
Emma menggeliat di atas tempat tidurnya, wanita itu mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum merubah posisinya menjadi duduk. Emma merasa sudah tidur cukup lama, tetapi rasa kantuk masih ia rasakan.
Emma menghembuskan nafas beratnya, tubuhnya terasa lemas dan tidak bertenaga.
Tok. Tok. Tok.
Terdengar suara ketukan membuat Emma segera memakai jubah tidurnya.
"Siapa?!" tanya Emma dengan nada yang terdengar malas.
"Saya Nona!" sahut Lidya, wanita itu terlihat cukup panik karena dia pun juga baru saja bangun dari tidurnya, dia hanya takut kalau-kalau Emma memarahinya karena tidak disiplin waktu.
"Masuk!"
Mendengar perintah Emma membuat Lidya segera membuka pintu kamar yang tidak di kunci, dapat ia lihat Emma masih berada di atas tempat tidurnya dengan wajah khas bangun tidur dan rambut yang terlihat sedikit berantakan.
"Nona baru saja bangun?" tanya Lidya yang sebenarnya merasa lega.
Emma hanya mengangguk pelan, "Siapkan air hangat untukku, aku ingin mandi."
"Baik Nona," Lidya buru-buru masuk ke dalam kamar mandi, walaupun sebenarnya dia merasa keberatan karena dia bukanlah pembantu. Lidya adalah seorang pengawal yang bertugas untuk melindungi, bukan melayani.
Tapi apa boleh buat? Dia tidak mungkin melawan jika masih menginginkan pekerjaannya. Lagi pula saat ini hanya dirinya yang diperintahkan oleh Arthur untuk menemani Emma saat sedang berada di markas ini.
Emma melirik jam tangan miliknya yang tergeletak di atas meja, waktu sudah menunjukkan pukul setengah 8 pagi. Emma semakin merasa kebingungan karena dia tidak pernah begitu nyenyak ketika tidur di tempat yang baru apalagi tidak nyaman seperti sekarang ini, tidak ada AC dengan ranjang yang tidak keras, benar-benar tidak nyaman.
Tapi anehnya tadi malam tiba-tiba saja dia merasa sangat mengantuk kemudian tertidur seperti orang mati.
Emma segera beranjak dari atas tempat tidurnya, ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar dan berjalan menuju ke kamar Nathan. Emma ingin mengajak Nathan untuk sarapan bersama jika pria itu juga belum sarapan.
Langkah kakinya terhenti saat melewati kamar yang ditempati oleh Davira, merasa takut jika Davira mendahuluinya, ia langsung membuka kamar itu untuk memastikan bahwa Davira masih berada di dalam.
Namun tidak ada sosok Davira di dalam sana, hanya terlihat ranjang berukuran sedang yang masih berantakan dan juga lemari.
"Sial, apa Davira berada di kamar Nathan?" gumamnya merasa kesal.
Emma buru-buru keluar dari kamar itu kemudian mengetuk pintu kamar Nathan.
"Ini aku! Nathan, apa kau di dalam?!" Emma terus mengetuk pintu, tetapi tidak ada jawaban membuatnya langsung membuka pintu yang ternyata tidak di kunci tanpa pikir panjang lagi.
Emma tertegun di tempatnya saat melihat kamar Nathan yang kosong melompong, tidak ada Davira, tidak ada Paul, dan tidak ada Nathan.
Perasaan Emma mulai tidak nyaman, ia mulai berlari kecil dan membuka semua pintu kamar yang ada di lorong itu satu persatu. Dan tidak ada siapapun yang ia temukan, dia tidak melihat adanya Jakob ataupun anak buah Jakob yang kemarin ia lihat.
"Apa mereka sedang sarapan?" batinnya kebingungan.
"Aaa!"
Emma terperanjat kaget ketika melihat Rolan yang sudah berada di depannya saat ia berbalik.
"Kau mengagetkanku," Emma mengusap dadanya.
"Nona baru saja bangun?" tanya Rolan memperhatikan pakaian Emma.
"Iya, di mana Nathan dan Paul? Mereka sedang sarapan?"
Rolan terdiam selama beberapa saat, dia sudah tahu bahwa Emma pasti akan menanyakan tentang keberadaan Nathan. Dan Rolan harus mengatakan kebohongan karena dia tidak mungkin menolak permintaan Nathan.
__ADS_1
"Tuan Jonathan dan juga Paul sudah pergi sedari tadi, sebelum matahari terbit mereka sudah beranjak, mereka kelihatan sangat terburu-buru."
Jawaban Rolan tentunya membuat mata Emma melebar.
