
"Kare wa koko no shusshinde wa nai yōdesu."
( Sepertinya dia bukan orang sini ).
Dalam waktu sekejap, Davira sudah dikelilingi oleh 7 orang pria membuat wanita itu terkurung dan tidak bisa lari dari mereka.
"Funshitsu shimashita, ojōsan?"
( Tersesat, Nona? )
Pria itu bertanya dengan tangan yang bergerak mengelus pipi lembut Davira.
"Don't touch me," desis Davira lalu menepis tangan pria itu.
Gelak tawa terdengar dari mulut para pria yang saat ini sedang mengelilinginya, Davira mengepalkan tangannya kuat karena merasa sangat terpojokkan saat ini. Yang dulunya dia memiliki segalanya sehingga tidak akan ada yang berani mengganggunya, sekarang dia berada di gang sempit dan diganggu oleh para pria berandalan.
Davira tidak pernah membayangkan akan berada di posisi sekarang ini, Davira menatap para pria itu dengan penuh kewaspadaan.
Para pria itu terdengar saling berbicara satu sama lain dengan gelak tawa yang membuat Davira benar-benar muak mendengarnya, ia bersumpah akan kembali ke tempat ini dan membunuh para pria itu jika dia berhasil kabur. Tapi sayangnya, untuk kabur pun mungkin terasa mustahil.
Para pria itu bergerak semakin mendekat dengan tangan jahil yang berusaha untuk menyentuh Davira.
"Aku bersumpah akan mematahkan tangan kalian!" teriak Davira saat merasakan remasan di bokongnya.
Tidak ingin pasrah dan menerima perlakuan para pria berandal itu begitu saja, Davira yang cukup bisa bela diri langsung menendang ******** salah satu pria yang ada di depannya.
Pria itu sontak bergerak menjauh dan berteriak kesakitan sembari memegangi ***********, tendangan Davira begitu kuat.
Davira tahu bahwa apa yang dia lakukan itu akan membuat teman-teman pria itu merasa marah. Dan benar saja, mereka berusaha untuk menangkap Davira dan terdengar teriakan-teriakan yang Davira yakin adalah umpatan kasar untuknya.
Davira berlari dengan kakinya yang terasa perih.
"Lepaskan aku!"
Tangannya berhasil ditarik oleh salah satu dari mereka, yang lainnya terlihat ingin menangkap tubuhnya. Namun Davira segera merampas botol minuman yang ada di tangan salah satu pria dan langsung menghantamkannya ke kepala pria yang sedang menahan pinggangnya.
Bughh.
"Arghh!"
Pria itu meringis kesakitan, darah segar terlihat keluar dari kepalanya. Davira segera menendang ******** pria lainnnya, karena dia tahu itu adalah titik sensitif mereka. Dan Davira pernah di ajari oleh ayahnya bahwa dia hanya perlu menyerang bagian vital jika ingin menang dari para pria yang jelas-jelas lebih kuat dari pada dirinya.
"Ano kuso on'na o taiho shite kudasai!"
( Tangkap gadis sialan itu! )
Davira yang ingin berlari kini sudah berhasil ditangkap oleh salah satu dari para pria itu, pinggang Davira dipeluk dengan erat hingga tubuhnya terangkat. Davira sudah merasa begitu panik dan terus meronta-ronta agar bisa melepaskan diri dari pelukan berandal yang terasa begitu menjijikan.
"Lepaskan!" Davira berteriak sekencang mungkin berharap ada yang datang untuk menolongnya.
Para pria itu kembali tertawa seolah puas melihat Davira yang tidak bisa melepaskan diri, mereka bertujuh membawa Davira ke ujung gang.
Davira menumbukkan sikunya ke perut pria yang mengangkat tubuhnya, sedangkan kakinya bergerak menendang wajah pria yang berada di depannya.
Braak.
"Akhh!"
Tubuh Davira sontak mereka lepaskan sehingga wanita itu terjatuh dengan keras ke jalan. Punggung dan bokong Davira terasa begitu sakit, para pria berandal itu terlihat senang melihat Davira yang sudah tergeletak di tanah.
Tiba-tiba saja salah satu dari mereka membuka resleting celananya membuat mata Davira terbelalak melihat benda di dalamnya.
"Pria mesum sialan! Aku akan memotong benda itu!" teriak Davira merasa begitu jijik melihatnya.
