Tawanan Tuan Xie

Tawanan Tuan Xie
Part 23 - Menemui Liana dan Aidan


__ADS_3

"Tenemos las armas listas, señor Edgar. Te lo enviamos por mar, por ahora es posible que no pueda conocerte en persona."


( Senjata-senjata itu sudah kami siapkan, Tuan Edgar. Kami akan mengirimkannya lewat jalur laut, mungkin saat ini saya belum bisa bertemu langsung dengan anda ).


Nathan mengembuskan asap rokoknya secara perlahan, punggungnya bersandar nyaman di sofa sembari berbicara dengan seorang kliennya yang berasal dari Spanyol.


"Aunque realmente quiero conocerlo en persona, Sr. Xie. Dónde estás ahora? es en indonesia?"


( Padahal saya sangat ingin bertemu secara langsung dengan anda, tuan Xie. di mana sekarang anda? apakah di Indonesia?).


"Tal vez podamos encontrarnos si estoy en España, te llamaré cuando esté allí. Por ahora, nos estaremos comunicando por teléfono, espero que lo entiendas."


( Kita mungkin bisa bertemu jika saya berada di Spanyol, saya akan menghubungi anda jika saya ke sana. Untuk saat ini, kita akan berkomunikasi melalui telepon, saya harap anda bisa memakluminya ).


"Lo siento de antemano, pero... ¿son ciertas las noticias sobre la masacre en la boda del joven maestro Lee?"


( Maaf sebelumnya, tapi..... apakah berita tentang penghentian acara pernikahan tuan muda Lee itu benar? ).


Nathan terkekeh kecil kemudian memutus sambungan teleponnya begitu saja, dia melempar asal ponselnya ke atas meja. Nathan paling tidak suka jika kliennya membahas masalah lain kecuali bisnis, pembantaian itu sama sekali tidak bersangkutan dengan bisnis mereka. Maka tidak seharusnya Edgar mempertanyakan hal itu, Nathan yakin bahwa sebenarnya Edgar telah mengetahui tentang pembantaian itu tanpa harus bertanya kepadanya.


Sedangkan Davira kini buru-buru keluar dari kamar Nathan, sedari tadi ia menguping pembicaraan pria itu. Beruntung kali ini Nathan menggunakan bahasa Spanyol sehingga ia bisa memahaminya. Davira berdecak kesal karena ia kira Nathan akan pergi ke Spanyol untuk mengurus bisnisnya.


Tapi kenyataannya pria itu tidak akan pergi ke sana, Davira melangkahkan kakinya menyusuri lorong menuju kembali ke dalam kamarnya.


Terlihat para pengawal yang langsung membukakan pintu untuknya, Davira telah meminta izin kepada mereka untuk pergi ke kamar Nathan. Dan para pengawal itu membiarkannya dan hanya mengawasinya dengan mata mereka.


Davira pergi ke balkon untuk menghirup udara segar.


"Bagaimana caranya melepaskan diri dari tempat ini?" batinnya bertanya-tanya.


Pengawalan begitu ketat sehingga tidak memungkinkannya untuk kabur dari sana, apalagi Nathan masih berada di mansion ini. Pria itu sepertinya tidak berniat untuk meninggalkannya bahkan untuk urusan bisnis sekalipun.


Mengingat tentang bisnis, Davira menjadi terpikirkan dengan nasib bisnisnya yang pastinya kini terbengkalai begitu saja. Entah dia sudah di anggap mati atau hanya hilang di luar sana, Davira yakin bahwa Aidan dan ibunya akan mulai mencari aset-aset berharga di mansion-nya.


"Arghh......aku tidak bisa membiarkan bisnisku dikuasai oleh bibi Liana," Davira mengigit kuat bibir bawahnya, ia perlu rokok untuk menenangkan pikirannya saat ini.


Davira menghembuskan nafasnya kasar kemudian membawa langkah kakinya menuju pintu kamarnya, ia membuka sedikit pintu itu dan menyembulkan kepalanya membuat para pengawal terperanjat kaget.


"Kalian memilik rokok?" tanya Davira dengan menggunakan bahasa Inggris.


"Maaf, Nona. Tapi kami tidak bisa memberi Nona rokok tanpa izin dari Tuan Xie," jawab salah satu dari mereka membuat Davira melotot.


"Yang benar saja! Aku hanya menginginkan rokok!" bentak Davira merasa marah.


"Kami akan menanyakannya terlebih dahulu kepada Tuan Xie."


