Tawanan Tuan Xie

Tawanan Tuan Xie
Part 68 - Permintaan Emma


__ADS_3

Kedua pria berwajah rupawan itu kini tengah berdiri di balkon sembari menikmati sebatang rokok dan menatap langit malam yang terlihat begitu gelap tanpa adanya bintang.


Angin berhembus dengan kencang karena mansion milik Carlos yang dibangun di dekat pantai.


Jakob menghembuskan asap rokoknya kasar kemudian berdecak kesal.


"Aku benci mengakui ini, tapi semua yang kau lakukan itu benar. Kau sudah menyelamatkan Davira dari laki-laki brengsek itu, kau melakukannya tanpa peduli bahwa Davira akan semakin membencimu. Kau juga selalu melindunginya, bahkan saat yang kau dapatkan hanyalah kebencian," Jakob menoleh kepada Nathan yang hanya diam dan masih menyesap rokoknya.


"Kau sangat mencintai dia, Jonathan? Dia sudah menembakmu dan kematian nenekmu diduga karena Davira, racun itu juga memang berada di dalam tasnya. Tapi kau langsung percaya saat dia mengatakan tidak melakukannya. Kau percaya begitu saja, tanpa bukti ataupun penjelasan lebih rinci."


Nathan menggelengkan kepalanya pelan sembari menghembuskan asap rokoknya ke udara.


"Aku tidak tahu kenapa aku melakukan semua itu. Davira hanya terus menarik perhatianku sejak awal aku melihatnya, aku menjadi tidak bisa melepaskannya dan aku menjadi marah setiap kali melihatnya bersama dengan pria lain. Dan setelah apa yang terjadi, aku menjadi sangat ingin melindunginya dari siapapun termasuk keluargaku."


"Kau akan terus menentang mereka?" tanya Jakob membuat Nathan tertegun untuk sejenak.


"Aku akan menyeret pelaku yang sebenarnya ke hadapan mereka karena aku percaya bahwa Davira memang bukan pelakunya."


Jakob terkekeh kecil, "Kau tahu Jonathan? Davira selalu mengingatmu saat dia melarikan diri bersamaku. Davira bahkan selalu memakai kalung pemberianmu, aku juga sering kali mendengarnya menangis setiap malam. Aku tahu dia berusaha untuk menekan perasaannya kepadamu. Tapi aku merasa cukup lega karena sekarang kebenarannya sudah terungkap, dia sudah tidak perlu lagi menahan perasaannya kepadamu."


"Aku tahu dia mencintaiku," ucap Nathan membuat Jakob menatapnya datar.


"Lagi-lagi aku harus mengakui sesuatu kepadamu," Jakob menghela nafas kasar.


"Davira memilihmu, dia mengatakan kepada kami bahwa dia akan kembali bersamamu jika semua yang kau katakan itu benar. Dan artinya sekarang dia akan tetap bersamamu, dia tidak akan kembali menjalani kehidupan bersama kami."


"Aku memang akan membuat Davira terus berada di sisiku, mana mungkin aku melepaskannya untuk pergi bersama kalian?"


"Dia mungkin memang akan berada di sisimu, Jonathan. Tapi kau harus tahu sesuatu, kau mungkin tidak mengetahui hal ini sebelumnya."


Nathan mengernyit kemudian menoleh untuk menatap Jakob.


"Apa yang tidak ku tahu tentang Davira?


"Banyak hal, kau mungkin sudah sangat lama terus-menerus memperhatikannya, mencari tahu semua tentangnya. Tapi kau tidak pernah sekalipun melihat apa yang sebenarnya Davira inginkan. Selama ini kau hanya melihatnya sebagai seorang wanita kaya raya, berpenampilan menarik dengan pakaian dan aksesoris mewah dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tapi kau tidak pernah melihat sisi lain dari Davira, dan akulah yang melihatnya."

__ADS_1


Jakob terkekeh kemudian menepuk pelan pundak Nathan.


"Aku tahu aku tidak harus mengatakan ini, tak untuk kebahagiaan Davira, maka aku akan memberitahu sesuatu kepadamu. Davira adalah wanita yang menyukai kebebasan, dia liar dan memiliki jalan pikirannya sendiri. Davira tidak akan bisa menjalani kehidupan penuh dengan kekangan, setahun, dua tahun, mungkin dia masih akan menahannya. Tapi setelahnya? Dia akan mulai lelah bersamamu sekalipun dia mencintaimu, Jonathan. Maka dari itu buat dia menjadi milikmu dengan cara yang bebas, membiarkan dia berteman dan berada di lingkungan yang dia inginkan tidak akan membuatmu kehilangannya."


Nathan terdiam untuk sesaat memikirkan setiap kata yang diucapkan oleh Jakob, dan semua yang dikatakan oleh pria itu benar. Selama ini dia memang membuat Davira merasa terpenjara, menjadikan sebagai seorang tawanan di dalam sangkar emas, yang dia lakukan hanya memberikan Davira berbagai macam hadiah, namun bukan itu yang membuat Davira bahagia.


Tapi kebebasan, sesuatu yang selama ini tidak pernah Davira dapatkan.


"Kenapa kau peduli dengan Davira?" tanya Nathan merasa penasaran.


"Karena aku menyayanginya, kami semua menyayanginya. Kau tahu Jonathan? Orang-orang yang bekerja bersamaku selalu ku anggap penting dan aku menyayangi mereka."


"Ini aneh, aku tidak merasa marah saat kau mengatakan kau menyayangi Davira."