Sedangkan para pria itu terus tertawa, Davira beringsut mundur lalu mengambil batu yang ada di dekatnya. Tanpa pikir panjang, Davira langsung menghantamkan batu itu pada wajah pria yang memperlihatkan *********** kepada Davira
"Arghh!"
Plaak.
__ADS_1
Salah satu temannya pun menampar wajah Davira dengan sangat keras hingga sudut bibir wanita itu langsung pecah seketika.
Rambut Davira dijambak dengan kasar membuat sang empu menjerit kesakitan.
"Watashitachi no josei ni furenaide kudasai!"
( Jangan menyentuh Nona kami! )
Tiba-tiba saja terdengar suara teriakan yang menggema, Davira sontak menatap ke arah asal suara. Di sana terlihat puluhan pria berpakaian hitam yang membawa tongkat bisbol, kapak serta senjata-senjata lainnya.
Para pria Jepang yang bertubuh tidak terlalu besar itu adalah orang-orang Nathan yang sedang mencari-cari keberadaan Davira.
Davira menghela nafas lega, karena setidaknya ada yang datang menolongnya, walaupun anak buah Nathan sekalipun. Yang terpenting dia tidak mati dengan cara dilecehkan oleh para berandal gang di kota Osaka itu. Sungguh kematian yang sangat menyakitkan dan menyedihkan, Davira tidak ingin mengalami hal itu.
Pria di belakangnya segera melepaskan rambutnya dan mendorong tubuhnya ke samping. Mereka menelan saliva dengan susah payah, merasa panik melihat banyaknya pengawal yang sedang berdiri di ujung sana.
Tanpa aba-aba, para pengawal itu langsung berlari ke arah 7 pria yang mulai bergerak mundur. Namun di belakang mereka hanya terdapat tembok karena ini adalah gang buntu, mereka tidak bisa kabur kemana pun.
Bughh.
Tongkat bisbol milik pengawal langsung menghantam kepala salah satu pria berandal.
Bughh.
Bughh.
Perkelahian mulai terjadi, lebih tepatnya pengeroyokan karena jumlah yang sangat tidak seimbang. Keahlian bela diri yang digunakan oleh pria-pria berandal itu pun juga sangat pas-pasan, maka dari itu mereka hanya berani mengganggu seorang wanita. Dan itu pun mereka melakukannya bertujuh, tidak berani sendirian.
Jika saja hanya satu pria yang mengganggu Davira, maka Davira yakin bisa mengalahkannya.
Craashh!
"Akhhh!"
Sudut bibir Davira sedikit tertarik ke samping membentuk sebuah senyuman miring di wajahnya yang terlihat lebam dan begitu kacau. Ia merasa puas ketika melihat kapak salah satu anak buah Nathan mendarat tepat di tengah-tengah kepala pria yang sudah begitu berani memperlihatkan *********** kepada Davira.
Tubuh Davira sudah menggigil merasa kedinginan yang membuat tulangnya terasa ngilu. Namun untuk bangkit sendiri, rasanya dia tidak sanggup. Kaki serta tubuhnya terasa begitu sakit dan dia benar-benar sudah lelah. Bayangkan saja, sudah berapa jauh dia berlari dari mansion Nathan, ditambah para berandal itu mengganggunya membuat dia harus melakukan perlawanan yang sangat menguras tenaga.
Davira menatap ke arah gerombolan orang-orang Nathan yang tampaknya sedang memukuli ke-7 berandalan yang sudah tergeletak tidak berdaya. Davira yakin bahwa mereka sudah mati, tapi anak buah Nathan masih saja memukuli mereka.
Bibir Davira sudah terlihat biru, ingin sekali ia berteriak agar anak buah Nathan berhenti menggebuki mayat dan segera membawanya pergi dari tempat ini. Tapi Davira benar-benar sudah tidak sanggup untuk berteriak, tenggorokannya begitu sakit seolah sedang terluka.
Tiba-tiba saja air hujan sudah tidak membasahi tubuhnya lagi, Davira sontak mendongakkan kepalanya. Matanya langsung melihat wajah Paul yang kini memegangi payung berwarna hitam
Davira mengernyit, "Dia sudah kembali?" batinnya bertanya-tanya.
Paul segera berjongkok dan menyelimuti tubuh Davira dengan selimut yang sudah ia siapkan.
"Nona bisa berdiri?" tanya Paul memastikan keadaan Davira.
Karena tidak ingin digendong oleh Paul, Davira segera menganggukkan kepalanya membuat Paul dengan cepat membantunya agar berdiri.
