Tawanan Tuan Xie

Tawanan Tuan Xie
Membebaskan Atvita - Part 84


__ADS_3

Davira mengikat tinggi rambutnya kemudian memasang sarung tangannya, sebentar lagi mereka sampai dan hal itu membuat jantung Davira terasa berdebar-debar. Ini pertama kalinya dia ikut andil dalam penyerangan yang akan menyebabkan kematian banyak orang seperti sekarang ini.


Nathan meraih tangannya yang terasa dingin sembari merapikan helaian rambut Davira yang tidak terikat sepenuhnya.


"Kau gugup? Kau yakin akan melakukan tugas yang diberikan oleh keluargaku?"


"Aku yakin, Nathan. Aku harus bisa membantumu, aku tidak ingin menjadi wanita beban. Aku bisa menyelamatkan Atvita di saat kalian menyerang para penjaga, percayakan hal itu kepadaku."


Nathan menatap netra Davira lekat-lekat, tidak ia sangka Davira akan mengambil resiko hanya untuk membantunya. Davira bahkan tidak takut membahayakan dirinya sendiri untuk menyelamatkan Atvita.


"Berhati-hatilah, aku tidak ingin kau terluka."


Davira mengangguk pelan, "Aku akan berhati-hati, Nathan. Fokuslah di sana, jangan terlalu mengkhawatirkan aku."


Nathan tersenyum kecil lalu mengusap pipi Davira yang begitu lembut, wajah wanita itu terlihat sangat polos karena Davira memang tidak menggunakan riasan sedikitpun.


"Kau sudah sangat pandai berkelahi hm?"


"Tentu saja, Jakob, Luca dan Liam mengajariku cara memukul!" jawab Davira bersemangat membuat Nathan terkekeh.


"Kau menjadi wanita yang semakin kuat, dan kau membuatku semakin mencintaimu."


Davira mengecup singkat bibir Nathan, "Aku juga mencintaimu."


Tidak perlu waktu lama, akhirnya mereka sampai di depan pagar mansion milik Arthur. Puluhan anak buah Arthur terlihat sudah berjaga seolah sudah tahu bahwa mereka akan datang.


Orang-orang dari keluarga Xie dan Alvar segera turun dari mobil mereka untuk menyerang anak buah Arthur yang menghadang di depan pagar.


Dor.


Suara tembakan mulai terdengar, Nathan dan yang lainnya hanya diam di dalam mobil sembari memperhatikan anak buah mereka yang sedang baku tembak dengan anak buah Arthur.


"Jika Arthur dan Emma benar-benar berada di dalam mansion, mereka sangat berani."


"Ku rasa Arthur memang tidak akan pergi kemana-mana, Davira. Melarikan diri akan membuat dirinya terlihat seperti seorang pengecut. Sedangkan Emma, bisa saja dia dikirim pergi."


"Kita tabrak pagarnya sekarang," suara Aaron terdengar dari HT yang saat ini berada di atas dasboard mobil Nathan.


"Alvar, kau di sisi kiriku dengan Aaron. Jakob dan Luca di sisi kananku, kita hancurkan pagarnya."


"Berpegangan Davira."


Nathan, Aaron, Jakob, Alvar dan Luca langsung menabrakkan mobil mereka secara bersamaan membuat beberapa orang-orang Arthur terlindas dan pagar mansion di depan mereka terbuka lebar.


Mereka semua segera turun dan langsung menembaki orang-orang yang tentunya menghalangi mereka untuk masuk ke dalam.


Nathan segera turun sembari melindungi Davira dan menembaki anak buah Arthur.


"Kau, Liam dan Fedrix harus menyelinap ke ruang bawah tanah. Aku tahu Arthur selalu menyekap tahanannya di sana, aku sudah memberitahu di mana letaknya kepada kalian. Semoga kalian tidak kebingungan."


"Ke sini Davira!" Fedrix segera mengambil alih Davira dari Nathan kemudian membawanya berlari ke arah berbeda sembari terus membalas tembakan.


Dor.


Dor.


