Tawanan Tuan Xie

Tawanan Tuan Xie
Part 49 - Para Perampok


__ADS_3

Kaca belakang mobil yang dikemudikan oleh Davira pecah saat peluru terus ditembakkan oleh orang-orang bertopeng yang mencoba untuk menghentikan mereka.


"Shitt! Kenapa Jakob tidak pernah memakai kaca anti peluru!" umpat Davira merasa begitu kesal.


Davira segera menghantamkan mobilnya ke samping agar mobil yang terus me-mepetnya sedari tadi terhimpit ke tembok jalan.


Dor.


Davira menembakkan pelurunya dan terus mengemudikan mobilnya secepat mungkin, sesekali ia menengok ke belakang untuk memastikan bahwa truk mereka aman.


"Thiago! Di belakangmu!" teriak Davira melalui HT yang kini ia genggam.


"Tenang Nona, akan ku atasi," sahut Liam kemudian menyembulkan kepalanya di jendela lalu menembaki mobil orang-orang yang menyerang mereka.


"Davira, ke sebelah kiri kami!" suara Dex terdengar membuat Davira buru-buru melakukan apa yang dikatakan oleh pria itu.


"Mereka ada di atas truk! Dex, pelankan sedikit truknya!"


Dor.


"Sial!"


Mobil Davira langsung oleng saat peluru berhasil menembus ban mobilnya, disusul dengan tembakan beruntun yang terus mengenai badan mobilnya membuat Davira tidak bisa mendekati truk.


Dor.


"Davira bertahan! Aku akan membantumu!" Luca melajukan mobilnya lalu menabrak mobil orang yang sedang menembaki Davira.


"Sial, kenapa aku terus-menerus diserang?!" teriak Davira, matanya melebar saat mencium bau bensin terbakar.


"Sebaiknya kau tinggalkan mobilmu jika tidak ingin terbakar Nona!"


"Fedrix, bawa Davira ke mobilmu!"


"Aku sedang ingin melakukannya Liam!"


Fedrix langsung membuka pintu mobilnya begitu juga dengan Davira, tanpa pikir panjang lagi, Davira buru-buru melompat ke dalam mobil Fedrix.


Blaaar.


Tepat setelah itu, mobil milik Davira terbalik dan meledak begitu saja membuat mereka semua begitu terkejut.


"Arghh......mereka punya granat?"


"What?!"


"Apa yang kalian lakukan?! Cepat singkirkan dua orang itu dari atas truk!"


"Tunggu Mario!"


"Aku akan membantumu mengatasinya Liam."

__ADS_1


"Periksa pelurumu sebelum bertindak, Nona," ucap Fedrix sembari mendekatkan mobilnya kepada truk.


"Aku mempunyai cukup peluru, pelankan sedikit," Davira segera naik ke atas mobilnya dengan hati-hati.


Braak.


"Sial, Luca ke sini! Jangan sampai mereka membuat Davira jatuh!" teriak Fedrix.


Setelah Luca datang, Davira segera melompat ke truk dan berpegangan ke sana bersamaan dengan Liam yang langsung menarik tangannya agar tidak terjatuh.


"Kau bisa naik?"


"Aku tidak akan melompat dari mobil Fedrix jika aku tidak bisa memanjat truk ini," jawab Davira membuat Liam segera memanjat truk terlebih dahulu sebelum dua orang yang berada di atasnya berhasil mengambil alih kemudi dari Dex dan Mario.


Dor.


Davira menembak salah satu orang yang terlihat sedang melubangi atap truk, peluru Davira tepat mengenai kaki orang itu.


"Arghh!"


Bughh.


Salah satunya langsung menerjang tubuh Liam membuat pria itu tersungkur dan hampir terjatuh dari atas truk.


Davira segera menahan tangannya dan menendang orang berbadan kekar itu tepat pada bagian alat vitalnya.


"Akhh!"


Dor.


Timah panas itu mendarat tepat di kepala pria berbadan kekar itu hingga.


Melihat pria yang tadi ia tembak dikakinya berusaha untuk mengambil pistol, Davira segera berlari dan langsung menendang wajahnya hingga pria itu terpelanting dan terjatuh dari atas truk.


Braak.


Luca langsung menabrak tubuh orang itu hingga tubuhnya terlihat hancur di atas aspal. Terdengar suara tawa Luca dan juga Mario yang melihatnya, mereka terdengar begitu puas.


"Ughh......itu menjijikan, kalian sudah gila."


