
Nafas Nathan dan Aaron terdengar memburu, keduanya saling menatap tajam satu sama lain setelah pergulatan mereka berhasil dipisahkan atas perintah Atvita. Bahkan keduanya kini masih dipegangi oleh beberapa pengawal agar tidak terjadi lagi perkelahian.
"Kalian berdua ini kenapa?" Atvita bersedekap dada, ia tidak habis pikir melihat Nathan dan juga Aaron.
Ini kali pertama Nathan dan Aaron berkelahi secara fisik, padahal sebelumnya mereka berdua tidak pernah terlibat pertikaian serius walaupun tidak juga memiliki hubungan yang dekat.
"Kita pulang sekarang, Atvita," Aaron segera menarik tangan adiknya, namun Atvita tidak beranjak dari tempatnya.
"Kalian tidak ingin berbaikan? Kenapa kalian berkelahi hanya karena permasalahan ini?!" Atvita beralih menatap Nathan.
"Kenapa kau sampai seperti ini Nathan? Tidak seharusnya kau membela Davira, apa yang kami lakukan ini untuk nenek. Dan ini semua atas dasar perintah paman Julian, suka atau tidak, Davira akan kami habisi jika sampai dia berhasil kami temukan."
Nathan sontak menatapnya tajam, "Jangan macam-macam, Atvita. Tidak ada yang boleh menyakiti Davira."
Aaron berdecih kemudian terkekeh, ia tidak habis pikir dengan sepupunya itu. Aaron benar-benar merasa muak dengan Nathan yang menurutnya telah dibutakan oleh cinta.
"Jangan mengancam adikku, kami tidak akan peduli dengan ancaman mu. Davira benar-benar akan mati jika kami berhasil menemukannya, maka dari itu bergeraklah sedikit lebih cepat dari pada kami, Nathan. Tidak ada pengampunan untuk orang yang sudah membunuh nenek."
Setelah mengatakan hal itu, Aaron segera menarik tangan Atvita membuat adiknya itu mengikuti langkahnya bersama dengan para anak buahnya.
Nathan menatap datar kepergian mereka kemudian memungut high heels milik Davira yang tergeletak di lantai. Nathan melangkahkan kakinya memasuki kamar yang terlihat begitu berantakan karena sudah di acak-acak oleh Atvita sebelumnya.
"Jakob benar-benar tidak meninggalkan jejak, Davira juga hanya meninggalkan high heels dan gaunnya di sini," gumam Nathan lalu mengusap kasar wajahnya.
"Tuan, luka di wajah Tuan harus di obati," ucap Paul menatap beberapa lebam di wajah Nathan.
"Kita kembali ke mansion sekarang juga, aku harus memeriksa sendiri data diri Jakob. Aku ingin melihat tempat apa saja yang biasanya dia kunjungi," Nathan melempar high heels di tangannya begitu saja lalu berjalan keluar dari kamar itu.
Paul segera mengikutinya dengan terburu-buru, dia tahu bahwa suasana hati Tuannya itu sedang sangat buruk saat ini.
π_π
"Ini barangnya? Sebanyak ini?" Davira cukup terkejut melihat sebuah brankas besar yang isinya dipenuhi oleh narkoba.
"Siapa yang memesannya?" tanya Davira merasa penasaran.
Jakob terkekeh, "Nicholas Maxim," jawabnya membuat mata Davira sedikit membulat.
__ADS_1
"Kenapa? Jangan menatapku seperti itu, aku tahu dia adalah klien kalian. Tapi kalian sudah berbulan-bulan tidak berbisnis, sedangkan bisnis Maxim terus berjalan. Dia menjadi klienku sekarang."
Davira berdecak, ada perasaan kesal saat Jakob lagi-lagi menyadarkannya akan kenyataan yang sekarang harus ia jalani.
"Dia memesan begitu banyak, padahal saat berbisnis bersama kami tidak sebanyak ini," gumam Davira merasa kebingungan.
"Kau melewatkan banyak hal penting, setelah keluarga Lee dan keluarga Handoko mengalami musibah itu. Banyak pembisnis yang diuntungkan, khususnya aku. Karena apa? Karena distributor sepertiku menjual barang dengan harga yang sedikit lebih murah, maka dari itu banyak mantan klien kalian yang tertarik bekerjasama denganku setelah kalian sudah tidak lagi beroperasi."
Davira menghembuskan nafasnya panjang kemudian memasang jaket serta sarung tangan kulitnya.
