
Nathan membuka kelopak matanya secara perlahan, dan hal pertama yang ia lihat adalah wajah khawatir Emma. Nathan langsung teringat dengan Davira membuatnya langsung merubah posisinya menjadi duduk.
"Davira, di mana dia?" tanya Nathan mengedarkan pandangannya.
"Sial," umpat Nathan pelan, dia merasa panik dan khawatir dengan keadaan Davira saat ini.
"Kau sudah sadar? Cepat sekali," Atvita menghampirinya.
"Di mana Davira?" Nathan langsung menanyakan hal itu membuat hati Emma terasa berdenyut nyeri karena Nathan tidak memandangnya sama sekali.
"Untuk apa kau menanyakan wanita itu lagi? Dia sudah menembak mu, dia juga sudah membuat kita kehilangan nenek," ucap Atvita merasa begitu marah.
"Apa kalian sudah berhasil menangkapnya?" tanya Nathan merasa was-was.
Walaupun Nathan merasa marah karena Davira meracuni Gayatri, tapi dia tetap mengkhawatirkan wanita itu. Dia tidak ingin jika Davira sampai tiada di tangan keluarganya. Nathan juga ingin meluruskan semua kesalahan pahaman, Gayatri juga bersalah karena memberitahu Davira informasi yang tidak sesuai dengan faktanya.
Nathan tahu bahwa Gayatri pastinya berniat untuk membuat Davira pergi darinya, dan Gayatri tidak mengenal dengan benar bagaimana Davira. Wanita itu memang bisa melakukan hal nekat ketika sedang merasa marah.
"Tidak, dia berhasil melarikan diri," jawab Atvita sembari menghela nafas panjang.
Nathan mengernyit tidak percaya, "Bagaimana bisa Davira terlepas dari kalian?"
"Jakob Moore, pria itu yang sudah menolong Davira. Aaron melihatnya sendiri, kau tahu Jakob lihai dalam berkendara, tentu saja Aaron tidak bisa menyusulnya."
Nathan begitu terkejut mendengar hal itu, tidak ia sangka bahwa Davira akan mendapatkan bantuan. Nathan tahu bahwa Jakob pernah menjalin kerjasama dengan keluarga Handoko, tetapi Jakob tidak pernah berinteraksi secara pribadi dengan Davira.
Lalu bagaimana bisa Jakob datang dan menjadi penyelamat Davira?
"Apakah Davira menghubungi Jakob? Tapi bagaimana caranya?" batinnya bertanya-tanya.
"Sebaiknya jangan terlalu memikirkannya, Nathan. Kau harus istirahat, aku akan memanggil dokter," Emma menekan bel di dekat ranjang Nathan agar dokter segera datang untuk memeriksa keadaan pria itu.
"Berapa hari aku tidak sadarkan diri?" tanya Nathan menatap Emma dan Atvita secara bergantian.
"Satu hari," jawab Emma pelan.
"Kau ingin ke mana? Jangan gila, Nathan. Kau bahkan baru saja selesai di operasi!" Atvita menahan tangan Nathan yang ingin melepaskan infusnya.
"Aku harus mencari Davira, dia tidak boleh pergi bersama dengan Jakob!" sentak Nathan tidak bisa membayangkan bagaimana jika Davira benar-benar pergi dan dia tidak bisa menemukannya lagi.
"Tenanglah, Nathan. Aaron dan yang lainnya masih mencari Davira, mereka tidak akan melepaskannya begitu saja. Davira adalah buronan keluarga kita saat ini, dia sudah membunuh nenek."
"Apa yang akan kalian lakukan jika menemukan Davira?" tanya Nathan membuat Atvita tertegun untuk sejenak.
"Ayahmu sudah memberi perintah, jika Davira terlalu sulit untuk ditangkap. Maka siapapun bisa langsung menembaknya kapanpun dan di manapun menemukan Davira," Atvita mengatakannya dengan hati-hati.
__ADS_1
Nathan menatap Atvita begitu dingin, "Di mana Paul? Dia sudah kembali?"
"Dia ada di lua,r apa yang sebenarnya sedang dikerjakan oleh Paul? Kenapa dia menghilang selama berhari-hari?"
"Aku tidak perlu menjawab pertanyaan mu, Atvita. Suruh Paul masuk sekarang juga," ucap Nathan membuat Atvita berdecak kesal kemudian melangkahkan kakinya keluar dari ruangan VIP yang ditempati oleh Nathan.
"Kau baru saja sadarkan diri, Nathan. Ku harap kau bisa lebih tenang," Emma meraih tangan Nathan untuk ia genggam.
"Mana mungkin aku tenang? Keluargaku akan langsung membunuh Davira, maka dari itu aku harus menemukan Davira sebelum mereka. Davira juga tidak boleh keluar dari kota ini, apalagi bersama dengan Jakob."
"Jadi kau masih peduli dengan keselamatan Davira? Ku kira kau akan merasa marah, kau tidak bisa menutup matamu, Nathan. Nenekmu tiada, dan itu karena racun dari Davira," Emma mengusap pelan punggung tangan Nathan.
"Nenekku yang sudah memancing kemarahan Davira, lagi pula aku masih harus mencari tahu kebenaranya," ucap Nathan sembari menarik pelan tangannya dari genggaman Emma.
"Kebenaran tentang apa?"
"Tentang racun itu, dari mana Davira mendapatkannya, dan bagaimana Davira bisa memasukkannya ke dalam gelas wine nenek," jawab Nathan kemudian menatap Paul dan beberapa dokter yang masuk ke dalam ruangannya secara bersamaan.
"Suruh dokter-dokter itu menunggu di luar," ucap Nathan membuat Atvita memutar malas bola matanya, namun wanita itu tetap melakukan perintah Nathan.
