ingin kembali mencium leher jenjangnya itu, mendengar suara desa*annya di telingaku."
Wajah Nathan seketika mengeras mendengarnya, dia tahu bahwa Dante berbohong. Davira tidak mungkin menikmati perbuatan pria itu, Nathan sangatlah mengenal Davira. Dia tidak akan mempercayai Dante yang memang sengaja mengatakan hal itu agar emosinya semakin terpancing.
Dan Dante berhasil, Nathan sudah tidak bisa lagi menahan diri. Nathan sontak menendang dada Dante yang kini tidak bisa melawan karena tangannya yang terikat.
Bughh.
Tubuh Dante tersungkur membentur tembok, Nathan segera menghampirinya dan melayangkan bogeman-nya ke wajah musuhnya itu sampai berkali-kali. Nathan terus memukulnya hingga tangannya pun ikut memerah.
"Jangan pernah mengatakan hal menjijikan seperti itu lagi tentang Davira, aku bisa saja membunuhmu dengan cara paling menyakitkan," Nathan menindih tubuh Dante yang malah terkekeh kemudian memuntahkan darah dari mulanya.
Nathan langsung menyingkir dari tubuh pria itu, bibirnya sedikit berkedut melihat Dante yang seolah pasrah bahkan terkesan menantang untuk segera ia bunuh.
Nathan tersenyum miring, "Aku tidak akan membunuhmu secepat itu, Dante."
"Pegangi dia, Paul. Jangan sampai ukiran yang ku ciptakan menjadi berantakan," ucap Nathan membuat Dante mengernyit.
Paul segera melakukan perintah Nathan, Dante sontak meronta-ronta ketika melihat sebuah silet di tangan Nathan. Dante menggelengkan kepalanya cepat dengan dada yang sudah naik turun.
"Apa yang akan kau lakukan Nathan?!" tanya Dante dengan mata yang menyiratkan rasa takut.
Nathan menggulung lengan kemejanya kemudian berjongkok di hadapan Dante.
"Kau sudah mencium milikku, aku tidak suka jika milikku disentuh oleh orang lain. Jadi sebaiknya kau diam dan nikmati perlakuanku, seperti kau menikmati leher kekasihku," jawab Nathan membuat mata Dante terbelalak.
Paul yang mengerti segera memegangi kepala Dante agar tidak bisa lagi bergerak, Nathan tersenyum sembari menggoreskan benda tajam itu ke bibir Dante.
"Arghhh!"
Suara teriakan Dante terus terdengar memecah keheningan ruang bawah tanah itu, Nathan benar-benar serius ketika dia mengatakan bahwa akan menghapus tanda langsung dari bibir Dante.
Nathan terus menyayat-nya, darah terlihat bercucuran dari luka yang Nathan goreskan. Setelah di rasa cukup, Nathan kembali berdiri sembari mengusap silet yang sudah berlumuran darah dengan sapu tangannya.
Dante tergeletak di lantai dengan tubuh yang begitu lemah, bibirnya terasa kebas dan tentu saja begitu sakit sampai-sampai dia tidak bisa lagi berbicara. Dante tidak menyangka bahwa Nathan akan melakukan hal itu kepadanya. Dia tidak menduga bahwa Nathan akan menyiksanya dengan cara yang sangatlah menyakitkan dan tidak langsung membunuhnya.
__ADS_1
Setelah membungkus siletnya, Nathan kembali menyimpannya di dalam saku celananya. Dia tersenyum puas melihat keadaan Dante yang begitu mengenaskan, bibir pria itu terlihat menghilang dari tempatnya.
"Itulah hukuman untukmu, tidak akan ku biarkan kau mati begitu saja."
"Arghh.......bu-bunuh saja aku," gumam Dante yang tentu saja tidak terdengar jelas, namun Nathan masih bisa memahaminya.
"Teruslah memohon, Dante. Kau perlu memohon lebih keras lagi untuk mendapatkan kematian mu."
"Paul, rantai dia dan jangan biarkan dia melarikan diri atau mati begitu saja."
"Baik Tuan," Paul menganggukkan kepalanya.
Nathan segera pergi dari ruang bawah tanah dengan tangan yang berlumuran darah karena dia tidak mengenakan sarung tangan saat melukai Dante barusan.
Sedangkan di tempat yang berbeda, Erick tengah diliputi oleh amarah keren dia tidak berhasil menculik Davira. Dia benar-benar tidak tahu bahwa ternyata ada orang lain yang mengincar Davira selain dirinya.
Dia sampai tepat setelah puluhan mobil keluar dari mansion Nathan, Erick terlambat sehingga Dante mendahuluinya. Sekarang dia hanya bisa berharap semoga siapapun yang menculik Davira, segera membunuh wanita itu agar Nathan hancur dan menderita.
Erick tidak akan membiarkan Nathan hidup dengan tenang, Nathan harus menderita bagaimanapun caranya.
