
Nathan termenung menatap Davira yang tengah terlelap bersabda di kursinya, wanita itu tampaknya begitu kelelahan sehingga bisa tertidur pulas di dalam mobil. Helaan Nafas panjang keluarga dari mulut Nathan, dia tidak tahu apakah Davira mempercayai dirinya atau tidak.
Semuanya terlalu samar, dia tidak bisa menebak dengan jelas tentang apa yang sebenarnya Davira inginkan dan tentang apa yang sesungguhnya wanita itu pikirkan.
"Kenapa tiba-tiba saja Davira kembali menanyakan tentang hal itu lagi? Dan kenapa Davira langsung memelukku saat aku mengatakan bahwa bukan akulah dalang di balik pembantaian keluarganya?" pertanyaan itu terus berputar di dalam otak Nathan.
Hanya ada dua kemungkinan, yang pertama adalah Davira benar-benar memercayainya. Dan yang kedua, Davira sedang berpura-pura karena ingin balas dendam kepadanya sehingga sikapnya berubah menjadi penurut dan lebih lembut.
Nathan mengusap kepala Davira, ada perasaan takut yang sekarang menyelimutinya. Dia berharap Davira benar-benar mempercayainya, karena akan sangat menyakitkan jika Davira membalas dendam setelah hubungan mereka sudah sedekat ini.
"Aku mencintaimu, Davira. Ku harap kau mempercayaiku," gumam Nathan begitu pelan, dia tidak ingin jika Davira terus mencurigainya tentang pembantaian pada malam itu.
Drrtt.
Drrtt.
Ponsel di saku jas nya terasa bergetar membuat Nathan segera merogohnya, terlihat nama salah satu anak buahnya tertera di layar ponselnya.
"Saya sudah tahu siapa dalang di balik penculikan Nona Davira."
Nathan hanya diam, tidak berniat berbicara karena takut menganggu tidur Davira.
"Selama ini Tuan tahu bahwa kita selalu menyelipkan orang-orang kita ke pihak musuh, bukan? Jadi ternyata yang memberitahu kepada Tuan Erick bahwa Tuan Nathan sedang berada di Roma adalah salah satu orang kita."
Nathan segera memutus sambungan teleponnya, ia memijit pangkal hidungnya kemudian terkekeh kecil.
"Ternyata ayah dan ibu," gumamnya begitu yakin.
Sangat tidak mungkin jika orang-orang mereka begitu berani memberikan informasi itu kepada Dante, pasti ada perintah yang diberikan kepada orang-orang itu. Nathan tahu betapa liciknya ayah dan juga ibunya, mereka berdua adalah pasangan yang serasi.
Nathan menatap wajah Davira lekat-lekat, darahnya terasa mendidih ketika mengingat apa yang dilakukan oleh Dante kepada wanita itu. Nathan masih belum bisa melupakannya, Dante sudah dia balas. Sepertinya sekarang dia harus membalas dalangnya.
Nathan akan membuat seluruh keluarganya merasa tertampar, ia bersumpah akan memperlihatkan kepada kelurga besar Xie, bahwa Davira adalah miliknya. Dia ingin seluruh keluarganya tahu bahwa Davira tidak bisa diganggu karena ia tidak main-main dengan wanita itu.
Dia sudah tidak peduli lagi, nenek, ayah, ataupun ibunya. Tidak masalah baginya jika harus melawan mereka bertiga, ini untuk cintanya kepada Davira, serta rasa bersalah atas semua kesalahan yang telah ia lakukan.
Mobil yang dikemudikan oleh Elio akhirnya memasuki pekarangan mansion dan berhenti ketika sudah sampai di Garasi. Elio segera membukakan pintu untuk Nathan.
"Berikan barang-barang belanjaan Davira kepada Berta, biar dia yang memasukkannya ke dalam lemari Davira," Nathan keluar dari mobil dengan Davira yang sudah berada di dalam gendongannya.
"Baik Tuan."
Nathan melangkahkan kakinya memasuki lift hingga sampai ke lantai di mana kamarnya dan kamar Davira berada. Nathan membawa wanita itu masuk ke dalam kamarnya, ia meletakkan Davira dengan sangat hati-hati di atas tempat tidurnya.
Ia tersenyum tipis kemudian mengecup dahi Davira, perasaannya kepada wanita itu terasa semakin besar. Nathan mencintai Davira, dia sangat menyayanginya.
