Tawanan Tuan Xie

Tawanan Tuan Xie
Part 81 - Jebakan


__ADS_3

Davira hanya bisa meringis melihat Jakob yang saat ini sedang mengobati sudut bibirnya yang sobek, Nathan baru saja menghajar pria itu. Dan sangat sulit membuat Nathan berhenti menghajarnya, Davira sampai merasa khawatir kalau-kalau Liam, Dex atau yang lainnya merasa terpancing dan malah membuat perkelahian menjadi serius.


Davira berdehem singkat kemudian berdiri dari duduknya, wanita itu berjalan mendekat kepada Nathan yang saat ini tengah berdiri membelakangi dirinya di balkon kamar yang disediakan oleh Alvar untuk mereka.


"Nathan, ini bukan salah Jakob atau siapapun itu. Ini juga bukan salahku, aku hanya ingin membantu menyelesaikan permasalahan ini."


Davira berdiri di samping Nathan membuat pria itu menatapnya.


"Kau tidak mengerti, Davira. Ini berbahaya, kau sudah tahu siapa yang akan menjadi lawan kita."


"Justru karena itu aku semakin ingin terlibat dalam permasalahan ini, Emma melakukan itu karena cemburu. Dia ingin menyingkirkan aku dari hidupmu melalui keluargamu, sejak awal masalah ini berasal dari kita bertiga. Jadi apapun yang terjadi aku harus terlibat."


Nathan menghela nafas panjang, "Jangan terluka," ucapnya sembari mengusap kepala Davira.


Wanita itu sontak tersenyum, "Aku tidak bisa berjanji."


"Aku sudah memeriksa rekaman itu dan yah, memang Emma pelakunya. Steffano tidak berbohong," Aaron meletakkan flashdisk ke atas meja.


"Semuanya sudah jelas, jadi apa keputusanmu Nathan?" tanya Davira membuat Nathan tertegun untuk sejenak.


"Apa kau bisa menyakiti Emma?"


"Ini sulit, Davira. Emma sudah menyelamatkan nyawaku," ucap Nathan benar-benar merasa frustasi, jika saja bukan Emma pelakunya, maka dia akan dengan mudah menghabisinya.


Tapi ini Emma, wanita itu adalah sahabatnya. Dia mengenal Emma sudah begitu lama, dan biar bagaimanapun dia menyayangi wanita itu. Emma juga pernah berkorban nyawa untuknya, dan sekarang Emma membuatnya merasa kebingungan.


"Aku sudah melaporkan hal ini kepada seluruh keluarga kita, ayahmu juga sudah tahu Nathan. Aku mengirim rekaman itu kepada mereka sebagai bukti," ucap Aaron membuat Nathan mengusap kasar wajahnya.


"Kenapa kau tidak bertanya kepadaku terlebih dahulu Aaron?!"


"Untuk apa?! Kau akan melarangku? Sekarang kau akan melindungi Emma? Apapun alasanmu, apapun hubungan kita dan keluarga Scott sebelumnya, aku tidak peduli. Emma sudah membunuh nenek, harga diri keluarga kita akan rendah jika kita tidak melakukan apa-apa bahkan setelah tahu siapa pelaku yang sebenarnya!"


"Kau tidak mengerti! Aku berhutang nyawa padanya!"


"Berhenti berpikiran seperti itu! Sedari dulu kau selalu beranggapan seperti itu, kalian impas Nathan! Kau menyelamatkan nyawanya, terluka untuk melindunginya, hal yang wajar jika Emma mendonorkan ginjalnya untukmu. Lagi pula dia masih bisa hidup dan dengan mudah mendapatkan ginjal yang baru."

__ADS_1


Aaron mengambil jaketnya kemudian menatap Jakob dan yang lainnya, mereka semua hanya diam memperhatikan pertengkarannya dengan Nathan.


"Aku akan pergi menyelamatkan Atvita, Erick masih di Spanyol. Dia ada di markas besarnya, Atvita harus segera diselamatkan."


"Kalau begitu aku ikut," sahut Alvar yang saat ini sudah berdiri di ambang pintu.


"Sudah ku katakan aku tidak membutuhkan bantuanmu."


"Kau butuh! Apa di sini kau memiliki anak buah? Kalian hanya bersembilan, kalian tidak akan bisa menyelamatkan Atvita dari orang itu. Kalian membutuhkanku dan semua anak buahku."


