Tawanan Tuan Xie

Tawanan Tuan Xie
Part 32 - Rasa Penasaran Davira


__ADS_3

Davira sedikit kaget ketika melihat Nathan yang sedang tertidur di sampingnya dengan tangan yang bertengger di perutnya. Padahal tadi malam pria itu tidak ada, tetapi saat Davira membuka matanya di pagi hari yang begitu sejuk ini, tiba-tiba saja Nathan sudah berada di atas tempat tidur bersamanya.


Pria itu masuk ke dalam kamar seenaknya dan memeluknya sesuka hatinya.


Davira memilih diam di tempatnya, dia merasa tidak memiliki energi untuk berdebat ataupun bertengkar di pagi hari seperti ini. Lagi pula percuma mengusir Nathan, pria itu tidak akan mendengarkan dan akan tetap memeluknya. Davira menatap wajah Nathan lekat-lekat, tanpa sadar tangannya bergerak mengusap rahang tegas pria itu.


"Aku merasa kau mengetahui sesuatu tentang Damian, tapi apa? Kau benar-benar berhasil membuatku merasa kebingungan, Nathan," batinnya dengan mata yang tidak lepas dari wajah pria itu.


Davira melihat ketenangan saat melihat wajah Nathan yang sedang terlelap seperti sekarang ini. Sudut bibirnya sedikit tertarik, ia tersenyum tipis ketika mengingat bagaimana wajah Emma kemarin. Davira merasa puas karena membuat Emma tidak bisa berkutik dan memilih pergi setelah dia menunjukkan bagaimana gilanya Nathan yang rela melakukan apa saja demi mendapatkannya.


Dia bahkan memberikan sindiran keras kepada Nathan dan hal itu membuat Emma merasa tidak nyaman.


Drrttt.


Drrttt.


Tiba-tiba saja terdengar suara dering ponsel membuat Davira mencari-cari keberadaannya, dia tahu bahwa tidak mungkin jika yang berdering itu adalah ponselnya. Memangnya siapa juga yang akan meneleponnya? Davira menatap ponsel Nathan yang berada di sebelah bantal pria itu. Davira segera meraihnya dan menatap nama layar ponsel yang tertera.


'Emma'


Davira melirik Nathan yang tampaknya masih terlelap. Tanpa pikir panjang, ia segera menggeser tombol hijau agar panggilan dapat terhubung.


"Selamat pagi, Nathan."


Suara Emma yang terkesan lembut kini terdengar.


"Selamat pagi, Emma," sahut Davira sengaja ingin membuat sahabat Nathan itu merasa kesal dan juga terkejut.


Hening, tidak ada suara Emma untuk beberapa saat. Davira bersorak gembira di dalam hati, dia tahu Emma pastinya sangat shock saat ini.


"Maaf, kenapa kau diam? Ada sesuatu yang ingin disampaikan kepada Nathan?


"Di mana Nathan? Kenapa kau yang mengangkat teleponku?"


Nada bicara Emma terdengar langsung berubah menjadi lebih ketus dari sebelumnya.


"Dia sedang tidur, aku tidak berani membangunkannya. Tapi apakah kau ingin membicarakan sesuatu yang penting? Aku akan berusaha membangunkannya jika kau mau," tawar Davira sebagai basa-basi.


"Tidak perlu, dia pasti masih mengantuk sampai-sampai belum bangun di jam seperti ini. Padahal Nathan selalu bangun lebih awal, ini di luar kebiasaannya."


"Cih," Davira berdecih dalam hati, ia tahu apa maksud Emma mengatakan hal itu.


Tentu saja untuk menunjukkan kepada Davira bahwa dialah yang sangat mengenal Nathan dan paling mengetahui kebiasaan pria itu.


"Kau pikir aku akan cemburu? Aku bahkan tidak peduli! Aku hanya merasa senang mengganggumu," batin Davira menggerutu.


