Tawanan Tuan Xie

Tawanan Tuan Xie
Part 66 - Rekaman CCTV


__ADS_3

Davira akhirnya terisak hebat di dalam dekapan Nathan, dia benar-benar merasa terpukul dan masih belum bisa mempercayai fakta yang sebenarnya terjadi.


Mengetahui tentang fakta bahwa penyebab kehancurannya selama ini adalah Damian membuat hatinya terasa hancur. Ia kecewa dan marah kepada seseorang yang saat ini telah tiada, untuk sekedar memukul Damian untuk meluapkan kemarahannya pun dia sudah tidak bisa.


Pria itu telah mati dengan cintanya, Davira benar-benar menyesal, harusnya Damian mati di tangannya. Seharusnya dia membunuh pria yang sudah membohonginya habis-habisan.


Tidak ia sangka bahwa Damian akan tega melakukan itu semua. Davira kira dia sudah sangat mengenal Damian, ternyata tidak. Dia sama sekali tidak mengenal pria licik dan juga serakah itu.


Davira terkekeh kecil, "Bisa-bisanya aku memberikan seluruh hati dan kepercayaanku kepadanya?" gumamnya dengan suara yang terdengar parau.


"Kenapa kau tidak memberitahu semua ini kepadaku sebelum hari pernikahan itu, Nathan? Harusnya Damian mati di tanganku," Delleraz mengangkat wajahnya, menatap Nathan dengan mata yang benar-benar memerah.


"Karena kau tidak akan pernah mempercayaiku, Davira. Kau tidak akan percaya apa yang ku katakan begitu saja, butuh waktu untuk membuktikan semua ini kepadamu. Dan ini waktunya, kau harus percaya bahwa Damian memang pantas mati di tanganku. Karena aku tidak akan membiarkan pria yang sudah menghabisi keluargamu, dan menipumu menjadi suamimu. Aku tidak bisa hanya diam dan membiarkan dirimu terjebak bersama Damian."


Nathan menangkup wajah Davira dengan kedua tangannya.


"Aku melakukan itu semua untukmu," ucap Nathan sembari menatap lekat netra Davira.


"Aku bodoh, Nathan. Aku bahkan tidak mencium kebusukannya sama sekali, sekarang aku harus apa? Dia sudah mati, aku tidak bisa melampiaskan kemarahanku kepadanya. Aku tidak bisa berteriak di depan wajahnya, dan aku tidak bisa membunuh seseorang yang sudah mati!"


"Kau bisa berteriak di sini, di hadapanku," Nathan mengusap air mata yang mengalir di pipi mulus Davira.


"Maafkan aku, Nathan. Harusnya aku mempercayaimu lebih awal."


Davira kembali memeluk tubuh Nathan, menenggelamkan wajahnya di dada bidang pria itu.


Nathan membalas erat pelukan Davira, ada rasa lega karena kini Davira sudah mengetahui kebenarannya.


π_π


"Kau yakin ingin melihatnya saat ini?" tanya Nathan sekali lagi hanya untuk memastikan bahwa saat ini Davira sudah baik-baik saja.


Davira mengangguk pelan, "Aku yakin, kau bisa memutar rekaman cctv itu sekarang. Aku sangat penasaran, karena selama ini Damian mengatakan bahwa semua rekaman cctv di mansionku menghilang karena kebakaran itu. Ternyata dia yang sudah membuatnya menghilang dan menyimpannya."


"Baiklah, mungkin rekaman ini akan kembali menyakitimu," Nathan berdiri dari duduknya kemudian berpindah tempat menjadi di samping Davira.


Pria itu mendekatkan tubuhnya membuat Davira bergerak mundur dengan tubuh yang menegang.

__ADS_1


"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Davira merasa was-was.


Nathan tersenyum kecil, "Lihatlah wajahmu, aku merindukan wajah gugup mu ini."


"Apa mereka akan tahu jika aku menciummu?" tanya Nathan membuat Davira mengernyit kebingungan.


Tiba-tiba saja Nathan mengecup pipi Davira kemudian mengusapnya pelan dengan jarak wajah keduanya yang begitu dekat, satu tangannya bergerak masuk meraba punggung mulus Davira kemudian mengambil alat penyadap yang terpasang pada pengait bra wanita itu.


Davira yang merasa begitu tegang seketika tersadar, matanya langsung melotot melihat alat penyadapnya kini sudah dipegang oleh Nathan.


