
Tiba-tiba saja tembakan beruntun terjadi bersamaan dengan datangnya puluhan mobil, beberapa anak buah Nathan langsung mati di tempat membuat semua yang berada di sana merasa begitu terkejut.
Jakob yang baru saja mendapatkan bogeman dari Nathan pun ingin membalasnya, pria itu sudah mengangkat tinjunya, tetapi ia urungkan saat melihat mobil-mobil itu datang.
Mata Nathan terlihat melebar, "Itu Aaron," desisnya saat matanya bertemu dengan pemilik mata seorang pria yang sedang berada di balik kemudi.
Tanpa pikir panjang lagi Nathan langsung menarik Davira agar berlindung kepadanya, Nathan segera menembaki mobil-mobil dari anak buah Aaron yang kini mengepung mereka.
"Sial, dia Aaron?!" tanya Jakob semakin waspada.
"Kalian tidak berada di pihak yang sama?" Liam menatap Nathan dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Dia memang sepupuku, tapi sudah ku katakan bahwa aku tidak akan membunuh Davira. Sedangkan Aaron ingin membunuhnya," jawab Nathan membuat Liam segera berdiri di depannya untuk melindungi Davira.
"Kalau begitu kita berada di pihak yang sama untuk sementara waktu, kita sama-sama ingin melindungi Davira."
Nathan menatapnya tidak suka, "Kita tidak akan pernah berada di pihak yang sama, kalian menghalangiku untuk membawa Davira, itu artinya kalian pun juga akan mati di tanganku."
"Berhenti melakukan pengancaman Nathan!" sentak Davira segera melepaskan tangan Nathan dan lebih memilih untuk berada di dekat Jakob dan teman-temannya yang lain.
"Bagaimana ini?" tanya Mario menatap mobil-mobil yang mengelilingi mereka.
"Kita lawan, mau bagaimana lagi?" sahut Fedrix dengan kedua tangan yang sudah memegang pistol.
"Kita hanya bertujuh, dan aku bingung siapa yang harus kita serang terlebih dahulu. Anak buah Aaron atau Jonathan?" suara Dex terdengar pelan.
"Aaron terlebih dahulu, karena Jonathan juga akan menyerang Aaron. Sepertinya Jonathan tidak akan membiarkan wanitanya terluka," sahut Jakob lalu menatap Davira.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya memastikan, wajah Davira masih terlihat begitu terkejut.
"Tentang apa yang Jonathan katakan kepadamu, jangan memikirkannya sekarang," bisik Jakob langsung mendapat anggukan pelan dari Davira.
Nathan hanya menatapnya tajam, tapi dia mencoba untuk mengabaikannya terlebih dahulu. Karena sekarang ada permasalahan yang lebih serius, Aaron tiba-tiba saja datang, itu artinya Aaron sudah memata-matainya dan mengikutinya sampai ke Moskow.
"Serahkan wanita itu kepada kami, Nathan," Aaron turun dari mobilnya, begitu juga dengan puluhan anak buah yang ia bawa, Aaron terlihat membawa lebih banyak anak buah dari pada Nathan.
Mungkin karena Aaron sudah mencari tahu semuanya terlebih dahulu.
__ADS_1
"Kau mengikutiku?" Nathan mengangkat satu alisnya, ia berusaha agar tetap terlihat tenang.
"Tentu saja, terima kasih karena sudah menuntunku, sekarang aku mendapatkan buruanku," jawab Aaron sembari menatap ke arah Davira yang kini berada di tengah-tengah Jakob dan juga Nathan serta semua anak buah Jakob yang menatap Aaron seperti akan mengulitinya.
"Davira tidak akan ikut bersamamu," ucap Nathan membuat wajah Aaron langsung mengeras.
"Jadi kau akan tetap menjadikannya tawananmu? Pelacur pribadimu?"
Darah Nathan langsung mendidih mendengar hal itu, Nathan segera mengarahkan pistolnya kepada Aaron yang mana membuat seluruh anak buah Aaron menodongkan senjata mereka kepada Nathan serta anak buah pria itu.
