Tawanan Tuan Xie

Tawanan Tuan Xie
Part 42 - Racun


__ADS_3

"Aku tidak menyangka kau akan datang dengan membawa Davira," ucap Emma ketika Nathan dan Davira sudah duduk di sampingnya.


"Aku juga tidak menyangka akan melakukan hal ini," Nathan tersenyum tipis kemudian menyesap sampanye dari gelas di tangannya.


"Kau juga berada di sini, Emma? Ku pikir ini adalah acara keluarga," Davira duduk dengan santai dan elegan tanpa mempedulikan tatapan orang-orang di sekitarnya.


"Tentu saja aku ada di sini, nenek Gayatri yang mengundangku secara langsung," jawab Emma terdengar bangga akan hal itu.


"Beginikah acara keluarga itu Nathan?" tanya Davira merasa begitu bosan.


"Setelah ini akan ada acara makan bersama di ruangan yang berbeda."


"Setelahnya?"


"Rapat keluarga, membahas bisnis atau hal penting lainnya," jawab Nathan membuat Davira membulatkan sedikit mulutnya pertanda mengerti.


"Ingin ke mana?" tanya Nathan saat melihat Emma tiba-tiba saja berdiri dari duduknya.


"Ingin keluar sebentar," Emma langsung melangkahkan kakinya dengan terburu-buru.


Nathan mengernyit melihatnya, namun dia hanya diam dan berusaha untuk tidak peduli.


"Nenekmu seperti sedang menahan amarah, dan..... ayahmu mengerikan," ucap Davira sembari memperhatikan satu persatu keluarga Xie yang tengah berbincang satu sama lainnya.


"Kau takut?" tanya Nathan sembari menggenggam tangan Davira.


"Aku tidak takut, Papaku lebih mengerikan dari pada siapapun," Davira menyelipkan satu batang rokok di antara bibirnya, Nathan segera menyalakannya, membuat Davira langsung menyesap rokoknya dan menghembuskan asapnya secara perlahan.


"Aku tahu kau bukan wanita penakut."


Davira tersenyum kecil, tiba-tiba saja seorang wanita bermata sipit bergabung dan duduk di sebelahnya.


"Apa kabar, Nathan?" tanya wanita bernama Atvita yang merupakan sepupu dari Nathan, adik bungsu Aaron.


"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja."


"Ini pertama kalinya aku melihatmu secara langsung, Davira," Atvita melempar senyuman tipis kepada Davira kemudian melirik ke arah Nathan.


"Ku dengar Nathan menculik mu di hari pernikahanmu, padahal seharusnya saat ini kau sudah menjadi Nyonya Lee, bukan begitu?


"Sebaiknya kau berhenti bicara, Atvita. Simpan apa yang kau tahu untuk dirimu sendiri," desis Nathan membuat Atvita sontak menutup mulutnya.


"Apa yang kau dengar itu memang benar, aku gagal menjadi Nyonya Lee. Tapi sepertinya aku akan menjadi Nyonya Xie," Davira terkekeh kemudian menghembuskan asap rokoknya.


"Atvita!" Emma terlihat sudah kembali dan langsung duduk di sebelah Atvita, keduanya terlihat sudah akrab dan saling mengenal.


"Aku merindukanmu, Emma. Tadi aku tidak sempat menyapamu, bagaimana keadaanmu saat ini?" tanya Atvita setelah pelukan mereka terlepas.


"Aku baik-baik saja," Emma menatap Davira yang sedang merokok, ia berdehem singkat.


"Bisakah kau berhenti merokok? Aku tidak tahan mencium asapnya," ucap Emma berusaha agar terdengar tetap ramah.


"Bisa," jawab Davira, baru saja ingin menarik rokoknya, tiba-tiba saja Aaron datang dan langsung mengambilnya.


"Kenapa ingin mematikannya?" Aaron menghisapnya dalam-dalam kemudian menghembuskan tepat di depan wajah Emma sehingga wanita itu terbatuk-batuk dibuatnya.


"Aaron," tegur Nathan membuat Aaron tertawa.


"Kak Aaron sebaiknya merokok di tempat lain saja," Atvita menatapnya tidak suka.


Aaron hanya menatapnya datar kemudian mengusap kepala Emma sebelum berlalu meninggalkan meja mereka.


Atvita geleng-geleng kepala melihatnya, Aaron memang senang sekali mengganggu Emma. Aaron pernah mengatakan alasannya kepadanya, dan ternyata Aaron melakukan hal itu semata-mata karena dia tidak menyukai wanita lemah seperti Emma. Setiap melihat Emma, Aaron merasa ingin menindasnya.