"Kami bahkan bisa mengalahkan puluhan anak buah Erick tanpa campur tanganmu," Aaron menatapnya tajam, rasa bencinya kepada Alvar masih sangat besar.


"Sebaiknya jangan keras kepala, Aaron. Jika ingin adikmu selamat dan kau pulang ke Roma dalam keadaan hidup, maka terima bantuannya. Ini bukan untukmu, tapi untuk adik perempuanmu itu. Jadi turunkan egomu," Jakob membuka suara sembari berdiri.


"Kami memang akan membantumu, tapi mustahil kita bisa selamat jika hanya bersembilan."


Aaron seketika tertegun memikirkan tawaran Alvar, dia tidak menginginkan bantuan Alvar. Namun dia tidak ingin jika sesuatu yang buruk sampai terjadi kepada Atvita, dia tidak boleh egois dan mengambil resiko yang bisa membahayakan keselamatan mereka semua.


"Baiklah, ini untuk Atvita. Bagaimana denganmu Nathan?" tanya Aaron beralih menatap pria itu.


"Tentu saja aku akan ikut menyelamatkan sepupuku," jawab Nathan lalu memegang kedua pundak Davira dan menatap mata wanita itu lekat-lekat.


"Aku sangat yakin, Atvita harus diselamatkan."


Nathan mengangguk kemudian menarik Davira ke dalam pelukannya. Perasaan Nathan begitu tidak karuan, dia merasa khawatir terhadap Atvita dan juga Davira, namun di sisi lain dia juga merasa resah atas apa yang akan terjadi terhadap Emma nantinya.


π_π


Puluhan mobil melaju dengan kencang, Davira mengemudikan mobilnya mengikuti mobil Nathan yang berada di urutan paling depan. Di belakang mereka terdapat puluhan mobil yang dikemudikan oleh anak buah Alvar.


Tidak tanggung-tanggung, pria itu membawa kurang lebih 50 orang dengan senjata yang lengkap untuk menyerang markas Erick. Aaron mendapat informasi bahwa Erick membawa Atvita ke sana.


Davira mengusap kalung di lehernya, jantungnya terasa berdebar-debar membayangkan apa yang akan terjadi.


Tidak butuh waktu lama, terlihat bangunan yang sudah begitu tua dan besar di depan sana.

__ADS_1


Alvar dan juga Aaron segera menyamakan laju mobil mereka agar sejajar dengan Nathan, mereka bertiga menambah kecepatan secara bersamaan membuat mobil ketiganya berhasil menghancurkan pagar gedung itu.


Mereka semua segera turun dari mobil masing-masing dengan penuh kewaspadaan.


Nathan tertegun di tempatnya, dia tidak melihat adanya orang yang berjaga di depan pintu masuk gedung ini.


"Seperti tidak ada orang, apa mungkin mereka sudah pergi?"


"Itu yang baru saja ingin ku tanyakan, Davira," sahut Mario sembari memperhatikan sekelilingnya.


"Dari mana kau mendapat informasi Aaron? Tidak ada siapapun di sini!" Alvar menghela nafas kasar.


"Diamlah, kita harus memeriksa ke dalam," Aaron segera melangkahkan kakinya terlebih dahulu.


"Tetap di belakangku," ucap Nathan yang mana langsung mendapat anggukan kepala dari Davira.


Alvar mengisyaratkan orang-orangnya agar bergerak maju terlebih dahulu, mereka langsung masuk dengan menendang pintu besi itu.


Mereka berjalan dengan cepat, gedung itu benar-benar gelap tanpa adanya pencahayaan sedikitpun.


"Tidak akan ada orang, di sini sangat gelap. Aku yakin Erick sudah pergi," ucap Jakob sembari mengeluarkan senternya.


"Kita harus memeriksa setiap sudut, gedung ini sangat besar. Bagaimana jika adikku benar-benar disembunyikan di dalam sini?"


Aaron terus berjalan membuat Nathan tentu saja mengikuti sepupunya itu.


"Apa kita salah gedung? Ini gedung yang benar bukan?"


"Ini gedung yang benar," jawab Aaron begitu yakin, tidak mungkin jika dia salah informasi.


Tiba-tiba saja terdengar suara yang mana membuat tubuh mereka sontak menegang, Nathan langsung menggenggam tangan Davira kemudian menyeretnya menjauh.


"Ini jebakan! Kita harus keluar sekarang juga!"


"Sial."

__ADS_1


Mereka semua segera berhamburan berlari bersamaan dengan bom yang sebentar lagi akan meledak.


Blaar!


__ADS_2