
Puluhan mobil mengejar di belakang, berusaha untuk mendahului mobil yang saat ini tengah dikemudikan oleh seorang pria keturunan Amerika Latin. Davira menoleh ke belakang sesekali, mobil-mobil yang dikendarai oleh keluarga Xie dan para pengawalnya itu masih mengejar mereka.
"Kau baik-baik saja, Davira?"
"Aku baik-baik saja, kau datang tepat waktu. Lebih cepat lagi Jakob! Kita berdua akan mati jika sampai tertangkap!"
Pria bernama lengkap Jakob Moore itu semakin mempercepat laju mobilnya membuat tubuh Davira langsung menegang seketika.
Davira melirik ke arah Jakob yang terlihat sudah begitu ahli menyetir, Jakob juga begitu tenang walaupun saat ini mereka tidak membawa satu orang pun pengawal.
"Aku baru tahu bahwa kau adalah seorang pembalap," Davira menoleh ke belakang, kini mobil-mobil yang mengejar mereka sudah tidak terlihat lagi.
Jakob terkekeh kecil, "Kau belum melihat bagaimana Jonathan berkendara?" tanyanya membuat Davira mengernyit.
Jakob menatap Davira yang tampaknya sedang kebingungan.
"Sudah ku duga, kau belum pernah melihatnya berkendara. Dia lebih berbahaya saat berada di dalam mobil, Davira. Aku tidak yakin bisa lolos darinya, tapi sepertinya kau sudah menembaknya. Kau memudahkan pelarian mu sendiri."
Davira hanya tertegun mendengarnya, rasa khawatir kini langsung menyelimuti dirinya. Bertanya-tanya apakah Nathan akan selamat atau tiada karena tembakannya. Davira menggelengkan kepalanya pelan, Davira mencoba untuk menghilangkan Nathan dari pikirannya.
Braak.
Tiba-tiba saja mobil mereka ditabrak dari arah belakang membuat Davira terperanjat kaget.
"Sial," umpat Jakob saat mobil yang dikemudikan oleh Aaron kini berada di sampingnya
"Menunduk Davira! Kaca mobil ini tidak anti peluru!" teriak Jakob membuat mata Davira melebar mendengarnya.
"Apa kau gila Jakob?!" Davira segera menunduk.
Dor.
Praang.
Kaca mobil Jakob yang berada di samping Davira langsung pecah terkena peluru yang ditembakkan oleh Aaron.
Braak.
Mobil Aaron dan Jakob lagi-lagi saling membenturkan diri, berusaha untuk menyingkirkan satu sama lain.
Jakob segera mengeluarkan pistolnya, kedua pria itu saling menatap dengan satu tangan yang mengatakan pistol mereka masing-masing.
Dor.
Jakob memberikan tembakan beruntun kepada Aaron sebelum menabrakkan mobilnya ke samping sehingga mobil yang dikemudikan oleh Aaron terhimpit ke tembok.
Dor.
"Tetaplah menunduk Davira!" teriak Jakob kemudian melajukan mobilnya setelah kembali membenturkannya ke mobil Aaron.
Mobilnya melesat dengan sangat cepat membelah jalanan yang masih cukup ramai membuat orang-orang harus menyingkir agar tidak tertabrak olehnya.
Dada Davira sudah naik turun, ia kembali duduk dengan tegak sembari terus menatap ke arah belakang.
"Apakah Aaron benar-benar sudah tertinggal?" tanya Davira kemudian mengambil pistol milik Jakob yang berada di dashboard.
"Dia tidak ada lagi di belakang, tapi kita tidak pernah tahu," jawab Jakob yang tetap melajukan mobilnya sekencang mungkin.
"Sebaiknya letakkan saja pistol itu."
"Kau mengatakan bahwa kita tidak pernah tahu, bagaimana jika Aaron atau yang lainnya masih mengejar?"
"Kita sudah hampir sampai."
Davira buru-buru melepaskan kalung berlian yang ia kenakan lalu melemparnya ke luar mobil begitu saja.
"Apa yang kau lakukan? Kalung itu harganya sangatlah mahal!"
