
Nathan mengangkat satu tangannya, Paul segera memberikan sebuah amplop berwarna coklat kepada Edgar, membuat pria itu semakin merasa kebingungan.
"Apa ini?" tanya Edgar dengan jantung yang berdebar.
"Bukalah jika ingin tahu," jawab Nathan begitu dingin, seperti udara yang saat ini menerpa tubuh mereka.
Merasa penasaran, Edgar segera membuka amplop itu. Tangannya langsung gemetar ketika melihat beberapa lembar foto yang memperlihatkan dirinya dan juga Erick. Foto itu di ambil saat mereka berada di pelabuhan Spanyol, mereka berdua sedang melakukan transaksi jual beli senjata ilegal pada saat itu.
Dan letak kesalahannya adalah, Erick musuh lama Nathan. Mereka berdua bersaing ketat dalam dunia bisnis, Erick begitu membenci Nathan, entah apa alasannya. Padahal dulu mereka tidak mempunyai masalah dan menjalani bisnis masing-masing dengan tenang. Tapi sekarang, setiap ada kesempatan, Erick pasti berusaha untuk menjatuhkan Nathan atau bahkan membunuhnya.
Edgar berdehem singkat, "Kami hanya melakukan transaksi, Tuan Xie. Bukankah saya bebas membeli barang dari siapapun?" ia berusaha untuk tetap tenang dan berharap bahwa hanya foto itulah yang Nathan lihat.
"Sama sekali tidak masalah, yang jadi permasalahan di sini adalah ini," Nathan mengeluarkan ponselnya kemudian memutar sebuah rekaman suara yang di ambil dengan jarak yang begitu dekat.
"Tuan Xie sedang menyekap seorang wanita saat ini, penculikan itu bukan rumor semata. Nona Handoko memang sudah membuat dia tergila-gila."
"Benarkah? Itu artinya Nathan akan melakukan apapun demi Nona Handoko, sepertinya aku harus mulai menggunakannya."
"Masalahnya mereka menghilang begitu saja, tidak ada yang tahu ke mana Tuan Xie menyembunyikannya."
"Kau kliennya, kau sering bertemu dengannya. Beritahu aku jika kalian ingin bertemu nantinya. Tenang saja, akan selalu ada imbalan, apa yang kau inginkan? Senjata gratis? Atau......narkoba? Aku bisa memberikannya kepadamu sebagai bentuk hadiah. Tugasmu hanya sekedar memberitahu keberadaan Nathan, Tuan Edgar."
Rekaman suara berhenti tepat setelah Edgar menyetujui tawaran Erick, Nathan kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya. Dapat ia lihat wajah Edgar yang langsung berubah menjadi pucat pasi, Edgar sontak menatap satu persatu anak buahnya.
Edgar tahu ada yang berkhianat darinya, rekaman itu di ambil dari jarak yang dekat. Dan benar saja, matanya kini melihat senyuman di wajah salah satu anak buahnya.
Edgar mengepalkan tangannya, "Kau!" bentaknya.
Orang yang dibentak malah melangkahkan kakinya untuk bergabung bersama anak buah yang dibawa oleh Nathan.
"Jadi Anda memata-matai saya?"
"Tentu saja, saya tidak bisa percaya kepada siapapun. Bagaimana Tuan Edgar? Apakah Anda sudah menelepon Erick dan memberitahu keberadaan saya?" tanya Nathan kemudian tersenyum miring.
Nathan menatap Paul dan memberi isyarat kepada pria itu. Nathan segera mengeluarkan pistolnya, begitu juga dengan anak buahnya.
Dor.
Tanpa aba-aba, Nathan langsung menembak kaki Edgar membuat anak buah Edgar juga melepaskan tembakan mereka. Seluruh anak buah Nathan segera melindunginya, baku tembak mulai terjadi. Anak buah kedua pria itu saling menyerang satu sama lain.
"Akhhh!" Edgar berteriak kesakitan, terlihat anak buahnya yang memapah tubuhnya dan sepertinya berniat untuk masuk ke dalam kapal.
Nathan segera melompat dan menembak anak buah yang memapah tubuh Edgar tepat di kepalanya.
Dor.
Edgar begitu terkejut ia segera berlari dengan tertatih-tatih memasuki kapalnya, Nathan tentu saja menyusulnya, ia langsung menarik jas yang dipakai oleh Edgar kemudian melayangkan tinjunya di wajah mantan kliennya itu.
"Berani sekali kalian melibatkan Davira dalam rencana busuk itu!" teriak Nathan di depan wajah Edgar.
