
Byuur.
Se-ember air disiramkan ke tubuh Davira yang kini tengah duduk terikat di atas kursi. Pipi Davira ditepuk-tepuk cukup keras membuat wanita itu mau tidak mau membuka kelopak matanya, Davira memperhatikan satu persatu orang yang berada di dalam ruangan itu.
Davira sudah tidak kaget lagi, sudah ia duga bahwa dia pasti akan diculik. Sekarang dia hanya bisa menebak-nebak, siapa yang telah menculiknya? Apakah dalangnya adalah Amara? Atau orang lain yang murni memiliki dendam kepada Nathan?
"Wanita ini sangat cantik," ucap salah satu dari orang-orang berpakaian hitam itu dengan menggunakan bahasa Italia.
"Bos yakin akan membunuh wanita secantik ini?" tanya yang lainnya kemudian mengelus pipi Davira, membuat sang empu melayangkan tatapan tajam kepadanya.
"Ku rasa Bos akan memakainya terlebih dahulu, ku harap kita mendapatkan kesempatan setelahnya," suara gelak tawa terdengar begitu puas.
Sedangkan Davira sudah mulai merasa panik kalau-kalau hal itu benar-benar terjadi.
"Siapa Bos yang mereka maksud? Dan kenapa mereka ingin membunuhku?" batinnya terus bertanya-tanya, ia merasa kebingungan sekaligus ketakutan.
Davira merasa tidak berdaya saat ini, dikelilingi oleh 15 orang pria yang pastinya pandai berkelahi dan mereka semua dilengkapi oleh senjata. Sedangkan dia? Ia terikat di atas kursi, tidak bisa melepaskan diri. Davira merasa berada di jalan buntu.
"Jangan menyentuhku," desis Davira ketika salah satu dari mereka berada di hadapannya dan menarik tengkuknya, berusaha untuk mencium bibirnya.
Tentu saja Davira tidak ingin hal itu terjadi, Davira menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Merasa percuma, Davira segera membenturkan kepalanya dengan keras ke wajah pria itu.
"Awww!" Davira meringis kesakitan, dahinya terasa begitu sakit. Tapi apalah daya? Bahkan untuk sekedar mengusapnya pun dia tidak bisa.
"Akhh......." pria mesum yang ingin menciumnya barusan terdengar meringis sembari memegangi hidungnya yang mengeluarkan darah.
Teman-temannya sontak menertawakannya, dan hal itu membuat si pria mesum semakin merasa marah kepada Davira. Pria itu langsung menarik rambut Davira membuatnya terdongak.
"Kau akan ku buat pingsan dan ketagihan," bisik pria itu tepat di telinganya, Davira bergidik geli.
"Tidak akan, kau tahu kenapa? Karena tubuhku tidak akan pernah menikmati sentuhan pria rendahan seperti kalian semua ini!" ucap Davira begitu berani.
Plaak.
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Davira hingga kini terlihat memerah.
Rambut Davira dijambak dengan kuat membuatnya meringis merasa bahwa rambutnya seolah akan ditarik sampai lepas dari kulit kepalanya.
Davira menatap pria itu dengan matanya yang memerah, melihat bahwa pria itu kembali mendekatkan wajahnya dan ingin menciumnya membuat dia segera menggelengkan kepalanya.
"Arghh Nathan akan membunuhmu!" teriak Davira, entah mengapa dia langsung teringat dengan pria itu. Hanya Nathan yang ia ingat dan hanya Nathan lah harapan terakhirnya.
Plaak.
"Sshhhh......."
Davira hanya bisa meringis menahan rasa sakit dan panas pada pipinya.
"Bagaimana bisa aku diperlakukan seperti ini?!" batin Davira berteriak, merasa tidak terima dan juga marah.
Pria itu kembali tertawa dan mulai mencengkram lehernya.
"Jangan sampai dia mati sebelum Bos datang," yang lainnnya memperingati.
"Aku tahu, aku hanya sedang ingin bermain-main dengan wanita angkuh ini," sahut pria itu kemudian memperlihatkan senyum mesumnya.
"Dan jangan sampai Bos kita hanya mendapatkan sisa, dia bisa mengamuk," mereka semua mulai tertawa membuat Davira benar-benar merasa geram.
"Kenapa tidak menangis? Harusnya kau menangis dan memohon ampun, bukannya malah menghina kami."
"Untuk apa aku menangis? Aku tidak takut dan tidak akan pernah memohon kepada kalian," Davira berusaha keras agar tidak terlihat gentar walaupun sebenarnya kakinya terasa lemas dan jantungnya berdebar kencang merasa takut jika dibunuh ataupun dilecehkan.
"Akhh......"
