
Dor!
"Davira lari!"
Kelopak mata Davira langsung terbuka lebar, memperlihatkan netra indahnya. Jantungnya terasa berdebar-debar, ia menyeka pelan keringat yang membasahi dahi serta pelipisnya.
Davira menatap langit-langit kamar yang tampak berdebu seperti tidak pernah dibersihkan, bahkan terdapat beberapa sarang laba-laba di atas sana. Davira mulai merubah posisinya menjadi duduk sembari mengatur nafasnya yang memburu.
Mimpi itu lagi-lagi menghantuinya, ia tidak bisa melupakan kejadian pada malam di mana ia harus kehilangan ibu, ayah, serta hampir seluruh anggota keluarganya.
Bayangan dan suara teriakan ibunya bahkan masih terdengar jelas di telinganya, dia masih ingat wajah terakhir kali ibunya.
Tangan Davira bergerak meraih botol berisi air mineral yang ada di atas nakas, wanita itu segera membuka tutup botolnya yang masih di segel kemudian meminumnya untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering.
Setelah dirasa cukup, Davira berusaha untuk berdiri dengan kaki yang tentunya masih terasa sakit. Davira menatap kakinya yang sudah diperban untuk sesaat kemudian menoleh ke arah cermin, terlihat beberapa lebam di tubuh serta wajahnya.
"Jam berapa sekarang?" gumamnya penasaran, namun di sana tidak terlihat adanya jam dinding ataupun jendela sehingga ia tidak bisa melihat bagaimana keadaan langit, apakah sudah gelap atau masih sore?
Kamar yang ia tempati bagaikan kamar tahanan, sangat pengap dan tidak nyaman. Dia kira kamar di markas Jakob adalah yang paling buruk, ternyata masih ada yang lebih buruk.
Tapi dia masih bersyukur karena mendapatkan perlakuan yang cukup baik, mereka semua di obati, diberi makanan serta pakaian untuk mengganti pakaian mereka yang sudah robek dan sangat kotor dengan darah.
Saat ini Davira memakai celana pendek seorang wanita yang menjadi salah satu bintang film por*no yang bekerja di markas ini, dan Davira memakai kaos oblong berwarna hitam entah milik siapa, yang jelas kaos itu begitu besar di tubuh Davira.
Namun itu lebih baik dari pada Davira harus memakai baju seksi milik para wanita yang juga tinggal di markas. Davira merasa bahwa akan berbahaya jika dia berpakaian sangat terbuka di saat lingkungannya saat ini dipenuhi dengan pria. Lagi pula Jakob pasti akan melarangnya karena merasa tidak nyaman.
Davira keluar dari kamar sembari menoleh ke kanan dan ke kiri, tidak ada yang berada di lorong itu selain dirinya. Semua pintu kamar tertutup rapat.
"Apakah mereka semua sudah tidur?" batinnya bertanya-tanya.
Davira membuka pelan pintu kamar yang ditempati oleh Nathan dan juga Paul, sekarang dia bisa melihat pria itu masih terbaring dengan mata yang terpejam. Nathan masih belum juga sadarkan diri sampai-sampai dokter yang bertugas untuk mengobatinya harus bermalam di markas agar bisa memeriksa keadaan Nathan secara berkala.
Davira melirik Paul yang tampaknya tengah terlelap di atas sofa, Davira mengambil jam tangan milik Paul yang berada di atas meja dan terlihat kotor dengan darah.
"Jam sebelas malam ternyata," gumamnya kemudian meletakkan jam tangan itu kembali ke tempatnya semula.
Davira duduk di tepi ranjang, ia menatap wajah Nathan yang terlihat pucat. Davira menghela nafas panjang kemudian mendekatkan wajahnya kepada Nathan.
"Kau harus membuka matamu, ada banyak hal yang harus kau buktikan kepadaku," ucap Davira setengah berbisik.
__ADS_1
Tangannya mulai mengusap rahang tegas Nathan, Davira tidak bisa mendeskripsikan perasaannya dengan benar saat ini. Dia sangat kebingungan, Davira takut jika Damian benar-benar pelakunya, tetapi dia juga takut jika Nathan hanya membohonginya.
Setelah beberapa menit memandangi wajah Nathan, Davira segera beranjak dari duduknya.
"Kenapa tidak tidur, Nona?"
Davira terperanjat kaget, ia sontak menoleh ke asal suara.
"Kau bangun?" Davira menatap Paul yang kini sudah duduk.
"Aku terbangun, dan aku hanya ingin melihat bagaimana keadaan Nathan. Ternyata dia masih belum sadarkan diri, apakah dia akan baik-baik saja?" tanya Davira kemudian membuka pintu kamar tersebut.
"Tuan akan baik-baik saja, Nona harus tenang, jangan terlalu khawatir," jawab Paul yang hanya ditanggapi Davira dengan anggukan.
Davira segera keluar dari kamar Nathan, ia lagi-lagi tersentak karena di hadapannya sudah ada Liam serta Luca membuatnya hampir berteriak.
Liam langsung memberi Davira isyarat untuk tetap diam, Davira mengangguk mengerti kemudian mengikuti langkah kaki Liam dan Luca yang mengajaknya untuk memasuki kamar Jakob.
Di sana terlihat Jakob, Mario, Dex dan Fedrix sudah berkumpul, mereka semua langsung menatap kedatangannya.
"Kami mencarimu ke kamarmu, tapi kau tidak ada. Apa yang kau lakukan di kamar Jonathan?" tanya Luca dengan suara yang cukup pelan, mungkin agar yang lain tidak mendengarnya.
"Aku hanya ingin melihat keadaannya," Davira langsung duduk bergabung bersama yang lainnya.
"Kau lupa? Bukankah kau harus membicarakan tentang rencanamu kepada kami?"