Davira memutar bola matanya malas kemudian keluar dari kamarnya membuat para pengawal itu sontak berdiri di depannya.


"Minggir! Aku ingin ke kamar Tuan kalian itu untuk meminta rokok sendiri," Davira mendorong tubuh para pria Jepang itu lalu berjalan dengan cepat menuju ke kamar Nathan.


Ia mengernyit melihat pintu kamar Nathan yang sedikit terbuka, padahal seingatnya dia menutup pintu itu dengan rapat. Davira segera masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, namun mendengar suara Paul membuatnya segera menghentikan langkahnya untuk mendengarkan pembicaraan Paul dan Nathan yang terdengar begitu menarik. Sebab, dia mendengar nama sepupunya disebutkan.


"Jadi Aidan baru saja tiba di Sevilla hari ini?" Nathan menekan kuat ujung rokoknya ke asbak kaca hingga bara apinya padam.


Pupil mata Davira sedikit melebar ketika mendengar hal itu.


"Untuk apa Aidan ke Sevilla?" Davira membatin dan semakin menajamkan pendengarannya karena merasa penasaran.


"Iya, Tuan. Dan dia datang tidak sendirian, Tuan Aidan bersama dengan Nyonya Liana," jawab Paul sembari memberikan beberapa lembar foto kepada Nathan.


Dalam foto itu terlihat Aidan dan ibunya yang sedang berada di bandara.


"Foto ini di ambil dua jam yang lalu," Paul menunjuk satu foto yang memperlihatkan mobil Aidan tengah memasuki mansion Davira.


Foto-foto itu di ambil oleh anak buah mereka yang berada di sana dan Paul menugaskan mereka untuk langsung mengawasi Aidan, tepat saat pria itu menginjakkan kakinya di kota Sevilla. Paul langsung mencetak hasil foto itu dan menunjukkannya kepada Nathan.

__ADS_1


"Sudah ku duga Aidan akan ke mansion Davira, dia tidak benar-benar mengkhawatirkan Davira. Tetapi harta dan juga aset-aset berharga yang ada di mansion itu, Aidan dan ibunya pasti sedang mencari berkas-berkas penting yang berkaitan dengan bisnis."


Davira mengepalkan tangannya kuat, dia sudah tidak terkejut lagi. Aidan dan Liana pasti akan melakukan hal itu, namun tetap saja Davira merasa kesal. Padahal mereka berdua adalah keluarga Davira yang masih tersisa, tapi sepertinya harta lebih berharga bagi mereka dari pada keberadaannya saat ini.


"Apakah Tuan akan ke Sevilla lagi dan bertemu dengan Tuan Aidan?"


Baru saja ingin menjawab, mata Nathan menangkap bayangan Davira di tembok. Ia mengernyit kemudian mengisyaratkan Paul agar tidak melanjutkan pembicaraan mereka.


Paul segera menoleh, dan benar saja, dia melihat adanya bayangan dari Davira yang saat ini bersembunyi di balik tembok. Paul mulai melangkahkan kakinya untuk memeriksa.


Davira yang masih menempel di tembok tidak menyadari dan kini merasa kebingungan karena dia tidak lagi mendengar suara Nathan ataupun Paul.


"Nona Handoko."


Davira tersentak mendengar namanya dipanggil oleh Paul, ia menatap Paul dengan mata yang melotot.


"Davira?" Nathan segera menghampiri membuat Davira benar-benar merasa tertangkap basah, namun sebisa mungkin Davira berusaha agar tetap tenang walaupun saat ini jantungnya terasa akan lepas dari tempatnya.


"Sejak kapan kau berada di sini?" tanya Nathan membuat Davira berdehem singkat kemudian menegakkan posisi berdirinya.


"Sejak tadi, aku menguping pembicaraan kalian berdua. Jadi, Aidan berada di Sevilla dan sekarang dia sedang ada di mansion ku?"


Davira bersedekap dada tanpa berniat menutupi apa saja yang telah ia dengar.


"Jika sedari tadi kau di sini dan mendengar semuanya, maka seharusnya kau tidak perlu lagi bertanya."


Davira mengepalkan tangannya merasa kesal karena Nathan benar-benar menyebalkan.


"Katakan, apa kau akan ke Sevilla? Karena jika iya, maka aku harus ikut bersamamu!"


"Kenapa harus?" Nathan mengangkat satu alisnya.


"Karena aku harus bertemu dengan Aidan dan juga bibi Liana, aku harus mencegah mereka berdua. Di dalam mansion ku ada banyak sekali berkas dan aset-aset berharga!" jawab Davira dengan suara yang meninggi.