"Akhirnya Tuan sadarkan diri," Paul segera berdiri di sebelah ranjangnya.
"Bagaimana tugas yang ku berikan kepadamu, Paul? Apakah semuanya sudah siap?"
Atvita dan Emma sontak saling menatap satu sama lain, mereka kebingungan dan tidak mengerti dengan apa yang sedang dibicarakan oleh Nathan.
Setidaknya saat ini dia sudah memiliki bukti-bukti yang ia butuhkan.
"Saya tidak menyangka bahwa Nona Davira akan kembali bertindak nekat seperti ini untuk bisa melarikan diri."
"Nenek mengatakan kepadanya bahwa kitalah yang sudah melakukan pembantaian terhadap keluarga Handoko, nenek juga mengatakan bahwa aku sendiri yang turun tangan melakukan pembantaian di malam itu," ucap Nathan membuat Atvita mengernyit heran.
"Apakah memang benar keluarga kita yang telah membantai keluarga Handoko? Dan kau.....ikut andil? Kenapa aku tidak tahu apa-apa masalah itu?" tanya Atvita yang langsung mendapat gelengan kepala dari Nathan.
"Bukan keluarga kita, Atvita. Dan pastinya juga bukan aku, nenek mengatakan semua itu hanya untuk memancing kemarahan Davira. Agar Davira meninggalkanku," jawab Nathan sembari mengurut hidung mancungnya.
"Nenek mengatakan itu? Dan Davira tentu saja marah, itu artinya memang Davira yang sudah meracuni nenek!"
Nathan menghembuskan nafasnya kasar, ia segera memberi isyarat kepada Paul agar membawa Atvita pergi dari ruangannya.
"Apa?" tanya Atvita kemudian bersedekap dada, ia melayangkan tatapan tajam kepada Paul.
"Nona, Tuan Nathan sepertinya memerlukan istirahat."
"Tapi aku tidak sedang mengganggunya!"
__ADS_1
"Kau menggangguku Atvita, keluar sebelum aku yang menyeret mu," Nathan menatapnya datar, hal itu tentu saja membuat nyali Atvita menciut seketika.
"Emma, kita pulang sekarang," ajak Atvita lalu mengambil tasnya yang berada di atas meja.
Melihat raut wajah Emma, Atvita paham bahwa Emma masih harus berbicara kepada Nathan.
"Aku akan menunggu di luar, hanya sepuluh menit Emma!" Atvita keluar dari ruangan Nathan dengan rasa kesal.
Emma tersenyum tipis lalu kembali menatap wajah Nathan lekat-lekat.
"Matamu bengkak, kau menangis?" tanya Nathan baru saja memperhatikan mata Emma.
"Tentu saja, aku sangat mengkhawatirkan mu, Nathan. Kau selalu membuatku merasa ketakutan."
"Aku baik-baik saja," ucap Nathan tidak ingin jika Emma kembali menumpahkan air mata untuknya.
"Aku sangat takut saat melihat peluru lagi-lagi bersarang di tubuhmu? Kau tahu seberapa takutnya aku, Nathan? Aku bahkan merasa kesulitan bernafas saat melihatmu terbaring karena tembakan itu, aku kembali teringat dengan kejadian waktu itu."
Emma menghela nafasnya berat, dia tidak berbohong, dia memang sangat mengkhawatirkan Nathan.
"Emma, kau harus berjanji kepadaku. Separah apapun keadaanku, bahkan jika aku hampir sekarat sekalipun. Aku memohon kepadamu untuk tidak mengorbankan apapun lagi untukku," Nathan menggenggam tangan Emma.
Biar bagaimanapun dia menyayangi Emma dan merasa peduli kepada wanita itu, apalagi Emma telah berkorban banyak hal untuknya.
"Bagaimana bisa aku membiarkanmu tiada begitu saja saat aku bisa memberikan sesuatu yang ku miliki untuk tetap membuatmu hidup?"
"Tidak lagi, Emma. Aku tidak ingin menerima apapun lagi darimu, kau pikir aku merasa senang?" Nathan menggelengkan kepalanya.
"Saat aku tahu kau mendonorkan ginjal mu untukku, aku merasa hancur dan marah kepada diriku sendiri. Karena aku, kau harus merasakan sakit setiap bulannya. Meminum obat untuk jangka waktu yang tidak bisa ditentukan."
"Kenapa kau lagi-lagi membahas tentang hal itu? Aku tidak ingin membahasnya, kau mengatakan hal itu seolah-olah kau tidak menginginkan pengorbananku. Padahal ginjal mu terluka juga karena aku."
Nathan menghela nafas panjang kemudian melepaskan genggaman tangannya. Ia menatap Paul untuk sejenak kemudian kembali beralih kepada Emma.
"Ayahmu sudah mendapatkan donor ginjal untukmu? Apa perlu aku yang mencarikannya? Ini sudah lima tahun, seharusnya tidak sulit mendapatkan ginjal untukmu. Kau tidak perlu lagi menjalani terapi hemodialisa jika sudah mendapatkan ginjal."
Emma tertegun untuk sejenak mendengarnya, kemudian menggelengkan kepalanya pelan.
"Baiklah, setelah ini kau tidak boleh lagi menolak. Aku sendiri yang akan mencarikan ginjal untukmu."
"Benarkah?" tanya Emma membuat Nathan langsung menganggukkan kepalanya.
"Tentu saja, dalam waktu satu bulan aku akan mendapatkannya. Aku berjanji."
Emma memilin jari tangannya sembari memandangi wajah Nathan.
__ADS_1
"Bagaimana jika aku menginginkan ginjal Davira? Bisa memberikannya untukku, Nathan?"