Davira segera menundukkan kepalanya dan terus berlari.


Sedangkan Nathan, Aaron dan Alvar sudah berhasil menerobos masuk ke dalam mansion bersama dengan anak buah mereka.


Bughh.


Nathan langsung menendang salah satu pengawal Arthur yang ingin menyerang mereka, Nathan segera berlari dan menghantamkan tongkat bisbol yang ia bawa ke kepala orang-orang itu.


Dor.


Emma meremas kuat baju yang saat ini ia kenakan, suara tembakan dan kericuhan mulai ia dengar. Rasa panik dan khawatir menyelimuti dirinya sedari tadi. Emma sangat takut jika salah satu anak buah ayahnya berhasil membunuh Nathan, namun dia juga takut Nathan berhasil mengalahkan anak buah ayahnya. Emma akan mati jika itu terjadi.


"Tetaplah di ruangan ini, Emma. Jangan keluar sebelum ayah menemuimu. Harusnya kau menurut dan pergi ke Saltykovka untuk sementara waktu."


"Aku tidak akan pergi, ayah. Aku akan tetap di sini, dan ku mohon untuk tidak membunuh Nathan."


"Aku yang akan membunuhnya, Emma. Aku sudah muak, kau harus berhenti mencintainya," Erick segera beranjak dari duduknya sembari membawa pistolnya.


"Jangan coba-coba melakukannya Erick!" teriak Emma tidak terima.


"Cukup Emma! Apa yang dikatakan oleh Erick benar. Berhenti mencintai Nathan! Pria itu sudah membuatmu gila! Ayah ataupun Erick akan membunuhnya."


Mata Emma yang sembah seketika melebar, wanita itu langsung mengejar ayahnya yang berniat keluar dari ruang rahasia itu.


"Ayah tidak boleh melakukannya!"


"Ayah akan melakukannya," ucap Arthur kemudian melepaskan cekalan Emma dari pergelangan tangannya.


Arthur segera menutup pintu itu dan menguncinya dari luar membuat Emma berteriak-teriak meminta ayahnya agar tidak menyakiti Nathan.

__ADS_1


"Diamlah jika kau ingin hidup, Emma. Seseorang bisa mendengarmu!"


Arthur segera melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu kemudian mengunci pintu kamarnya. Ia melangkah bersama dengan Erick untuk memeriksa kekacauan yang sedang terjadi.


Bughh.


Aaron memukul kepala para pengawal Arthur yang mengepungnya dengan menggunakan palu berukuran besar. Pria itu tampak begitu brutal menyerang dengan sangat cepat dan tanpa ampun sedikitpun.


Sudah banyak mayat yang bergelimpangan di lantai dengan darah yang mengotorinya.


"Arghh!"


Aaron hampir tersungkur saat kakinya ditendang oleh salah satu lawannya, pria itu segera membalas tendangannya kemudian menghantamkan palunya dengan sekuat tenaga ke kepala orang itu sehingga darahnya terciprat sampai ke wajah Aaron.


Bughh.


Tiba-tiba saja tubuh Aaron diterjang dari belakang membuatnya tersungkur.


"Shitt!" Aaron segera berguling untuk menghindari hantaman balok kayu.


"Akhhh!"


Aaron berteriak kencang saat orang yang tadi menerjangnya kini langsung menginjak tangannya dan berusaha untuk memukulnya dengan balok kayu penuh paku.


Bughh.


Alvar menerjang orang itu kemudian langsung menancapkan pisaunya sampai berkali-kali di tempat yang sama.


Aaron hanya menatapnya datar lalu kembali bangkit dan menyerang yang lainnya.


"Aaron!" panggil Nathan sembari berlari menuju lantai dua membuat Aaron segera mengikutinya begitu juga dengan Jakob.


Sedangkan Davira, Liam dan Fedrix kini sudah berhasil memasuki mansion melewati pintu samping. Di sana terlihat begitu gelap, mereka menyusuri lorong demi lorong dengan penuh kewaspadaan.


"Ku harap kita tidak tersesat."


"Tidak mungkin tersesat," ucap Davira kemudian mempercepat langkahnya.


