Tawanan Tuan Xie

Tawanan Tuan Xie
52 - Pekerjaan Terakhir


__ADS_3

Suara dentuman musik terdengar menggema, para gadis berlenggak-lenggok memperlihatkan kemolekan tubuh mereka, menikmati alunan musik yang membuat hidup terasa lebih bebas seolah tidak memiliki beban sedikitpun.


Davira terkekeh kecil kemudian menegak Tequila-nya, disekitarnya terlihat beberapa pasangan yang sedang bercumbu seolah dunia adalah milik mereka.


"Hati-hati Davira, banyak yang mengincar mu," bisik Mario sembari berlalu, pria itu terlihat menuju ke arah para gadis yang sedang berkumpul.


Davira geleng-geleng kepala melihatnya, tiba-tiba saja Liam langsung merangkulnya, membuat ia tersentak kaget.


"Aku tidak bisa mempercayai para pria di sini, mereka menatapmu seperti predator sedari tadi," ucap Liam lalu menuntun Davira agar duduk bersamanya di bar.


"Mereka tidak berbahaya," Davira menyingkirkan tangan Liam dari pundaknya.


Liam hanya diam, pria itu terus mengikuti Davira sejak mereka sampai. Liam hanya tidak ingin jika sesuatu yang buruk terjadi kepada Davira, saat ini Liam tidak bisa bersikap santai dan menikmati pesta seperti yang lainnnya. Ada perasaan resah karena dia tahu bahwa setelah ini mereka akan segera melakukan pekerjaan berbahaya dalam waktu yang sangat singkat.


"Ada apa, Thiago? Kau terlihat tidak tenang," tanya Davira merasa kebingungan dengan sikap Liam.


"Aku hanya tidak menyukai tempat ini," jawab Liam membuat Davira sontak tertawa.


"Apa ada yang lucu?" Liam mengernyit karena Davira tertawa begitu puas.


"Kau yang lucu, kau sedang berusaha untuk membohongiku. Sangat tidak masuk akal jika pria sepertimu tidak menyukai tempat seperti ini, aku berani bertaruh bahwa kau sering pergi ke klub bersama dengan yang lainnya."


Liam terkekeh, "Aku tidak bisa membohongimu ternyata."


"Tentu saja tidak, sekarang lihatlah sekelilingmu. Ada banyak sekali wanita, kau bisa bersenang-senang, kenapa terus-menerus berada di sekitarku? Aku tidak akan kabur."


"Kenapa tidak kau saja yang bersenang-senang? Kenapa kau datang ke klub jika hanya untuk minum?" Liam mengangkat satu alisnya.


Davira berdecak lalu berdiri dari duduknya, wanita itu segera melepaskan ikat rambutnya. Membiarkan rambut panjangnya itu terurai bebas membuat Liam dan semua pria yang melihatnya langsung terpesona.


Tidak dapat dipungkiri, Davira memiliki fitur wajah yang bisa dikatakan sempurna. Bentuk tubuhnya bagus dan terlihat seksi walaupun dia hanya memakai celana jeans dan tank top yang memperlihatkan pusarnya saat ini.


"Kalau begitu aku akan bersenang-senang," Davira tersenyum kecil lalu melangkahkan kakinya ke arah gerombolan orang yang sedang menari mengikuti kerasnya dentuman musik.


Davira menggerakkan tubuhnya, menikmati musik yang saat ini tengah dimainkan oleh Disc Jockey. Hanya dalam waktu sekejap, para pria langsung berdatangan dan mendekat kepada Davira. Wanita itu bagaikan magnet yang mampu menarik orang-orang disekitarnya.


"Apakah kau pendatang, Nona?" tanya salah satu pria kepadanya.


Davira hanya menatapnya sekilas, ia tidak berniat untuk menjawab pertanyaan pria lokal itu.


"Hey Nona, jangan mengabaikan kami. Kita bisa bersenang-senang di sini," pria lainnya mulai berani menyentuh dagu Davira.


"Aku sudah cukup bersenang-senang," Davira bersedekap dada dengan tatapan datarnya.


