
Bibir Liana sedikit berkedut mendengar kata sambutan dari Nathan, ia segera menggandeng lengan Aidan agar putranya itu bisa sedikit meredam amarahnya. Dapat ia lihat tangan Aidan yang sudah terkepal kuat, Liana melangkahkan kakinya bersama dengan Aidan agar lebih mendekat kepada Nathan.
Di sisi kira dan kanannya terdapat puluhan pengawal, begitu juga dengan Nathan. Membuat mereka bertiga saling berhadapan dengan dua kubu yang tentu saja berbeda.
"Apa yang kau lakukan di sini, Nathan?" tanya Liana dengan senyuman lembut di wajahnya.
"Aku hanya ingin mengunjungi mansion kekasihku," jawab Nathan membuat senyum di wajah Liana luntur seketika.
"Berhenti mengatakan omong kosong itu, sekarang katakan di mana kau menyembunyikan Davira?" Aidan membuka suara.
"Dia berada di tempatku, kenapa mencarinya?" Nathan beralih menatap Aidan lalu menatapnya datar.
"Sayang sekali waktu itu kalian berdua tidak di undang Davira untuk menghadiri acara pemberkatannya, kalian tahu? Acaranya sangat meriah, padahal aku berharap kalian berdua ada di sana," Nathan berdecak sembari menggelengkan kepalanya pelan.
"Sebaiknya kau katakan di mana keberadaan Davira sekarang juga, Nathan. Jangan bersikap seperti ini, aku bisa saja habis kesabaran," Liana tersenyum saat mengatakan hal itu.
"Benarkah? Aku ingin melihat bagaimana saat bibi kehabisan kesabaran."
"Jangan bersikap kurang ajar, Nathan. Jika kau memang tidak ingin mengatakan keberadaan Davira, lalu untuk apa kau menemui kami ke sini. Sebaiknya kau pergi dari hadapan kami saat ini juga," desis Aidan di akhir kalimat.
"Aku ke sini hanya ingin melihat wajah kalian berdua karena sudah cukup lama kita tidak bertemu, bukan begitu? Selain itu aku juga ingin bertanya, apa yang kau lakukan di mansion kekasihku saat kalian sendiri tahu bahwa dia tidak berada di sini."
"Kau lupa bahwa mansion ini bukan hanya milik Davira, Nathan? Ini adalah mansion utama keluarga Handoko, jadi kami bebas ke sini kapanpun," Liana berusaha menahan emosinya sebisa mungkin.
Nathan memajukan sedikit bibirnya lalu berdehem singkat.
"Apa ada yang kalian cari?" satu alis pria itu terangkat.
Aidan dan Liana sontak tertegun di tempat mereka dengan wajah yang terlihat panik walaupun mereka berdua sudah bersusah payah menyembunyikan kepanikan yang mereka rasakan. Namun tetap saja Nathan bisa melihatnya.
"Kami ke sini mencari Davira, tapi sepertinya kami tidak akan mendapatkannya karena dia sedang diculik olehmu. Apakah aku benar Nathan?"
"Benar sekali, kalian tidak akan bisa menemukannya karena dia sedang bersamaku saat ini. Dan keberadaan ku saat ini karena Davira menyuruhku agar memberitahu kepada kalian tentang sesuatu."
Liana mengernyit, "Tentang apa?" tanyanya tidak sabaran.
"Dokumen-dokumen dan aset berharga milik Davira," jawab Nathan membuat rahang Aidan terlihat mengeras.
"Davira ingin agar kalian berdua tidak perlu repot-repot mengamankannya karena benda-benda itu sudah berada di tempat yang sangat aman. Davira menjaganya dengan baik," sambung Nathan lalu tersenyum tipis melihat raut wajah Liana dan juga Aidan.
"Kau berbohong, Davira tidak mungkin sempat mengamankan dokumen-dokumen itu. Aku tahu kau melakukan pembantaian secara tiba-tiba!" suara Liana mulai meninggi, dia merasa sudah mulai kehabisan kesabaran.
Liana merasa terkejut dan tidak percaya bahwa dokumen dan aset yang dia cari-cari hingga harus terbang ke Sevilla ternyata sudah di amankan oleh keponakannya itu.
"Davira adalah wanita yang pintar, dia pasti sudah melindungi semua yang menjadi miliknya di tempat yang aman sebelum aku melakukan pembantaian itu. Sekarang aku bertanya, apa kalian menemukan dokumen atau aset berharga lainnya di mansion ini?"