"Nathan, kau belum menyapa keluarga kita," ucap Atvita mengingatkan.


"Apakah aku harus menyapa?"


"Tidak harus jika kau ingin nenek semakin merasa marah," jawab Atvita membuat Nathan menghela nafas panjang lalu segera berdiri.


"Davira, mari ku perkenalkan kepada keluarga besar ku," Nathan meraih tangan Davira.


"Kau pergilah temui mereka terlebih dahulu, aku ingin pergi ke toilet," ucap Davira sembari mengambil tasnya.


"Perlu ku antar?


Davira menggelengkan kepala cepat, "Aku bisa sendiri, aku akan bertanya letaknya pada para pelayan."


"Baiklah, cepat temui aku jika sudah selesai," pesan Nathan sebelum meninggalkan wanita itu.


"Pergi sendirian ke toilet bukan ide yang bagus, Davira. Jika aku jadi kau, maka aku akan menerima tawaran Nathan agar ditemani. Apa kau tidak sadar bahwa saat ini kau sedang berada di mana? Kau dikelilingi oleh orang-orang yang membencimu, Davira."


"Maaf, tapi aku tidak merasa takut, Atvita," Davira segera melangkahkan kakinya menuju ke toilet setelah bertanya kepada salah satu pelayan.


Davira harus melewati lorong demi lorong terlebih dahulu untuk tiba di depan sebuah pintu toilet, ia segera memasukinya. Terdapat banyak bilik toilet di sana membuatnya segera membuka pintunya satu persatu.


Setelah memastikan tidak ada orang lain di dalam sana, Davira segera masuk ke dalam salah satu bilik. Ia menyingkap dress yang ia kenakan hingga paha mulusnya kini terlihat, dan di sana terdapat satu buah ponsel yang telah ia ikat dengan sebuah tali pita berwarna hitam.


Ia tersenyum tipis, sudah tiga hari ia menyimpan ponsel milik salah satu pelayan yang ia curi di mansion. Dan dia telah menghubungi seseorang setiap memiliki kesempatan untuk meminta bantuan tanpa sepengetahuan Nathan.


Davira kembali menghubungi orang tersebut dengan suara yang begitu pelan, cukup lama mereka berbicara hingga akhirnya Davira memutus sambungan teleponnya dan kembali menyimpan ponsel itu di balik dress-nya.


Davira segera keluar dari bilik toilet, ia sedikit kaget melihat kedatangan Gayatri yang langsung mengunci pintu toilet membuatnya merasa was-was. Namun Davira tetap bersikap tenang, lagi pula apa yang bisa Gayatri lakukan kepadanya?


Jika Gayatri menyerangnya, tentu saja Davira akan melawannya. Davira bisa langsung membunuh wanita tua itu dengan mudah.


"Ada apa Nyonya Gayatri?" tanya Davira sembari melangkahkan kakinya tanpa rasa takut sedikitpun hingga kini ia berdiri tepat di hadapan Gayatri.


"Sepertinya kau sangat menikmati peranmu menjadi seorang tawanan," Gayatri menatapnya dari atas hingga ke bawah.


Davira terkekeh kecil melihat tatapan itu, Gayatri menatapnya seolah dia adalah seorang wanita miskin yang akan mengeruk harta cucunya.


"Saya menikmati setiap hal yang terjadi dalam hidup saya, menjadi tawanan Nathan? Saya tentu saja sudah mulai menikmatinya, Nathan memperlakukan saya dengan sangat baik."


"Benarkah? Aku cukup terkejut mendengarnya. Selamat Davira, kau berhasil menaklukkan Nathan," Gayatri bertepuk tangan selama beberapa saat sebelum akhirnya keheningan menyelimuti mereka berdua.


Wajah Gayatri langsung berubah menjadi begitu datar hanya dalam waktu sekejap.

__ADS_1


"Sepertinya ada yang ingin Nyonya sampaikan kepada saya, apakah sebuah ancaman? Saya lihat anda sampai harus mengunci pintunya," tanya Davira sudah tidak betah berlama-lama berhadapan dengan Gayatri.


"Memang ada suatu hal yang harus ku sampaikan kepadamu, aku merasa kasihan kepadamu, Davira. Sangat kasihan, ku pikir kau harus mengetahui tentang hal ini sebelum orang lain yang memberitahumu terlebih dahulu," Gayatri tidak langsung melanjutkan ucapannya, ia tersenyum tipis melihat raut wajah Davira yang mulai berubah menjadi sedikit tegang.


