
"Namanya Dario Steffano, dia salah satu security yang berjaga pada malam itu. Dan sudah berbulan-bulan sejak kejadian itu dia menghilang seperti ditelan bumi," Nathan melempar data dan foto Dario Steffano yang menarik perhatian mereka.
Pasalnya dari sekian banyak pelayan, petugas dapur dan juga security, hanya Dario yang tidak bisa mereka temui. Pria itu menghilang beberapa saat setelah kematian Gayatri, dan itu tentunya bisa menjadi alasan yang kuat bagi Nathan dan Aaron untuk mencurigainya.
"Ingin mencari tahu tentang security ini?" tanya Aaron sembari membaca data diri Dario, pria berumur 33 tahun penduduk asli Roma.
"Jadi kalian belum mencari tahu tentangnya?" Nathan berdecak kesal.
"Kalian menuduh Davira sesuka hati tapi belum menyelidiki kasus ini dengan benar."
"Jangan mulai, Nathan. Lagi pula saat itu kami yakin pembunuh nenek memang Davira, jadi untuk apa memeriksa satu persatu orang yang sedang bekerja?" Atvita memutar bola matanya kemudian menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
"Aku akan memerintahkan timku untuk mencari tahu tentang Dario," ucap Aaron lalu terlihat menelepon seseorang.
"Dalam waktu dua puluh empat jam, kita sudah harus menemukannya."
Atvita sontak mengernyitkan dahinya mendengar perkataan Nathan.
"Itu mustahil Nathan, dia menghilang tanpa jejak, butuh waktu untuk mencarinya."
"Tapi aku tidak mempunyai banyak waktu, kalian sendiri yang memberi sedikit waktu untukku. Lagi pula Dario hanya orang biasa, dia tidak akan bisa mengelabui kita. Menemukan orang seperti dia adalah hal yang mudah. Periksa semua jalur, darat, laut, udara, maka kita akan menemukannya."
Nathan menghembuskan asap rokoknya secara kasar lalu berdiri dari duduknya.
"Atvita, buat dirimu berguna di sini."
Atvita langsung mengerucutkan bibirnya kemudian mengambil laptopnya.
"Aku akan membantu, akan ku cari tahu lebih banyak tentang orang itu," Atvita mulai mengotak-atik laptopnya, dia terlihat sudah mahir melakukannya.
"Dia punya satu anak dan juga istri, nama istrinya.......Donna Steffano," Atvita terkekeh kecil.
"Ini sangat mudah, i got it. Donna dan anaknya ada di pedesaan, Brisighella. Apa kita harus ke sana?"
"Dario tidak ada di sana, hanya istri dan anaknya," sahut Aaron setelah selesai berbicara dengan salah satu orangnya melalui telepon.
"Kita bisa menggunakan mereka, kita akan ke Brisighella sekarang juga," ucap Nathan sembari memakai jaketnya.
"Aku akan ikut kalian, aku tidak ingin jika terjadi lagi baku hantam," Atvita segera menutup kembali laptopnya.
__ADS_1
Nathan hanya mengangguk singkat membuat mereka bertiga segera pergi ke tempat tujuan dengan mengendarai mobil.
Setelah menempuh empat jam lebih perjalanan, mereka akhirnya sampai di Brisighella, desa tempat Donna Staffano di lahirkan dan tumbuh hingga dewasa.
Mobil mereka berhenti tepat di pekarangan rumah yang terlihat sederhana namun memiliki halaman yang begitu luas. Atvita turun dari mobil Aaron, ia mengedarkan pandangannya dengan perasaan yang mulai was-was.
"Ada apa Atvita?" tanya Aaron mengerti dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh adiknya.
"Di sini ada banyak sekali pot bunga yang berantakan" ucap Atvita membuat Aaron mengernyit.
"Lalu apa masalahnya?"
"Itu artinya terjadi sesuatu, kita harus segera memeriksa ke dalam rumah. Aku merasa ada yang tidak beres," Nathan buru-buru mengetuk pintu kayu rumah itu sampai beberapa kali, namun tidak pintu itu tidak kunjung terbuka.
"Apakah kau harus mengetuk pintunya Nathan? Kita datang ke sini bukan untuk bertamu."
Tanpa pikir panjang, Aaron langsung menendang pintu tersebut sebanyak tiga kali hingga akhirnya berhasil terbuka.