"That's my girl, jangan ganggu dia," Luca datang entah dari mana dan langsung menarik tangan Davira membuat sang empu sontak tertawa.


"Aku bisa mengatasi para pria itu Luca, digoda seperti itu adalah hal yang wajar. Resiko seorang wanita pergi ke klub."


"Aku sudah mengatasinya untukmu," ucap Luca kemudian berhenti dan menyuruh Davira untuk duduk di sofa yang berada di pojok ruangan. Di sana terlihat beberapa pasangan yang tengah duduk dan bercumbu.


"Tidak ada tempat duduk yang lain, Luca?" tanya Davira cukup terganggu karena mendengar suara-suara yang benar-benar menggelitik perutnya.


"Semua tempat di isi oleh para pasangan yang tidak mampu menyewa kamar," bisik Luca membuat Davira kembali tertawa.


"Sudah berapa jam kita di sini? Maksudku, sudah jam berapa sekarang ini?"


"Ada apa? apa kau memiliki urusan? Saat ini baru pukul dua," jawab Davira dengan rasa penasaran yang kini menyelimutinya, pasalnya Liam dan Luca terlihat khawatir perihal waktu.


"Sebaiknya kita kembali sekarang," Luca langsung berdiri membuat Davira mengikutinya.


"Apa ada masalah? Kau dan Liam tidak terlihat menikmati pesta ini seperti yang lainnya."


"Akan ku ceritakan, tapi sebelumnya kita harus mencari Mario, Dex dan Fedrix terlebih dahulu. Mereka harus pulang bersama kita," Luca tampak begitu terburu-buru dengan mata yang terus mencari-cari keberadaan ketiga temannya.


"Ku rasa Fedrix pergi bersama seorang wanita," ucap Davira membuat Luca segera membawa langkah kakinya menuju ke kamar yang tersedia di dalam klub itu.


Terlihat lorong yang begitu panjang dan puluhan pintu kamar yang mereka berdua tidak tahu di balik pintu yang mana Fedrix berada.


Davira berdecak kesal kemudian buru-buru mengetuk pintu satu persatu seperti yang dilakukan oleh Luca.

__ADS_1


"Luca, ku rasa kita bodoh," ucap Davira saat baru saja menyadari sesuatu.


"Kita bisa meneleponnya," Davira menghembuskan nafas kasar lalu mengeluarkan ponselnya dan langsung menghubungi nomor Fedrix.


"Tidak akan di angkat, Davira. Dia pasti sedang sibuk saat ini," Luca kini sampai di depan pintu yang berada paling ujung.


"Fedrix! Keluar sekarang juga, kita harus segera kembali!" teriak Luca membuat Davira buru-buru menghampirinya.


"Bagaimana jika bukah Fedrix yang ada di dalam?" tanya Davira merasa was-was, ia segera menarik tangan Luca agar menjauh.


"Fedrix!" teriak Luca begitu yakin bahwa Fedrix berada di dalam.


"Luca, jangan bertindak bodoh. Kau bisa dipukuli jika mengganggu orang seperti ini."


"Tenang saja, Davira. Di dalam benar-benar Fedrix," ucap Luca terus menggedor-gedor pintu itu.


Davira menggigit bibir bawahnya lalu bersedekap dada.


"Lakukan sesukamu," Davira bersandar di tembok sembari menyalakan rokoknya.


"Fedrix! Aku tahu kau di dalam!"


"Ada apa?"


Davira terperanjat kaget karena tiba-tiba saja pintu terbuka dan Fedrix benar-benar muncul di balik pintu itu, Davira menatap Luca tidak percaya. Sedangkan pria itu kini tengah tersenyum penuh kemenangan.


"Kita harus kembali sekarang juga," jawab Luca kemudian sembari menatap seorang wanita yang tengah memeluk Fedrix dari belakang, pakaian wanita itu terlihat begitu berantakan.


"Sial, aku lupa," Fedrix segera melepaskan tangan wanita itu dari pinggangnya.


"Aku harus pergi, Nona. Ini uang untukmu, kau bisa membeli apapun," Fedrix terlihat mengeluarkan beberapa lembar uang dan menyerahkannya kepada wanita itu.