"Banyak pihak yang diuntungkan setelah kematian kami rupanya," ucap Davira membuat Jakob tertawa kecil.
"Sudah pukul satu malam, apakah kami harus berangkat sekarang?" tanya Davira setelah mempersiapkan senjatanya untuk berjaga-jaga, tidak lupa juga dia mengikat kain ke wajahnya hingga hanya matanya lah yang kini terlihat.
"Kalian bisa berangkat sekarang, aku sudah menghubungi Maxim. Dia akan menunggu di Razvilka," jawab Jakob membuat Davira segera masuk ke dalam mobilnya.
Davira bertugas untuk mengikuti truk yang membawa brankas besar berisi narkoba itu bersama dengan pria bernama Liam Thiago.
"Listo para su primer trabajador señorita?"
( Siap untuk pekerjaan pertamamu Nona? )
( Aku sudah siap sedari kemarin )
Dex tertawa kecil kemudian masuk ke dalam truk, begitu juga dengan Mario.
Davira geleng-geleng kepala, perasaannya begitu campur aduk saat ini. Davira menatap Liam dan juga Luca Stefan yang sudah siap di dalam mobil mereka masing-masing.
"Merasa gugup Nona Handoko?" tiba-tiba saja Fedrix muncul di kaca jendelanya membuat Davira terperanjat kaget.
"Kau ikut?" tanya Davira sembari menenangkan jantungnya yang terasa berdebar-debar, memang harus dia akui, dia merasa gugup saat ini.
Jika biasanya dia dikawal, maka sekarang dia yang jadi pengawal.
"Tentu saja, Aku yang memimpin misi ini," jawab Fedrix sebelum masuk ke dalam mobilnya.
"Jakob, apa kau yakin tidak ingin membawa pengawal lebih banyak? Narkoba yang kau bawa bernilai miliaran, dan kau hanya melibatkan lima orang pria dan satu orang wanita untuk melakukan pekerjaan ini?" Davira menatap Jakob tidak percaya.
__ADS_1
"Itulah tugas kalian, melindungi uangku. Kalian harus bisa membawa narkoba itu sampai kepada Nicholas Maxim, dan uangnya harus sampai ke tanganku. Jangan sampai uangku dicuri, mengerti?" Jakob menepuk-nepuk kepala Davira membuat sang empu memutar bola matanya malas.
"Ini seperti misi bunuh diri," gumam Davira merasa tidak yakin, sebab dia tahu bahwa mengantarkan barang kepada klien tidak sesederhana itu. Apalagi jika barangnya bernilai fantastis, akan banyak perampok yang mengincarnya.
"Aku tidak percaya begini caramu menjalankan bisnis, aku tahu apa alasanmu tidak memakai banyak orang untuk menjaga barang dan juga uangmu. Karena kau tidak ingin mengeluarkan banyak biaya, kau ingin mendapatkan lebih banyak keuntungan," Davira geleng-geleng kepala.
"Kau pintar, Davira. Lagi pula tenang saja, semuanya akan berjalan lancar walaupun nantinya pasti ada sedikit kendala. Tapi tim kita pasti bisa mengatasinya," ucap Jakob begitu yakin.
"Ku harap begitu," Davira mulai menghidupkan mesin mobilnya.
"Kalian bisa berangkat sekarang, jaga uangku dengan nyawa kalian!"
Mereka semua mengangguk mengerti sebelum truk pengangkut brankas berisi narkoba itu melaju terlebih dahulu, keluar dari gedung tempat persembunyian mereka.
Davira mengemudikan mobilnya mendahului truk, dia mengambil posisi paling depan bersama dengan Liam Thiago.
"Aku merasa sangat bersemangat!" seru Liam sembari melirik ke arah Davira.
"Aku juga begitu Thiago!" sahut Davira sembari terkekeh kecil.
Mobil yang mereka kendarai melaju membelah jalanan yang begitu sepi, tentu saja mereka tidak lewat jalur utama.
Braak.
"Ini dia!" teriak Luca saat mobilnya ditabrak dari belakang.
Lima mobil kemudian mendahului truk dan mulai menyerempet mobil Davira dan juga Liam.
"Pekerjaan kita baru saja dimulai Nona Handoko!"
Brak.
"Arghh!" Davira menabrakkan mobilnya pada mobil berwarna hitam yang terus me-mepetnya.
Terdengar gelak tawa Liam dan juga suara tembakan.
"Kalian semua sudah gila! Berhenti tertawa Thiago! Mereka sedang berusaha untuk merampok kita!"
__ADS_1
Praang!
"Shitt!"