
Sudah satu minggu semenjak kejadian Davira yang melarikan diri dari mansion, wanita itu tampaknya benar-benar tidak memiliki niatan untuk melakukan hal itu lagi. Davira terlihat menjalini hari-harinya dengan santai dan sikap wanita itu sedikit berubah, dia tidak pernah lagi berteriak ataupun memarahi Nathan di saat pria itu tidur di kasur yang sama sepertinya.
Davira bahkan menjadi lebih penurut, bersedia makan bersama tanpa dipaksa. Tidak pernah mengusir Nathan ketika pria itu berada di dalam kamar Davira seharian, padahal yang dilakukan oleh Nathan hanyalah duduk dan mengerjakan sesuatu yang ada di laptopnya. Davira tidak lagi berontak ataupun protes, selama satu minggu ini mereka benar-benar sudah tidak berdebat lagi.
Walaupun terkadang Nathan masih mendengar wanita itu menggerutu dan mengumpat kasar dengan suara yang pelan, tapi setidaknya sudah tidak ada lagi adu mulut di antara keduanya. Entah apa yang membuat sikap Davira tiba-tiba berubah.
"Apakah karena merasa takut denganku? Atau dia jera karena kejadian saat dia melarikan diri waktu itu? Apa......dia lebih memilih hidup bersamaku karena sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi?" batin Nathan mulai bertanya-tanya.
Nathan menggelengkan kepalanya pelan, semua pemikirannya barusan adalah hal yang mustahil. Sejak dulu, Davira tidak pernah takut kepadanya. Dan wanita itu juga tidak mungkin memilih hidup bersamanya. Hanya ada dua kemungkinan yang paling kuat, dan Nathan yakin akan hal itu.
Kemungkinan pertama, Davira sedang merencanakan sesuatu yang baru untuk melarikan diri dan dia tengah menunggu hingga waktu yang tepat tiba. Kemungkinan kedua, Davira tengah merencanakan balas dendamnya, yaitu membunuhnya.
Hanya dua kemungkinan itu yang paling masuk akal, Nathan melirik ke arah Davira yang terlihat memainkan ponsel yang dia berikan sembari memakan buah jeruk kesukaannya. Dua hari yang lalu Nathan member Davira ponsel khusus, ponsel yang tidak akan bisa Davira gunakan untuk mengirim pesan apalagi menelepon.
Nathan memberikan benda itu hanya agar Davira tidak terlalu merasa bosan dan bisa bermain game kesukaannya di sana. Dan benar saja, Davira terlihat senang karena bisa bermain game dan hal itu sepertinya membuat dia menjadi sedikit lebih ceria, karena setidaknya dia sudah tidak berdiam diri di kamar tanpa melakukan apapun selain mengingat kejadian-kejadian yang menyakiti perasaannya.
"Arghh kenapa aku mendapatkan tim seperti ini? Mereka tidak bisa bermain! Benar-benar sialan!"
Nathan tersenyum tipis mendengar umpatan Davira, wanita itu memang selalu begitu saat sedang memainkan gamenya. Nathan menutup laptopnya dan melangkahkan kakinya mendekati Davira yang sedang berbaring di sofa panjang. Saat ini mereka berada di ruang kerja Nathan, dan wanita itu pun hanya menurut saat Nathan memintanya untuk menemaninya di sini.
"Apa yang kau lakukan? Pekerjaan mu sudah selesai?" tanya Davira hanya meliriknya sekilas.
"Pekerjaanku bisa ditunda, sepertinya aku ingin bermain game yang kau mainkan itu," jawab Nathan kemudian mengangkat kaki Davira yang berselonjor dan meletakkannya di atas pahanya karena dia ingin duduk di ujung sofa.
"Kau ingin mabar?"
Nathan mengernyit, "Mabar?" tanyanya tidak mengerti.
"Main bareng," Davira memutar bola matanya malas, karena Nathan benar-benar tidak mengetahui apa-apa masalah game, dan sekarang pria itu ingin bermain bersamanya?
"Di ponselmu ada game yang sama dengan yang ku mainkan?"
Nathan menggelengkan kepalanya membuat Davira segera bangkit, ia menatap Nathan tajam.
"Jika tidak memiliki aplikasi game-nya bagaimana bisa kita bermain bersama?"
"Aku bisa meng-install nya," jawab Nathan santai.
"Tidak perlu, mainkan saja di ponselku. Kau harus belajar terlebih dahulu," Davira menyerahkan ponselnya dan mendekat kepada Nathan.
"Bagaimana caranya?"
Davira berdecih meremehkan, "Kau harus memilih hero yang akan kau mainkan, biasanya aku menggunakan yang ini."