"Jangan bermain-main dengan kami, Nathan," Aidan mendorong tubuh Nathan membuat Paul segera melakukan hal yang sama.
"Sekarang katakan kepada kami di mana Davira berada!" teriak Aidan yang sudah diselimuti oleh amarah.
Aidan berusaha untuk melayangkan tinjunya ke wajah Nathan, namun Paul dengan sigap menahan tangannya.
"Arghhh!" Aidan berteriak kesakitan karena Paul memelintir tangannya ke belakang.
Para pengawalnya sontak menodongkan senjata, hal itu membuat seluruh anak buah yang Nathan bawa melakukan hal yang sama.
"Jika ingin terjadi baku tembak maka teruslah mengamuk, aku telah membantai seluruh keluarga Lee di hari pernikahan Damian dan Davira. Tidak menutup kemungkinan jika hari ini kalian juga menjadi korban ku," suara Nathan terdengar begitu tenang.
Aidan langsung terdiam mendengar perkataan Nathan, entah mengapa dia selalu kehilangan nyalinya saat berhadapan dengan Tuan muda Xie itu. Aidan menghembuskan nafasnya kasar sembari melonggarkan dasi yang ia kenakan. Aidan bergerak maju sehingga dia dan Nathan kini hanya berjarak beberapa inci saja, tinggi mereka yang hampir sama membuat wajah keduanya benar-benar saling berhadapan.
"Lepaskan Davira sekarang juga, katakan kepadaku di mana dia kau sembunyikan," ucap Aidan dengan penuh penekanan.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang kalian ingin ketahui? Keberadaan Davira atau dokumen-dokumen itu?" Nathan menatapnya dingin tanpa adanya rasa takut sedikitpun.
"Kau menguji kesabaran kami, Nathan," sahut Liana membuat Nathan menoleh.
"Kalian yang sudah menguji kesabaran ku, untuk apa pergi ke mansion ku dan mencari keberadaan Davira di sana? Apa kalian semua bodoh? Aku tidak mungkin menyembunyikan Davira di Indonesia."
Wajah Liana sontak memucat mendengar perkataan Nathan dan melihat ekspresi wajah pria itu. Nathan terlihat menunjukkan rasa marahnya.
"Davira adalah keponakanku, jadi wajar jika aku mencarinya ke mana pun yang memang memungkinkan."
"Tidakkah kau merasa malu masih menganggapnya sebagai keponakan saat kau menyuruh putramu ini untuk menodongkan pistol kepadanya hanya karena permasalahan bisnis?"
Liana tertegun mendengarnya, ia sontak menatap Aidan yang memang tidak menceritakan tentang kejadian waktu itu. Dia tidak tahu bahwa Nathan ternyata ada di tempat kejadian, pantas saja Aidan pulang dengan tidak membawa apa-apa, termasuk kabar tentang Davira yang seharusnya sudah Aidan bunuh karena membangkang.
"Aku tidak akan melupakan kejadian itu, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Putramu ini, menodongkan pistolnya ke kepala kekasihku. Jadi sebaiknya kalian kembali ke Indonesia karena Davira tidak ingin jika kalian terus-menerus berada di mansion nya, kalian tidak akan mendapatkan apa yang kalian cari. Baik Davira, ataupun dokumen-dokumen itu."
Aidan mengepalkan tangannya kuat, namun Liana yang merasa khawatir terjadi baku tembak segera menahan tangan putranya.
Nathan tersenyum miring melihat ibu dan anak itu, mereka berdua sudah tidak bisa mengatakan apa-apa.
"Aku pergi, bibi Liana. Senang bisa bertemu dengan kalian lagi, lain kali beritahu aku jika ingin berkunjung ke mansion keluargaku yang ada di mana pun," setelah mengatakan hal itu, Nathan segera masuk ke dalam mobilnya.
Paul pun langsung menyusul dan mengemudikan mobilnya menjauh dari pekarangan mansion Davira, mobil itu melaju di ikuti oleh anak buah Nathan di belakangnya.
Nathan menatap ke arah luar jendela, rasanya sangat menyenangkan saat bisa melihat raut wajah tegang Liana dan juga Aidan. Sudah dia duga bahwa kedatangan mereka berdua hanya untuk mencari aset-aset dan dokumen penting milik Davira. Beruntung dia sudah mengamankan semuanya sebelum membawa Davira ke Jepang.