"Iya, kau benar. Nathan masih sangat mengantuk dan pastinya kelelahan karena tadi malam.....kau tahu sendiri, dia itu sangat agresif. Aku sampai kewalahan," ucap Davira sembari menahan tawanya.


Sambungan teleponnya terputus begitu saja, Davira yakin bahwa Emma merasa tidak tahan mendengarnya. Emma pastinya cemburu dan berpikiran macam-macam tentang hubungannya dengan Nathan. Biarkan saja, Davira tidak peduli. Davira paling tidak tahan melihat wanita-wanita seperti Laura ataupun Emma.


Mereka berdua sama saja, memanfaatkan kedekatan dengan Nathan dan terlibat perasaan padahal Nathan sama sekali tidak memandang mereka sebagai seorang wanita. Davira bisa melihat dari tatapan Nathan kepada Emma, sangat datar walaupun kelihatannya Nathan memiliki rasa peduli yang besar kepada wanita itu.


"Memangnya apa yang kita lakukan tadi malam, Davira?" suara Nathan terdengar membuat Davira sontak menatapnya.


"Jadi kau sudah bangun?" tanya Davira merasa was-was karena Nathan mendengar semua perkataannya.


"Aku bangun saat ponselku berdering, tapi ternyata tawanan ku ini merasa penasaran dan mengangkatnya. Jadi apa yang kita lakukan tadi malam sampai aku begitu kelelahan?"


Davira menelan salivanya susah payah, ia berusaha untuk beranjak dari atas tempat tidur. Namun Nathan segera menariknya agar mendekat.


"Nathan, lepaskan," Davira tersentak karena kini Nathan menindih tubuhnya dengan wajah yang saling berhadapan.


Davira menatapnya tanpa berkedip sedikit pun, Nathan tersenyum tipis melihat wajah polos Davira yang terlihat begitu cantik.


"Sengaja ingin membuat Emma kesal hmm?" Nathan merapikan helain rambut Davira yang menghalangi wajahnya.


"Aku hanya bercanda," jawab Davira mulai merasa tidak karuan, jantungnya kini terasa berdetak lebih kencang dari biasanya.


"Nakal sekali," Nathan mencubit pelan hidungnya.


Melihat Nathan yang ingin mendekatkan wajahnya membuat Davira segera melayangkan bogeman nya tepat di rahang pria itu.


Bughh.


"Akhh!"


Bukan Nathan, namun Davira yang yang mengaduh kesakitan merasakan punggung tangannya membentur kerasnya rahang Nathan. Davira menatap pria itu tajam lalu mendorong tubuh Nathan agar menyingkir dari atasnya.


Nathan terkekeh kecil kemudian mengambil ponselnya yang tergeletak di samping Davira.

__ADS_1


"Ingin ke mana?" tanya Nathan mencekal tangan Davira yang terlihat akan beranjak dari tempat tidurnya.


"Ke mana lagi? Aku ingin mandi! Kembalilah ke kamarmu!" usir Davira kemudian menarik tangannya dari cekalan Nathan, ia segera berlari dengan cepat ke arah kamar mandi dan masuk ke dalam sana.


Nathan geleng-geleng kepala kemudian menelepon Emma karena penasaran mengenai apa keinginan wanita itu sehingga pagi-pagi seperti ini meneleponnya.


"Ini.....kau kan Nathan?"


"Iya, ini aku. Ada apa Emma?" tanya Nathan membuat Emma menghela nafas lega di seberang sana.


"Ku pikir Davira lagi, kau baru saja bangun?"


"Jangan berpikiran macam-macam, Davira hanya bercanda. Dia bukan wanita seperti itu," ucap Nathan tidak ingin jika Emma terlalu kepikiran dan berpikir bahwa dia memang menjadikan Davira sebagai tawanan untuk ditiduri.


"Aku merasa senang mendengarnya, apa kau sibuk?"


"Nanti sore aku akan bertemu dengan klienku, tapi pagi ini aku tidak memiliki kegiatan," jawab Nathan sembari melirik ke arah pintu kamar mandi.