Ketiganya langsung masuk ke dalam rumah yang ternyata begitu berantakan. Terdapat beberapa pecahan kaca di lantai, meja dan kursi juga tidak berada di tempat yang seharusnya.
"Sial, ada yang mendahului kita," umpat Aaron merasa kesal.
"Ku rasa dalangnya sedang merasa ketakutan saat ini, kita harus bergerak cepat. Aku yakin Dario hanyalah orang suruhan, tidak mungkin jika dia pelaku utama. Kita harus menemukan Dario sebelum dia dibunuh oleh seseorang."
Tiba-tiba saja ponsel Aaron berdering membuat pria itu segera merogohnya dari saku celana.
"Katakan, kau sudah menemukannya?" tanya Aaron pada seseorang di seberang sana.
Aaron tersenyum kecil mendengar jawaban dari anak buahnya itu.
"Bagus, sudah ku duga ini akan mudah," Aaron langsung memutus sambungan teleponnya kemudian menatap Nathan dan juga Atvita.
"Kita mendapatkannya, tidak perlu waktu dua puluh empat jam untuk melacaknya, Atvita. Ini terlalu mudah."
Nathan menggelengkan kepala pelan, "Justru ini akan sangat sulit, Aaron."
"Apa maksudmu? Dia hanya security."
"Bukan Steffano, tapi orang yang berada di baliknya. Kita menemukannya terlalu mudah, itu artinya orang yang saat ini menculik istrinya juga pasti akan bisa menemukannya atau sudah menemukannya terlebih dahulu."
__ADS_1
Aaron sontak tertegun untuk sejenak sebelum melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu terlebih dahulu.
"Kalau begitu kita ke Spanyol sekarang juga."
"Dario Steffano berada di Spanyol?" tanya Atvita begitu terkejut.
"Kenapa Atvita? Kau tidak perlu ikut jika masih belum bisa," ucap Aaron kemudian tertawa membuat Atvita berdehem singkat.
"Aku akan ikut kali ke Spanyol, sebaiknya kita segera berangkat. Suruh orangmu menyiapkan jet pribadi untuk kita."
Nathan mengulum senyum, "Sepertinya ada yang sangat bersemangat ke Spanyol."
Atvita sontak mengigit bibir bawahnya dengan perasaan yang tidak karuan.
"Sayangnya kita tidak memiliki banyak untuk menunggumu ke salon Atvita."
"Nathan Aaron!" bentak Atvita merasa kesal.
π_π
Emma melangkahkan kakinya dengan cepat menghampiri Erick dan puluhan anak buahnya yang baru saja sampai. Sudah berjam-jam ia merasa gelisah menunggu kedatangan pria itu mansionnya.
"Kau mendapatkannya?"
"Kau beruntung karena aku berhasil mendahului mereka, Emma," jawab Erick membuat Emma bisa sedikit bernafas lega.
"Kau yakin akan mengurung mereka di mansionmu, bukankan kau tidak ingin ayahmu tahu?"
"Tentu saja aku yakin, ayahku sedang tidak berada di Roma saat ini. Dia ke Saltykovka, jadi aku bisa mengurung mereka di ruang bawah tanah."
"Bagaimana dengan para pengawal dan pelayan? Apa mereka bisa dipercaya? Apa kau yakin mereka tidak akan melapor kepada ayahmu?"
"Tidak akan ada yang berani buka mulut, tenang saja, Erick. Sekarang tinggal pria itu, kita harus mendapatkannya," ucap Emma setelah ia berdiri di depan sebuah truk yang pintunya telah dibukakan oleh salah satu pengawal.
Emma tersenyum kecil melihat seorang wanita dan balita berumur sekitar 4 tahun tengah berpelukan dengan kedua tangan dan kaki yang terikat serta mulut yang di lakban. Wanita itu terlihat begitu kacau, rambutnya berantakan dan beberapa lebam terdapat di tangan serta pipinya.
Erick memegang kedua pundak Emma dari belakang kemudian mengecup pipi wanita itu.
"Kita sudah selangkah lebih cepat dari Aaron dan juga Nathan. Dengan istri dan anaknya yang berada di tangan kita, aku yakin security itu tidak akan bisa berkutik."
__ADS_1