"Aku tidak akan ke sana, begitu juga denganmu. Kita tidak akan ke Sevilla," setelah mengatakan hal itu, Nathan kembali duduk ke tempatnya semula membuat Davira mengikutinya.


"Kau tidak memerlukan bisnis itu lagi, Davira. Lagi pula kau tinggal bersamaku saat ini dan seterusnya, akan ku pastikan kau tidak kekurangan apapun," ucap Nathan membuat Davira benar-benar merasa frustasi.


Braak.


Davira menggebrak meja kemudian mengambil asbak di depannya dan berniat menghantamkannya ke kepala Nathan. Namun Paul dengan sigap menahannya tangannya.


"Lepaskan!" Davira berusaha untuk menarik tangannya dari cekalan Paul.


Tanpa mengatakan apapun, Paul langsung mengambil asbak kaca itu dari tangan Davira.


"Arghh dasar sialan!" umpat Davira lalu kembali menatap Nathan.


"Jika bisnisku sampai di ambil alih oleh Aidan dan ibunya, maka itu semua adalah salahmu! Aku semakin membencimu Nathan," desis Davira di akhir kalimat.


Davira mengambil rokok dan pemantik milik Nathan yang berada di atas meja kemudian membawanya pergi bersamanya begitu saja.


Nathan hanya diam memperhatikan kepergian Davira, dia tahu bahwa wanita itu pastinya semakin marah kepadanya. Nathan menghembuskan nafasnya panjang lalu beranjak dari duduknya.


"Kenapa Tuan tidak mengatakan yang sebenarnya saja kepada Nona Davira? Dengan Tuan diam seperti tadi, Nona akan semakin membenci Tuan. Setidaknya katakan sesuatu kepadanya mengenai permasalahan bisnisnya."


Nathan menggelengkan kepalanya pelan sembari mengambil jas hitam miliknya.


"Belum saatnya, aku akan memberitahunya jika aku ingin. Sekarang siapkan jet pribadiku, kita akan ke Sevilla. Sepertinya Aidan ingin bertemu."


Sedangkan Davira kini berjalan dengan hati yang selalu diselimuti oleh amarah, wanita itu terus melangkah dan tidak berniat untuk kembali ke kamarnya setelah keluar dari kamar Nathan. Dia lebih memilih menyusuri lorong demi lorong kemudian memasuki lift untuk menuju ke lantai dasar.


Pikiran Davira terus berkelana memikirkan tentang apa yang Liana lakukan kepada bisnisnya, Davira sangat yakin bahwa bibinya itu akan membalik nama semua dokumen-dokumen penting.


Ting.

__ADS_1


Suara pintu lift yang terbuka kini terdengar membuat Davira segera keluar, ia cukup merasa kebingungan dengan seluk-beluk mansion itu. Dia sama sekali belum hapal, dia hanya tahu jalan menuju ke ruang makan dan juga pintu utama.


Merasa penasaran, Davira membawa langkah kakinya menuju ke pintu utama untuk melihat apakah banyak pengawal yang berjaga atau tidak. Mata Davira memperhatikan pintu besar yang tertutup rapat itu. Di kedua sisi pintu terlihat dua pengawal bermata sipit yang berjaga.


Davira menghembuskan nafasnya kasar sambil menyelipkan batang rokok di antara bibirnya kemudian menyalakan ujungnya dengan menggunakan pemantik.


Melihat Nathan dan Paul yang sedang berjalan sembari berbicara dengan seorang kepala pelayan membuat Davira segera bersembunyi dibalik pilar. Dia berusaha untuk menajamkan telinganya, namun ternyata percuma karena dia sama sekali tidak mengerti dengan pembicaraan mereka.


Mata Davira bergerak mengikuti langkah kaki mereka hingga Nathan dan Paul terlihat keluar melalui pintu utama. Setelah kedua pria itu tidak terlihat lagi, para pengawal kembali menutup pintu.


Davira berlari kecil ke arah Takara yang sedang berjalan menaiki undakan tangga.


"Berhenti!" teriak Davira membuat Takara begitu terkejut, kepala pelayan yang sudah berumur 40 tahun itu langsung menghentikan langkah kakinya


"Apa yang Nona lakukan di sini?" tanyanya menatap Davira yang sedang berlari kecil menaiki tangga hingga kini berdiri di sebelahnya.


"Tolong jangan berlari, Nona Handoko. Jangan sampai anda celaka, dan kenapa anda berada di sini? Anda seharusnya berada di dalam kamar."