"Dimana yang lain?" tanya Fedrix lalu melangkahkan kakinya bersama dengan Luca dan juga Davira.


"Mario di lantai dansa bersama dengan Dex, dan Liam ada di bar," jawab Davira membuat Fedrix membulatkan sedikit mulutnya.


"Sebenarnya ada apa? Kenapa kita harus buru-buru pulang seperti ini?" Davira sudah begitu penasaran.


"Itu rokokku!" bentak Davira merasa kesal.


"Aku tahu," Fedrix hanya terkekeh kecil melihat wajah Davira.


Mereka bertiga segera menghampiri Mario dan juga Dex, Fedrix langsung menarik baju Mario membuat pria itu begitu kaget.


"Ada apa?!" tanyanya dengan suara yang nyaring agar bisa didengar karena dentuman musik bisa langsung menenggelamkan suaranya.


"Kita pulang sekarang," jawab Luca membuat Dex dan Mario segera mengikuti mereka.


"Mana Liam?"


"Aku di sini," sahut Liam yang datang entah dari mana.


"Bagus, kita keluar dari klub ini," Luca melangkahkan kakinya terlebih dahulu membuat yang lain langsung mengikutinya hingga kini mereka semua sampai di basement.


Mereka memasuki mobil masing-masing dan segera mengemudikannya dengan kecepatan tinggi hingga Davira semakin merasa kebingungan karena semuanya tampak begitu terburu-buru.


"Ada apa ini?"


π_π


Davira memakai jaket dan juga sarung tangan kulitnya, tidak lupa wanita itu mengikat rambut panjangnya agar tidak mengganggu pekerjaannya.


Helaan nafas kasar terdengar keluar dari mulutnya, ia menatap datar Jakob dan yang lainnya. Mereka semua terlihat sibuk mempersiapkan senjata masing-masing, dan anehnya mereka membawa lebih banyak senjata dari sebelumnya.


"Tidak ada yang berniat memberitahuku sesuatu?" tanya Davira mengangkat satu alisnya.


Davira mengetuk-ngetukkan jarinya pada meja dengan perasaan kesal.


"Kenapa membawa banyak senjata dan kenapa kita hanya memiliki waktu dua jam untuk mengantar barang?"

__ADS_1


"Karena pukul enam pagi kita sudah harus meninggalkan Moskow," jawab Jakob membuat Davira mengernyit.


"Kau tidak memberitahu kepadaku sebelumnya, kenapa tiba-tiba dan kenapa harus terburu-buru?"


Jakob menghela nafasnya panjang kemudian melangkahkan kakinya untuk mendekat kepada Davira.


"Begini, Davira. Kau akan tahu saat pekerjaan terakhir kita ini sudah selesai, aku ingin kau fokus," Jakob menatap wajah Davira lekat-lekat.


"Aku tidak akan bisa fokus jika kau masih belum memberitahuku apa alasan kita harus meninggalkan Moskow secara tiba-tiba seperti ini, jadi sebaiknya kau katakan jika tidak ingin aku mengacaukan pekerjaaan kali ini," ucap Davira membuat Fedrix berdecak kagum mendengarnya.


"Gadis pemberani," bisik Fedrix kepada Dex.


"Dia terlihat seksi, tatapannya seperti akan menguliti Tuan," Dex geleng-geleng kepala lalu kembali melanjutkan pekerjaannya, pria itu mulai memeriksa mesin mobil mereka satu persatu.


"Sekarang kita lihat, apakah Jakob akan memberitahu Davira, atau tidak?"


Luca tersenyum kecil, "Ku rasa akan."


"Perlu kita bertaruh?" tanya Mario membuat Luca terkekeh.


"Jonathan akan sampai ke sini pada besok hari, jam berapa dia sampai tidak ada yang tahu. Maka dari itu kita harus pergi tepat jam enam pagi, kalau bisa sebelum. Kau tidak ingin Nathan menemukanmu dan membunuh kami semua bukan?"


Deg.


Jantung Davira terasa berhenti berdetak untuk sejenak, mendengar Nathan yang kini mengetahui keberadaannya membuat dia merasa ketakutan. Davira takut Nathan akan menemukannya, Davira tidak ingin kembali terperangkap bersama dengan pria yang sudah membunuh keluarganya.