Cengkraman di leher Davira kini menguat membuat Davira merasa kesulitan untuk bernafas. Wajah Davira sudah mulai memerah, dia hampir kehabisan oksigen, namun cengkraman pria itu tidak kunjung dilepaskan.
"Lancang sekali kau menyiksanya sebelum aku," sebuah suara terdengar membuat cengkraman di lehernya langsung terlepas.
Davira terbatuk-batuk dan meraup oksigen sebanyak mungkin, dia yakin lehernya pasti telah memerah saat ini.
Bughh.
Seorang pria dengan setelan mahal yang baru saja datang langsung melayangkan bogeman mentah kepada pria mesum yang tadi mencekiknya. Davira yakin bahwa yang datang itu adalah seorang Bos dari orang-orang yang sekarang berdiri di sampingnya dengan kepala tertunduk.
__ADS_1
"Maafkan saya, Tuan," pria mesum itu berlutut dan memohon ampun.
"Ck, kenapa kau menampar wajah cantiknya?" pria bernama lengkap Dante Homar itu mulai melangkahkan kakinya mendekati Davira.
Melihat dari wajah dan juga aksen yang Dante gunakan, Davira tahu bahwa pria itu pastinya asli Italia.
Dante meringis pelan, "Pasti sangat sakit," tangannya bergerak mengusap lebam di tulang pipi Davira.
"Aku paling tidak tega jika melihat wanita secantik dirimu terluka," ucap Dante membuat Davira berdecih pelan.
Melihat tatapan tajam Davira membuat Dante terkekeh dan segera membungkukkan sedikit tubuhnya agar posisi mereka menjadi sejajar. Davira membalas tatapannya dengan berani, hal itu membuat Dante cukup tercengang dengan keberanian dan ketenangan yang dimiliki oleh Davira.
Biasanya para wanita yang dia culik akan langsung menjerit-jerit meminta tolong dan memohon ampun, menangis sejadi-jadinya dengan tubuh yang gemetar ketakutan. Namun Davira tidak terlihat seperti itu, Davira tampak tenang, tidak mengeluarkan air mata setetes pun walaupun wajahnya telah mendapat tamparan.
"Bagaimana rasanya menjadi tawanan Nathan? Dia memperlakukanmu dengan baik? Ku dengar kau diculik di hari pernikahanmu, tidak ingin berterima kasih kepadaku? Aku sudah menolong mu agar terbebas darinya," Dante meletakkan kedua tangannya di pundak Davira.
"Aku tidak mengenalmu, aku juga tidak meminta bantuan darimu. Jadi untuk apa berterima kasih? Lagi pula kau akan membunuhku bukan?" Davira mengangkat satu alisnya.
"Siapa yang mengatakan hal itu? Aku bisa saja berubah pikiran, sayang. Awalnya aku tidak tahu bahwa tawanan yang ku culik dari Nathan ternyata secantik dirimu."
Bibir Davira sedikit berkedut mendengarnya, dia benar-benar muak melihat wajah Dante yang berada tepat di depan wajahnya. Pria itu memang tampan, tapi tidak se-tampan Nathan ataupun Damian. Jadi tentu saja Davira tidak akan terpesona.
"Davira Handoko, aku pernah mendengar namamu. Cukup terkenal karena ayahmu, dan sekarang sepertinya aku benar-benar berubah pikiran. Ingin menjadi tawanan ku?" tanya Dante membuat Davira terkekeh kecil.
Dante mengernyit, selama ini tidak pernah ada seorang wanita yang berani menertawakannya seperti yang dilakukan oleh Davira sekarang ini.
"Tawaran yang sangat menarik ketika aku tidak punya pilihan lain, aku hanya mempunyai dua, benar? Menjadi tawanan mu, atau mati. Tapi sebelum aku memutuskan, aku ingin tahu apa tujuanmu? Apakah memang aku? Atau Nathan?"
"Tadinya Nathan, tapi sekarang kau," jawab Dante kemudian mengisyaratkan semua anak buahnya agar keluar dari gudang itu.
Davira mulai merasa was-was saat pintu gudang ditutup rapat-rapat dan kini hanya tersisa Dante dan dirinya yang terikat di dalam gudang itu.
"Aku ingin bersenang-senang, wajah dan tubuhmu membuat aku tidak tahan untuk tidak mencicipinya. Percayalah, aku lebih hebat dari pada Nathan," bisik Dante di telinga Davira kemudian menjilatinya membuat mata wanita itu melebar seketika.
Dante tersenyum miring, "Sudah mulai merasa takut, Nona?" tanyanya melihat mata Davira yang sudah tidak bisa berbohong lagi.
Bohong jika Davira tidak merasa takut, tangan Dante bergerak mengusap pundaknya kemudian turun hingga ke pergelangan tangannya.
Kraak.