Davira hanya memutar bola matanya, "Apa yang Nathan bicarakan denganmu?" tanyanya langsung pada intinya.


"Apa yang Nona Handoko maksud?"


Davira menghisap rokoknya dalam-dalam kemudian menghembuskannya melalui hidung.


"Aku melihat Nathan berbicara denganmu sebelum keluar, apa yang dia katakan?" tanya Davira merasa sangat penasaran, pasalnya dia melihat Nathan dan Paul berjalan dengan terburu-buru.


"Tuan Xie hanya berpamitan dan menitipkan pesan kepada saya agar menjaga anda, Nona."


"Berpamitan? Dia akan ke mana?" Davira bertanya dengan tatapan mengintimidasinya.


Takara menundukkan kepalanya, pelayan dengan pakaian yang mirip seperti kimono itu terlihat bimbang menjawab pertanyaannya.


"Katakan, aku hanya bertanya. Apakah Nathan melarang mu untuk memberitahuku?"


Takara menggeleng pelan, pasalnya Nathan memang tidak mengatakan larangan itu kepadanya.


"Lalu? Kenapa kau diam? Aku hanya bertanya, ke mana Nathan pergi?" desak Davira membuat Takara semakin merasa terpojok dan mau tidak mau mengatakan ke mana perginya Nathan.


"Ke Sevilla, Nona. Tuan Nathan pergi ke sana dan akan kembali hari Senin."


π_π


Mobil yang dikemudikan oleh Paul kini melaju dengan cepat membelah jalanan yang begitu sepi, di depan dan di belakang terdapat lima mobil yang mengawal mereka. Sesampainya di Sevilla, Nathan langsung menghubungi anak buahnya dan segera berangkat menuju ke mansion keluarga Handoko tanpa mampir ke mansion-nya terlebih dahulu untuk sekedar beristirahat.


Nathan hanya tidak ingin terlambat dan dia ingin segera bertemu dengan Aidan, dia tidak sabar melihat wajah pria itu ketika mengetahui apa yang sudah dia lakukan.


Sudut bibirnya sedikit tertarik melihat Davira yang sedang terlelap di atas ranjangnya, Nathan benar-benar sudah merindukan wanita itu dan ingin cepat-cepat kembali untuk memeluknya.


Nathan segera menutup laptopnya ketika mobil yang ia tumpangi mulai berhenti tepat di depan gerbang besar mansion keluarga Handoko, Paul terlihat sedang berbicara dengan para pengawal yang berjaga.


Para pengawal itu tentu saja tidak membolehkan mereka masuk membuat Paul segera mengambil pistolnya, namun Nathan langsung menahannya.


"Jangan ada baku tembak sebelum aku menemui Aidan," cegah Nathan membuat Paul kembali menyimpan pistolnya.


Nathan membuka kaca mobilnya untuk berbicara dengan salah satu pengawal Aidan yang menjaga gerbang.


"Katakan kepada Aidan bahwa Tuan muda Xie ingin bertemu dan membahas tentang Davira."


Pengawal itu segera merogoh ponselnya untuk menelpon Aidan, ia menjauh dari mobil Nathan karena tidak ingin pembicaraannya di dengar. Nathan hanya diam di tempatnya sembari memperhatikan pengawal itu.


Tidak perlu waktu lama, pintu gerbang kini mulai terbuka perlahan secara otomatis. Kemegahan mansion keluarga Handoko terpampang jelas di depan sana, mobil Nathan dan para anak buahnya segera memasuki pekarangan mansion yang begitu luas dan terlihat indah.


Paul menghentikan mobilnya tepat di depan pintu utama mansion, Nathan menatap pintu utama yang masih tertutup rapat membuatnya tidak berniat untuk keluar dari dalam mobilnya.


Nathan hanya diam menunggu sampai pintu itu terbuka dan memperlihatkan sosok wanita berumur hampir 50 tahun yang tidak lain adalah Liana, di sampingnya terlihat seorang pria yang begitu ingin Nathan lubangi kepalanya karena waktu itu telah sangat berani menodongkan pistol kepada Davira.

__ADS_1


Paul segera turun dan membukakan pintu mobil untuk Nathan, semua anak buah yang Nathan bawa terlihat sudah turun dari mobil masing-masing. Nathan tersenyum ke arah Aidan dan Liana sebelum kakinya menginjak pekarangan mansion keluarga Handoko.


"Selamat datang di Sevilla, bibi Liana." 


__ADS_2