Tawanan Tuan Xie

Tawanan Tuan Xie
Part 78 - Datangnya Erick


__ADS_3

Aaron menggelengkan kepalanya, "Ini tidak mungkin, Emma? Tidak mungkin wanitanya seperti dia bisa melakukan hal itu! Lagi pula apa alasannya? Dia mendapatkan kasih sayang dari nenek dan diterima baik di keluarga kita, mana mungkin dia bertindak bodoh!"


"Aaron benar, aku cukup mengenal Emma dan aku yakin dia tidak akan melakukan hal itu. Emma bahkan tidak pernah ingin terlibat bisnis gelap ayahnya, bagaimana bisa dia merencanakan pembunuhan itu? Emma tidak memiliki alasan untuk melakukannya."


"Aku," gumam Nathan yang masih bisa didengar oleh Aaron dan juga Atvita.


"Apa maksudmu Nathan?"


"Aku alasan Emma melakukan tindakan gila itu, dia membunuh nenek hanya untuk menjebak Davira."


Aaron mengernyit mendengarnya, dia masih merasa belum bisa percaya. Tidak pernah ia sangka jika nama Emma yang akan disebutkan oleh Dario.


"Kau mempercayainya Nathan? Bagaimana jika dia hanya sedang membohongi kita?" tanya Atvita membuat Nathan berpikir keras.


"Saya tidak berbohong! Saya menyimpan salinan rekaman cctv itu sebelum saya menyerahkannya kepada Emma Scott, selama ini saya menyimpannya untuk berjaga-jaga jika suatu saat nanti keluarga Xie menemukan keberadaan saya. Saya menyimpannya agar saya tidak tertuduh sebagai satu-satunya orang yang bersalah, saya bukan pelaku yang sebenarnya!"


"Di mana rekaman itu?"


Sembari menahan rasa sakit di wajahnya, Dario merogoh sesuatu di saku celananya kemudian menyerahkan benda kecil itu kepada Nathan.


"Rekaman itu ada di dalamnya, Tuan bisa melihat dengan jelas bagaimana cara Emma Scott melakukan semua itu."


Nathan menggenggam erat flashdisk di tangannya kemudian memasukkannya ke dalam saku celana jeans-nya.


"Orang ini berkata jujur, aku tidak melihat kebohongan," ucap Nathan begitu yakin.


"Lalu akan kita apakan dia? Biar bagaimanapun dia terlibat."


"Dan biar bagaimanapun dia tidak bersalah, Aaron. Sekali lagi ku ingatkan kepada kalian berdua, dia juga korban. Dia tidak membunuh dan dia sudah mengatakan informasi yang sangat penting kepada kita."


Nathan menghela nafas panjang, "Yah, informasi yang membuat kita semua berada dalam kesulitan."


Nathan menatap datar Dario yang masih tergeletak di tanah, mereka bertiga saling menatap dengan rasa bingung yang menyelimuti ketiganya.


"Sebaiknya biarkan dia tetap hidup," ucap Atvita merasa tidak tega.


"Apa yang harus kita lakukan? Emma......apa kita harus memberitahu ini semua kepada keluarga besar Xie dan memperlihatkan bukti rekaman ini kepada mereka?" tanya Nathan dengan rasa bimbang di hatinya.

__ADS_1


"Tentu saja, Nathan. Jika kau tidak ingin Davira terus tertuduh dan diburu, kita harus memberitahukan hal ini kepada seluruh anggota keluarga. Kita adakan pertemuan setelah ini."


"Ku rasa ini akan menjadi sangat sulit, Jika orang lain yang membunuh nenek, maka kita bisa langsung membalas dendam. Tapi ini Emma Scott, apa yang bisa kita lakukan kepadanya? Dia putri kesayangan Arthur, kalian tahu bahwa Arthur tidak akan membiarkan putri tunggalnya terluka."


"Keluarga kita bisa mengatasi masalah ini, membantai satu keluarga atau kelompok, kita bisa melakukannya. Emma harus membayar dengan darahnya sendiri atas kematian nenek. Aku tidak bisa membiarkan dia hidup tenang setelah apa yang dia lakukan, hanya karena ingin menyingkirkan Davira dari hidup Nathan, nenek menjadi korbannya. Apa yang dia lakukan sangatlah gila."


Atvita menatap Nathan yang hanya terdiam di tempatnya.


"Bagaimana denganmu Nathan? Jika informasi ini kita berikan kepada seluruh anggota keluarga Xie, maka akan terjadi pembantaian habis-habisan, saling menyerang dan membunuh, entah siapa yang akan menang. Dan masalahnya adalah lawan kita kali ini bukanlah musuh kita sedari awal, apa kau bisa melihat Emma mati di tangan anggota keluarga kita? Kita semua tahu bahwa Emma pernah mendonorkan ginjalnya untukmu, apa kau akan menyembunyikan semua ini dari keluarga kita atau mengungkapnya untuk melindungi Davira?"


Nathan sontak menatap wajah Atvita, apa yang dipertanyakan oleh sepupunya itu adalah apa yang sedang ada dalam pikirannya saat ini.