"Siapa yang peduli dengan kalung itu? Aku tidak ingin mengambil resiko, Nathan bisa saja meletakkan pelacak di sana."
Jakob mengemudikan mobilnya hingga memasuki sebuah bangunan tua yang terlihat tidak terurus dan tidak berpenghuni.
"Ini tempat persembunyian mu?"
Jakob menganggukkan kepalanya, "Kau tahu aku tidak memiliki mansion di sini, membawamu ke hotel ataupun apartemen juga tidak mungkin. Itu sama saja dengan bunuh diri."
"Tidak masalah, tempat seperti inilah yang ku harapkan," ucap Davira bersamaan dengan mobil yang berhenti.
"Besok pagi sebelum fajar kita akan pergi meninggalkan Roma, aku sudah mengurus semuanya. Dan ku harap mereka tidak akan menemukanmu," Jakob melangkahkan kakinya terlebih dahulu menyusuri lorong yang minim pencahayaan.
"Ke mana kita akan pergi?" tanya Davira merasa penasaran.
"Moscow," Jakob membuka sebuah pintu yang langsung memperlihatkan undakan tangga menurun.
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi, Davira? Menembak Jonathan tidak ada dalam rencana sebelumnya, bukankah kau bersikeras untuk tidak melukainya saat waktu itu aku menyuruhmu melakukannya?"
Jakob dan Davira menuruni undakan tangga satu persatu, keduanya kini sampai di sebuah ruangan yang begitu luas dan sangat berbeda dari tampilan yang Davira lihat dari luarnya.
__ADS_1
Di dalam sana begitu bersih, terdapat meja, sofa dan juga lemari pendingin. Bahkan terlihat sebuah ruangan yang merupakan kamar satu-satunya di dalam ruangan itu.
"Nathan dan keluarga Xie memang pelakunya," ucap Davira membuat Jakob cukup terkejut mendengarnya.
"Dari mana kau mendapatkan informasi itu?"
"Gayatri," jawab Davira kemudian meletakkan bokongnya di atas sofa lalu melepaskan high heels-nya.
"Dia mengatakan kepadamu begitu saja?" Jakob mengambil dua botol bir dari lemari pendingin dan melemparkannya ke arah Davira.
Davira dengan sigap menangkapnya lalu segera membukanya, ia menegak bir itu seolah sedang begitu kehausan.
"Gayatri tentunya sengaja, dia ingin menyingkirkan aku dari hidup Nathan. Dia ingin membunuhku, aku yakin dia sengaja membeberkan hal itu agar aku membenci Nathan lalu kabur darinya."
"Keluarga yang gila, aku turut berduka cita atas apa yang terjadi kepada keluargamu, Davira," Jakob duduk di sofa yang berseberangan dengan Davira.
Davira hanya menganggukkan kepalanya pelan.
"Tapi kenapa kau sangat bodoh? Kenapa menembak Jonathan di depan gedung itu, ku lihat dari kejauhan seluruh keluarga Xie juga keluar dari gedung itu dan mengejar mu. Padahal jika kau ingin menghabisi Jonathan, kau bisa melakukannya saat berada di mansion dan aku akan menjemputmu di sana. Beruntung aku terus mengikutimu."
Davira berdecak, "Aku terdesak, aku tidak akan melakukan hal bodoh itu jika saja Nathan tidak menyeretku secara paksa. Nathan bisa membunuhku jika aku membiarkannya membawaku ke mansion."
"Jonathan? Membunuhmu? Yang benar saja Davira."
"Tapi itu kenyataannya, kau tidak melihat bagaimana matanya menatapku. Dia seperti akan menyiksaku."
"Apa yang telah kau lakukan?"
Davira menggigit bibir bawahnya, "Gayatri tewas, dia keracunan."
Jakob tentu saja merasa sangat terkejut mendengar hal itu.
"Kau meracuninya? Itu tidak ada dalam rencana."
"Bukan aku!" jawab Davira cepat, namun Jakob malah menatapnya tidak percaya.
"Benar-benar bukan aku, dia tiba-tiba saja keracunan setelah meminum wine-nya. Dan anehnya aku tertuduh, botol racun itu ada di dalam tasku."
