
Davira meringis pelan melihat tetesan darah yang terus keluar dari luka di pergelangan tangannya, dia mendapatkan luka yang cukup panjang dan dalam karena pisau salah satu perampok yang menyerang mereka berhasil mengenainya. Beruntung mereka dan juga uang Jakob masih berhasil selamat dari perampok-perampok itu.
Sudah satu bulan lebih Davira bekerja dengan Jakob, melakukan setiap tugas yang diberikan oleh pria itu. Memiliki tim yang selalu membantunya, mereka menyenangkan dan hal itu membuat pikiran Davira tentang Nathan sedikit teralihkan. Walaupun tidak sepenuhnya, entah mengapa Davira masih saja memikirkan Nathan setiap malamnya.
Davira tidak mengerti mengapa ia terus-menerus mengingat pria itu, Davira sangat ingin melupakan Nathan. Mengingat Nathan setiap malam membuat dadanya selalu terasa sesak.
Tok.
Tok.
Tok.
"Ini aku!" suara Luca terdengar dari luar kamarnya membuat Davira segera turun dari atas ranjang kemudian membukakan pintu untuk pria itu.
"Ada apa?" tanya Davira sembari melangkahkan kakinya untuk kembali duduk di tepi ranjangnya.
"Ada apa? Kau terluka, Nona. Tidak berniat untuk mengobatinya?" Luca terlihat membawa kotak obat bersamanya membuat Davira tersenyum tipis.
"Kau ingin mengobati luka ku?"
"Kau akan kesulitan bekerja jika luka itu tidak di obati," Luca menarik kursi yang ada di sana dan meletakkannya di dekat ranjang Davira.
"Di mana Jakob? Aku tidak melihatnya sejak kita kembali," tanya Davira merasa kebingungan, biasanya Jakob akan langsung menyambut kedatangan mereka setiap kali mereka menyelesaikan tugas, tentu saja Jakob menyambut uangnya. Tapi sekarang pria itu tidak terlihat sama sekali.
"Aku tidak tahu, Tuan tidak mengatakan apapun kepadaku. Mungkin kau bisa menanyakannya kepada Liam, Tuan biasa berbicara dengannya."
"Tanganmu," pinta Luca membuat Davira segera mengulurkan tangan kirinya yang terluka untuk di obati oleh Luca.
"Kau apakan perampok yang sudah membuatmu terluka?" tanya Luca sembari membersihkan darah di tangan Davira.
"Ku tendang pe*isnya lalu ku tembak kepalanya," jawab Davira sontak membuat Luca tertawa puas.
"Itu sangat menyakitkan Nona," Luca geleng-geleng kepala.
"Setelah ini kau harus bergabung bersama dengan yang lainnya di ruang tengah, mereka semua sedang menonton film. Kau tidak ingin ikut bersantai?"
Davira menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban.
Luca menghela nafasnya panjang, "Jangan terlalu merenungi hidupmu, aku tahu mungkin kau merasa lelah dengan pekerjaan yang mengancam nyawa ini. Tapi ini sudah lebih dari satu bulan sejak kau bergabung, sudah seharusnya kau menikmati pekerjaan ini."
"Aku menikmati pekerjaan ini, aku tidak merasa lelah. Bekerja kepada Jakob dan bersama kalian sangatlah menyenangkan," ucap Davira sembari menahan perih pada tangannya.
"Lalu kenapa kau selalu menyendiri setelah melakukan pekerjaan? Apa yang mengganggu pikiranmu? Kau rindu kekayaanmu, atau seseorang?" tanya Luca kemudian menatap wajah Davira untuk melihat ekspresi wanita itu.
"Ku rasa kau merindukan seseorang," Luca terkekeh kecil.
"Apakah keluargamu? Atau.....Tuan Xie?" tebaknya membuat Davira memutar malas bola matanya.
"Kau menjadi banyak bicara akhir-akhir ini, Luca. Kenapa selalu menanyakan hal-hal yang tidak penting? Aku tidak sedang merindukan siapa-siapa," elak Davira tidak ingin jika satu orang pun mengetahui perasaannya terhadap Nathan.
Karena akan sangat memalukan jika dia mencintai seorang pria yang sudah membunuh keluarganya.
"Kau tidak terlalu pandai berbohong, tidak bisa menjadi penipu," Luca melilitkan perban di pergelangan tangan Davira yang terluka setelah memberikan obat agar tidak infeksi.
"Maka dari itu aku menjadi pengantar narkoba, bukan penipu," timpal Davira seolah-olah begitu bangga.
"Sudah selesai, membaurlah bersama kami. Mungkin beban pikiranmu akan sedikit berkurang," Luca segera beranjak dari duduknya setelah memasukkan perlengkapan yang tadi ia gunakan untuk mengobati luka Davira kembali ke dalam tempatnya.