"Tidak seharusnya Nona melarikan diri."
Davira tidak menanggapi perkataan Paul, sekarang pikirannya sedang tidak berada bersamanya. Otaknya mulai memikirkan apa yang akan terjadi kepadanya setelah ini, siksaan pasti akan dia dapatkan. Dan yang paling parah, dia bisa langsung dibunuh oleh Nathan karena dia sudah berani melarikan diri dan meracuni para penjaga yang ada di mansion. Davira sudah menyebabkan kematian massal, jadi tidak ada harapan baginya untuk bisa selamat dari amukan Nathan kali ini.
Ia melirik Paul yang kini berdiri di sampingnya, membiarkan tubuh besarnya basah kuyup karena payung yang dipegang olehnya dia gunakan untuk memayungi Davira. Wanita itu menghela nafas panjang kemudian beralih menatap luka di kakinya dan rasa lelah yang tubuhnya rasakan, sangat tidak memungkinkan jika dia kabur lagi.
"Bereskan tikus-tikus jalanan ini segera, jangan sampai nama tuan Xie terseret hanya karena para berandalan itu. Buat mereka menghilang tanpa jejak seolah tidak pernah dilahirkan ke dunia ini!" perintah Paul membuat seluruh anak buahnya yang sudah berhenti memukuli para berandal segera menganggukkan kepala mereka.
"Sebaiknya kita pulang ke mansion sekarang juga, Nona," Paul menuntun Davira yang kini berjalan dengan tertatih-tatih.
Davira masuk ke dalam mobil yang sudah ada di depan gang, ia langsung menyandarkan tubuhnya yang terasa remuk dengan perasaan tidak tenang yang terus mengganggunya.
Paul mulai mengemudikan mobil itu dengan kecepatan sedang.
"Apakah Nathan juga sudah kembali? Ku dengar kalian akan berada di Sevilla sampai hari Senin, kenapa kalian sudah kembali?" tanya Davira pada akhirnya membuka suara.
Davira sudah sangat penasaran, dia hanya bisa berharap Paul mengatakan bahwa Nathan belum kembali.
__ADS_1
"Dari mana Nona mendengarnya?"
Mendengar hal itu membuat Davira menghembuskan nafasnya kasar.
"Jawab saja pertanyaanku," ucap Davira penuh penekanan.
"Tuan Nathan juga sudah kembali, kami sampai sesaat setelah Nona melarikan diri. Ada banyak sekali mayat pengawal di meja makan."
Davira menggigit bibir bawahnya, ia menatap ke arah luar jendela dan tidak mengatakan apapun lagi hingga mobil yang dikemudikan Paul memasuki garasi mansion. Paul segera membukakan pintu untuk Davira, dengan perasaan was-was wanita itu turun dari mobil sambil merapatkan selimut yang kini membuat tubuhnya terasa lebih hangat.
"Mari Nona, Tuan sudah menunggu."
"Shitt," Davira mengumpat pelan kemudian melangkahkan kakinya mengikuti Paul.
Mereka berdua memasuki mansion melalui pintu utama, dengan berat hati dan langkah yang ragu, Davira masuk ke dalam mansion yang megah dan besar itu.
Jantung Davira sudah berdegup dengan kencang sedari tadi, namun tiba-tiba saja netranya bertubrukan dengan netra berwarna milik Nathan hingga Davira merasa bahwa jantungnya berhenti berdetak untuk beberapa saat.
Deg.
Langkah kaki Davira pun sontak terhenti. Di tengah-tengah tangga yang begitu panjang, Nathan terlihat berdiri dengan sorot matanya yang dingin, pria itu terlihat begitu tampan dengan mantel polos berwarna hitam dan rambutnya yang terikat ke belakang, namun ketampanan itu terlihat menyeramkan di mata Davira untuk sekarang ini.
Nathan menuruni undakan tangga satu persatu dan melangkah hingga kini berdiri di hadapan Davira, membuat keduanya saling menatap satu sama lain. Nathan memperhatikan tubuh Davira dari atas hingga bawah, dapat ia lihat luka di lutut dan lebam di pipi wanita itu. Sudut bibir Davira yang pecah pun tidak luput dari pandangannya.
Susah payah Davira menelan salivanya melihat tangan Nathan yang sudah terkepal kuat di samping tubuhnya, biar bagaimanapun juga dia tetap merasa takut dan tubuhnya benar-benar belum siap mendapatkan penyiksaan.