Pria itu tersenyum kecil menatap wajah panik Davira.


"Aku tahu kau tidak akan ikut bersamaku begitu saja ke tempat ini," Nathan terkekeh kemudian mendekatkan alat penyadap itu ke mulutnya.


"Masuklah ke mansion ini, sepertinya kalian juga harus melihat bukti-bukti yang sudah ku siapkan," ucap Nathan membuat Jakob dan yang lainnya kini saling menatap satu sama lain.


Jakob berdehem singkat, "Kita ketahuan, sebaiknya kita menemui Davira ke mansion Carlos. Aku juga merasa penasaran dengan rekaman cctv itu."


Liam menghembuskan nafasnya kasat kemudian turun dari atas kap mobilnya.


"Kau cemburu?" tanya Dex sembari mengangkat-angkat alisnya.


"Diamlah Dex," Liam segera masuk ke dalam mobilnya dengan perasaan kesal yang entah mengapa dia rasakan saat mendengar Nathan mencium Davira.


Luca hanya terkekeh, mereka semua mulai melajukan mobil masing-masing hingga sampai di depan pintu gerbang mansion Carlos yang langsung terbuka lebar.


Mereka semua segera turun dari mobil lalu memasuki mansion tersebut setelah Carlos yang sudah diberitahu oleh Nathan menyambut kedatangan mereka.


"Jonathan sudah menunggu kalian di kamarnya," ucap Carlos sambil melangkahkan kakinya, menuntun Jakob dan yang lainnya agar sampai ke kamar Nathan.


"Nathan dan Davira hanya berdua di dalam kamar?" tanya Liam.


"Iya, sedari tadi," jawab Carlos begitu santai.


"Kau ini rekan bisnis Jonathan?" tanya Jakob merasa penasaran.


Carlos mengangguk, "Kami sudah bekerjasama cukup lama, bekerjasama dengannya sangat menguntungkan."

__ADS_1


Jakob berdecak, "Cobalah bekerjasama denganku, akan sama menguntungkannya."


"Tadi itu tawaran? Kau ini......juga seorang pebisnis?" Carlos memperhatikan penampilan urakan Jakob yang tidak memperlihatkan bahwa dirinya adalah seorang pebisnis.


"Tentu saja, jangan lihat dari luarnya. Aku bukan pebisnis yang senang menggunakan jas dan kemeja."


Carlos membulatkan sedikit mulutnya, "Aku menyukai orang-orang yang simpel."


"Silahkan masuk, ini kamarnya," Carlos mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Masuklah!" suara Nathan terdengar membuat Jakob segera membuka pintu kamarnya.


Terlihat Nathan dan juga Davira duduk di sofa dengan jarak yang cukup dekat, mereka semua masuk ke dalam kamar itu, terkecuali Carlos yang tentunya segera pergi karena dia tahu bahwa apa yang akan Nathan bahas tidak ada sangkut pautnya dengannya.


"Perlihatkan rekaman itu," suruh Jakob tidak ingin basa-basi, pria itu langsung duduk di sebelah Davira.


"Kenapa bisa ketahuan? Bukankah sudah ku katakan agar menyimpannya di tempat yang aman?" bisik Jakob di telinga Davira.


Wanita itu hanya bisa menggigit bibir bawahnya.


"Aku.... sudah meletakkannya di tempat yang aman."


"Perhatikan rekaman ini baik-baik," Nathan segera menghubungkan flashdisk ke laptop milik Carlos.


Terlihat deretan video yang memperlihatkan seisi mansion Davira di setiap tanggal yang berbeda.


Nathan segera menggenggam tangan Davira sebelum menyetel satu video yang mana membuat jantung Davira terasa berdebar-debar.


Dalam video itu terlihat pekarangan mansionnya, puluhan mobil terlihat datang dan disambut dengan baik oleh para penjaga.


Damian turun bersama dengan Keenan, mereka berdua terlihat seperti seseorang yang hanya ingin bertamu. Dalam video itu terdengar percakapan Damian dan Angga yang kebingungan dengan banyaknya pengawal yang dibawa oleh Damian hanya untuk bertamu.


Tubuh Davira mulai menegang melihat wajah Damian yang benar-benar terlihat begitu dingin dan juga licik.


Dor.


Davira tersentak kaget melihat Angga yang langsung ditembak oleh Damian tepat di kepalanya. Orang kepercayaan ayahnya itu mati begitu saja di tangan calon suaminya.

__ADS_1


__ADS_2