"Luca, terima kasih," ucap Davira sambil mengangkat tangannya yang sudah di perban.
Luca hanya mengangguk lalu keluar dari kamar Davira.
"Kau sudah mengobatinya?" tanya Dex yang saat ini tengah berdiri di depan kulkas, mengambil beberapa botol bir untuknya dan juga yang lainnya.
"Lukanya cukup dalam dan panjang, seharusnya dijahit. Tapi itu tidak mungkin, namun ku rasa akan sembuh dengan cepat," jawab Luca kemudian duduk di sebelah Mario yang sedang fokus menonton film yang ditayangkan di layar televisi.
"Tuan ada di mana, Liam?"
__ADS_1
"Aku tidak tahu, Jakob tidak mengatakan apapun. Padahal ku kira dia tidak akan kemana-mana hari ini," Liam menyesap rokoknya dalam-dalam.
"Fedrix apa yang kau lakukan?" tanya Dex sembari tertawa kecil melihat Fedrix yang saat ini tengah membuka koper besar yang penuh dengan uang.
"Tentu saja menghitung uang untuk Tuan," jawab Fedrix santai.
Mario berdecak, "Tidak ada perintah! Itu ilegal!" serunya membuat Fedrix tertawa.
"Bukankah kita selalu mengerjakan pekerjaan ilegal?"
"Ku rasa kau ingin mendapatkan bonus sebagai upah untukmu karena sudah membantu Tuan untuk menghitung uangnya yang banyak itu," sahut Luca kemudian menegak bir yang diberikan oleh Dex.
"Kau selalu tahu rencana ku," Fedrix duduk dengan tumpukan uang di atas meja, menghitungnya dengan sangat serius membuat Liam geleng-geleng kepala melihatnya.
"Bukan bonus, tapi peluru yang akan kau dapatkan, Fedrix."
"Maka kalian harus melindungiku."
"Aku masih ingin hidup, uangku ada banyak, kasihan jika aku meninggalkannya begitu saja," Mario tertawa terbahak-bahak.
"Welcome my princess!" seru Dex sembari merentangkan tangannya saat melihat Davira yang keluar dari dalam kamarnya.
Davira terkekeh lalu memeluk singkat tubuh Dex sebelumnya mengambil bir-nya.
"Tidak boleh minum bir, baby. Kau harus minum obat setelah makan," Mario langsung mengambil bir di tangan Davira.
"Apakah ada larangan tidak boleh meminum bir sebelum minum obat?" Davira bersedekap dada.
Tiba-tiba saja Liam berdiri dan menjentikkan jarinya di dahi Davira.
"Awww Thiago!"
"Apakah orang kaya sepertimu memang bodoh? Tentu saja kau tidak boleh meminum bir itu," Liam berlalu begitu saja menuju ke arah dapur.
Davira menatapnya tajam, merasa kesal dengan pria itu.
"Duduklah," Luca menepuk tempat di sampingnya.
Davira tersenyum lebar melihat Fedrix, "Duduk di dekat Fedrix akan lebih menyenangkannya."
Ia segera duduk disebelah pria itu dengan mata berbinar, baru saja tangannya ingin mengambil satu tumpuk uang, Fedrix sudah terlebih dahulu menepuk punggung tangannya.
"Jangan mengacaukan hitunganku, Nona. Sebaiknya kau duduk di dekat Luca, Mario, atau Dex dan nikmati filmnya," usir Fedrix membuat Davira mengerucutkan bibirnya.
"Melihat uang-uang ini lebih menarik dari pada filmnya," ucap Davira namun tetap berdiri dan pada akhirnya duduk di sebelah Luca.
"Arghh kapan Jakob akan datang?! Aku ingin meminta bonus untuk membeli beberapa pakaian dan juga make up," Davira bersandar lesu sembari memperhatikan layar televisi.
"Bonus? Kita melakukan pekerjaan yang sama Nona!"
"Aku wanita, aku perlu bonus untuk membeli make up, Mario. Jika kau ingin bonus maka jadilah wanita," ucap Davira lalu tertawa melihat wajah kesal Mario.
"Makanlah," Liam meletakkan sepiring makanan di atas meja membuat Davira kembali menegakkan tubuhnya.
"Terima kasih," Davira tersenyum lebar sembari mengambil piring itu.
"Jika ingin membeli make up atau yang lainnya kau bisa memakai uangku," ucap Liam membuat Dex yang sedang menegak bir-nya langsung tersedak.
"Waah ada sesuatu di sini!"
"Kau bahkan tidak pernah memberi aku uang Liam! Padahal aku selalu membelikan minum untukmu!" sahut Mario merasa tidak terima.