Baru saja ingin beranjak, tangan Nathan langsung di cekal oleh Davira membuatnya mengernyit.
"Kenapa bangun?" tanya Nathan pelan, namun suaranya tetap terdengar dingin dan juga tegas.
Davira hanya diam dan menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk di artikan, Nathan kembali duduk di tepi ranjang.
"Ada apa?" Nathan mengusap punggung tangan Davira yang menggenggamnya.
Davira menggelengkan kepalanya pelan lalu menghela nafas panjang dan melepaskan genggaman tangannya pada Nathan. Davira berbaring menyamping membelakangi Nathan dan kembali memejamkan matanya, terlihat beberapa tetes cairan bening mengalir dari sudut mata wanita itu.
"Davira, apa yang terjadi?"
Nathan mengusap kepala Davira, ia merasa khawatir dengan keadaan wanitanya.
"Aku hanya mengantuk," jawab Davira, suaranya terdengar begitu serak dan sedikit tertahan.
"Baiklah, aku akan mandi. Teruskan tidurmu," Nathan mengecup kepala Davira kemudian melepaskan sendal dari kaki wanita itu.
Ia tersenyum melihat kaki Davira yang masih kotor dengan pasir pantai, hari ini perasaannya benar-benar dibuat campur aduk oleh wanita itu.
Nathan segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, ia menatap pantulan wajahnya di cermin untuk sejenak.
"Sepertinya lawan ku kali ini adalah keluargaku sendiri, Davira. Aku akan membuat mereka setuju suatu saat nanti."
Setelah selesai membersihkan diri, Nathan keluar dengan menggunakan handuk yang melilit pinggangnya. Tubuh kekar dan perut six pack nya terlihat dengan begitu jelas.
Nathan tertegun melihat tubuh Davira yang bergetar, bahkan suara isak tangis Davira pun sampai terdengar. Nathan segera memakai boxernya dan naik ke atas tempat tidur kemudian memeluk tubuh Davira.
__ADS_1
Wanita itu terperanjat kaget, Davira segera menyeka air matanya dan kembali memejamkannya. Dia tidak ingin jika Nathan melihatnya menangis, walaupun mungkin sekarang dia sudah ketahuan.
"Tidak apa Davira, aku tahu apa yang kau rasakan," bisik Nathan dengan dada yang terasa sesak seolah dihimpit oleh sesuatu.
Tangannya memeluk erat tubuh Davira yang membelakanginya, ia membenamkan wajahnya di ceruk leher wanita itu, menghirup aroma dari tubuh Davira yang sudah lama menjadi candu untuknya.
Davira hanya diam, ia menatap tangan kekar Nathan yang melingkar sempurna di pinggangnya. Davira tidak pernah merasa seperti ini. Semuanya menjadi satu, kemarahan, kecurigaan, rasa cinta dan dendam, ia rasakan semua ini dalam waktu bersamaan.
Nathan berhasil, Davira mengakuinya. Pria itu telah membuatnya takluk, ia rasa ia benar-benar sudah jatuh cinta kepada sosok Nathan yang begitu kejam.
Namun kecurigaan dan kemarahan masih menyelimuti hatinya, menekan perasaan cintanya sehingga dia menjadi sakit sendirian.
Dendamnya masih ada, tidak hilang begitu saja. Sekarang Davira merasa kebingungan, antara dua pilihan yang sama-sama akan menyakitinya. Pikirannya sudah berusaha keras untuk menyadarkan hatinya. Dan Davira sepertinya harus segera mengambil keputusan tentang langkah apa yang harus ia ambil untuk hidupnya.
Salah satu dari dua pilihan itu harus ia ambil, dan dadanya semakin terasa sesak ketika memikirkannya.
π_π
Keesokan harinya, Nathan bangun terlebih dahulu dari tidurnya sejak satu jam yang lalu. Namun dia baru saja beranjak dari atas tempat tidur karena sedari bangun dia terus memandangi wajah Davira. Dan sepertinya pria itu telah puas melakukannya.
Nathan mengambil ponselnya yang berada di atas nakas. Terlihat beberapa pesan dari Emma membuatnya segera berjalan ke balkon kamarnya dan langsung menelepon wanita itu.
Tidak perlu menunggu lama, panggilannya kini sudah tersambung.
"Aku sama sekali tidak marah kepadamu, Emma. Tenang saja, kenapa harus se-khawatir itu?" Nathan memegang pagar pembatas yang terasa begitu dingin.
"Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku dan Erick masih sama seperti dulu, hubungan kami tidak berubah. Masih berteman."
"Aku tahu, aku bisa melihatnya. Untuk apa dia datang ke Roma? Apakah benar-benar hanya karena ingin menemui mu?" tanyanya yang sebenarnya sudah tahu apa tujuan utama Erick, pria itu bahkan sudah menjalin kerjasama dengan Edgar untuk menghancurkannya melalui Davira.
"Bisnisnya, dia juga ingin menemui ku. Sudah lama kami tidak bertemu."
Nathan hanya tersenyum kecil mendengar jawaban Emma.
"Nathan, hari ini kau bisa menemaniku?"
"Maaf Emma, tapi untuk kali ini tidak bisa. Aku harus menemani Davira, dia sedikit rapuh akhir-akhir ini. Aku tidak bisa meninggalkannya sendirian," jawab Nathan begitu jujur, dia tidak berniat untuk mencari alasan yang lain.
"Tapi hanya sebentar, seperti biasanya. Kau benar-benar tidak bisa? Padahal kemarin ku lihat Davira baik-baik saja."
"Baiklah, Nathan."
"Kau bisa meminta Erick untuk menemanimu, dia memang bukan pria yang baik. Tapi dia tidak akan menyakitimu, bahkan mungkin dia bisa melindungimu lebih dari aku."
"Jangan mengatakan hal itu, Nathan. Aku juga tidak akan pergi bersamanya, sampaikan salamku kepada Davira. Semoga dia lekas membaik."
"Hubungi aku jika terjadi sesuatu, Emma."
Setelah mengatakan hal itu, Nathan segera memutus sambungan teleponnya. Tiba-tiba saja dia merasakan tangan seseorang melingkar di pinggangnya, memeluknya dari arah belakang.
"Jonathan," panggil Davira membuat Nathan tersenyum tipis, panggilan lengkap seperti itu sudah sangat lama tidak ia dengar dari mulut Davira.
"Yes, princess?"
"Tadi itu Emma? Dia akan ke sini?" tanya Davira yang memang tidak mendengarkan pembicaraan Nathan dan Emma sedari awal.
"Tidak, dia tidak akan ke sini hari ini. Dia juga menitip salam untukmu."
Davira tersenyum masam dan masih menempel di punggung Nathan, bahkan pipinya bersandar di punggung tanpa alas pria itu, terasa hangat dan juga nyaman.
Nathan mengusap tangan Davira, "Kenapa menjadi manja seperti ini hmm?"
"Aku? Manja? Aku tidak pernah bersikap seperti itu, Nathan. Aku tidak bisa bersikap manja," ucap Davira membuat Nathan sontak tertawa.
Nathan melepaskan tangan Davira dari pinggangnya kemudian berbalik untuk menatap wajah wanita itu.
"Jadi kau tidak bisa bersikap manja?" tanya Nathan yang langsung mendapat gelengan kepala dari Davira.
"Itu sikap yang menjijikan," jawabnya membuat Nathan terkekeh.
"Jadi sikap seperti ini tidak manja?"
Davira tertegun melihat tangannya yang tidak ingin lepas dari pinggang Nathan, namun bukannya melepaskan setelah menyadarinya, Davira justru kembali memeluk tubuh Nathan dan bersandar di dada bidang pria itu.
__ADS_1
"Jangan menyebutku manja," ucap Davira membuat Nathan terkekeh.
Pria itu mengecup puncak kepala Davira, menghujani kepala Davira dengan kecupannya.
"Of course my princess."
π_π
Nathan menatap Davira yang belum kunjung menghabiskan makanannya, wanita itu terlihat begitu santai dan memakan semuanya dengan lambat tanpa menghiraukan Nathan yang sudah menghabiskan makanannya sedari tadi.
Namun Nathan memang tidak mempermasalahkannya, dia merasa senang ketika harus menunggu Davira seperti sekarang ini. Dia menjadi bisa memandangi wajah Davira lebih lama.
"Bagaimana bisa tubuhmu masih begitu bagus?" tanya Nathan merasa kebingungan, porsi makan Davira tidak bisa dikatakan sedikit. Tetapi tubuh wanita itu tidak kunjung membesar, pinggangnya masih sangat ramping dan perutnya begitu rata. Entah ke mana semua makanan itu perginya.