"Bisakah kau menemani aku? Tidak sampai sore, biasanya satu jam juga selesai. Seperti biasa."


"Baiklah, tunggu saja di mansion mu. Aku akan sampai ke sana satu jam lagi," Nathan segera beranjak dari tempat tidurnya.


"Terima kasih, Nathan."


Nathan segera memutus sambungan teleponnya kemudian mengetuk pintu kamar mandi.


"Ada apa? Jangan coba-coba masuk!" teriak Davira dalam sana.


Nathan mengernyit lalu memutar knolp pintu yang terkunci.


"Kamar mandinya kau kunci, bagaimana bisa aku masuk?"


Davira mengerjapkan matanya beberapa kali di dalam sana, ia sudah panik karena lupa bahwa dia telah mengunci pintu kamar mandi sehingga tidak ada yang harus dia takutkan, Nathan tidak akan bisa masuk begitu saja seperti waktu itu.


"Lalu?!"


"Aku akan keluar sebentar, jangan ke mana-mana. Paul akan di sini untuk mengawasi mu."


"Terserah, kalau bisa jangan kembali!" sahut Davira membuat Nathan terkekeh dan segera keluar dari kamar wanita itu.


π_π


Davira memasang wajah santainya dan mencoba untuk mengabaikan Paul yang terus mengikutinya sedari tadi, tampaknya Nathan merasa khawatir jika kejadian waktu itu terulang kembali hingga tidak membiarkan Davira sendirian barang sedikitpun di saat dia sedang tidak berada di mansion.


Beberapa pelayan langsung menyambut kedatangannya dan menarik satu kursi untuknya, namun Davira dengan santainya berlalu begitu saja dan menarik kursi paling ujung. Para pelayan hanya bisa saling menatap satu sama lain, kursi yang ditempati oleh Davira adalah kursi Nathan. Ingin menegurnya, namun para pelayan itu tentunya tidak memiliki keberanian.


"Biarkan saja, Nona Handoko bebas duduk di mana pun dan melakukan apapun. Yang terpenting tidak membahayakan dirinya sendiri ataupun orang lain," ucap Paul membuat para pelayan itu mengerti dan segera meninggalkan ruang makan.


Kini hanya tersisa Paul dan Davira yang mulai menyantap makan siangnya, sesekali ia melirik ke arah Paul yang berdiri di sampingnya dengan wajah yang selalu terlihat datar dan juga kaku.


Davira berdehem singkat, "Duduklah, aku ingin bicara."


Paul langsung menurut dan duduk di salah satu kursi yang jaraknya cukup jauh dari Davira.


"Ke mana Nathan saat ini? Dia pergi sejak tadi pagi," ucap Davira memulai pembicaraan sebelum ke intinya.


"Tuan sedang memiliki urusan, Nona," jawab Paul seadanya.


Davira berdecak kesal, "Aku bertanya ke mana? Bukan apa yang sedang dia lakukan, jawab pertanyaan ku."


"Nathan pergi menemui Emma?" tebak Davira melihat Paul yang masih saja diam.


"Hanya itu yang ingin Nona tanyakan?"


"Jadi kau tidak ingin menjawab pertanyaan ku?" Davira mengangkat satu alisnya.


"Maaf, Nona. Tapi Nona bisa langsung menanyakannya kepada Tuan Nathan saat dia sudah kembali," ujar Paul membuat Davira menggenggam kuat garpu di tangannya.


"Baiklah, itu tidak penting. Sekarang aku ingin menanyakan satu hal lagi, dan ini tentang Damian."


Davira menatap Paul lekat-lekat, raut wajah pria itu terlihat langsung berubah dari sebelumnya.


