
Senyuman lebar terlihat di wajah cantik Davira ketika mobil yang dia tumpangi melewati hiruk-pikuk kota Moskow. Rasanya dia kembali menghirup udara segar setelah beberapa bulan menjadi seorang tawanan.
Terkurung di dalam sangkar emas milik Nathan, tidak bisa bergerak dengan bebas dan selalu menahan rasa sesak di hatinya.
Davira benar-benar merasa tersiksa dan tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika ia tinggal lebih lama lagi bersama dengan Nathan. Pria itu sudah membunuh calon suaminya dan membantai seluruh keluarganya, rasa cintanya kepada Nathan masih kalah dengan rasa dendam di hatinya.
Tidak mungkin jika dia memaafkan Nathan begitu saja apalagi tetap memilih berada di sisi pria itu. Davira yakin bahwa kedua orang tuanya akan mengutuknya jika hal itu terjadi.
Maka melarikan diri setelah mengetahui semuanya dengan pasti adalah keputusan paling tepat yang memang harus dia ambil.
Sekarang dia hanya perlu melanjutkan hidup sebagai seorang Davira yang tidak lagi memiliki apa-apa. Dia akan bekerja kepada Jakob, menuruti perintah pria yang sudah menyelamatkan hidupnya itu.
"Bagaimana Davira? Suka dengan kota ini?" tanya Jakob yang sedang menyetir mobil convertible berwarna merah milikinya.
Jakob tersenyum kecil melihat wajah Davira dari balik kacamata hitamnya.
"Cuaca di sini bagus, aku juga menyukai suasananya. Jadi kapan aku bekerja?"
Jakob terkekeh mendengar pertanyaan Davira, sebenarnya dia tidak menyangka akan benar-benar melakukan hal ini.
Menyelamatkan Davira dari Nathan dan juga keluarganya, kemudian menjadikan Davira sebagai bawahannya. Hal itu tidak pernah ia bayangkan dalam hidupnya. Namun saat tiba-tiba saja Davira meneleponnya dan meminta bantuan kepadanya, tanpa pikir panjang dia langsung menyetujuinya.
Jakob melihat bakat dan potensi di dalam diri Davira, wanita pastinya akan menjadi bawahan yang bisa di andalkan. Bisnis kotornya memerlukan orang berpengalaman seperti Davira. Biar bagaimanapun Davira adalah seorang pewaris yang sudah mempelajari banyak hal tentang bisnis.
Tetapi sangat disayangkan, saat ini Davira sudah bukan apa-apa. Tidak ada lagi warisan untuknya, dia hanyalah seorang buronan keluarga Xie, yang jika tertangkap maka dia mati.
"Tidak perlu terburu-buru, Davira. Nikmati dulu harimu di kota ini, setelah itu kau akan sangat sibuk."
"Ini sudah dua hari sejak kita tiba di sini, aku tidak sabar untuk melakukan pekerjaan pertamaku. Aku ingin tahu bagaimana caramu berbisnis," Davira melepaskan kacamatanya sembari menatap jalanan sepi yang kini mereka lalui.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Nathan? Apa dia mati?" tanya Davira membuat Jakob sontak tertawa.
"Kau ingin aku memberikan jawaban apa, Davira?"
"Jawaban yang sebenarnya, hidup atau mati, hanya itu yang perlu kau katakan kepadaku," Davira memutar bola matanya malas.
"Dia masih hidup, dan sekarang kau tahu apa yang sedang dia lakukan?" Jakob berdecak.
"Jonathan sedang mengobrak-abrik kota Roma untuk menemukan keberadaan mu, seluruh keluarga Xie juga tengah kalang kabut karena kau terlepas begitu saja. Sedangkan mereka harus membalas kematian Gayatri yang mereka yakini disebabkan olehmu."
Davira tersenyum tipis, "Rasanya aku ingin melihat wajah panik mereka."
Jakob geleng-geleng kepala, "Ku rasa kau tidak akan pernah ingin melihat wajah mereka lagi, karena jika sampai itu terjadi, kau mati."
Davira hanya diam mendengarnya, dia tahu akan hal itu. Davira tahu bahwa Nathan ataupun keluarganya pasti akan membunuh dirinya sedetik setelah melihat wajahnya.
"Mereka memiliki orang di mana-mana, keluarga Xie memiliki banyak mata. Maka dari itu kau harus melakukan pekerjaanmu dengan hati-hati nantinya, jangan sampai keberadaan kita diketahui. Aku tidak ingin pindah kota lagi."