Namun di satu sisi, dia ingin melihat wajah Nathan. Ada perasaan rindu yang ia rasakan, dia kembali teringat dengan beberapa momen yang ia lalui bersama dengan pria itu. Momen yang terasa membahagiakan, Nathan memang telah berhasil memberikannya kenangan yang berkesan dengan sikap dan perlakuannya yang manis.


"Kenapa diam? Kau ingin kembali kepadanya?" tanya Jakob membuyarkan lamunan Davira.


"Tentu saja tidak, pertanyaan konyol macam apa itu? Sebaiknya kita selesaikan pekerjaan ini dengan cepat, aku tidak ingin Nathan menemukanku. Dia pasti akan membunuhku," ucap Davira begitu yakin, pasalnya dia tertuduh sebagai pembunuh Gayatri.


Nathan tidak akan memaafkannya, Nathan tidak akan lagi menjadikannya seorang tawanan yang diperlakukan bak seorang ratu. Tapi Nathan akan menyiksanya dan menjadikannya makanan anjing.


"Ku harap kita semua bisa lolos darinya."


"Aku juga berharap begitu," Davira berjalan menuju kulkas dan mengambil bir di dalam sana.


"Dex, apakah mobilku sudah siap?" tanya Davira dengan perasaan yang sebenarnya sedang tidak karuan, namun dia berusaha keras untuk menyembunyikannya.


"Sudah baby!" sahut Dex sembari mengangkat jempolnya.


Davira melangkahkan kakinya menuju ke mobilnya, namun tangannya langsung ditahan oleh Jakob. Davira hanya menatapnya dengan kening bertaut.


"Dengarkan aku, Davira. Apapun yang terjadi, kau harus ikut dengan kami. Aku tidak akan melepaskan mu, kita pergi dari Moskow bersama-sama," ucap Jakob dengan suara yang cukup pelan.


"Aku senang mendengarnya, aku akan melarikan diri dari Nathan, bersama dengan kalian," Davira tersenyum tipis lalu masuk ke dalam mobilnya.


"Semuanya sudah siap Jakob!" Liam terlihat sudah berada di dalam mobilnya membuat Jakob buru-buru masuk ke dalam truk bersama dengan Dex.


"Kau ikut?" tanya Davira yang langsung mendapat anggukan kepala dari Jakob.


"Aku harus memastikan semuanya aman, setelah pekerjaan selesai kita langsung pergi," jawab Jakob membuat Davira mengernyit.


"Lalu bagaimana dengan barang-barang kita?"


"Memangnya ada barang-barang apa Davira? Beberapa pakaianmu sudah ku masukkan ke dalam tas, uangku juga sudah ku amankan."


"Aku tidak tahu, kapan kau melakukannya?"


"Saat kalian ke klub, berhenti bertanya dan kita berangkat sekarang juga. Jangan sampai klien menunggu kita terlalu lama," Jakob segera memerintahkan Dex untuk mengemudikan truknya.


Davira dan Luca langsung mengikuti di belakang, sedangkan Liam dan Mario mengambil posisi di depan.


Davira mengambil nafasnya dalam-dalam sembari menyentuh kalungnya. Satu tangannya menggenggam kemudi dengan sangat erat, sudah satu bulan lebih dia tidak bertemu dengan Nathan. Dia berusaha keras untuk menghilangkan perasaan yang menurutnya begitu salah, namun kini Nathan telah berhasil menemukan keberadaannya.


Hal itu membuat perasaan Davira menjadi goyah, ada perasaan yang tidak bisa ia pungkiri. Dia benar-benar merindukan Nathan, dia menginginkan kebersamaan dengan pria itu. Terlepas dari fakta yang mengatakan bahwa Nathan sudah membantai keluarganya, Davira masih memiliki perasaan itu terhadap Nathan.


Davira menatap belakang truk yang ada di depannya, jantungnya terasa berdebar-debar.

__ADS_1


"Aku tidak akan membiarkanmu menemukanku, Nathan."


__ADS_2