"Apa yang sebenarnya kalian tahu tentang Damian? Kenapa Nathan terus-menerus mengatakan bahwa Damian tidak sebaik yang ku pikirkan? Aku tahu Damian memang bukan orang yang baik, kita semua bukan orang baik. Melakukan bisnis kotor, membunuh, memeras, dan banyak kejahatan lainnya yang kita lakukan. Jadi apa maksud dari 'tidak baik' yang Nathan katakan kepadaku? Apa yang tidak ku ketahui tentang Damian dan kalian mengetahuinya?"


Paul tertegun untuk sejenak dengan kedua tangan yang saling bertaut di atas meja.


"Jadi Nona sudah mulai ragu terhadap Tuan Lee? Apakah kepercayaan Nona sudah mulai goyah?"


Davira mengerjapkan matanya beberapa kali mendengar pertanyaan Paul.

__ADS_1


"Aku hanya merasa penasaran, tapi ku rasa hal itu tidak terlalu penting. Toh kau tidak menjawab pertanyaan ku dengan benar, itu artinya semua yang dikatakan oleh Nathan tentang Damian hanyalah kebohongan untuk membuat aku mencurigai kekasihku yang sudah tiada."


"Begitu kah pemikiran Nona?"


"Iya, begitu. Ingin bagaimana lagi? Kejahatan Nathan lebih nyata," jawab Davira membuat Paul segera berdiri dari duduknya.


"Habiskan makanan Nona sebelum dingin," Paul melangkahkan kakinya meninggalkan Davira sendirian di ruang makan.


Paul berjalan hingga sampai ke teras, ia merogoh ponselnya dan menelepon Nathan untuk menanyakan di mana posisinya saat ini. Namun tidak kunjung mendapat jawaban membuat Paul kembali memasukkan benda pipih itu ke dalam saku jasnya.


Sedangkan Nathan kini tengah berada di sebuah pusat perbelanjaan bersama dengan Emma setelah selesai menemani wanita itu menemui Richard seperti yang biasa mereka lakukan.


"Kau tidak makan?" tanya Emma melihat Nathan yang malah sibuk dengan ponselnya.


Nathan menggeleng pelan, "Makanlah, setelah itu ku antar kau pulang. Tidak ada lagi yang ingin kau beli bukan?" tanyanya tanpa menatap wajah Emma.


"Kau sangat sibuk? Bukankah bertemu klien sore hari?"


"Aku tidak bisa meninggalkan Davira sendirian terlalu lama, terakhir kali aku meninggalkannya. Dia membuat aku kehilangan hampir tiga puluh pengawal," jawab Nathan yang mana membuat Emma begitu terkejut.


"Bagaimana bisa dia melakukan itu? Dia berniat kabur darimu?" Emma tidak bisa membayangkan bagaimana cara Davira membunuh hampir 30 pengawal Nathan.


"Seperti yang Davira katakan, dia adalah tawanan ku. Wajar jika dia berniat kabur," Nathan mengernyit melihat satu panggilan tidak terjawab dari Paul. Biasanya Paul selalu memberitahunya hal penting jika sampai meneleponnya di saat dia sedang tidak bersamanya seperti sekarang ini.


"Tapi ku rasa Davira tidak keberatan dengan keadaannya sekarang ini, dia bahkan terlihat sudah akrab denganmu. Apakah dia sudah terbiasa?" tanya Emma dengan senyuman manis di wajahnya.


Senyuman yang sebenarnya ia gunakan untuk menutupi lukanya, nyatanya kedekatan dan perjuangannya tidak berarti apa-apa di mata Nathan. Pria itu tetap hanya akan selalu menganggapnya sebagai seorang sahabat.


"Mungkin, tapi ku rasa dia sedang merencanakan sesuatu," Nathan terkekeh kecil.


"Kau tidak takut dia balas dendam? Karena ku dengar.....kau sudah membantai seluruh keluarga calon suaminya di hari pernikahan mereka."


"Yang kau dengar itu benar, dan aku tidak merasa takut. Aku akan membuat Davira mengurungkan niat balas dendamnya," ucap Nathan kemudian berdiri dari duduknya.