π_π


Mereka semua langsung memasuki markas setelah selesai melakukan transaksi dengan Nicholas Maxim dan mendapatkan uangnya.


Dengan wajah sumringah, Dex dan Mario mengeluarkan satu koper besar dari dalam truk dan langsung meletakkannya di atas meja.


"Ada kendala?" tanya Jakob sembari melirik penampilan Davira yang terlihat begitu kacau.


Rambut wanita itu terlihat berantakan dengan satu luka goresan di pipi kirinya karena terkena pecahan kaca mobilnya.


"Jakob, sepertinya kau harus mulai memakai kaca anti peluru," Davira terkekeh sambil mengusap lukanya.

__ADS_1


"Akan ku pikirkan," Jakob segera membuka koper tersebut, terlihat ada begitu banyak tumpukan dolar di dalamnya.


"Kenapa kau tersenyum Nona? Itu uang Tuan, bagian kita mungkin hanya sedikit dari uang yang ada di dalam koper itu," ucap Mario membuat Davira mencibir pelan.


Jakob geleng-geleng kepala dengan senyuman puas di wajah tampannya.


"Sepertinya dia tersenyum bukan karena melihat uangku," Jakob mengambil satu tumpukan uang kemudian meletakkannya di sebelah koper.


"Ini bagian kalian."


"Terima kasih Tuan."


Jakob melangkahkan kakinya mendekat kepada Davira.


"Bagaimana Davira? Apakah menyenangkan?" tanyanya sembari meletakkan kedua tangannya di pundak Davira.


"Aku merasa hidup," Davira tertawa kecil lalu menepis tangan Jakob dari pundaknya.


"Ini gila, aku hampir mati tapi aku merasa senang," Davira mendekat kepada yang lainnya lalu mengambil uang bagiannya.


"Memang seperti itu, Davira. Kau akan merasa hidup setiap kali kau hampir mati," sahut Luca kemudian menghirup dalam-dalam aroma khas uangnya.


"Sebaiknya kau berikan sedikit bonus untukku, Jakob. Aku perlu obat dan perawatan agar kulitku tetap terlihat bagus. Walaupun bawahan, aku harus terlihat cantik," Davira tersenyum tipis lalu menepuk-nepuk pundak Fedrix yang berada di sebelahnya.


"Aku akan mandi dan istirahat, tidak sabar untuk pekerjaan selanjutnya Jakob!"


Fedrix menatap punggung Davira yang perlahan-lahan menjauh.


"Sepertinya kita akan mulai terbiasa bekerja dengan gadis gila itu," gumamnya merasa benar-benar terkejut karena baru kali ini dia bekerja dengan seorang wanita, dan ternyata tidak seburuk yang ia bayangkan.


"Kelompok mana yang mencoba untuk mencuri dariku? Kalian sempat mencari tahu?" tanya Jakob sambil menutup kembali kopernya.


"Tidak, Tuan. Mereka semua mati dan kami bahkan tidak sempat melihat wajah mereka," Dex membuka kulkas lalu mengambil botol bir kesukaannya.


"Kalian meninggalkan mayat mereka di jalanan begitu saja?"


Liam mengangguk, "Tidak ada perintah, kau tidak menyuruh kami untuk membawa mayat ke sini. Kau hanya menyuruh agar kami membawa uangmu."


Jakob sontak tertawa mendengarnya, Liam memang selalu seperti itu. Tidak segan-segan untuk menjawab pertanyaannya dengan begitu santai dan Liam juga tidak pernah memanggilnya dengan embel-embel 'Tuan' apalagi 'Bos'. Namun Jakob tidak pernah mempermasalahkannya.


Liam adalah salah satu orang yang paling lama bekerja dengannya, Liam dapat dipercaya dan di andalkan.


"Maka polisi akan sibuk hari ini," Jakob mengangkat koper berisi uang itu, terasa begitu berat karena dipenuhi dengan uang di dalamnya.


"Dan hari ini aku juga akan sangat sibuk, untuk menghitung uangku tentunya," Jakob berlalu sembari membawa kopernya menuju ke dalam kamarnya.


Luca langsung menjatuhkan tubuhnya di atas sofa begitu juga dengan Fedrix, kedua pria itu mulai menyalakan rokok mereka masing-masing.


"Ini hebat, kita melakukan pekerjaan hanya dalam waktu tiga jam," ucap Mario saat melihat jam dinding yang baru menunjukkan pukul 4 subuh.


Liam menegak birnya seperti orang yang begitu kehausan.

__ADS_1


"Kita bertemu dengan sekelompok perampok amatir."


__ADS_2