"Ini tentang pembantaian keluargamu di malam itu, Davira. Apa kau yakin akan tetap menikmati peranmu sebagai tawanan Nathan setelah mengetahui kenyataan ini? Selama ini kau bersusah payah mencari tahu kebenarannya, dan hari ini kau akan mengetahuinya. Tebakan dan semua yang kau pikirkan tentang keluarga Xie memang benar adanya. Kami lah dalang di balik pembantaian itu, Davira. Dan Nathan terlibat sangat jauh dalam misi itu, Nathan..... cucuku itu langsung ikut andil dalam membantai keluargamu. Itulah sebabnya kau masih hidup sampai saat ini, karena Nathan menginginkan kau tetap bernafas."


Deg.


Jantung Davira langsung terasa berhenti berdetak untuk beberapa saat, ia menatap Gayatri dengan mata yang sudah terlihat memerah. Tangannya terkepal kuat melihat senyuman di wajah Gayatri.


"Jadi selama ini tebakanku benar? Memang keluarga Xie pelakunya, dan Nathan bahkan terlibat di dalamnya. Jadi kau sudah membohongiku, Nathan?" batinnya.


Dada Davira langsung terasa sesak, hatinya begitu perih karena mendengar fakta itu langsung diberikan oleh Gayatri kepadanya. Bahkan Gayatri terlihat begitu puas sudah membeberkan semua itu kepadanya.


"Aku bersumpah akan membalas kalian," desis Davira membuat Gayatri terkekeh kecil.


"Ku harap kau masih ada ketika acara makan malam dimulai," Gayatri kemudian melangkahkan kakinya keluar dari toilet itu dan meninggalkan Davira sendirian di dalam sana.


Satu tetes cairan bening langsung keluar dari pelupuk mata Davira tanpa bisa ia tahan lagi, perasaan dan hatinya terasa hancur. Davira merasa begitu bodoh karena sempat percaya dan berpikir akan mengampuni kesalahan Nathan atas kematian Damian.


Tapi sekarang Davira telah ditampar oleh kenyataan, Nathan adalah dalang di balik dua kehancuran terbesar di dalam hidupnya. Jadi bagaimana bisa dia memaafkan pria itu begitu saja?


"Davira?" terdengar suara Nathan memanggilnya dari luar membuatnya segera menyeka air matanya kasar.


Davira menatap pantulan wajahnya di cermin dengan dada yang terasa begitu sesak.


"Aku akan masuk jika kau tidak keluar, Davira."


"Aku akan keluar!" sahut Davira, suaranya terdengar sedikit bergetar.


Davira segera membuka pintu toilet dan keluar dari sana, Nathan tertegun melihat mata Davira yang terlihat memerah.


"Ada apa?" tanya Nathan merasa khawatir.


Davira tidak menjawabnya dan terus melangkahkan kakinya menyusuri lorong demi lorong membuat Nathan segera mempercepat langkahnya untuk mengejar wanita itu.


"Davira, apa yang terjadi? Ada yang menyakitimu?" Nathan berhasil meraih tangan Davira, namun wanita itu langsung menghempaskan nya.


"Jangan menyentuhku!" sentak Davira dengan tatapan penuh kebencian.


Tatapan itu kembali Nathan dapatkan setelah cukup lama tidak lagi mendapatkannya.


"Katakan sesuatu, jangan seperti ini."


"Nathan, waktunya makan bersama!" seru salah satu sepupunya membuat Nathan dan Davira sontak menoleh.


Nathan segera mencekal erat tangan Davira sehingga Davira tidak bisa melepaskannya. Nathan menuntun Davira yang hanya diam dan tidak berusaha untuk berontak agar mengikuti langkahnya.


Emma dan Atvita yang melihatnya hanya bisa saling menatap satu sama lain, karena wajah Nathan terlihat mengeras dan mata Davira terlihat memerah.


"Sepertinya mereka bertengkar," bisik Atvita membuat Emma merasa begitu penasaran.


Mereka semua memasuki sebuah ruangan yang begitu luas, di sana terdapat meja makan berukuran begitu panjang dan juga lebar. Di atasnya sudah tersaji berbagai jenis makanan dan juga minuman. Semua orang langsung duduk di tempat masing-masing.


Melihat hanya kursinya yang tersisa membuat Nathan langsung duduk di sana dan menarik Davira hingga terduduk di atas pangkuannya.


Nathan memeluk pinggang Davira tanpa mempedulikan tatapan ayah dan juga ibunya.


"Tidak sopan memangku Davira di hadapan seluruh keluarga kita, Nathan," tegur Julian membuka suara.