"Berarti ada yang menjebak mu, sengaja membuatmu menjadi pembunuh Gayatri agar Jonathan dan seluruh keluarganya mengejar mu. Tapi apakah keluarga Xie memang segila itu? Rela menyingkirkan Gayatri untuk menyingkirkan mu?"
Davira mengangkat pelan kedua pundaknya, dia juga merasa sangat kebingungan. Davira begitu terkejut karena malam ini semuanya berjalan tidak sesuai dengan rencananya.
Padahal malam ini Davira hanya ingin melarikan diri dari Nathan setelah kembali dari acara pertemuan itu. Dia sudah merencanakannya dengan Jakob, Davira berencana untuk memberi obat tidur ke dalam minuman Nathan kemudian pergi bersama dengan Jakob. Tapi semua itu benar-benar telah gagal dan sekarang bukan hanya Nathan yang mengejarnya, tapi seluruh keluarga Xie.
"Ini akan menjadi cukup sulit, Davira. Kau adalah kambing hitam atas kematian Gayatri, keluarga Xie akan mengejar mu kemanapun kau pergi. Mereka akan mencari mu, karena ini bukan lagi tentang obsesi Jonathan yang ingin memilikimu. Tapi tentang dendam keluarga Xie kepadamu."
"Walaupun bukan aku yang membunuh Gayatri, tapi aku tetap merasa senang dan puas. Setidaknya wanita tua itu tiada, aku benar-benar jengah melihatnya. Aku yakin dia adalah dalang utama di balik pembantaian itu," Davira menggenggam erat kaleng birnya.
"Kau ingin membalas dendam kepada Jonathan atas kematian keluargamu?" tanya Jakob membuat Davira terdiam selama beberapa saat.
"Aku sudah membalas dendam kepadanya."
Jakob sontak tertawa mendengar jawaban Davira.
"Apa kau yakin dia akan tiada hanya karena beberapa butir peluru? Sekarang aku bertanya, apakah peluru itu menembus kepalanya?"
Davira menggelengkan kepalanya, "Tidak, jadi kau pikir dia akan tetap hidup?"
"Tentu saja, kita tunggu beberapa hari ke depan. Jonathan akan mulai bergerak sendiri mencari mu," jawab Jakob begitu yakin.
Davira hanya bisa menghela nafas panjang, entah mengapa dia ingin hal itu. Dia ingin Nathan tetap hidup, selamat dari pelurunya.
"Kau baik-baik saja?"
"Aku hanya merasa lelah," Davira menyandarkan punggungnya dengan perasaan yang tidak karuan.
"Davira, aku masih memiliki beberapa pertanyaan untukmu."
"Tanyakan saja, aku akan menjawabnya jika aku mau," ucap Davira lalu melempar kaleng bir yang sudah kosong ke sembarang arah membuat Jakob terkekeh kecil melihatnya.
"Kau menjadi tawanan Jonathan tepat di hari pernikahanmu, penyerangan itu terjadi secara tiba-tiba. Aku yakin bahwa kau tidak akan memiliki akses untuk bisa meminta bantuan kepada siapapun, termasuk kepadaku. Lalu bagaimana caranya kau bisa meneleponku?"
Davira menyingkap dress-nya dengan santai lalu mengambil ponsel yang berada di pahanya, Davira meletakkan ponsel itu di atas meja.
"Aku mencuri ponsel ini dari salah satu pelayan."
"Lalu nomorku? Tidak mungkin jika kau hapal nomorku karena kita bahkan tidak terlalu dekat, kita hanya pernah bertemu beberapa kali untuk urusan bisnis. Aku lebih sering berkomunikasi dengan Tuan Handoko."
"Dari dokumen dan berkas-berkas bisnis yang disimpan oleh Nathan," jawab Davira kemudian tersenyum tipis mengingat bagaimana ia mengendap-endap ke ruang kerja Nathan untuk melihat nomor-nomor orang yang bekerjasama dengan keluarga Handoko.
"Jonathan menyimpan berkas-berkas bisnis milikmu?"