Davira berdecak, "Aku hampir saja lupa, Liam."
"Jadi kau memiliki rencana apa, Davira?" Jakob menatapnya seolah sudah begitu penasaran.
"Ini.....hanya rencana cadangan yang akan ku pakai jika Nathan ternyata menipuku, jika seandainya perkataan Nathan tentang Damian hanya kebohongan agar dia bisa kembali memilikiku dan agar aku bersedia kembali kepadanya. Rencana ini harus melibatkan kalian di dalamnya, apakah kalian ingin membantuku?"
"Tergantung, Nona. Katakan dulu apa rencanamu," sahut Fedrix sembari menyesap sebatang rokok.
"Mungkin setelah sadarkan diri dan sedikit sehat, Nathan akan membawaku ke Republik Dominika. Maksudku bukan mungkin, tapi pasti."
"Untuk apa dia membawamu ke sana?"
"Untuk melihat bukti, Mario. Bukti bahwa Damian memang pelakunya, karena Paul mengatakan bahwa bukti itu berupa orang serta video dan juga barang."
__ADS_1
Dex mengernyit, "Kenapa harus ke sana? Jonathan tidak bisa membawa bukti itu ke hadapanmu? Kenapa harus kau yang mendatangi bukti itu?"
"Paul mengatakan bahwa bukti-bukti itu sengaja disembunyikan di sana."
"Memangnya siapa juga yang akan mencuri semua bukti yang dia kumpulkan? Lagi pula jika benar Damian yang melakukan pembantaian itu, dia dan keluarganya sudah habis dibunuh oleh Jonathan bukan? Jadi tidak akan ada yang menggagalkan rencana Jonathan untuk membeberkan semua bukti itu kepadamu."
"Entahlah, Jakob. Tapi sepertinya Nathan hanya ingin mengamankan bukti yang dia miliki, kau tahu sendiri bahwa Nathan memiliki banyak musuh."
"Tapi ini terasa tidak benar, bagaimana jika ternyata itu hanya akal-akalan Jonathan? Dia hanya ingin menculikmu dan kembali menjadikanmu tawanannya."
"Aku mempunyai pikiran yang sama dengan Liam," ucap Jakob membuat Davira menghela nafas panjang.
"Maka dari itu aku perlu bantuan kalian, tolong ikuti aku ke manapun aku pergi bersama dengan Nathan. Susul aku ke Republik Dominika, aku ingin kalian membebaskanku dari Nathan jika ternyata dia hanya menipuku."
"Aku akan membantumu," ucap Jakob tanpa pikir panjang.
"Bagaimana caranya? Penjagaan pasti sangat ketat, lagi pula kita hanya ber-enam, Tuan."
"Akan ada banyak cara, aku tidak bisa membiarkan Davira kembali menjadi tawanan Jonathan dan ditipu oleh pria itu."
"Aku juga tidak bisa, aku akan terus mengikutimu, Davira. Ku harap Jonathan tidak berniat untuk membunuhmu," ucap Luca membuat Davira tersenyum tipis.
"Aku setuju dengan rencanamu, Davira. Kami pasti akan menolongmu jika seandainya Nathan menipumu tentang kejahatan mantan calon suamimu."
"Aku senang mendengarnya, terima kasih karena sudah melindungiku. Padahal kita semua baru saja saling mengenal," Davira tersenyum, dia merasa senang telah mengenal Jakob dan semua yang berada di dalam kamar ini.
Mereka semua tampak begitu tulus dan benar-benar menganggapnya sebagai bagian dari mereka.
"Santai saja, Davira. Jangan mengatakan terima kasih," Mario menepuk pelan pundak Davira.
"Aku memiliki satu pertanyaan, Davira. Ku harap kau sudah memiliki jawabannya," wajah Jakob terlihat begitu serius membuat semuanya merasa was-was.
"Apa yang ingin kau tanyakan, Jakob?" Davira membalas tatapan Jakob dengan perasaan yang berkecamuk, dia merasa takut jika Jakob berubah pikiran.
"Seandainya Jonathan tidak membohongimu, jika semua yang dia katakan adalah kebenaran, dan jika Damian benar-benar dalang di balik pembantaian itu. Apakah kau akan kembali bersamanya? Apakah kau akan tidak akan lagi melarikan diri darinya?" Jakob meletakkan kedua tangannya yang tertaut di atas meja.
"Aku ingin tahu apa keputusanmu, kita sudah membicarakan dan membuat rencana jika seandainya Jonathan menipumu. Jadi aku ingin kita juga membicarakan tentang apa langkah yang akan kau ambil jika semua yang Jonathan katakan adalah kebenaran. Karena jika benar-benar Damian yang melakukan pembantaian itu, maka itu artinya Jonathan sudah menjadi malaikat untukmu. Dia menghabisi nyawa pria yang sudah menyakitimu dan membuatmu hampir kehilangan seluruh keluarga. Singkatnya, Jonathan melakukan pembantaian di hari pernikahanmu semata-mata untuk menyelamatkanmu dari sandiwara Damian dan keluarganya."
Davira tertegun di tempatnya dengan manik mata yang tidak lepas dari netra coklat tua milik Jakob. Ia mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Jakob, dan semua yang dikatakan oleh pria itu memang benar.
__ADS_1
"Sekarang katakan, Davira. Seandainya Jonathan benar-benar bisa membuktikan perkataannya, apakah kau akan tetap bersamanya? Atau kembali kepada kami? Kabur dari Jonathan yang memang memiliki obsesi untuk bisa mendapatkanmu?"
Semua yang ada di sana hanya diam sembari menatap Jakob dan juga Davira, tidak ada yang membuka suara. Karena mereka semua ingin tahu apa keputusan yang akan di ambil oleh Davira.