Davira sontak tertawa mendengarnya, "Sudah ku katakan, kau harus menjadi wanita!"
"Liam, aku memiliki cukup uang. Dan aku tidak ingin uangmu, aku ingin bonus dari Jakob," ucap Davira kemudian menggigit paha ayam yang sudah begitu dingin.
"Siapa yang membeli ayam ini?" tanya Davira dengan raut wajah yang menunjukkan bahwa dia tidak menyukai ayam yang saat ini sedang ia kunyah.
__ADS_1
"Aku, ada apa?" Dex menatapnya kebingungan.
"Kapan kau membelinya?" tanya Luca melirik ayam di piring Davira.
"Pagi kemarin," jawab Dex santai.
"Tidak enak! Sudah dingin, apakah tidak ada makanan yang lebih layak di sini?"
Luca berdecak lalu mengambil ayam yang sudah digigit oleh Davira kemudian memakannya.
"Ini layak dan tidak seburuk itu, kah terlalu berlebihan," ucap Luca terlihat menikmati ayam itu.
"Nona Handoko tidak akan bisa memakan itu!"
Tiba-tiba saja terdengar suara Jakob membuat mereka semua langsung menoleh ke belakang.
"Fedrix, berapa kali aku harus mengatakannya kepadamu? Jangan sentuh uangku sialan!"
π_π
Nathan membuka pintu ruang VIP, tempat sekarang Emma sedang dirawat. Ia segera masuk dan melangkahkan kakinya hingga melihat tubuh Emma yang sedang duduk bersandar di ranjangnya sembari membaca buku.
Emma tersenyum lebar melihat kedatangan Nathan, wanita itu segera meletakkan bukunya ke atas meja dan merentangkan kedua tangannya.
"Bagaimana keadaanmu Emma?" Nathan langsung memeluk tubuh wanita itu untuk beberapa saat.
"Operasinya lancar," jawab Emma membuat Nathan tersenyum tipis bersamaan dengan pelukannya yang terlepas.
Nathan meletakkan keranjang buah yang ia bawa ke atas meja lalu duduk di tepi ranjang Emma.
"Setelah ini kau tidak akan merasakan sakit lagi," Nathan begitu lega karena sudah berhasil mendapatkan donor ginjal untuk Emma, dan operasinya berjalan dengan lancar, hal itu membuat beban di pundak Nathan sedikit berkurang.
"Ini semua berkatmu," Emma merasa sangat bahagia, sudah dua hari ia dirawat setelah operasi, dan baru hari ini Nathan menemuinya.
"Di mana ayahmu?" tanya Nathan tidak melihat keberadaan Arthur.
"Sedang bekerja, tapi dia akan ke sini setelah selesai. Kau bisa menemaniku?"
Nathan mengangguk pelan, "Aku ke sini memang untuk menemanimu."
Senyuman di wajah Emma semakin mengembang mendengar hal itu. Perhatian kecil dari Nathan inilah yang membuat dia merasa bahagia, walaupun selama satu bulan semenjak kepergian Davira Nathan begitu sibuk karena terus mencari keberadaan wanita itu dan membuat dia menjadi tidak memiliki waktu untuk bertemu dengan Nathan.
Tapi setidaknya Nathan masih memikirkan tentang ginjalnya dan pada akhirnya menemukan pendonor untuknya lebih dulu dari pada menemukan Davira.
"Kau ingin makan buah? Aku membawa strawberry, kau menyukainya bukan? Aku akan mencucinya terlebih dahulu," Nathan berdiri dari duduknya lalu mengambil satu kotak buah strawberry yang ia bawa.
Drrttt.
Drrttt.
Ponsel Nathan tiba-tiba saja bergetar membuatnya segera merogohnya dari saku celana, melihat nama yang tertera membuatnya segera menggeser tombol hijau yang ada di layar untuk menghubungkan sambungnya.
"Ada apa Paul?" tanya Nathan membuat senyuman di wajah Emma luntur seketika.
Emma tahu bahwa setiap kali Paul menelepon, maka pasti akan ada sesuatu yang penting. Entah itu mengenai pekerjaan, atau Davira. Yang pasti Nathan akan langsung meninggalkannya, hal itu membuat Emma merasa kesal.
Nathan tampak tertegun kemudian menatap wajah Emma membuat jantung wanita itu terasa berdebar-debar.
"Nathan, apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Emma penasaran melihat raut wajah Nathan.
Namun Nathan tidak menjawabnya, pria itu malah berbalik dan melangkahkan kakinya sedikit menjauh.
"Apa kau yakin Paul?"
Sudut bibir Nathan sontak tertarik ke samping mendengar jawaban Paul.
"Akhirnya, siapkan jet pribadiku. Kita berangkat sekarang juga, jangan lupa untuk membawa banyak pengawal."
__ADS_1