Nathan terlihat diliputi oleh amarah, ia kembali melayangkan bogeman-nya hingga hidung Edgar mengeluarkan darah.
Bughh.
"Arghh!"
Edgar sudah tidak bisa berkutik lagi, ia melirik ke arah seluruh anak buahnya yang sudah tergeletak di jembatan dengan bersimbah darah. Para anak buah Nathan begitu brutal dan tidak kenal takut, mereka bahkan terlihat menggunakan kapal dan tongkat bisbol di saat musuh-musuhnya menggunakan pistol.
"Anda salah karena sudah bermain-main dengan saya, nyawamu menjadi terancam hanya karena senjata gratis," Nathan terkekeh kecil sembari mencengkram erat leher Edgar yang kini terduduk di hadapannya.
"Ma-maafkan saya," ucap Edgar berharap ada kebaikan di hati Nathan agar mau mengampuni kesalahannya.
"Sekarang katakan, apakah Anda sudah memberitahu Erick tentang keberadaan saya?" tanya Nathan yang mana langsung mendapat gelengan kepala dari Edgar.
"Belum Tuan! Belum," jawab Edgar cepat.
"Saya ingin bukti," Nathan melepaskan cengkeramannya dan membiarkan Paul menggeledah pakaian Edgar untuk mengambil ponselnya.
Nathan menyodorkan ponsel itu membuat Edgar mau tidak mau memasukkan password-nya. Nathan membuka obrolan Edgar dengan Erick, di sana terlihat Erick yang sedang menanyakan posisinya dan Edgar yang mengatakan bahwa dia masih belum tahu pasti.
"Permohonan maaf Anda saya terima," ucap Nathan membuat Edgar menghela nafas lega.
__ADS_1
"Terima kasih, Tuan Xie. Saya tidak akan pernah mengulangi kebodohan saya lagi," Edgar bersujud di kaki Nathan yang kini menatapnya dengan begitu dingin.
"Paul, lakukan tugasmu. Buat Tuan Edgar tidak pernah menginjak Roma," setelah mengatakan hal itu, Nathan segera melangkahkan kakinya keluar dari kapal.
"Tuan!"
"Ampuni saya!"
Suara teriakan Edgar terdengar membuat Nathan tersenyum miring.
Paul berdiri di hadapan Edgar yang sudah gemetaran, Edgar menyatukan kedua tangannya memohon agar Paul tidak membunuhnya. Mata Edgar sudah memerah, bibirnya membiru karena ketakutan melihat Paul yang kini memegang sebuah kapak.
"Keputusan ada di tangan Tuan Xie, tidak seharusnya Anda ikut campur dalam urusan pribadinya. Apalagi jika hal itu menyangkut Nona Handoko."
Tanpa ingin membuang banyak waktu, Paul langsung menancapkan kapaknya ke tengah-tengah kepala Edgar hingga darah mengalir deras dari sana. Mata Edgar terbelalak seolah akan keluar dari tempatnya.
Paul mencabut kapaknya kemudian kembali menancapkannya seakan-akan tengah menebang batang pohon.
Beralih kepada Davira, wanita itu menggeliat di atas tempat tidurnya. Tangannya bergerak meraba sekitarnya, ia mengernyit karena tidak mendapati Nathan saat membuka matanya.
Padahal tadi malam pria itu terlelap bersamanya, Davira segera merubah posisinya menjaga duduk. Ia termenung di atas tempat tidurnya, Davira menggelengkan kepalanya pelan.
"Untuk apa aku peduli?" Davira tidak mengerti dengan dirinya sendiri, harusnya dia senang jika pria itu sudah tidak ada. Tapi sekarang dia malah kebingungan dan penasaran tentang keberadaan Nathan.
"Apakah dia bersama Emma?" gumamnya lalu turun dari atas tempat tidurnya.
Davira segera masuk ke dalam kamar mandi dan melakukan ritual di pagi hari, dia bangun lebih cepat dari biasanya kali ini. Setelah selesai mandi dan mengenakan pakaian, Davira membiarkan wajahnya tetap terlihat polos tanpa berniat untuk meriasnya karena tiba-tiba saja perutnya terasa begitu lapar.
Davira menatap pantulan dirinya di cermin untuk sejenak, ia tersenyum tipis menatap liontin berbentuk bulat yang saat ini ia kenakan. Nathan menyuruhnya memakai liontin yang indah itu kemarin sore, entah kapan Nathan membelinya, yang jelas Davira menyukai liontin itu terpasang di lehernya.