Tiba-tiba saja suara dering ponsel terdengar membuatnya segera mengambilnya dari atas meja. Kamar hotelnya kini benar-benar terlihat berantakan, pecahan kaca ada di mana-mana akibat kemarahan Erick yang memang selalu menghancurkan barang-barang di sekitarnya jika sedang merasa emosi.
Erick tertegun untuk sejenak melihat nama yang tertera di layar ponselnya, setelah sekian lama dia tidak lagi berbicara atau berhubungan dengan wanita yang sekarang meneleponnya. Erick segera menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.
Suara wanita yang begitu ia rindukan kini terdengar dari seberang sana.
"Kau di mana Erick?"
Pertanyaan itu langsung dia dengar membuatnya tersenyum kecil, dia tahu apa tujuan dari wanita itu meneleponnya.
"Aku ada di Roma, kenapa Emma? Ingin bertemu? Aku sudah sangat merindukanmu."
"Jadi benar, kaulah yang sudah menyerang mansion Nathan?"
"Jadi karena itu kau meneleponku?"
"Jawab saja Erick."
"Jika saja aku tahu sedari dulu bahwa kekacauan akan membuatmu menghubungiku, maka aku akan selalu membuat kekacauan agar kita bertemu."
"Jangan main-main, Erick. Jawab pertanyaan ku dengan benar."
"Bukan aku yang menyerang mansion Nathan, memangnya kau mendapatkan informasi dari siapa? Aku memang berniat untuk menyerangnya dan menculik wanita itu, tapi sayangnya ada yang mendahuluiku."
Hening, tidak ada lagi suara Emma untuk beberapa saat membuat Erick menatap layar ponselnya untuk sekedar memastikan bahwa panggilan mereka tetao terhubung.
"Emma?"
"Erick, sepertinya kita harus bertemu."
Sebuah senyuman sontak mengembang di wajah tampan Erick, tidak ia sangka akan mendengar hal itu keluar dari mulut Emma.
"Aku akan menjemputmu."
"Tidak perlu, aku yang akan mendatangimu. Di hotel mana kau menginap? Aku tahu kau tidak kembali ke mansion mu, Erick."
"Aku akan mengirimkan alamatnya kepadamu, bawa pengawal mu, Emma. Aku tidak ingin kau kenapa-napa."
"Aku tahu, Erick. Aku akan selalu membawa pengawal, kau tahu sendiri bagaimana ayahku."
"Emma, bagaimana keadaanmu saat ini?"
"Aku baik-baik saja, jangan khawatirkan aku. Sekarang aku lega jika memang bukan kau dalang di balik penyerangan mansion Nathan pagi ini. Jangan pernah melakukan hal bodoh itu lagi, Erick. Kau tidak akan pernah melihatku lagi jika sampai terjadi sesuatu kepada Nathan."
Mendengar hal itu membuat Erick sontak memutus sambungan teleponnya, dia merasa kesal karena lagi-lagi Emma memperingatinya tentang Nathan.
Erick meraih vas bunga di dekatnya kemudian membantingnya ke lantai hingga pecah. Nafas Erick terdengar memburu, ia memijit pangkal hidungnya kemudian duduk di tepi ranjangnya. Emma masih sama seperti dulu, tidak berubah dan masih berada di pihak Nathan.
Jika saja Emma membalas perasaannya, mungkin dia hanya akan menjadi saingan bisnis biasa dengan Nathan. Dia tidak akan membenci Nathan sampai seperti ini, apalagi setelah apa yang Emma lakukan untuk Nathan dan melihat bagaimana perlakuan Nathan kepada Emma, Erick semakin merasa marah dan tidak akan bisa berhenti untuk memusuhinya.
Erick termenung menatap banyaknya pecahan kaca di lantai dan meja yang berantakan.
__ADS_1
"Emma akan datang, dia bisa terluka," gumam Erick lalu segera menelepon pengawalnya.
"Panggil cleaning service ke kamarku sekarang, Emma akan datang dan sambut dia di lobby hotel."
π_π
Tiga hari telah berlalu, dan perubahan sikap Davira kepada Nathan begitu terasa. Cara wanita itu berbicara dan menatap Nathan menyiratkan perasaan yang begitu tulus, namun tampaknya wanita itu masih mencoba untuk menekan perasaannya sendiri.
Tangan Nathan bergerak mengusap pipi Davira, lebam di pipi wanita itu masih terlihat walaupun samar-samar.
"Masih sakit?" tanya Nathan memastikan.
Davira menggelengkan kepalanya, "Sudah tidak lagi, aku baik-baik saja, Nathan."
Nathan tersenyum mendengarnya kemudian mengusap kepala Davira, saat ini mereka tengah duduk di taman belakang mansion dengan Davira yang bersandar di tubuhnya sembari membaca buku yang entah mengisahkan tentang apa.