"Sangat keterlaluan jika kau marah hanya karena ada yang menyayanginya, dia pantas mendapatkan kasih sayang. Setelah aku melihat video rekaman itu, aku akan sangat marah jika dia kembali terluka."


"Tidak akan, aku akan selalu melindungi Davira. Dan aku akan memberikan kebahagiaan untuknya, seperti yang kau katakan sebelumnya, aku akan mencoba untuk memberikan kebebasan kepadanya. Aku tahu alasanmu mengatakan semua itu kepadaku, karena kau pastinya tidak ingin putus hubungan dengan Davira. Kau masih ingin memiliki komunikasi dan masih ingin bertemu dengannya."


Jakob sontak tertawa, "Aku senang kau mengerti, aku akan menculik Davira jika kau melarangnya bertemu dengan kami."


"Aku akan membunuhmu sebelum kau melakukan itu."


Nathan masuk ke dalam kamar yang disediakan oleh Carlos untuk Davira, wanita itu tampak terlelap dengan selimut yang membungkus tubuhnya. Nathan segera berjalan mendekat, ia naik ke atas tempat tidur dengan hati-hati agar tidak mengganggu tidur Davira.


Sudut bibir Nathan tertarik ke samping melihat wajah Davira, sudah cukup lama dia tidak melihat Davira tertidur seperti ini.


Tangannya bergerak mengusap pipi Davira yang terasa sembab, melihat wanita itu terus-menerus menangis membuat hatinya ikut terluka. Nathan benci ketika ia harus kembali membuka luka di hati Davira, namun Davira memang harus bertemu Keenan dan melihat rekaman itu.


Davira berhak mengetahui siapa yang sudah membunuh keluarganya.


Nathan berjanji kepada dirinya sendiri bahwa setelah ini dia akan memberikan kebahagiaan untuk Davira. Dan untuk mendapatkan kebahagiaan itu, Nathan harus segera menemukan pembunuh neneknya. Nyawa Davira akan terancam oleh keluarganya sendiri jika pelaku yang sebenarnya tidak kunjung ia temukan.


Nathan menarik pinggang Davira, merapatkan tubuh mereka. Ia meletakkan dagunya di atas kepala Davira sembari sesekali mengecupnya dengan rasa sayang yang begitu besar untuk wanita itu.


Sedangkan di tempat yang berbeda, Emma kini tengah membuat kekacauan di dalam kamarnya sendiri. Pecahan kaca berserakan di lantai, barang-barang tidak lagi berada di tempatnya.

__ADS_1


"Arghh!"


Emma berteriak kencang kemudian mengambil vas bunga berukuran kecil yang berada di atas nakas kemudian membantingnya ke lantai hingga pecah berkeping-keping.


Emma merasa begitu marah dan kesal karena nyatanya Nathan tidak pernah kembali ke Roma, pria itu telah membohonginya. Entah dimana Nathan dan Davira saat ini, Emma benar-benar merasa telah ditipu dan tidak dihargai sama sekali.


Para pelayan yang berada di luar kamar hanya bisa berdiri dengan rasa khawatir mendengar suara teriakan dan juga pecahan kaca, tidak biasanya Emma sampai mengamuk seperti sekarang ini. Namun para pelayan itu tentunya tidak berani menegur Emma atau mengetuk pintu kamar wanita itu sampai pada akhirnya Arthur datang membuat mereka semua menundukkan kepala.


"Ada apa ini?" tanya Arthur mendengar suara teriakan Emma.


Lidya yang berdiri di antara pelayan segera bergerak maju.


"Tuan Xie meninggalkan Nona saat sedang berada di Saltykovka, Tuan Xie berpesan kepada Rolan bahwa dia kembali ke Roma karena ada urusan mendesak. Tapi....saat Nona juga kembali ke Roma untuk menyusul, ternyata Tuan Xie tidak ada di Roma. Tuan Xie berbohong, tidak ada yang tahu keberadaannya saat ini."


Arthur mengepalkan tangannya kuat mendengar perlakuan Nathan terhadap putri kesayangannya.


"Emma, ini ayah," Arthur mengetuk pintu kamar Emma, namun sama sekali tidak ada sahutan.


"Kau memegang kunci cadangannya?"


"Ini Tuan, saya menunggu anda untuk membukanya," Lidya segera memberikan kunci kamar Emma kepada Arthur.


Pria berumur 52 tahun yang masih terlihat gagah itu buru-buru membuka pintu kamar putrinya. Ia begitu terkejut melihat kamar Emma yang sangat berantakan.


"Emma," Arthur segera menghampiri Emma yang sedang terduduk di lantai, di antara pecahan kaca.


"Emma, apa Nathan menyakitimu?"


Wanita itu hanya terisak membuat Arthur segera memeluknya.


"Nathan sudah membohongiku ayah, Nathan tidak menghargai pengorbananku sama sekali."


Wajah Arthur langsung mengeras mendengarnya, ia mengeratkan pelukannya kepada Emma.


"Tenanglah sayang, ayah akan memberi dia pelajaran."

__ADS_1


Emma langsung menggelengkan kepalanya, biar bagaimanapun dia sangat mencintai Nathan. Dia tidak akan bisa jika harus kehilangan pria itu. Emma tidak akan membiarkan ayahnya melakukan sesuatu yang gila kepada Nathan.


"Bukan kepada Nathan, ayah. Tapi kepada wanita itu, karena dialah Nathan melukaiku. Yang harus diberi pelajaran adalah wanita bernama Davira Handoko. Aku membencinya ayah, singkirkan dia dari kehidupan Nathan!"


__ADS_2