"Lebih tidak sopan jika tamu dibiarkan berdiri, apa sebaiknya kami berdua duduk di lantai?" Nathan mengangkat satu alisnya.


Davira semakin mengepalkan tangannya kuat hingga kuku-kukunya yang panjang menggores telapak tangannya sendiri, dia begitu muak dengan Nathan. Sikap lembut dan baik pria itu sudah tidak bisa menyentuh hatinya saat dia telah mengetahui fakta yang diberikan oleh Gayatri.


"Biarkan dia, Julian," Gayatri kemudian berdiri sembari memegang gelas wine di tangannya.


Semua orang langsung memperhatikannya, Gayatri melempar senyumannya menatap seluruh anggota keluarga Xie berkumpul bersama dengannya malam ini. Walaupun suaminya telah meninggal dunia, namun semua iparnya masih sangat menghormati Gayatri dan tetap membuat Gayatri menjadi orang paling penting di dalam keluarga Xie.


"Rasanya sangat senang melihat kita semua kembali berkumpul dan makan malam bersama di malam ini, melihat keluarga Xie yang selalu bersama dengan kasih sayang membuatku merasa ingin hidup lebih lama lagi untuk terus melihat hal ini."


Darah Davira terasa mendidih mendengar pidato yang terus keluar dari mulut Gayatri, wanita itu tampaknya begitu sengaja ingin membuat perasaan Davira semakin terluka dengan terus membahas tentang betapa menyenangkannya kebersamaan yang saat ini terjalin di dalam keluarga Xie.


"Kau pasti sangat senang karena sudah berhasil membohongiku, Nathan," ucap Davira dengan suara yang begitu pelan.


Nathan mengernyitkan dahinya, "Apa maksudmu?"


"Aku sudah tahu semuanya, memang kalian pelakunya. Kau lah yang sudah membantai keluargaku di malam itu."


"Siapa yang mengatakannya kepadamu?" tanya Nathan membuat Davira terkekeh kecil sembari menatap wajah Nathan dengan sorot mata yang begitu dingin.


Jarak wajah keduanya begitu dekat, Davira bahkan mengalungkan satu tangannya di leher pria itu.


"Bastard," desis Davira sembari menahan amarahnya.


Gayatri mengangkat gelasnya, "Untuk keluarga Xie."


Semua orang sontak ikut mengangkat gelas mereka, terkecuali Nathan dan juga Davira yang kini tengah saling menatap satu sama lain.


"Untuk keluarga Xie," sahut semuanya secara bersamaan kemudian meminum wine mereka.


"Aku pasti akan membalas kematian keluargaku, Nathan," bisik Davira mendekatkan wajahnya ke telinga Nathan.


Praang!


Tiba-tiba saja gelas di tangan Gayatri terjatuh hingga pecah seketika, wajah Gayatri langsung terlihat menegang dengan mata yang melotot menatap Davira.


"Akhh!"


Tubuh Gayatri hampir terjatuh ke lantai jika saja Julian tidak dengan sigap menyambutnya.


Mulut Gayatri langsung mengeluarkan busa, tubuhnya gemetaran membuat semua anggota keluarga langsung menghampirinya.


"Apa yang terjadi?"


"Ada apa dengan nenek?"


"Laura, periksa nenek sekarang!" teriak Amara membuat Laura segera mendekat.

__ADS_1


"Nyonya keracunan!" seru Laura begitu terkejut.


Semua mata sontak menatap ke arah Davira yang kini sudah berdiri di samping Nathan, hanya dalam waktu sekejap, seluruh keluarga Xie sudah mengeluarkan pistol mereka dan mengarahkannya kepada Davira.


Nathan menatap Davira dengan perasaan yang tidak karuan, ia beralih menatap sang nenek yang tengah tergeletak di lantai dengan mulut yang terus mengeluarkan busa.


"Pasti wanita itu pelakunya!" teriak salah satu pamannya.


"Jangan menuduhku!" sentak Davira membela diri.


"Kau adalah musuh keluarga kami, jangan mengelaknya!"


Nathan menatap seluruh keluarganya yang mengarahkan pistol kepada Davira.


"Turunkan pistol kalian," ucapnya dingin.


"Kau masih ingin membelanya setelah apa yang dia lakukan kepada nenek?!" suara Atvita terdengar meninggi.


"Tidak ada bukti! Tidak ada yang boleh mendekati Davira!" Nathan menggenggam erat tangan Davira dan membuat wanita itu semakin merapat kepadanya.


"Nathan benar, tidak ada bukti. Jangan langsung menuduh Davira," Emma membuka suara.