Bughh.


"Akhh!"


Satu bogeman mentah mendarat di wajah Davira tanpa diduga-duga.


Liam sontak menarik tangan Davira yang hampir tersungkur, di hadapan mereka kini sudah berdiri Lidya dan sepuluh orang pria yang bertugas untuk menjaga ruang bawah tanah.


"Diamlah Fedrix!"


"Hati-hati," Liam melepaskan genggaman tangannya.


Liam dan Fedrix bergerak maju menyerang terlebih dahulu, Davira menatap Lidya tanpa rasa takut sedikitpun, Davira segera menendang perut Lidya membuat punggung wanita itu membentur tembok dengan keras.


Lidya melayangkan tinjunya, Davira dengan cepat berkelit dan menarik rambut Lidya kemudian membenturkannya ke tembok.


"Akhh!"


Bughh.


Davira terhuyung ke belakang saat tinju Lidya mendarat tepat di wajahnya, Davira segera membalas tinju Lidya, keduanya saling menyerang dan memukul satu sama lain.


"Akhh!"


Lidya mendorong tubuh Davira hingga membentur meja di belakangnya.


Davira mencengkram kuat bahu Lidya kemudian melayangkan tinjunya di perut wanita itu. Lidya meringis pelan lalu mengangkat tubuh Davira dan menggemaskannya ke atas meja kayu hingga roboh.


"Arghh......"


Punggung Davira terasa begitu sakit, namun melihat Lidya yang ingin menghantamnya dengan potongan meja membuat Davira segera mengapit kaki Lidya kemudian mendorongnya hingga tersungkur.


Davira langsung bangkit dengan sempoyongan lalu mendidih tubuh Lidya dan menghantamkan bogeman mentah di wajah wanita itu hingga berkali-kali.


Bughh.


"Akhhh!" Davira berteriak kesakitan karena Lidya menusuk bahunya dengan pisau berukuran kecil.


Davira sontak menyingkir dari atas tubuh Lidya kemudian mencabut pisau itu.


Bughh.


Perut Davira ditendang oleh Lidya yang baru saja bangkit, Davira kembali tersungkur ke lantai yang terasa dingin. Davira segera mengambil balok kayu yang ada di sebelahnya lalu menghantamkannya ke kepala Lidya yang ingin menindihnya.


"Akhhh!" tangan Lidya langsung bergerak mencekik leher Davira membuat wanita itu kesulitan bernafas.


Tanpa pikir panjang Davira segera menusukkan pisau Lidya yang masih ia genggam ke leher pemiliknya.

__ADS_1


"Akhh......."


Cekikan Lidya seketika melemah, mata Lidya terbelalak bersamaan dengan darah yang keluar deras dari lehernya.


Davira segera mendorong tubuh Lidya hingga wanita itu tergelatak di lantai dengan bersimbah darah, Lidya sudah tidak bisa lagi berbicara. Hanya suara rintihan yang terdengar keluar dari mulutnya, tubuh Lidya terlihat menggelepar kesakitan.


Bughh.


Liam menghantamkan tongkat bisbolnya pada orang terakhir yang masih tersisa.


"Akhiri penderitaannya Davira!" Liam melemparkan pistol miliknya membuat Davira segera menyambutnya.


Davira menatap Lidya untuk sejenak sebelum menarik pelatuknya.


Dor.


Dor.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Liam memastikan, padahal wajah pria itu dipenuhi dengan lebam dan hidungnya terlihat mengeluarkan darah.


"Aku baik-baik saja," jawab Davira sembari menyeka sudut bibirnya yang sobek.


"Bahumu," Fedrix menatap bahu Davira yang mengeluarkan darah.


"Jangan khawatir, kita harus segera memeriksa apakah Atvita ada di dalam atau tidak. Cepatlah."


"Di kunci," ucap Liam saat berusahalah membuka pintu besi itu.


"Salah satu dari mereka pasti menyimpan kuncinya," Davira segera berjongkok dan memeriksa tubuh Lidya.