"Kau hanya mempunyai dua pilihan Nathan, membuat Davira dalam bahaya seumur hidupnya, terus bersembunyi seperti dia adalah pelaku yang sebenarnya, atau membiarkan Emma tiada? Ini bukan pilihan yang mudah, jadi ku harap kau mendapatkan jawabannya tepat setelah kita mendarat di Roma."


Aaron berdehem singkat, "Tidak ada pilihan untuk Nathan, informasi ini tetap akan ku berikan kepada keluarga kita. Bersyukurlah karena bukan Davira pelaku yang sebenarnya, Nathan. Dia aman setelah ini dan untuk Emma, jika kau tidak tega, maka kau hanya harus diam tanpa melakukan apa-apa. Kau akan segera mendapatkan berita kematiannya bersama ayahnya yang sudah bisa dipastikan akan sangat membelanya."


"Aaron," tegur Atvita, wanita itu tahu betul bagaimana perasaan Nathan saat ini.


Aaron hanya meliriknya sekilas kemudian menatap Dario yang tidak berani beranjak dari tempatnya.


"Dia bisa tetap hidup," ucap Aaron lalu melangkahkan kakinya terlebih dahulu memutari rumah sederhana itu.


"Erick," desis Aaron dengan tatapan bingung.


Tanpa aba-aba Erick langsung menancapkan jarum suntik ke bahu Aaron membuat mata pria itu melebar.


"Arghh! Apa yang kau lakukan sialan!"


Bughh.


Aaron langsung melayangkan tinjunya ke wajah Erick kemudian menendangnya dengan jarum suntik yang masih tertancap di bahunya.


Mendengar suara teriakan Aaron membuat Nathan dan Emma buru-buru berlari untuk memeriksanya, begitu juga dengan Dario yang merasa penasaran, pria itu segera mengintip dari balik dinding.


"Kau terlibat Erick?" tanya Nathan sembari berlari dan siap menendang wajah Erick yang saat ini tengah menindih Aaron yang sudah mulai oleng.


Aaron masih berusaha untuk melawan, tetapi kepalanya terasa berputar dan pandangannya mulai buram.

__ADS_1


"Lakukan!" teriak Erick membuat anak buahnya langsung menembakkan sesuatu ke arah Nathan dan juga Atvita yang sudah siap untuk menyerang.


"Akhh.....sial," umpat Nathan saat peluru bius tertancap di dada kanannya.


"Lari Atvita!" teriak Nathan lalu melompat dan menendang dada Erick agar menyingkir dari tubuh Aaron.


"Kejar wanita itu dan cari Dario Steffano! Dia pasti masih berada di sekitar sini!" teriak Erick sembari bangkit lalu melayangkan bogeman mentah di wajah Nathan membuat Nathan langsung tersungkur ke tanah.


"Akhh lepaskan!" Atvita yang hampir saja tersungkur langsung ditangkap oleh beberapa anak buah Erick.


Nathan menggelengkan kepalanya sambil mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba untuk tetap mempertahankan kesadarannya.


Erick segera berjongkok, ia menepuk-nepuk pipi Nathan kemudian tersenyum miring.


"Aku yakin kau sudah mengetahui semuanya dari security sialan itu, kau tidak bisa menyalahkan Emma, Nathan. Ini bukan salah Emma, tapi salahmu. Kaulah yang sudah membuatnya bertindak nekat, kau tidak pernah menghargai apa yang sudah dia lakukan untukmu. Maka dari itu dia bertindak sampai sejauh ini. Dan aku di sini untuk membereskan semua permasalahannya, hanya akulah yang akan selalu ada untuk Emma. Aku tidak akan membiarkan dia menjadi target keluargamu."


Nathan menatap Erick dengan kesadaran yang berangsur-angsur menghilang, dia bahkan sudah tidak bisa mengatakan apa-apa lagi.


Setelah melihat Nathan kehilangan kesadarannya, Erick kembali berdiri kemudian tersenyum tipis melihat Dario yang kini diseret oleh beberapa anak buahnya.


"Arghh lepaskan!"


Dario dipaksa berjongkok di hadapan Erick dengan kedua tangan yang dipegangi hingga membuatnya tidak bisa melawan.


Erick menatapnya dengan penuh amarah, pria itu menarik rambut Dario membuat kepalanya terdongak menatapnya.


"Emma terlalu baik, jika aku jadi dia, aku sudah membunuhmu saat kau menyerahkan rekaman cctv itu. Tapi sayangnya Emma membiarkanmu hidup dan membuat permasalahan ini menjadi rumit."


Tubuh Dario mulai gemetaran melihat tatapan dingin Erick yang begitu mengintimidasi.


"Arghh..... tolong aku tidak pernah menginginkan hal ini terjadi."


Erick sontak terkekeh mendengarnya, "Begitu juga denganku."


Erick mengeluarkan pistolnya kemudian menodongkannya ke kepala Dario membuat mata Dario terasa memanas.


Dario menggelengkan kepalanya dan menatap Erick dengan penuh pengharapan, berharap pria di depannya masih memiliki hati dan rasa iba untuknya. Namun senyuman yang Erick perlihatkan membuatnya hilang harapan.

__ADS_1


"Tidak ada yang harus ku katakan padamu, kita tidak akan memiliki urusan lagi."


Dor.


__ADS_2