Davira menganggukkan kepalanya, "Inilah yang menjadi masalahnya, malam ini benar-benar kacau dan di luar dugaan. Harusnya aku kembali ke mansion bersama Nathan, menghabiskan malam bersama lalu pergi dengan membawa dokumen dan berkas-berkas milikku."
"Apa boleh buat? Gayatri tewas dan kau tertuduh sebagai pembunuhnya karena racun itu berada di dalam tas mu, lupakan masalah berkas-berkas itu. Lagi pula setelah ini kau tidak akan bisa lagi mengurus bisnismu, sekarang yang terpenting adalah kau tetap hidup dan jangan pernah tertangkap lagi."
Jakob mulai menyalakan rokoknya dan menghembuskan asapnya secara perlahan.
__ADS_1
"Kau tidak ingin menawariku?"
"Kau merokok?"
Davira berdecak, "Jangan berpura-pura tidak tahu, aku bahkan merokok saat kita sedang rapat waktu itu."
Jakob terkekeh sembari memberikan satu batang rokok berserta pemantik kepada Davira.
"Kenapa kau menolongku? Jauh-jauh datang ke Roma untuk menyelamatkanku padahal seperti yang kau katakan sebelumnya, kita tidak terlalu dekat."
Jakob tertegun untuk sejenak sembari menatap wajah Davira lekat-lekat, ia tersenyum kecil membuat Davira memutar bola matanya malas.
"Kau menyukaiku?"
"Apa kau selalu percaya diri seperti ini?"
Davira menggeleng, "Hanya di waktu-waktu tertentu."
"Begini, Davira. Aku menolong mu bukan tanpa alasan, tentu saja kau harus memberikan sesuatu kepadaku sebagai timbal baliknya."
"Apa yang harus ku berikan kepadamu? Aku tidak memiliki apa-apa saat ini, aku miskin," Davira menghembuskan kasar asap rokoknya, fakta bahwa saat ini dia tidak memiliki apa-apa benar-benar menamparnya.
"Aku tidak menginginkan uang atau bahkan tubuhmu sebagai imbalan, tapi aku menginginkan dirimu sepenuhnya ikut bersamaku. Membantuku mengurus bisnis dan segala permasalahan yang ada di dalamnya, aku tahu kau berpotensi."
Davira geleng-geleng kepala, "Sepertinya aku harus bekerja sangat keras untuk membalas budi kepadamu dan untuk perlindunganmu."
"Tentu, karena aku bahkan sedang mempertaruhkan nyawaku saat ini. Tidak mudah berurusan dengan keluarga Xie, kau bisa menyetir?"
"Aku bisa, kau perlu supir?"
"Setiap orang yang bekerja denganku harus menguasai mobil," jawab Jakob membuat Davira kembali menegakkan duduknya.
"Aku bisa menyetir tapi aku bukan pembalap."
"Aku akan mengajarimu, kau harus menjadi pembalap jika benar-benar ingin lari dari Jonathan."
"Baiklah, terserah kepadamu. Apakah ruangan itu adalah kamar? Aku ingin tidur," Davira berdiri dari duduknya sembari mematikan rokoknya dengan menekannya pada meja karena tidak ada asbak di sana.
"Masih ingin membalas dendam, Davira? Aku bisa membantumu, masih banyak yang lainnya. Julian, Amara, Aaron dan seluruh keluarga Xie yang mungkin terlibat dalam pembantaian keluargamu."
Langkah kaki Davira sontak terhenti mendengarnya.
"Lupakan saja, Aku tidak ingin lagi berurusan dengan mereka. Gayatri tewas malam ini saja sudah cukup untukku, aku juga tidak peduli dan tidak ingin mencari tahu tentang siapa yang sudah meracuninya atau siapa yang sudah menjebakku. Tidak masalah jika namaku seburuk itu di mata Nathan dan juga keluarga Xie."
"Jadi kau hanya ingin melarikan diri?"
"Ya,,, kenapa kau akan membawaku ke Moscow?" Davira berbalik sembari bersedekap dada.