"Tuhan, aku tahu aku tidak berbakti kepadamu. Tapi ku mohon berpihak lah padaku saat ini," batinnya mulai mengharapkan pertolongan dari Tuhan-nya.
Tanpa diduga-duga, tubuh Davira ditarik ke dalam pelukan Nathan yang terasa begitu hangat. Pria itu memeluknya dengan erat, dapat dia rasakan usapan lembut di kepalanya.
Davira tertegun di dalam pelukan Nathan, dia tidak berontak ataupun melawan. Karena sepertinya pelukan jauh lebih baik dari pada pukulan ataupun tamparan.
"Jangan pernah pergi lagi, Davira," suara serak Nathan terdengar menyiratkan kekhawatiran membuat Davira merasa kebingungan.
Pria itu terdengar begitu peduli kepadanya dan mengkhawatirkan dirinya, namun apa yang dilakukan olehnya selama ini membuat Davira merasa ragu bahwa Nathan benar-benar mencintainya. Davira yakin bahwa pria itu hanya merasa terobsesi atau bahkan mempunyai alasan lain. Tapi saat ini, untuk pertama kalinya, Davira baru saja merasakan ketulusan pria itu.
"Siapa yang membuatmu sampai terluka seperti ini?" tanya Nathan melonggarkan pelukannya agar bisa menatap wajah Davira.
Kemarahan dan rasa khawatir menyelimuti dirinya secara bersamaan, jempolnya bergerak mengusap sudut bibir Davira membuat sang empu sampai menahan nafasnya karena jarak mereka yang begitu dekat serta tatapan Nathan yang sangat dalam.
"Aaaaa!"
Davira terperanjat kaget saat Nathan tiba-tiba saja menggendongnya ala bridal style, ia sontak mengalungkan kedua tangannya ke leher pria itu karena tidak ingin terjatuh.
"Nathan, turunkan aku."
Pria itu tidak menanggapi perkataanya dan mulai melangkahkan kakinya memasuki lift, matanya memberi Paul isyarat agar tidak mengikutinya. Nathan tidak ingin di ganggu dan hanya fokus kepada Davira terlebih dahulu.
Para pelayan yang berpapasan dengannya menghela nafas lega karena Nathan terlihat sudah menggendong Davira, karena jika sampai Davira tidak ditemukan, maka nyawa mereka bisa saja terancam karena kemarahan Nathan. Setelah masuk ke dalam mansion dan melihat kekacauan, Tuan muda Xie tidak merasa marah karena puluhan pengawalnya yang tiada di meja makan. Tetapi dia mengamuk karena Davira yang berhasil melarikan diri dari mansion-nya.
Pria itu terus mengumpati mereka dengan kata-kata kasar karena emosinya yang tidak terkendali, Nathan tentunya menyalahkan para pelayan dan pengawal yang tidak waspada.
Nathan membawa Davira memasuki kamarnya, bukan kamar wanita itu.
"Kenapa kau membawaku ke sini? Ini bukan kamarku," Davira berusaha turun dari gendong Nathan, namun tentu saja tidak bisa.
Nathan terus membawanya memasuki kamar yang luas itu hingga terlihat ranjang berukuran king size, tetapi bukan itu yang menarik perhatian Davira. Namun sebuah foto yang dipajang di tengah-tengah dinding di atas ranjang itu.
Fotonya terlihat begitu besar, di sana terlihat foto dirinya yang sedang menggunakan gaun berwarna hitam dengan wajahnya yang tentunya terlihat begitu cantik.
Nathan langsung meletakkan Davira di atas tempat tidur yang empuk miliknya dengan sangat hati-hati karena takut menyakiti wanita itu. Sekarang Davira bisa menghirup aroma tubuh Nathan yang tertinggal di bantal dan juga kasur, aroma yang begitu harum dan memabukkan.
Davira akui dia sangat menyukai aroma tubuh Nathan yang sebenarnya ingin selalu ia hirup dalam-dalam.
Nathan terlihat menelpon seseorang dan tentu saja Davira tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh pria itu kepada seseorang di telpon. Hanya sebentar, Nathan sudah meletakkan ponselnya ke atas meja.
Pria itu terlihat melepaskan mantel di tubuhnya kemudian duduk ditepi ranjang dan meletakkan tangan kekarnya di sebelah tubuh Davira hingga wanita itu seakan dikurung olehnya.
"Katakan padaku, bagaimana nasib orang yang sudah melukaimu? Aku tahu ini luka bekas tamparan, Davira."
__ADS_1