Mobil mereka akhirnya tiba disebuah bangunan yang terlihat begitu besar dan tidak terawat. Bangunan itu adalah markas mereka, di sana bukan hanya ada Davira ataupun Jakob. Tetapi beberapa anak buah pria itu juga berada di sana untuk memproduksi ataupun mempacking barang yang dipesan oleh klien.
Davira dan Jakob turun secara bersamaan dari mobil mereka dan langsung memasuki gedung tersebut. Di dalam sana terlihat kosong, orang-orang tidak akan tahu bahwa gedung itu ditinggali jika tidak membuka sebuah pintu yang tersembunyi yang berada di balik lemari.
Jakob segera menggeser lemari tersebut kemudian masuk ke dalam bersama dengan Davira.
"Ke mana-mana orang-orang?" tanya Davira tidak melihat adanya anak buah Jakob yang biasanya berada di dalam ruangan itu untuk melakukan tugas mereka masing-masing.
"Sedang menyiapkan sesuatu agar nantinya memudahkan mu ketika membawa barang," jawab Jakob lalu duduk di kursinya sembari menatap komputer yang masih menyala dan layarnya memperlihatkan deretan nama-nama orang yang memesan barang kepadanya.
Davira hanya menatapnya sekilas sembari melepaskan jaket kulit yang ia kenakan, kini ia hanya mengenakan kaos senglet berwarna putih dengan kalung inisial X dan D yang terpasang di lehernya.
__ADS_1
Wajah Davira terlihat begitu polos tanpa riasan sedikit pun, namun hal itu justru membuatnya terlihat semakin menarik.
Davira terlihat seperti gadis jalanan yang pemberani dan juga seksi, wajah dan tatapan matanya memperlihatkan sisi liar dalam dirinya.
"Bagaimana caranya kau menghindar dari polisi? Aku tahu kau tidak memiliki bisnis lain yang bisa menutupi bisnis kotor mu ini, kau dikenal sebagai bandar narkoba, Jakob."
"Mudah saja, lari. Itulah cara untuk menghindar dari polisi, aku selalu berpindah-pindah, tidak bisa menetap di satu kota dengan jangka waktu yang lama seperti kalian. Berbeda dengan kalian, keluarga Handoko, pemimpin perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan batu bara. Memiliki banyak resort membuat harta dan kekayaan melimpah yang kalian perlihatkan tidak dicurigai. Kalian pintar menutupinya, polisi di negara kalian juga banyak yang sudah bungkam oleh uang kalian."
Davira tersenyum, "Kami pintar, Jakob. Kami tidak akan dikenal sebagai seorang bandar narkoba ataupun ketua dari perdagangan manusia di negara kami sendiri. Tapi kau tahu sendiri bagaimana nama kami sudah dikenal di negara orang lain, Sevilla? Di sana kami bahkan dijuluki sebagai penduduk neraka."
Jakob langsung tertawa mendengar hal itu, ia segera mengambil botol bir nya lalu meminumnya.
"Kalian tidak terlalu pintar kalau begitu, kalian juga tidak pemberani."
Davira mengernyit, Jakob mengatakan hal itu dengan begitu santai.
"Apa maksudmu?"
"Tidak ada keberanian dalam diri orang-orang seperti kalian, memiliki bisnis kotor tapi ingin tetap terlihat bisnis. Tidak ingin dikenal sebagai penjahat tapi melakukan banyak kejahatan, selalu menginginkan penghormatan dalam hidup kalian. Tidak menjadi diri sendiri, seharusnya kalian bisa memilih salah satu di antara dua. Bisnis kotor atau bisnis bersih? Penjahat atau orang baik?"
Davira bersedekap dada, "Kenapa tidak bisa memilih keduanya?"
"Karena kau tidak bisa melakukan keduanya, tidak ada penjahat yang baik, begitu juga sebaliknya. Jika ada yang baik, itu hanya bagi orang-orang yang juga berada di dunia yang sama seperti kita. Sepertiku, dengan aku menolongmu sekarang. Apakah aku orang baik, Davira?" Jakob menggelengkan kepalanya.
"Aku tetaplah bandar narkoba, apapun yang ku lakukan, aku tetap seorang penjahat. Karena itu adalah pilihanku."
Davira tertegun untuk sejenak kemudian menarik kursi yang berada di dekat Jakob lalu duduk di sana.
"Apa kau sudah memilih, Davira?"
__ADS_1
Davira mengetuk-ngetukkan ujung jarinya pada meja, ia terkekeh kecil.
"Aku tidak pernah memilih, tidak pernah ada kesempatan. Aku sudah menjadi penjahat sejak aku dilahirkan."