Semua dokumen dan aset milik Davira aman bersamanya, dia tidak akan membiarkan Liana dan Aidan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Nathan tahu bahwa semua dokumen itu sangat berharga bagi Davira, maka dari itu ia mengamankannya.
Dan kedatangan Nathan ke sini hanya untuk sekedar melihat ekspresi wajah Liana dan juga Aidan, dia harus berbicara agar lebih merasa puas telah membuat perjalanan mereka berdua sia-sia karena tidak mendapatkan apa-apa.
Nathan merogoh ponselnya kemudian menelpon seseorang yang akan dia temui selagi dia masih berada di Sevilla.
"Estoy en Sevilla en este momento, parece que podemos encontrarnos como desee, Sr. Edgar".
π_π
Davira melempar tempat rokok yang kemarin dia ambil dari Nathan, dia benar-benar merasa bosan dan sudah menghabiskan sepuluh batang rokok hari ini. Davira merasa bosan dan tidak bisa melakukan apa-apa karena para pengawal terus saja berjaga di depan pintu kamar maupun di bawah jendela.
Ia menyandarkan punggungnya di sofa lalu mulai berpikir bagaimana caranya dia bisa kabur dari tempat ini, dia ingin memanfaatkan kepergian Nathan. Pria itu sedang tidak ada di mansion dan dia harus bisa keluar sebelum Nathan kembali.
Davira ingin Nathan kehilangannya saat dia kembali ke mansion ini, dan hal itu tentunya akan membuat Nathan merasa sangat marah. Davira senang memancing emosi pria itu, untuk masalah balas dendam, Davira akan memikirkannya lain waktu. Sekarang yang terpenting adalah kebebasannya, dia tidak akan bisa membalas dendam di saat menjadi tawanan seperti ini, bergerak pun rasanya sulit.
Nathan sudah tiga hari pergi ke Sevilla, dan besok adalah hari Senin. Menurut informasi yang dia dapatkan dari Takara, Nathan akan kembali pada besok hari, jam berapa pastinya, Davira tidak tahu.
Davira segera melompat dari sofa yang ia duduki. Ia baru sadar sudah menyia-nyiakan waktu tiga hari hanya untuk sekedar berpikir tanpa bertindak sama sekali.
Davira memukul kepalanya sendiri, "Dasar bodoh," ia menggerutu lalu segera melangkahkan kakinya keluar dari kamar untuk melakukan aksi pelariannya.
Dia sudah mendapatkan ide gila di otaknya dan dia tidak mempunyai banyak untuk sekedar mempertimbangkan ide itu. Dua pengawal yang berjaga di sana sontak menatapnya.
"Aku ingin ke ruangan Nathan, dia menyuruhku untuk ke sana," ucap Davira membuat kedua pengawal itu segera mengikuti langkah kakinya hingga sampai di depan ruang kerja Nathan.
Mereka yang tidak mengetahui dengan jelas hubungan Davira dan Nathan hanya menurut karena mereka beranggapan bahwa Davira memanglah kekasih Nathan yang ditahan di mansion ini. Mengingat waktu itu Nathan tidur di dalam kamar Davira, hal itu menandakan kedekatan mereka berdua.
"Kalian tunggu di luar, Nathan tidak ingin jika ruang kerjanya dimasuki oleh kalian. Hanya aku dan......Paul yang boleh," Davira menahan tubuh keduanya.
"Baik, Nona. Tolong katakan jika membutuhkan sesuatu."
Davira hanya mengangguk pelan lalu masuk ke dalam ruang kerja Nathan yang begitu luas dan juga besar. Tidak lupa Davira mengunci pintunya agar dia lebih leluasa mencari apa yang dia butuhkan. Davira segera berjalan menuju meja besar yang berada di tengah-tengah ruangan, ia mulai membuka laci demi laci satu persatu.
"Ku harap dia menyimpan obat bius di sini," gumam Davira penuh pengharapan.
__ADS_1
Davira berdecak kesal karena hanya tumpukan dokumen yang dia lihat, ia segera berpindah kepada lemari-lemari yang ada di sana. Matanya berbinar saat melihat kotak obat yang ada di dalam lemar, Davira buru-buru mengambilnya.