"Dapat," Davira memberikan kunci yang dia dapatkan kepada Fedrix.


Setelah berhasil membuka pintu itu, tangga yang begitu panjang mengarah ke bawah kini terlihat. Liam segera berjalan terlebih dahulu kemudian disusul oleh Davira dan juga Fedrix di belakangnya.


"Di sini sangat luas, dan bau," Fedrix menutup hidungnya merasa tidak tahan dengan bau bangkai yang begitu menusuk indra penciuman.


"Atvita!" panggil Davira menggema di ruang bawah tanah itu.


"Aku di sini!" terdengar suara sahutan dari pojok ruangan membuat Davira segera berlari menghampiri.


"Davira? Apa yang kau lakukan di sini?" Atvita bagi terkejut melihat kehadiran Davira.


"Aku akan menceritakannya nanti, tapi sekarang kami harus mengeluarkanmu terlebih dahulu. Di atas Nathan, Aaron dan orang-orang kalian sedang menyerang, sedang terjadi pembantaian Atvita."


"Benarkah?"


Davira mengangguk kemudian mengernyit melihat adanya seorang wanita yang kini meringkuk bersama anak kecil di dalam pelukannya.


"Siapa dia?" tanya Davira kebingungan.


"Istri dan anak Dario Steffano," jawab Atvita kemudian membangunkan mereka berdua, keadaan Linda begitu memperihatinkan, dia mendapatkan banyak siksaan dan tidak mendapatkan makan sama sekali.


"Linda, bangun. Kita selamat," Atvita mengambil alih Lea dari pelukan Linda, anak itu sudah membuka matanya.


Atvita mengguncang tubuh Linda, "Bangun, kita harus segera keluar dari tempat ini."


"Atvita, sepertinya terjadi sesuatu kepadanya," Davira segera membuka gembok dan masuk ke dalam sel tempat Atvita di kurung.


"Tidak mungkin," Atvita menggelengkan kepalanya pelan saat tubuh Linda tidak bergerak sama sekali.


"Mom......" panggil Lea menyentuh ibunya dengan tangannya yang mungil.


Atvita sontak memeluk tubuh Lea, entah mengapa dadanya terasa sesak. Walaupun dia tidak mengenal Linda, namun dia meras kasihan dengan nasib malang yang menimpa keluarga Steffano, mereka hanya orang biasa yang dilibatkan oleh Emma dalam rencana gilanya.


Davira memeriksa denyut nadi Linda, "Dia sudah tiada."


Tanpa terasa air mata Atvita menetes mendengarnya, dia dan Linda sempat berbicara. Atvita bahkan menceritakan tentang pertemuan mereka dengan Dario, entah bagaimana nasib Dario saat ini Atvita juga tidak tahu.


"Atvita, kau baik-baik saja? Kita harus segera keluar."


Atvita segera berdiri dibantu oleh Davira, tubuh Atvita terasa lemah membuat Fedrix buru-buru memapahnya.


"Kau akan membawa anak ini?"


"Tentu saja, aku tidak bisa meninggalkannya," jawab Atvita sembari memeluk Lea erat-erat, mendengar Lea terus memanggil-manggil mommy nya membuat hati Atvita terasa teriris.


"Mom! Kenapa mom tidak ikut?"


"Tenanglah Lea, Mommy mu hanya sedang tidur. Kau akan ikut denganku dan Mommy mu akan menyusul sebentar lagi," bisik Atvita mencoba untuk menenangkan


"Kita akan ke mana? Apakah Nathan dan Aaron akan membunuh Emma?"


"Aaron mungkin iya, aku juga tidak tahu. Yang jelas Aaron, Nathan, Jakob dan Alvar akan mengurus Arthur dan juga Erick terlebih dahulu."


Mendengar nama Alvar disebutkan sontak membuat langkah Atvita terhenti.

__ADS_1


"Apa maksudmu? Alvar ada di sini?"


Davira menganggukkan kepala, "Dia yang membantu kami menyelamatkan Nathan dan juga Aaron. Sekarang dia ikut menyelamatkanmu."


__ADS_2