"Aku ini seorang pria, Davira. Jadi aku harus menggunakan hero pria, yang kau pilih itu wanita," sahut Nathan membuat Davira hampir tertawa karena Nathan terlihat begitu polos saat ini.
"Apa hidupmu tidak pernah bersenang-senang? Kau hanya melakukan pekerjaan di ponselmu itu?"
"Aku tidak mempunyai waktu melakukan hal-hal tidak berguna seperti ini."
Davira mendelik tajam kemudian fokus mengajari Nathan, sesekali ia mengumpat merasa kesal karena Nathan tidak kunjung bisa memainkannya. Padahal sudah mencoba tiga ronde permainan, tapi selalu saja kalah yang dia dapatkan.
"Berhenti bermain! Kau tidak memiliki bakat," Davira merebut ponselnya dari tangan Nathan.
"Aku bisa, aku baru saja belajar. Jadi wajar jika aku belum menang," Nathan berusaha untuk mengambil ponsel itu kembali, namun Davira dengan cepat menyembunyikannya di belakang tubuhnya.
"Davira, aku masih ingin bermain."
"Untuk apa bermain jika tidak bisa? Kau selalu kalah!"
"Aku hanya kalah tiga kali!"
__ADS_1
"Tiga kali itu banyak!" bentak Davira sembari menghalangi Nathan yang berusaha merebut ponselnya.
"Nathan! Kau bisa main di ponselmu!"
"Aku ingin di ponselmu," Nathan memeluk tubuh Davira membuat wanita itu meronta-ronta.
Tangan Nathan bergerak ingin merebut ponsel yang digenggam erat oleh wanita itu.
"Nathan!" Davira berteriak dan segera mengigit pundak Nathan.
"Akhh......."
Nathan terperanjat kaget membuatnya mendorong tubuh Davira hingga mereka berdua sama-sama terjatuh di sofa karena Davira yang menarik Nathan bersamanya. Alhasil, Nathan menindih tubuh Davira dan pria itu masih berusaha untuk merebut ponsel miliknya.
"Dasar pemaksa!" teriak Davira di depan wajah Nathan yang berjarak begitu dekat dengannya.
Nathan tertegun karena baru menyadari posisi mereka, Davira menatapmu tajam dengan nafas yang memburu. Sedangkan Nathan sudah tidak memikirkan tentang ponsel dan juga game lagi, dia lebih memilih memandangi wajah cantik Davira.
"Bisakah kau menyingkir dari tubuhku? Kau sangat berat," Davira merasa sesak karena tubuh Nathan tidak juga beranjak dari atas tubuhnya.
Nathan menggelengkan kepalanya pelan membuat jantung Davira berdebar-debar, jarak wajah mereka terlalu dekat sehingga Davira harus mulai menahan nafasnya.
Davira menatap manik mata Nathan tanpa berkedip, tangannya kini sudah melingkar di pinggang Nathan untuk menahan tubuh pria itu.
"Jangan macam-macam Nathan."
Nathan tersenyum, "Wajahmu memerah," tangannya mengelus semburat kemerahan di pipi Davira.
"A-aku ini sedang marah!" sahut Davira merasa malu karena Nathan mengetahui rasa gugupnya.
"Kau gugup? Jantungmu berdetak dengan sangat cepat," ucap Nathan membuat Davira mengernyit.
"Kau dukun?"
"Apa yang kalian lakukan?"
Tiba-tiba saja terdengar suara Amara membuat Nathan dan Davira sontak menatap ke arah asal suara, di sana terlihat sosok wanita berumur 47 tahun yang masih terlihat begitu cantik dengan pakaian yang elegan dan terkesan modis tengah berdiri menatap mereka berdua dengan wajah terkejutnya. Di sebelahnya juga terlihat Laura yang sedang menahan rasa cemburunya ketika melihat jarak Davira dan Nathan yang sedekat itu.
"Kenapa masih belum menyingkir dari tubuhku Nathan?" bisik Davira membuat pria itu tersadar dan segera beranjak dari tubuh Davira.
Nathan membantu Davira untuk berdiri, dan hal itu tidak luput dari pandangan Amara.
Davira merapikan dress-nya yang sedikit acak-acakan, begitu juga dengan rambutnya. Dia tahu siapa yang sedang berdiri tidak jauh dari harapannya, Davira juga mengerti tatapan itu menunjukkan rasa marah Amara kepadanya.
"Kenapa ibu bisa berada di sini?" tanya Nathan kemudian beralih menatap Laura.
"Oh aku lupa, tentu saja Laura yang memberitahu ibu."
"Yang seharusnya bertanya adalah ibu, kenapa kau menyembunyikan wanita itu di sini?" Amara menatapnya dingin sembari bersedekap dada.