"Jangan macam-macam denganku, kau tidak tahu bagaimana Nathan," ancam Davira membuat Dante tertawa terbahak-bahak.
Tanpa berniat mengatakan apapun, Dante langsung memeluk tubuhnya kemudian membenamkan kepalanya di ceruk leher Davira yang sedari tadi menggodanya. Dia mulai mengecup dan menghisap, meninggalkan tanda di sana.
"Dasar bajingan!" teriak Davira dengan air mata yang mulai menetes.
Davira tidak ingin jika pria manapun melecehkannya, Davira tidak sudi dan dia merasa jijik mendapatkan perlakuan seperti sekarang ini.
Tiba-tiba saja terdengar suara keributan membuat Dante menghentikan aksinya, Dante kembali berdiri tegak dan menoleh ke belakang.
Sedangkan Davira mulai menghela nafas lega.
"Lihat? Nathan sudah datang, dia adalah pemilik ku. Dan aku hanya bisa menjadi tawanannya," ucap Davira kemudian tersenyum miring.
"Sial," umpat Dante bersamaan dengan pintu gudang yang hancur ditabrak oleh mobil Nathan.
Dante segera mengeluarkan pistolnya, Nathan dengan cepat turun dari mobilnya ketika melihat bagaimana keadaan Davira. Tangannya terkepal kuat melihat pakaian Davira yang robek dan juga berantakan.
Dor.
Suara tembakan terdengar nyaring, puluhan anak buah yang Nathan bawa langsung bergerak menyerang di luar sana. Nathan berguling untuk menghindari tembakan Dante.
Tidak dia sangka bahwa Dante lah yang dia dapati di sini, bukan Erick seperti dugaannya.
Dor.
Peluru yang dilepaskan oleh Nathan berhasil mengenai kaki Dante yang sedang berlari sedikit menjauh. Tubuh Dante langsung tersungkur ke lantai, Nathan segera berlari ke arahnya dan menerjangnya hingga tidak bisa berdiri kembali.
Nathan menindih tubuhnya kemudian melayangkan bogeman-nya ke wajah Dante.
"Berani sekali kau melibatkan Davira!"
Bughh.
__ADS_1
Dante berusaha untuk berontak, namun Nathan langsung menekan ujung pistolnya ke telapak tangan musuhnya itu.
Dor.
"Akkhhhh!"
Nathan menembaknya membuat Dante berteriak kesakitan, Nathan melirik ke arah Davira dan segera menyingkir dari tubuh Dante. Tidak lupa dia mengambil pistol lawannya yang kini tengah tergeletak di lantai dan masih merintih-rintih kesakitan.
"Davira," Nathan langsung memeluk tubuh wanita itu.
"Maafkan aku karena terlambat," Nathan benar-benar merasa bersalah terhadap apa yang terjadi kepada Davira saat ini.
Davira memejamkan matanya, entah mengapa dia langsung merasa nyaman dan aman berada di dalam pelukan Nathan.
Paul terlihat datang dan membantu melepaskan tali yang mengikat tangan serta kaki Davira, Nathan mengusap pergelangan tangan Davira yang memerah. Matanya bergerak memperhatikan sekujur tubuh Davira, dapat ia lihat lebam di pipi wanitanya.
"Mereka menamparmu?" tanya Nathan yang mana langsung mendapat anggukan kepala dari Davira.
Pandangan Nathan beralih pada leher Davira, terlihat satu bercak berwarna kemerahan di sana. Dan hal itu langsung membuat emosinya semakin bertambah besar.
Nathan segera melepaskan jas-nya dan hanya menyisakan kemeja berwarna hitam di tubuhnya, Nathan memakaikan jas itu untuk menutupi bagian dada Davira yang sedikit terbuka.
"Apa saja yang dia lakukan kepadamu?" tanya Nathan dengan emosi yang sudah berada di ubun-ubun.
Davira yang masih ketakutan kembali meneteskan air mata, ia langsung memeluk tubuh Nathan membuat pria itu segera membalas pelukannya.
"Dia mencoba untuk melakukan sesuatu kepadaku, Nathan. Dia sangat menjijikan, dia mencium leherku," jawab Davira sembari terisak di dalam pelukan Nathan.
"Paul, bawa Dante ke mansion. Jangan langsung membunuhnya, dan jangan sampai dia bisa menghubungi seseorang," setelah mengatakan hal itu, Nathan segera melonggarkan pelukannya kemudian menangkup wajah Davira dengan tangannya.
"Hey, tidak perlu menangis. Aku sudah ada di sini, tidak akan ada lagi yang bisa menyakitimu," Nathan mengusap air mata yang mengalir di pipi Davira.
"Bunuh dia Nathan," ucap Davira melirik ke arah Dante yang kini berteriak karena diseret oleh Paul seperti binatang.