Davira tertegun untuk sejenak, "Aku baru sadar bahwa ternyata selama ini aku tidak bisa gemuk, padahal aku sangat jarang olahraga dan aku memakan banyak makanan. Apakah.....aku cacingan?"
Tawa Nathan langsung pecah mendengarnya, tangannya bergerak mengacak-acak rambut Davira membuat sang empu menatapnya tidak terima.
"Aku akan memberikanmu obat cacing."
"Tidak perlu! Biarkan cacing-cacing itu memakan makanan yang ada di dalam perutku," ucap Davira membuat Nathan geleng-geleng kepala.
"Tuan, maaf menganggu," salah satu pelayan tiba-tiba saja datang menghampiri.
"Ada apa?" tanya Nathan tanpa mengalihkan pandangannya dari Davira.
"Ada seorang wanita di ruang tamu, dia mengaku sebagai teman Tuan, jadi kami persilahkan masuk."
Nathan dan Davira mengernyit, "Kau bisa pergi."
Nathan segera berdiri dari duduknya lalu mengusap kepala Davira.
"Tetaplah di sini dan habiskan makanan mu," Nathan melangkahkan kakinya meninggalkan ruang makan.
Pria itu berjalan hingga ke ruang tamu, langkahnya langsung berubah semakin cepat saat melihat keberadaan seorang wanita yang sangat ingin ia habisi.
"Apa yang kau lakukan di sini? Ingin menyerahkan nyawamu?" Nathan langsung mendorong tubuh Laura hingga terhimpit, ia menekan dada wanita itu dengan lengannya.
"Akhh.......Nathan lepaskan aku," Laura meringis kesakitan.
"Aku sangat ingin membunuhmu, Laura. Apa yang ada dalam pikiranmu sampai-sampai kau berani menampakkan diri di depan mataku?" tanyanya membuat Laura semakin kesulitan menelan salivanya.
"A-aku minta maaf untuk itu Nathan, aku benar-benar menyesal," ucap Laura dengan wajah yang sudah terlihat memerah karena Nathan yang mulai menekan kuat lehernya.
"Permintaan maaf mu di tolak, bukankah sudah sejak awal aku memperingatkan mu? Tapi dengan begitu berani kau mengadu kepada ibuku. Sekarang katakan apa tujuanmu datang ke sini sebelum aku semakin hilang kesabaran, kau tahu aku bisa membunuh seorang wanita," bisiknya membuat mata Laura langsung melebar.
Davira hanya diam memperhatikan, dia merasa penasaran dan akhirnya menyusul Nathan. Dia cukup terkejut melihat keberadaan Laura yang begitu berani datang ke sini dan kembali menemui Nathan setelah apa yang terjadi.
"Akhh.....A-aku ke sini untuk memberitahu padamu bahwa Nyonya Gayatri ada di Roma."
"Dia ada di luar?"
"Tidak, dia tidak ikut ke sini. Nyonya Gayatri menghinap di apartemen, dan Nyonya menyuruhku untuk menemui mu."
Nathan menjauhkan tangannya dari leher Laura, wanita itu terbatuk-batuk dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Nyonya Gayatri memintamu untuk datang menemuinya."
"Dia bisa menelepon, untuk apa mengirim mu?"
"Aku tidak tahu, aku hanya menuruti perintahnya. Kau tahu aku tidak bisa menolaknya," jawab Laura kemudian buru-buru melangkahkan kakinya menjauh dari Nathan.
Laura hanya melirik Davira sekilas, lirikan penuh kebencian dan juga dendam. Davira hanya tersenyum kecil menanggapinya.
Laura terlihat keluar dari mansion, wanita itu tampaknya merasa ketakutan kalau-kalau Nathan membunuhnya.
"Kau sudah selesai makan?" tanya Nathan menghampiri.
"Sudah, kau ingin menemui Nenekmu?"
Nathan mengangguk pelan, "Sepertinya aku harus menemuinya sekarang juga, masuklah ke kamarmu dan tetaplah di dalam sampai aku datang. Mengerti?"
"Apa ada masalah?" tanya Davira merasa penasaran.
__ADS_1
"Ada banyak masalah dan aku akan mengatasinya," jawab Nathan kemudian menarik kepala Davira dan mendaratkan sebuah kecupan di sana.
Davira tertegun di tempatnya, menatap punggung Nathan yang perlahan-lahan menjauh dari pandangannya. Sudut bibirnya sedikit tertarik membentuk sebuah senyuman yang teramat tipis.