"Karena di sana kau akan melakukan pekerjaan pertamamu, bawa narkoba kepada klienku. Itu adalah pekerjaan yang cukup mudah."
Davira tersenyum kecil, "Itu seperti tugas pertama yang diberikan oleh Papaku."
"Aku tahu kau sudah sangat berpengalaman dengan hal itu, Davira. Jangan buat aku menyesal karena sudah menyelamatkanmu."
"Tenang saja, Jakob. Aku akan membuat diriku berguna, kau hanya perlu memastikan bahwa Nathan tidak akan pernah menemukanku."
"Kau sangat membencinya? Aku bisa membantumu mencari tahu tentang dalang di balik pembantaian itu."
"Untuk apa lagi mencari tahu? Pernyataan Gayatri adalah bukti paling akurat, memang Nathan pelakunya. Memang keluarga Xie lah yang telah melakukan itu, tidak heran mengapa aku masih hidup sampai sekarang. Nathan menginginkanku, itu alasannya."
Davira segera masuk ke dalam kamarnya, di dalam sana terlihat satu buah ranjang berukuran sedang. Kamar itu terlihat bersih, siap untuk ditempati. Jakob pastinya sudah menyiapkan hal itu.
"Selamat malam Davira," tiba-tiba saja Jakob membuka pintu dan menyembulkan kepalanya.
"Ini high heels mu, simpan di dalam kamar," Jakob meletakkan benda itu ke dalam kamar yang akan Davira gunakan.
"Selamat malam, Jakob. Terima kasih atas bantuan mu ini."
Jakob tidak menanggapinya dan segera menutup pintu kamar itu kembali.
"Aku sudah menyiapkan pakaian untukmu, Davira. Ada di lemari, aku tahu itu bukan gayamu. Tidak bermerek dan tidak mewah, tapi kau akan mulai berpakaian seperti itu setelah ini! Ingat, kau bukan lagi Nona Handoko yang memiliki segalanya!"
"Tidak masalah Jakob! Aku tahu posisiku saat ini hanyalah bawahanmu! Aku bahkan pernah menggunakan boxer milik Nathan," gumam Davira di akhir kalimat.
Merasa penasaran, Davira segera membuka lemari tersebut. Di sana terlihat dua lembar kaos berwarna hitam dan putih, juga terdapat tank top serta celana jeans yang ukurannya memang pas untuknya.
"Sepertinya aku benar-benar akan menjadi kelompok mu, orang-orangmu selalu berpakaian seperti ini, Jakob."
Davira menghembuskan nafasnya kasar lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Matanya menatap langit-langit kamarnya, tangannya mulai bergerak meraih sebuah kalung berbentuk X dan D yang sengaja ia bawa setelah memastikan kalung itu bersih tanpa adanya alat pelacak.
Davira menatap kalung itu dengan dada yang terasa sesak, ia terus merutuki kebodohannya. Tidak seharusnya dia memiliki perasaan kepada Nathan, padahal sedari awal dia sudah berusaha keras untuk membentengi hatinya. Namun pria itu dengan mudah masuk dan menghancurkan pertahanannya.
Nathan membuatnya merasa bimbang, dendam, amarah dan perasaannya tentu saja sangat bertolak belakang. Davira mencintai Nathan, awalnya dia hanya berencana melarikan diri karena dia merasa bersalah kepada Damian jika terus hidup bersama dengan Nathan.
Davira bahkan mencoba untuk memaafkan Nathan atas kematian Damian, dia tidak lagi berniat untuk membalas dendam dan hanya ingin lari dari pria itu. Tapi setelah mengetahui semuanya, tentu saja dia merasa marah dan kecewa.
Selain Damian, ternyata Nathan juga sudah membunuh keluarganya. Hal itu tidak bisa dimaafkan, dia ingin membalas dendam, tapi dia tidak ingin menyakiti hatinya sendiri.
__ADS_1
Davira sudah memutuskan, dia hanya akan pergi dari Nathan sejauh mungkin hingga perasaannya terkikis oleh waktu dan kebencian. Dua tembakan sudah cukup untuk Nathan, dia berharap tidak akan pernah lagi melihat wajah pria itu, seumur hidupnya.