"Apa maksudmu? Nathan pergi ke mana?!" wajah Emma langsung terlihat panik.
"Tuan mengatakan bahwa dia akan kembali ke Roma, Nona," jawab Rolan yang terlihat begitu meyakinkan.
Emma mengepalkan tangannya, "Bagaimana bisa dia meninggalkanku begitu saja?!"
"Maaf Nona, tapi Tuan memang terlihat sangat terburu-buru. Mungkin Tuan Jonathan hanya tidak ingin membangunkan Nona yang tertidur sangat nyenyak, Tuan Jonathan hanya berpesan agar saya menyampaikan hal ini kepada Nona."
Emma merasa sangat kesal dan marah mendengarnya, dia merasa tidak terima karena Nathan meninggalkannya begitu saja, padahal dia sudah jauh-jauh datang ke tempat ini hanya untuk melihat keadaan Nathan dan membawanya kembali ke Roma bersama-sama. Tapi Nathan malah kembali tanpa dirinya.
"Sebenarnya ada urusan mendesak apa sampai Nathan terburu-buru kembali ke Roma? Bukankah kemarin Nathan mengatakan dia tidak akan kembali dalam waktu dekat? Pasti ada sesuatu di Roma yang membuatnya harus kembali," batinnya kemudian teringat dengan Davira.
"Di mana Davira sekarang? Dia ikut bersama dengan Nathan?" tanya Emma sembari bersedekap dada.
Rolan sontak berpikir keras karena Nathan tidak memberinya perintah apapun mengenai apa yang harus dia katakan kepada Emma tentang keberadaan Davira. Namun melihat dari sikap Emma, Rolan tahu bahwa Emma membenci Davira dan wanita itu menyukai Nathan.
"Saya tidak tahu pasti Nona, Tuan Nathan pergi bersamaan dengan rombongan Tuan Jakob. Entah mereka akan sama-sama pergi ke Roma, atau ke tempat yang berbeda. Saya tidak tahu Nona Davira ikut siapa karena saya tidak mengantarkan keberangkatan mereka sampai ke depan. Jadi saya tidak melihat Nona Davira masuk ke mobil siapa."
"Arghh benar-benar tidak becus!" teriak Emma merasa sangat emosi.
"Nona, air hangatnya sudah siap," ucap Lidya menghampiri.
Emma menatapnya dengan amarah, "Buang saja! Aku tidak akan mandi, siapkan keberangkatanku sekarang juga. Kita kembali ke Roma sekarang!"
Lidya mengernyit, "Tapi kenapa Nona?"
"Lakukan saja apa yang ku suruh!" Emma segera membawa langkah kakinya kembali ke kamarnya.
Emma mulai membuka kopernya dan mengganti pakaiannya dengan rasa kesal karena ditinggalkan oleh Nathan, ditambah ia merasa takut kalau-kalau Davira ikut kembali bersama dengan Nathan ke Roma.
Tiba-tiba saja terdengar suara dering ponselnya, melihat nama yang tertera membuatnya segera menghubungkan panggilannya.
"Emma, kau ada di mana?"
"Aku ada di Saltykovka," jawab Emma sembari menyisir rambutnya.
"Biar ku tebak, kau menyusul Nathan?"
"Tentu saja, tapi sekarang dia meninggalkanku. Dia kembali ke Roma tanpa aku!"
"Apa?! Kau ditinggalkan?"
"Iya, Erick. Tapi sepertinya dia memang memiliki urusan yang sangat mendesak. Sekarang aku sedang bersiap untuk kembali ke Roma, kau bisa membantuku? Aku ingin kau mencari tahu apakah Nathan bersama dengan Davira atau tidak, karena ku rasa penerbanganku akan tertinggal jauh dari mereka."
"Ku rasa sekarang ini hal itu tidak penting, Emma. Ada hal yang lebih penting dan ini sangat mendesak, hal yang bisa membahayakan nyawamu."
Tubuh Emma sontak menegang mendengarnya, ada rasa resah yang kini menyelimutinya.
"Apa maksudmu, Erick?"
"Orang itu berhasil melarikan diri, dia pergi dari Roma, entah ke mana perginya, dia seperti ditelan bumi. Tapi tenanglah, Emma. Aku pasti bisa menemukannya, dan akan ku pastikan bahwa dia tidak bisa bicara."
"Bagaimana bisa dia terlepas Erick? Bagaimana bisa dia pergi dari Roma begitu saja?!" suara Emma kembali terdengar meninggi, sekarang ketakutan langsung menghampirinya.
__ADS_1
"Bukankah kau sudah mengatakan bahwa akan membereskan semuanya untukku? Tapi kenapa dia sampai terlepas?!"
