Tawanan Tuan Xie

Tawanan Tuan Xie
Part 74 - Menyelidiki


__ADS_3

Davira termenung di atas balkon kamar yang sekarang dia tempati di mansion milik Carlos, dia benar-benar merasa bosan dan tidak tahu harus melakukan apa. Usahanya untuk membujuk Nathan agar membawanya ke Roma tidak membuahkan hasil, Nathan tetap dengan keputusannya membuat Davira kini sendirian di tempat yang sangat asing bagi wanita itu.


Davira menatap layar ponselnya, di sana terlihat obrolannya dengan Nathan beberapa saat yang lalu. Pria itu menceritakan semua yang terjadi di Roma kepadanya, Davira merasa lega karena Julian dan juga Aaron memberikan waktu kepada Nathan untuk mencari pembunuh Gayatri yang sebenarnya.


Namun Davira merasa kesal karena seharusnya dia ikut andil dalam masalah ini, dia adalah orang yang terlibat, tertuduh karena racun itu berada di dalam tasnya. Harusnya dialah yang membantu Nathan menyelesaikannya, tapi pria itu malah menyuruhnya berdiam diri sampai nanti semua permasalahan selesai.


Tiba-tiba saja Davira merasakan tepukan di pundaknya, hal itu membuat Davira segera berbalik dan memelintir tangan seorang pria yang ternyata adalah Carlos.


"Akhh lepaskan Davira!" teriak Carlos merasa kesakitan.


Davira segera melepaskan tangan pria itu, ia melayangkan tatapan tajam kepada Carlos.


"Kenapa kau masuk ke kamarku? Aku tahu ini mansionmu, tapi untuk saat ini aku menempati kamar ini. Jadi tidak seharusnya kau masuk tanpa permisi."


Carlos terkekeh kecil, "Maafkan aku Nona, tapi pintu kamarmu ini tidak kau kunci dan aku sudah memanggilmu. Kau tidak mendengarnya?"


"Bagaimana bisa aku mendengarnya? Kamar ini sangat luas," Davira memutar bola matanya malas.


"Ada apa?" tanya Davira sembari bersedekap dada.


"Kau akan terus berada di dalam kamar? Apa kau tidak ingin keluar mansion? Nathan memperbolehkanmu keluar asalkan pengawalku menemanimu."


Mata Davira sontak berbinar mendengarnya.


"Benarkah? Tapi Nathan tidak mengatakan apapun kepadaku."


"Dia berpesan padaku, jadi ke mana kau ingin pergi Nona?"


"Apakah akan banyak pengawal yang menemaniku?" Davira bertanya balik tanpa menjawab pertanyaan Carlos terlebih dahulu.


"Berapa banyak yang kau inginkan?"


Davira langsung tertawa, "Hanya satu, aku tidak ingin terlihat menonjol dengan dikawal oleh banyak pengawal seperti putri pejabat."


"Kalau begitu aku yang akan menemanimu."


"Nathan tidak akan menyukainya," ucap Davira yang tahu betul bahwa Nathan adalah pria pencemburu.


"Aku akan meminta izin padanya."

__ADS_1


"Tidak perlu, aku ingin pengawal wanita yang menemaniku. Apa kau bisa memberikan pengawal wanita?" tanya Davira dan satu alis terangkat.


"Tentu saja, Nona. Apa kau juga memerlukan supir?"


Davira segera menggeleng, "Siapkan mobil, aku akan menyetir sendiri."


"Ke mana kau akan pergi?" Carlos menatapnya penasaran.


"Berkeliling," jawab Davira membuat Carlos segera melangkahkan kakinya keluar dari kamar Davira untuk menyiapkan permintaan wanita itu.


π_π


"Kau terlambat, aku hampir meninggalkanmu," Nathan langsung mematikan rokoknya sembari berdiri dari duduknya saat melihat kedatangan Aaron.


"Katakan, ke mana kita akan pergi?" tanya Aaron dengan tatapan yang masih tidak bersahabat.


"Tentu saja ke tempat kejadian, tempat itu awal dari masalah."


"Bukan tempatnya, tapi Davira. Awal masalah bermula saat kau membawanya ke acara pertemuan keluarga."


Nathan sontak menatapnya tajam, "Jangan memancingku Aaron."


"Rekaman seluruh cctv saat kejadian itu tidak ada bukan? Menghilang begitu saja, Davira tidak akan bisa melakukannya. Hanya orang berpengaruh yang bisa."