Emma menegak kopi perlahan yang masih mengepulkan asap.


"Nathan, ada satu hal lagi yang membuat aku merasa sangat penasaran dan sampai saat ini aku masih belum mendapatkan jawaban yang pasti. Aku harus menanyakan langsung kepadamu karena aku akan lebih percaya dengan fakta yang keluar dari mulutmu."


"Apa yang ingin kau tahu, Emma?" tanya Nathan beralih menatap wajah wanita itu.


"Aku mendengar bahwa keluarga Handoko dibantai habis-habisan dalam satu malam, dan sampai saat ini belum diketahui siapa pelakunya. Aku mendengar rumor yang mengatakan bahwa...... keluarga Xie lah yang sudah melakukannya, apakah kau terlibat? Dan apakah Davira mengetahuinya?"


Nathan tertegun untuk sejenak kemudian beranjak dari duduknya.


"Tunggu di sini dan jangan ke mana-mana, aku ingin menelepon Paul," Nathan segera melangkahkan kakinya untuk menjauh tanpa menjawab pertanyaan Emma terlebih dahulu.


Tidak perlu menunggu waktu lama, suara Paul kini sudah terdengar melalui ponselnya.


"Katakan," perintahnya.


"Nona Davira menanyakan keberadaan Tuan."


"Lalu kau mengatakan aku pergi bersama Emma?" tanya Nathan kemudian menyalakan sebilah rokok yang sudah berada di antara bibirnya dengan pemantik miliknya.


"Tidak Tuan."


"Ada lagi?" Nathan menghembuskan asap rokoknya pelan.


"Nona menanyakan tentang Tuan Lee, dia sepertinya merasa penasaran dengan hal apa yang Tuan ketahui."


Nathan terdiam untuk sejenak, dia cukup terkejut mendengarnya.


"Saya tidak mengatakan apapun kepada Nona Davira, Tuan."


"Bagus, awasi terus dia."


"Tuan, maaf jika saya lancang. Tapi apakah sebaiknya Tuan mengatakan yang sebenarnya? Sebelum semuanya terlambat."


"Tidak sekarang, Paul. Belum saatnya, karena jika sekarang, maka hanya akan kemarahan dan amukan yang ku dapatkan. Dan saat waktunya tiba, ku harap dia mengerti," Nathan segera memutus sambungannya kemudian berbalik, ia terperanjat kaget karena tiba-tiba saja Emma sudah berada di depan matanya.


"Aku sudah selesai makan, aku ingin istirahat. Kau akan mengantarkan ku bukan?"


"Tentu saja, aku yang menjemputmu. Aku juga harus menyapa ayahmu, apakah dia ada di mansion?" tanya Nathan membuat Emma tersenyum.


"Ada, kau ingin mampir?" Emma terlihat langsung bersemangat.


Emma berusaha untuk menepis rasa penasarannya, dia tidak lagi memiliki niatan untuk bertanya karena sudah tahu bahwa Nathan tidak akan menjawabnya. Percuma saja jika dia terus menanyakan hal yang sama, hanyalah kemarahan Nathan atau diamnya Nathan yang akan dia dapatkan.


"Sudah lama aku tidak bertemu dengan Tuan Scott," Nathan menatap beberapa paper bag yang dibawa oleh Emma, namun dia tidak berniat untuk mengambil alihnya. Lagi pula dia tahu isi dari paper bag itu hanyalah beberapa lembar pakaian yang tidak berat sama sekali.

__ADS_1


Nathan tidak ingin lagi memberi perhatian berlebih kepada Emma, sekarang dia sudah dewasa dan dia sudah tahu bagaimana batas pertemanan. Nathan sudah bisa membedakan, seperti apa dia harus memperlakukan sahabatnya. Dan seperti apa dia harus memperlakukan wanita yang memiliki hatinya.


Nathan sudah bukan bocah berusia 15 atau 18 tahun lagi, dia berbeda. Begitu juga dengan pertemanan mereka.


__ADS_2