"Tentu saja agar tidak ada yang menemukannya, awalnya tempat ini yang paling aman untuk menyembunyikan Davira dari kalian. Tapi sekarang sudah tidak lagi, aku sudah salah mempercayai seseorang," sindir Nathan membuat Laura menelan salivanya susah payah.
"Nenekmu akan sangat marah jika mengetahui tentang hal ini Nathan, tidak seharusnya kau menyembunyikan wanita itu di sini!" suara Amara mulai meninggi.
"Namanya Davira, dia mempunyai nama," desis Nathan merasa marah.
"Kau sudah benar-benar keterlaluan, ibu akan mengadukan hal ini kepada ayah dan juga nenekmu," ancam Amara namun tidak membuat Nathan merasa takut sedikitpun.
"Lalu setelah itu apa yang akan terjadi? Memangnya apa yang akan dilakukan oleh ayah dan nenek ketika mengetahui keberadaan Davira?" Nathan mengangkat satu alisnya.
"Tentu saja mereka a--"
__ADS_1
"Jika tidak ingin saya berada di sini, maka bebaskan lah saya! Saya sudah menjadi tawanan putramu ini cukup lama, mungkin sudah satu bulan lebih," sahut Davira memotong ucapan Amara.
"Kau pikir kami akan membebaskan mu begitu saja? Apa mendadak kau menjadi amnesia? Aku marah kau berada di sini bukan karena aku ingin membebaskan mu. Tetapi karena aku ingin Nathan membunuhmu! Bukan malah menjadikanmu pelacurnya seperti ini!"
Praang!
Emosi Nathan langsung meledak saat mendengar perkataan yang keluar dari mulut ibunya untuk wanita yang sangat dia cintai, dia pun sontak melemparkan asbak kaca ke arah Amara hingga benda itu pecah karena membentur tembok.
Amara dan Laura terperanjat kaget, mereka berdua menatapnya tidak percaya. Begitu juga dengan Davira, tidak ia sangka respon Nathan akan seperti itu.
"Berani sekali kau melempari ibu asbak!" bentak Amara merasa begitu marah dengan sikap kasar Nathan kepadanya.
"Jangan pernah lagi menghina Davira apalagi sampai menyebut dia pelacur, dia adalah wanita dengan kelas tinggi, begitu juga dengan harga dirinya. Ibu tidak pantas berkata seperti itu kepadanya, dan aku tidak ingin mendengar hal seperti itu lagi keluar dari mulut siapapun mengenai Davira. Karena aku bisa saja membuat asbak itu benar-benar mengenai ibu. Tapi tidak ku lakukan karena aku masih menghormati ibu saat ini."
"Nathan, tidak seharusnya kau berkata seperti itu kepada ibumu demi membela Davira!" bentak Laura merasa begitu kesal sekaligus ingin mencari muka di hadapan Amara.
"Tutup mulutmu dan berhenti ikut campur urusan keluargaku, kau hanya dokter pribadi di keluarga Xie, bukan bagiannya. Aku sudah salah karena selama ini memperlakukanmu dengan baik hanya karena sudah mengenalmu cukup lama dan karena ayahmu yang menjalin bisnis dengan keluargaku. Tapi mulai detik ini, tidak akan ada lagi kebaikanku untukmu, Laura," Nathan menggenggam tangan Davira secara terang-terangan seolah sedang menantang sang ibu.
"Tidak perlu mengancam Laura seperti itu! Di sini kau lah yang salah, dan seharusnya kau meminta maaf karena sudah bersikap begitu kasar kepada ibu. Kau juga sudah menyembunyikan wanita itu!" sahut Amara membela Laura, namun hal itu tidak membuat Laura merasa lega. Karena dia bisa melihat kemarahan Nathan yang begitu kentara kepadanya.
Laura tahu bahwa Nathan tidak pernah main-main dengan perkataannya, dan Laura merasa panik dan khawatir mengenai hal itu.
"Aku benar-benar bodoh," Laura merutuki kebodohannya di dalam hati, tidak ia sangka bahwa Nathan akan se-marah ini.
Awalnya Laura berpikir bahwa dengan memberitahu Amara tentang keberadaan Davira, dia akan semakin mendapat dukungan dari Amara dan Davira akan segera disingkirkan dari sisi Nathan. Namun nyatanya dia benar-benar salah langkah, Amara mungkin memang akan semakin dekat dengannya dan berada di pihaknya. Tapi Nathan tidak akan pernah bisa ia dapatkan, harapannya semakin pupus dan tidak ada lagi celah untuknya.