Aaron terkekeh kecil, "Kau ingin melawan ayahmu sendiri? Ini adalah perintah dari ayahmu! Dia sendiri yang menyuruhku untuk membawa Davira ke hadapannya! Membawa pembunuh nenek!"
"Bukan Davira pelakunya!" teriak Nathan membuat Davira menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Aku yakin dia dijebak! Aku akan mencari tahu semuanya, sampai waktu itu tiba, Davira akan tetap bersamaku. Tidak ada yang boleh menyakitinya!"
"Bagaimana kau bisa mengatakan hal itu?! Racun itu ada di dalam tasnya! Tidak ada jebakan, tidak akan ada yang berani membunuh nenek selain dia!" nafas Aaron terdengar memburu, kini keduanya saling menatap nyalang satu sama lain.
"Davira tidak akan ikut bersamamu, itu keputusanku. Aku akan membongkar semuanya secepat mungkin, aku sendiri yang akan berbicara kepada ayahku. Jadi kembalilah, enyah dari hadapanku," desis Nathan di akhir kalimat.
"Sial, ini akan menjadi perang saudara," bisik Mario lalu menelan salivanya dengan susah payah.
Nathan mengepalkan tangannya kuat lalu menatap Paul dan memberi isyarat agar segera bersiap.
"Kalau begitu lawan aku, Aaron. Davira tidak akan pernah ku biarkan ikut bersamamu," ucap Nathan bersamaan dengan seluruh anak buahnya yang langsung menembakkan peluru mereka.
"Sial! Setidaknya beri kami aba-aba!" teriak Jakob segera menarik Davira agar berlindung di balik mobil.
"Lindungi Davira!" perintah Nathan saat baku tembak terjadi.
"Kita menjadi tim Nathan untuk sementara," ucap Jakob kepada Liam dan yang lainnya.
Mereka semua mulai saling menembak satu sama lain.
Nathan dan juga Aaron kini berdiri saling berhadapan dengan tatapan yang sama-sama menyiratkan kemarahan.
"Aku tidak menyangka kau lebih memilih Davira dari pada keluargamu," ucap Aaron kemudian melempar pistolnya ke dalam mobil.
__ADS_1
"Aku juga tidak menyangka akan melawanmu demi Davira," Nathan melakukan hal yang sama.
"Tangan kosong ku rasa lebih baik dari pada pistol."
Nathan tersenyum miring kemudian ingin menghantamkan tinjunya ke wajah Aaron, pria itu segera berkelit dan menendang kaki Nathan membuat sepupunya itu hampir tersungkur.
Bughh.
Nathan langsung meninju perut Aaron begitu juga sebaliknya, kedua pria itu saling melayangkan tinju masing-masing.
Davira menatap sekelilingnya dengan perasaan panik yang semakin membesar, ia terus memperhatikan Jakob dan teman-temannya yang kini sibuk menembaki orang-orang Aaron.
Dor.
Suara tembakan yang memekakkan telinga terus terdengar, anak buah Nathan terlihat menyerang dengan senjata mereka yang merupakan kapak, tongkat bisbol, atau bahkan palu berduri.
Davira tersentak melihat anak buah Nathan yang menghantamkan palunya pada kepala salah satu orang Aaron membuat darahnya langsung muncrat kemana-mana.
"Luca awas!" teriak Davira segera mendorong anak buah Nathan yang kini mengelilinginya.
Mendengar teriakan Davira membuat Luca buru-buru berguling untuk menghindari timah panas yang hampir saja menembus kepalanya.
"Nona tetaplah di sana!" Paul memerintahkan anak buahnya untuk menahan Davira.
"Aku tidak bisa hanya diam saja!" Davira mengambil pistolnya lalu mulai membidik orang-orang Aaron yang sedang bertarung dengan anak buah Nathan.
Dor.
Salah satu orang kepercayaan Aaron yang bernama Andreas terlihat berjalan sembari menembaki orang-orang yang menghalanginya, ia terlihat cukup tenang namun terkesan menakutkan.
Andreas berniat untuk mengambil Davira dari anak buah Nathan yang kini melindunginya.
Dor.
Bughh.
Paul langsung menghadangnya dan melayangkan tinjunya di wajah Andreas.
__ADS_1
"Kau tidak akan bisa membawa Nona Davira!"