Nathan menyuruh orangnya untuk membelikan Davira beberapa novel karena dia tahu Davira memiliki hobi membaca. Nathan meletakkan dagunya di atas kepala Davira sembari memeluk tubuh wanita itu, selama tiga hari ini dia terus menemani Davira dan tidak pergi kemanapun karena tidak ingin meninggalkan Davira sendirian.
"Apa yang kau baca?"
"Jika ingin tahu, maka bacakan untukku," Davira memberikan buku itu kepada Nathan lalu bersandar di lengan kekar Nathan yang memeluknya.
Entah mengapa Davira merasa begitu nyaman berada di dekat pria itu seperti sekarang ini, dia menemukan ketenangan yang telah lama menghilang. Walaupun sebenarnya pikiran Davira terus bertengkar dengan hatinya, berkali-kali dia merutuki kebodohannya setiap kali menerima perlakuan lembut Nathan, tapi berkali-kali juga dia mengulanginya.
Davira benar-benar merasa tertekan dengan pikirannya sendiri.
"Baiklah, aku akan membacanya," Nathan berdehem singkat kemudian mulai membaca lembar demi lembar buku tersebut dengan satu tangan yang mengusap lembut lengan Davira.
Wanita itu hanya diam dengan pandangan yang kosong, ia bahkan tidak mendengarkan lagi apa yang Nathan ucapkan saat ini. Dan Nathan mengetahuinya, pria itu mulai mengecup puncak kepala Davira membuat wanita itu tersadar dari lamunannya.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Nathan yang tidak langsung mendapatkan jawaban dari Davira.
"Di mana Emma? Aku tidak melihatnya selama tiga hari ini."
Nathan terkekeh mendengar pertanyaan itu terlontar dari mulut Davira.
"Kau merindukannya?"
Davira memutar bola matanya, "Biasanya dia sudah datang pagi-pagi seperti ini, untuk memasakkan mu sarapan. Kenapa kau tidak menjadikannya pelayanmu saja?"
"Mungkin dia sedang sibuk, maka dari itu dia tidak ke sini. Apa kau cemburu kepadanya?"
Davira sontak menegakkan posisi duduknya dan berbalik untuk menatap Nathan.
"Tentu saja tidak, untuk apa aku cemburu?" elak Davira kemudian tertegun melihat senyum dan juga tawa Nathan.
Tanpa sadar tangannya bergerak mengusap pipi pria itu.
"Kau menjadi sering tersenyum dan tertawa akhir-akhir ini."
"Benarkah?" tanya Nathan tidak menyadari hal tersebut.
Davira menganggukkan kepalanya kemudian segera berdiri dan mengambil bukunya dari tangan Nathan.
"Aku ingin ke kamar dan membaca sendirian agar fokus, sebaiknya kau lakukan sesuatu yang lain. Aku yakin kau pasti sibuk," Davira segera melangkahkan kakinya, meninggalkan Nathan sendirian di taman.
Nathan hanya diam dan tidak berniat untuk mencegahnya.
Sesampainya di kamar, Davira segera meletakkan bukunya ke atas tempat tidur lalu masuk ke dalam kamar mandi. Tiba-tiba saja tangisnya pecah, ia memegangi dadanya yang terasa begitu sesak sedari tadi. Davira terduduk di lantai kamar mandi yang dingin.
Ia menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya yang tertekuk. Davira benar-benar merasa bersalah kepada ibu dan ayahnya setiap kali merasakan sesuatu kepada Nathan.
Tidak seharusnya dia memiliki perasaan seperti ini kepada Nathan di saat dia tahu bahwa keluarga Xie adalah dalang di balik kekacauan di malam itu. Juga tidak seharusnya dia menerima Nathan di sisinya dengan baik di saat pria itu telah membunuh calon suaminya di depan matanya.
Davira terisak hebat sampai tubuhnya gemetaran, ia mencoba untuk menekan perasaannya, tapi hal itu malah menyakitinya.
"Maafkan aku Papa, Mama, Damian," gumamnya begitu lirih.
Nathan tertegun di depan pintu kamar mandi dan mendengar tangisan pilu Davira, dia tahu apa yang dirasakan oleh wanita itu saat ini. Nathan tahu bahwa Davira tengah bimbang, di satu sisi Nathan merasa senang karena sepertinya Davira telah jatuh hati kepadanya.
Tapi di sisi lain dia juga merasa resah karena Davira terluka oleh perasaan yang wanita itu anggap hanyalah sebuah kesalahan. Nathan tidak akan membiarkan Davira terus berpikiran seperti itu.
__ADS_1
Nathan segera keluar dari kamar Davira kemudian menelepon Paul.
"Kumpulkan semua bukti itu, Paul. Aku tidak peduli sesulit apa, kalau perlu jemput orang itu. Cari dia dan buat dia menghadap Davira."