"Emma tenanglah, aku akan menemukannya, aku berjanji. Aku tidak akan membiarkanmu dalam bahaya, inilah sebabnya mengapa kau harus berpikir sebelum melakukan hal bodoh itu."
Emma berdecak kesal, nafasnya terdengar memburu.
"Jangan mengguruiku, Erick. Aku perlu bukti dari perkataanmu, kau harus benar-benar membereskan semuanya!"
Erick yang berada di balkon apartemennya kini tertegun untuk sejenak memikirkan hal-hal apa saja yang selama ini sudah ia lakukan untuk Emma, bahkan saat ini dia terlibat sesuatu yang akan membuat namanya terseret dan pastinya membahayakan nyawanya hanya untuk Emma.
Sedangkan jika dia berhasil membersihkan kekacauan yang diciptakan oleh Emma, wanita itu tetap saja mengejar cinta Nathan dan kini sepertinya dia hanya di anggap sebagai pesuruh.
Emma mengernyit karena tidak ada sahutan dari Erick.
"Erick? Apa kau mendengarkan ku?"
"Tentu saja aku mendengarkan mu, Emma. Aku hanya sedang berpikir tentang apa yang akan ku dapatkan jika membantumu mengatasi masalah ini."
"Ma-maksudmu?" Emma tentu saja merasa panik.
"Maksudku adalah, semua yang ku lakukan untukmu adalah sia-sia. Aku membereskan masalahmu sama saja dengan aku mempermudah dirimu agar tetap bisa berteman dekat dengan Nathan. Kau akan terus mencintainya, sedangkan aku? Apakah aku hanya berperan sebagai pesuruh mu di sini?"
"Apa yang kau katakan Erick? Apa kau sedang mabuk? Kau bukan pesuruhku, bukankah kita berteman?"
Terdengar suara gelak tawa diseberang sana, Emma semakin merasa was-was.
"Begini, Emma. Aku tidak sedang mabuk, dan aku akan menawarkan sesuatu kepadamu. Aku tidak ingin lagi melakukan sesuatu tanpa timbal balik."
Emma mengambil nafasnya dalam-dalam mencoba untuk tetap tenang.
"Memangnya apa yang kau inginkan?"
"Dirimu, aku ingin kau menjadi milikku. Maka akan ku pastikan permasalahan mu ini selesai, aku benar-benar akan membereskannya karena aku harus melindungimu. Jadi bagaimana Emma? Aku tidak ingin melindungimu sebagai teman apalagi pengawalmu. Tapi aku ingin melindungimu sebagai seorang kekasih, apakah permintaanku ini terlalu sulit?"
π_π
Nathan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali ia menatap Davira yang duduk di sebelahnya. Wanita itu semakin dingin, tidak banyak bicara dan benar-benar membatasi kontak fisik maupun mata dengannya.
Namun Nathan masih bisa sedikit bersabar, ia yakin bahwa sikap Davira akan kembali menghangat kepadanya.
Angin berhembus dengan kencang, rambut Davira terlihat berterbangan kesana-kemari dengan begitu indahnya karena mobil yang mereka gunakan saat ini adalah tipe mobil tanpa atap.
Di belakangnya terlihat mobil berwarna hitam yang dikemudikan oleh Paul, dia sengaja meminta temannya untuk menyiapkan dua mobil untuk mereka karena ia ingin menyetir sendiri.
"Mereka siapa?" tanya Davira saat Nathan melambatkan laju mobilnya karena di depan sana terlihat 5 mobil yang terlihat menghadang.
"Mereka adalah teman-temanku," jawab Nathan membuat Davira mengernyit.
"Kau memiliki teman?"
Nathan terkekeh, "Mungkin aku harus mengkoreksi perkataanku, mereka adalah orang-orang yang bekerjasama secara pribadi denganku, dengan bisnis pribadi yang ku pegang dan ku jalankan sendiri. Bahkan keluargaku tidak tahu bahwa aku memiliki hubungan bisnis dengan orang-orang di Republik Dominika ini."
Nathan menatap wajah Davira lekat-lekat kemudian merapikan helaian rambut wanita itu.
"Aku menitipkan semua bukti itu kepada mereka, dan mereka menyimpannya dengan sangat aman. Bersiaplah, kau akan melihat semua kebenarannya sebentar lagi."
Davira hanya diam di tempatnya dengan jantung yang terasa berdebar-debar. Ia merasa tidak sabar untuk mengetahui semua keberaniannya, namun ia juga merasa takut.
__ADS_1
Davira takut jika Nathan membohonginya, tetapi dia juga takut jika ternyata memang Damian adalah pelaku di balik pembantaian itu.