"Kalau begitu kita cari buktinya! Kita lihat ada apa di dalam tas Davira!" sahut Amara langsung merebut tas Davira secara paksa.


Nathan hanya diam dan membiarkan, jantungnya terasa berdebar-debar ketika Amara mengeluarkan semua isi tas Davira hingga satu botol kecil berbahan kaca ikut terjatuh dari tas Davira. Serbuk berwarna putih di dalam botol itu langsung berserakan di lantai.


Amara segera menghirup aromanya, ia menatap Davira tajam.


"Ini racun!"


Mata Nathan sontak melebar mendengarnya, Nathan menatap Davira dengan tatapan tidak percaya.


"I-ibu meninggal!" teriak Julian membuat Nathan langsung menarik tangan Davira secara paksa.


"Tembak aku jika ingin!" Nathan memeluk tubuh Davira melindunginya dari peluru yang sudah begitu siap untuk ditembakkan oleh seluruh keluarga Xie yang kini mengelilingi mereka.


"Jangan gila Nathan!"


"Kau masih ingin melindungimu?!"


"Lihat! Nenek sudah tiada karena dia!"


"Aku tidak akan melindungi Davira lagi, karena akulah yang akan menyiksanya," Nathan langsung mendorong tubuh Davira hingga wanita itu hampir tersungkur jika saja meja di sebelahnya tidak ada.


"Dia tawananku, akulah yang akan membunuhnya," desis Nathan menatap Davira dengan penuh amarah.


"Aku tidak yakin kau akan melakukannya!"


"Tapi aku yakin!" sahut Emma.


"Nathan tidak akan membiarkan orang yang sudah membunuh nenek Gayatri tetap hidup," ucap Emma membuat Nathan segera menarik tangan Davira dan menyeretnya secara paksa.


"Kami akan membunuhmu jika Davira masih hidup sampai besok pagi Nathan!" teriak Aaron yang saat ini tengah memangku kepala Gayatri.


"Arghh wanita sialan!" Julian berteriak kencang merasa begitu marah.


"Ikuti mereka! Aku tidak percaya Nathan akan membunuhnya!" perintah Julian membuat semua sepupu Nathan langsung berlari untuk menyusul Nathan yang telah menyeret Davira keluar.


"Lepaskan aku Nathan!"


Davira berusaha untuk melepaskan tangannya dari cekalan Nathan yang begitu menyakitinya.


"Kau sudah gila? Kau membunuh nenekku!"


"Bukan aku pelakunya!" elak Davira, namun tentu saja Nathan tidak mempercayainya.


"Racun itu berada di dalam tas mu, kau juga mengatakan bahwa akan membalas dendam mu. Karena mengira bahwa kami lah yang sudah membunuh keluargamu!"


"Memang itu kenyataannya! Kalian lah dalang di balik pembantaian itu!"


Nathan terus menyeretnya hingga keduanya keluar dari dalam gedung.


"Bukan kami pelakunya!" teriak Nathan sembari mengguncang tubuh Davira.


"Kau berbohong! Kau selalu mengatakan kebohongan kepadaku! Nenekmu sendiri yang mengatakannya!"


Davira menatapnya dengan nafas yang memburu.


"Itu artinya memang kau lah yang sudah meracuni nenekku?"


Davira tidak menjawabnya, tanpa diduga-duga oleh Nathan. Davira langsung mengambil pistol yang terselip di pinggang Nathan kemudian menginjak kaki Nathan dengan high heels setinggi 7cm yang ia kenakan.


"Arghh!"


Davira bergerak mundur setelah melepaskan cengkraman Nathan yang meninggalkan bekas kemerahan di pergelangan tangannya.


Dor.


Tanpa aba-aba, Davira langsung menarik pelatuknya hingga timah panas itu menembus dada kanan Nathan.


Davira meneteskan air matanya melihat mata Nathan yang kini menatapnya.


Dor.


Davira kembali menembak Nathan, dan peluru itu mengenai perut pria itu.


"Nathan!"


"Jangan biarkan Davira lolos!"


Davira menatap tubuh Nathan yang telah ambruk, namun pria itu masih belum kehilangan kesadarannya dan terus menatap dirinya.


"Itu untuk Damian dan juga kedua orang tuaku," gumam Davira kemudian berlari sekencang mungkin.


Dor.


Davira menundukkan kepalanya saat tembakan mulai di lepaskan ke arahnya. Dia terus berlari dengan matanya yang benar-benar terlihat memerah.

__ADS_1


Sebuah mobil Lamborghini berwarna hitam kini berhenti tepat di depannya.


"Cepat masuk Davira!"


__ADS_2