"Lalu siapa yang kau curigai?"


"Belum ada, tapi kita harus kembali memeriksa para pelayan yang saat itu bertugas," jawab Nathan membuat Aaron mengernyit.


"Tapi kami sudah memeriksa semuanya."


"Tapi aku belum, aku harus memeriksanya sendiri. Paul, kau mendapatkannya?" tanya Nathan saat Paul datang dengan membawa map berwarna coklat di tangannya.


"Ini daftar semua orang yang ada saat acara pertemuan, para petugas dapur, pelayan dan security, semua data mereka ada di dalam map itu."


"Bagus, kita ke gedung itu sekarang juga."


Aaron hanya diam mengikutinya, Aaron ingin tahu bagaimana cara Nathan mengulik permasalahan yang saat ini mereka hadapi. Dia juga ingin segera tahu secara pasti siapa orang gila yang pembunuh neneknya.


"Kau tidak perlu ikut, Paul. Masih banyak tugas yang harus kau selesaikan," ucap Nathan saat mereka sudah sampai di basement.

__ADS_1


"Baik Tuan," Paul menundukkan sedikit kepalannya kemudian pergi terlebih dahulu bersama mobilnya.


"Nice car," puji Nathan saat melihat mobil Aaron yang terlihat masih baru.


"Ingin ikut denganku?"


"Aku akan naik ke mobil itu jika aku yang mengemudinya," jawab Nathan membuat Aaron terkekeh kecil sebelum wajahnya kembali menjadi datar.


"Dalam mimpimu."


Nathan segera masuk ke dalam mobilnya, begitu juga dengan Aaron. Mobil keduanya mulai melaju meninggalkan basement apartemen dan membelah jalan raya dengan kecepatan tinggi.


Sedangkan saat ini Emma baru saja membuka matanya, ia menghela nafas panjang saat melihat pria yang sedang memeluknya saat ini bukanlah pria yang dia inginkan.


Selama ini Emma mengira bahwa hidupnya sangatlah sempurna, ia hidup tanpa kekurangan apapun, semuanya bisa dia dapatkan. Tapi saat ia jatuh cinta kepada Nathan, dia mulai merasa bahwa ternyata hidupnya tidaklah sempurna.


Emma masih belum bisa mendapatkan Nathan, sekeras apapun usahanya, Nathan selalu berpaling darinya. Menggapai pria itu begitu sulit hingga rasanya Emma hampir gila karena untuk pertama kalinya keinginannya tidak terpenuhi.


Emma menatap wajah Erick lekat-lekat, berusaha untuk mencari-cari sesuatu. Namun dia tidak menemukannya, tidak ada sedikitpun perasaan cinta untuk Erick. Emma tidak mengerti mengapa Erick sampai seberani ini, mengancamnya dan mengekangnya. Itu adalah hal paling bodoh yang pernah dilakukan oleh Erick.


Pria itu mungkin mengira bahwa Emma tidak akan melakukan apa-apa dan tunduk di bawah ancamannya. Tapi nyatanya Emma tidak akan tinggal diam, Emma akan membuat Erick menyesal karena sudah mengancamnya.


Emma segera menyingkirkan tangan Erick yang berada di atas perutnya kemudian beranjak dari tempat tidur pria itu sembari memakai kaos milik Erick untuk membungkus tubuh polosnya.


Ponselnya terdengar berdering membuat Emma buru-buru meraih benda pipih itu.


"Ada apa Lidya?" tanya Emma saat panggilan sudah terhubung.


Emma tertegun mendengar apa yang disampaikan oleh Lidya dari seberang sana.


"Kau benar-benar tidak memberitahu ayahku masalah ini bukan?" Emma menggigit kuat bibir bawahnya.


"Jangan melakukan apa-apa! Aku tidak ingin ayahku mengetahui hal ini, aku sendiri yang akan mengatainya."


Emma langsung memutus sambungan teleponnya begitu saja dengan perasaan cemas yang menyelimutinya.


"Apa ada masalah Emma?" suara serak khas bangun tidur terdengar membuat Emma sontak menatap Erick.


Emma mengambil asbak yang ada di atas meja kemudian membantingnya ke lantai membuat pecahan kacanya berserakan.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan Erick? Kau harus bergerak sekarang juga! Cari pria itu dan bunuh bagaimanapun caranya!"


__ADS_2