Setelah puas memandangi dirinya sendiri, ia keluar dari kamarnya dan melangkahkan kakinya menuju ke ruang makan, dia juga berharap bisa bertemu dengan Berta yang sangat sulit ia cari keberadaannya.
Dor.
Tubuh Davira seketika menegang mendengar suara tembakan yang begitu nyaring, langkah kakinya terhenti di tengah-tengah tangga yang begitu panjang.
Dor.
Davira menggelengkan kepalanya pelan, tanpa sadar satu tetes cairan bening keluar dari pelupuk matanya. Tangannya mencengkram erat pinggiran tangga, dadanya terasa sesak membuatnya merasa kesulitan untuk bernafas.
"Ada apa denganku?" Davira mencoba untuk menenangkan dirinya dan segera melangkahkan kakinya yang gemetaran kembali menaiki tangga.
Padahal dia tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya, tapi semenjak pembantaian di malam itu, tubuhnya selalu beraksi seperti sekarang ini ketika mendengar suara tembakan.
"Lindungi Nona!" suara teriakan terdengar.
Davira menoleh ke belakang, terlihat salah satu pengawal Nathan berlari ke arahnya.
"Nona harus masuk ke dalam kamar dan kunci pintunya," pengawal itu segera menarik tangannya dan membawanya berlari menyusuri lorong demi lorong agar bisa kembali ke kamar Davira.
"Apa yang terjadi di bawah sana?" tanya Davira kebingungan.
"Nona tenang saja, kami akan mengatasinya," jawab pengawal itu, namun tiba-tiba saja suara tembakan terdengar bersamaan dengan ambruknya tubuh pengawal itu ke lantai.
Davira terperanjat kaget, pengawal itu langsung mati di tempat dengan kepala yang mengeluarkan banyak darah. Davira bergerak mundur melihat puluhan orang yang keluar dari dalam lift. Merasa terancam, ia segera berlari secepat mungkin.
Namun tentu saja orang-orang itu lebih cepat darinya, tubuhnya kini sudah ditangkap oleh salah satu dari mereka. Tanpa berteriak sedikitpun, Davira menendang alat vital salah satu dari mereka dengan tubuhnya yang kini sudah setengah di angkat.
"Akhhh!" pekik orang itu merasa kesakitan.
Davira menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri ketika selembar kain di tempelkan ke hidung serta mulutnya. Davira berusaha untuk tidak bernafas, tetapi kain itu terus ditekan ke wajahnya membuat hidungnya terpaksa menghirup aroma khas dari obat bius yang mana langsung membuat kepalanya terasa berputar dan kegelapan berangsur-angsur menelan kesadarannya.
"Kita mendapatkannya, cepatlah. Kita harus segera membawanya kepada Tuan sebelum ada yang datang."
π_π
Paul mengemudikan mobilnya secepat mungkin ketika mendengar kabar dari Berta bahwa mansion telah diserang oleh puluhan orang. Dia mendapatkan telepon tepat setelah membuang jasad Edgar ke laut, mereka mengikat kaki Edgar dengan batu sehingga akan terus tenggelam.
"Lebih cepat lagi, Paul," ucap Nathan merasa begitu khawatir, pasalnya Davira dikabarkan menghilang bersama dengan orang-orang itu.
Cukup lama mereka menghabiskan waktu di perjalanan karena jarak antara mansion dan pelabuhan lumayan jauh. Nathan langsung keluar dari mobilnya ketika Paul berhenti di pekarangan mansion. Dapat ia lihat mayat beberapa pengawal yang bergelimpangan di luar mansion.
__ADS_1
Nathan buru-buru masuk, di dalam sana terlihat beberapa pelayan dan pengawal yang masih tersisa, mereka berkumpul untuk menyambut kedatangan Nathan dengan rasa takut yang menyelimuti mereka.
"Mana Davira?" tanya Nathan dengan nada yang begitu dingin membuat suasana di sana terasa mencekam.
Nathan mengepalkan tangannya kuat kemudian berjalan mendekat kepada salah satu pengawal yang berdiri di barisan paling ujung.
Tanpa aba-aba, Nathan langsung melayangkan tinjunya ke wajah pengawal itu.
Bughh.
Pukulan keras ia layangkan sebanyak tiga kali hingga hidung dan pengawal itu mengeluarkan banyak darah. Yang lainnya hanya bisa menundukkan kepala dengan tubuh yang gemetar ketakutan dan perasaan was-was menunggu giliran mereka.