"Aku tidak akan meminta maaf, karena ibu sudah sangat keterlaluan. Ibu telah menghina Davira, dan tidak ada yang boleh melakukan hal itu. Ibu juga harus tahu bahwa aku tidak akan pernah membunuh Davira seperti yang kalian inginkan. Sebaiknya ibu kembali ke Indonesia atau kemanapun itu, dan bawa pelacur yang sebenarnya bersamamu," ucap Nathan membuat Amara semakin naik pitam dan hati serta harga diri Laura langsung tercoreng.
"Kau mengusir ibu?!"
"Iya, aku mengusir ibu. Jika saja ibu bertamu dan mengatakan hal-hal baik kepada Davira, maka aku akan sangat menghormati ibu," jawab Nathan kemudian membawa Davira keluar dari ruangan itu dengan terus menggenggam tangannya erat.
Davira hanya diam, hatinya bergemuruh merasa marah. Dia bersumpah akan membalas rasa sakit hatinya atas penghinaan Amara kepadanya hari ini, Davira sudah sangat muak dengan keluarga Xie dan benar-benar akan membalas mereka semua. Karena Davira yakin, bahwa dalang di balik pembantaian keluarganya adalah keluarga Xie, dengan atau tanpa diketahui oleh Nathan.
Davira diam dan tidak membalas perkataan kasar Amara hanya karena dia ingin melihat seberapa jauh Nathan bisa membela wanita yang katanya ia cintai dan aman ketika bersamanya. Dan ternyata pria itu memang begitu membelanya bahkan melawan Amara dengan cara yang membuatnya merasa terkejut.
Ia sengaja tersenyum penuh kemenangan ke arah Amara dan juga Laura yang terus melayangkan tatapan tajam kepadanya, Davira segera memeluk lengan Nathan agar kedua wanita itu semakin tersulut emosi.
Davira ingin Amara tahu bahwa putranya sudah begitu tergila-gila dan terobsesi kepada wanita yang dia sebut pelacur.
Setelah keluar dari ruang kerja Nathan dan meninggalkan Amara serta Laura di dalam sana, Davira langsung menarik kasar tangannya dan melayangkan tatapan marah kepada Nathan.
"Perkataan ibumu itu benar-benar merendahkan aku sebagai seorang wanita. Seumur hidupku, aku tidak pernah mendapatkan penghinaan seperti ini. Apa yang keluar dari mulut ibumu itu telah membuat wajahku seolah ditampar dengan keras, padahal bukan aku yang menginginkan hal ini. Tapi kau lah yang membuatku terkurung di sini bersamamu, aku tidak bisa lari darimu dan seperti yang kau katakan, tidak ada tempat yang aman untukku selain di sisimu. Kau membuatku terjebak bersamamu, Nathan. Aku tidak memiliki jalan keluar."
Davira menjeda perkataannya dengan mata yang menatap lekat manik mata Nathan, mereka berdua berdiri di tengah-tengah lorong. Saling berhadapan dengan perasaan yang sulit untuk dijelaskan.
Satu tetes cairan bening keluar dari pelupuk mata Davira.
"Maka dari itu aku berusaha untuk terbiasa di sini bersamamu, menerima keadaan dan juga nasibku yang harus terjebak bersamamu. Aku bersusah payah menekan rasa dendam ku, apa kau tahu itu rasanya sangat sulit? Aku sangat tersiksa dan sekarang aku mendapatkan penghinaan dari ibumu. Aku bukan pelacur, Nathan. Aku tidak murahan seperti yang dia katakan!"
Nathan tidak bisa mengatakan apa-apa selain mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Davira.
Setelah mengatakan hal itu, Davira segera melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya, meninggalkan Nathan yang hanya diam di tempatnya dan menatap punggungnya yang perlahan-lahan menjauh.
Davira tersenyum miring sembari menyeka air mata dari pipinya, dia sengaja berpura-pura menjadi yang paling tersakiti di sini. Davira ingin Nathan semakin marah kepada ibunya dan semakin percaya bahwa dirinya kini sudah pasrah dengan keadaannya dan melupakan dendamnya.
"Sudah ku katakan bahwa aku akan bermain rapi kali ini, keluarga di balas keluarga, darah dibalas darah. Keluargamu akan hancur dan kau akan tiada, aku bersumpah bahwa suatu saat nanti peluruku akan berada di tubuhmu. Aku tidak akan pernah melupakan bagaimana hancurnya hatiku saat kalian merenggut keluargaku, dan kau menghabisi kekasihku."
🦋🦋🦋
Jangan lupa tinggalkan jejak yaa, kasih komen, vote, dan like-nya❤️ Bunga sama kopinya juga jangan lupa hehe☕🌹 Biar aku tambah semangat ngetiknya, mohon dukungannya yaa😉
__ADS_1
Dan aku mohon maaf kalau masih banyak typo atau penulisannya belum rapi, semoga kalian suka dengan cerita ini🙃