Mata wanita itu memperhatikan sekelilingnya dan dia melihat adanya CCTV, namun hal itu tidak membuatnya merasa khawatir. Dia malah memperlihatkan jari tengahnya untuk mengejek Nathan yang nantinya pasti akan memeriksa CCTV saat dia berhasil kabur.
Davira duduk dan segera membuka kotak obat itu, di sana terdapat perban dan berbagai macam obat lainnya. Aromanya yang kuat membuat Davira merasa pening, ia membaca nama-nama obat itu dan tidak menemukan obat bius membuatnya memikirkan cara yang lain.
Tiba-tiba saja senyuman miring tercetak di wajah cantiknya, Davira mengusap kepalanya sendiri merasa bangga dengan ide cemerlang yang muncul di dalam otaknya.
Setelah melakukan sesuatu yang bisa menunjang pelariannya, dia langsung keluar dari ruang kerja Nathan.
"Aku lapar."
"Nona ingin makan sesuatu? Saya akan memberitahu pelayan untuk menyiapkan makanan."
"Aku ingin makan apapun yang enak, bisa antar aku ke ruang makan? Aku tidak ingin makan di kamar," Davira memasang wajah malasnya.
"Tentu saja, Nona," kedua pengawal itu berjalan di sisi kiri dan kanan Davira.
"Bodoh," batin Davira mengejek.
Davira segera mengeluarkan jarum suntik yang sudah ia siapkan, ia langsung menancapkannya pada leher salah satu pengawal tanpa pikir panjang.
Bruuk.
Tubuh pengawal itu langsung jatuh ke lantai dan terlihat menggelepar membuat Davira panik.
"Apa yang Nona lakukan?"
Davira segera menancapkan jarum suntik itu kepada lengan pengawal yang ingin menangkapnya, Davira berlari dan membiarkan kedua pengawal itu tergeletak di lantai dan menggelepar bagaikan ikan.
Entah obat apa saja yang dia campurkan, dia tidak tahu dan tidak peduli walaupun kedua pria itu mati. Yang terpenting dia bisa terbebas dari mansion ini. Davira memperhatikan sekitarnya lalu masuk ke dalam lift, dia harus bersikap normal dan tidak boleh terlihat buru-buru.
Tiing!
Davira langsung keluar dari lift kemudian berjalan menuju dapur, ia bersembunyi dibalik tembok dan mengintip para juru masak yang sedang mengerjakan tugas mereka. Davira mengembuskan nafasnya kasar karena benar-benar tidak mengerti dengan pembicaraan mereka.
Para juru masak terlihat begitu sibuk di dapur dan sepertinya memasak banyak sekali makanan.
"Nona."
Tiba-tiba saja terdengar suara seseorang yang memanggilnya membuat tubuh Davira menegang seketika, Davira segera berbalik kemudian memasang senyum di wajahnya.
"Apa.....yang Nona lakukan di sini?"
"Aku ingin makan," jawab Davira kemudian melangkahkan kakinya ke arah ruang makan.
Pelayan itu tentu saja mengikutinya, "Apakah Nona ingin makan sesuatu?"
"Sediakan makanan apa saja, aku menyukai semua makanan," jawab Davira asal.
"Baik Nona."
"Kenapa para koki kelihatan sangat sibuk? Apakah mereka memang harus memasak sebanyak itu setiap hari?"
"Iya Nona, di sini ada banyak pelayan dan juga pengawal. Maka dari itu mereka memasak banyak makanan," jawab pelayan itu membuat Davira membulatkan sedikit mulutnya tanda mengerti.
"Kau bisa pergi, aku akan kembali ke kamarku sebentar lalu ke sini lagi. Sediakan makanan yang simpel," Davira segera berlari membuat pelayan itu kebingungan.
Davira memasuki lift kemudian mengeluarkan bungkus obat yang sudah dia racik dari saku dress yang ia kenakan.
"Racun ini tidak akan cukup," batin Davira merasa jika racun yang ia buat sendiri tidak akan cukup dan tidak akan terasa jika dia letakkan di dalam makanan sebanyak itu.
__ADS_1
Davira segera melangkahkan kakinya saat lift sudah berhenti di lantai tempat kamar dan juga ruang kerja Nathan berada, ia menatap kedua pengawal yang tampaknya sudah tidak sadarkan diri. Merasa penasaran, Davira berjongkok dan meletakkan kedua jarinya pada leher salah satu pengawal untuk memeriksa keadaannya.
"Sial, mereka meninggal?"