"Tentu saja aku akan melakukannya," sahut Nathan kemudian menggendong tubuh Davira ala bridal style membuat Davira tersentak kaget.
"Akan ku pastikan dia mengalami penderitaan sebelum kematian," Nathan melangkahkan kakinya menuju kembali ke mobilnya..
Davira menyandarkan kepalanya di dada bidang Nathan, aroma tubuh pria itu begitu menenangkan.
"Aku senang mendengarnya."
Sesampainya di mansion, Nathan melangkah masuk ke dalam dengan menggendong tubuh Davira. Para pelayan sontak menghela nafas lega melihatnya, di belakang Nathan terlihat Paul yang menyeret tubuh seorang pria dengan menggunakan rantai layaknya seekor anjing. Tubuh Dante terus diseret menuju ke ruang bawah tanah hingga darah di kaki dan tangannya berceceran mengotori lantai.
Para pelayan hanya diam melihatnya, ini bukan pertama kalinya Nathan membawa seseorang dengan keadaan terluka ke mansion. Para pelayan sudah tahu dan bisa menebak tentang apa yang terjadi kepada orang-orang yang disekap oleh Nathan di ruang bawah tanah.
Nathan masuk ke dalam kamarnya dan membaringkan tubuh Davira dengan sangat hati-hati di atas tempat tidurnya, Nathan duduk di sampingnya dan menatap Davira lekat-lekat. Nathan mengusap kepala Davira kemudian mendekatkan wajahnya
Ia melirik bercak merah di leher Davira "Ingin ku hapus tanda itu?" tanyanya tanpa melepaskan tatapannya dari Davira.
Wanita itu terpaku di tempatnya merasakan usapan lembut di pipinya, entah mengapa dia menganggukkan kepalanya membuat Nathan langsung membenamkan wajahnya di ceruk lehernya. Nathan mulai mengecupnya dan menghisapnya membuat tubuh Davira seketika meremang.
Davira mencengkram sprei di sampingnya, matanya terpejam menikmati sentuhan Nathan. Isapan pria itu terasa begitu kuat di lehernya, Nathan sengaja ingin memberikan tanda bahwa Davira hanyalah miliknya. Nathan menggeram mencoba untuk menahan diri saat Davira menekan kepalanya, Nathan menghentikan ciumannya dan membenamkan wajahnya untuk sejenak di leher jenjang wanita itu.
Nafas keduanya terdengar memburu, Nathan segera menjauhkan kepalanya kemudian menangkup wajah Davira dan mengecup bibir ranum wanita itu. Bukan hanya kecupan, tetapi dia mulai melu*atnya dengan sangat lembut, hanya sebentar karena Nathan tidak ingin melebihi batasnya.
Manik mata keduanya saling bertemu, untuk pertama kalinya Davira menatapnya dengan begitu tulus dan seolah mendambakan dirinya. Nathan tersenyum tipis, dia harus bisa menahan diri. Nathan mencintai Davira, bukan tubuhnya.
"Sentuhan Dante sudah menghilang, hanya ada tanda dariku," ucap Nathan dengan suara yang terdengar begitu serak.
Nathan mengelus pipi Davira yang membiru kemudian mengecupnya pelan.
"Aku sangat mencintaimu, Davira."
Deg.
Davira tidak bisa mengatakan apapun, jantungnya seolah berhenti berdetak untuk beberapa saat. Davira bahkan masih mencoba mencerna apa yang baru saja mereka lakukan, dia membiarkan Nathan menyentuhnya. Memberikan tanda di lehernya, bahkan mencium bibirnya dengan penuh cinta dan juga kelembutan seolah mereka berdua adalah sepasang kekasih.
Namun anehnya Davira tidak merasa menyesal, ada perasaan yang mendorongnya hingga menerima perlakuan lembut Nathan. Untuk sejenak, ia melupakan tentang Damian dan tentang semuanya. Hanya Nathan yang kini dia lihat, jantungnya mulai berdetak lebih kencang dari biasanya.
Ada sesuatu yang ingin ia katakan, tapi harus dia tahan. Davira tidak yakin dan dia merasa bahwa tidak seharusnya perasaannya menjadi seperti sekarang ini kepada Nathan.
"Aku akan menyelesaikan urusanku dengan pria itu," Nathan beranjak dari atas tubuh Davira dan turun dari tempat tidurnya.
__ADS_1
Namun Davira langsung menahan tangannya dan merubah posisinya menjadi duduk, tiba-tiba saja Davira memeluknya membuat Nathan begitu terkejut. Pelukan yang tidak pernah ia bayangkan, tangan wanita itu melingkar sempurna di perutnya.
"Aku.......aku merasa takut, Nathan."