"Apa yang kalian lakukan?! Aku menyuruh kalian untuk menjaga Davira! Dan kalian membiarkan orang-orang itu membawanya!" teriak Nathan yang sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya.
"Jika sesuatu yang buruk terjadi kepada Davira, ku kuliti kalian," ucap Nathan terdengar tidak main-main. Nathan selalu serius dengan perkataannya, sesuatu yang keluar dari mulutnya adalah hal yang mutlak.
"Urus mereka, Paul. Bebas tugaskan jika Davira sudah ku temukan, tetapi jika tidak, mereka bisa kau jadikan makanan untuk anjing-anjingku," setelah mengatakan hal itu, Nathan berniat melangkahkan kakinya ke ruang CCTV, namun tiba-tiba saja tangannya di cekal oleh seseorang membuatnya sontak menghempaskan nya.
Emma terperanjat kaget, "Nathan?"
Nathan tertegun di tempatnya melihat kedatangan Emma.
"Kau baik-baik saja? Apa yang terjadi di sini? Kenapa banyak mayat di depan? Kau tidak terluka bukan?" Emma terlihat begitu khawatir.
"Pulanglah," Nathan menatapnya dingin.
Emma menggelengkan kepalanya, "Di sini tidak aman, aku akan memanggil orang-orang ayahku."
"Jangan melakukan hal itu, aku tidak perlu bantuan dari siapapun. Pulanglah ke mansion mu, Emma," Nathan segera melangkahkan kakinya menjauh dari wanita itu.
"Nona, sebaiknya Anda turuti perkataan Tuan Nathan," Paul menghampirinya.
Emma menghela nafas panjang sembari menatap punggung Nathan yang perlahan-lahan menjauh dari pandangannya.
Tanpa mengatakan apapun lagi, Emma segera keluar dari mansion dan kembali ke mobilnya untuk pulang ke mansionnya dan memberitahu tentang masalah ini kepada ayahnya. Emma tidak ingin jika Nathan berada dalam bahaya, walaupun sebenarnya keselamatan pria itu selalu terancam setiap harinya.
Kembali beralih kepada Nathan, pria itu menatap rekaman CCTV yang memperlihatkan setiap sudut mansion-nya. Orang-orang yang datang memang begitu banyak, sedangkan para pengawal yang berjaga di mansion-nya tidak sebanyak itu karena tadi pagi dia membawa sebagian untuk menemaninya menemui Edgar.
Dapat ia lihat para pengawalnya yang memang begitu terdesak.
Braak.
Nathan menggebrak meja di hadapannya ketika melihat Davira yang dibius oleh orang-orang itu, para pengawalnya terlihat mencegah, namun orang-orang itu melepaskan tembakan beruntun tanpa arah.
"Sial," Nathan terus mengumpat, ia mengusap wajahnya kasar.
"Apakah Erick yang berada di balik ini semua? Tapi Edgar belum sempat memberitahunya, apa Edgar sudah menipuku?" gumamnya kemudian keluar dari ruang CCTV, ia berjalan dengan cepat menyusuri lorong demi lorong dan menuruni undakan tangga satu persatu.
"Cari tahu apakah Erick melakukan penerbangan ke Roma atau tidak," perintah Nathan yang mana langsung membuat Paul bergerak untuk melakukan tugasnya.
Sedangkan Nathan segera menelepon ayahnya karena dia juga mencurigai Julian atas penculikan Davira, karena dia mengingat ancaman ibunya waktu itu.
"Di mana ayah menyembunyikan Davira?" tanya Nathan langsung pada intinya saat panggilannya sudah terhubung.
"Apa maksudmu Nathan?"
Nathan tertegun untuk beberapa saat di tempatnya.
"Bukan apa-apa," jawabnya kemudian memutus sambungannya begitu saja.
Nathan tidak ingin bertindak gegabah dan malah semakin memancing kemarahan keluarganya sendiri.
"Tuan Erick memang berada di Roma sejak tadi malam, Tuan," ucap Paul menghampirinya.
"Di mana dia sekarang?" tanya Nathan sembari melepaskan dua kancing atas kemejanya.
"Menurut informasi yang saya dapat, Tuan Erick menginap di hotel *****."
"Kita ke sana sekarang, aku akan mengemudi sendiri," Nathan berjalan menuju garasi kemudian masuk ke dalam mobilnya.
Namun tiba-tiba saja dia teringat akan sesuatu, Nathan segera membuka ponselnya. Sudut bibirnya sedikit tertarik ke samping saat melihat titik merah yang ada di GPS ponselnya.
__ADS_1
"Dapat."