Tawanan Tuan Xie

Tawanan Tuan Xie
Part 72 - Keputusan Emma


__ADS_3

Erick menghembuskan asap rokoknya secara perlahan sembari tersenyum kecil melihat wajah Emma yang tampak begitu ketakutan dan putus asa.


"Jadi itu keputusanmu Emma?" tanya Erick membuat Emma menghela nafas panjang.


"Kau tidak memberiku pilihan lain, aku masih menyayangi nyawaku, Erick," jawab Emma yang sebenarnya sedang berusaha keras agar emosinya tidak meledak.


"Harusnya aku melakukan ini semua sejak awal, kau harus dipaksa rupanya," Erick terkekeh kecil kemudian menekan ujung rokoknya di asbak.


Emma geleng-geleng kepala, "Aku tidak menyangka bahwa kau bisa selicik ini ternyata."


"Seperti dirimu, Emma. Aku tidak memiliki pilihan lain, aku sudah mencoba dengan cara baik-baik, dengan terus berada di sisimu dan ada setiap kali kau butuhkan. Tapi itu tidak cukup untuk membuatmu menjadi milikku, jadi aku sedikit meniru cara pria yang selama ini membuatmu tergila-gila. Aku mencontohnya, jadi jangan salahkan aku."


Emma mengambil botol wine yang berada di atas meja, namun Erick langsung menahan tangannya.


"Lepaskan, aku ingin minum."


"Kau masih belum boleh minum wine atau sejenisnya," ucap Erick membuat Emma memutar bola matanya sembari menarik kembali tangannya.


"Aku sudah memberikan jawabanku, sekarang kau harus menepati janjimu. Cari orang itu, kumpulkan semua bukti yang tersisa secepatnya, dan ingat Erick, berikan semua itu kepadaku."


Emma berdiri dari duduknya membuat Erick juga melakukan hal yang sama.


"Aku pasti akan menepati janjiku, mana mungkin aku membiarkan nyawa kekasihku terancam?" Erick mendekat kemudian merapikan helain rambut Emma.


"Ku dengar Nathan sudah berada di Roma, ku sarankan agar kau tidak menemuinya."


Emma menatapnya tidak terima, "Kau tidak bisa melarangku, Erick. Walaupun sekarang aku menerimamu sebagai kekasihku, aku masih mempunyai hak penuh atas diriku sendiri. Aku bisa melakukan apapun yang aku mau."


"Tentu saja bisa, kau bisa melakukan apapun yang tidak berhubungan dengan Nathan. Ini adalah aturanku jika kau ingin orang itu ku serahkan kepadamu Emma. Jauhi Nathan, jangan pernah bertemu dengannya dan berusahalah untuk melupakannya."


Keduanya saling bertatapan dengan cara pandang yang berbeda, Erick menggenggam erat tangan Emma, tidak membiarkan wanita itu pergi dari apartemennya.


"Bastard, harusnya aku membunuhmu."


Erick sontak terkekeh, "Kau sudah mulai mengumpat, sifat aslimu mulai terlihat secara perlahan. Kenapa Emma? Tidak berusaha untuk menyembunyikannya lagi?"


"Itu tidak penting, Erick. Terserahmu ingin menilaiku seperti apa, aku hanya muak berpura-pura menjadi wanita lugu dan manis. Sekarang lepaskan aku karena aku ingin pulang."


"Siapa yang mengizinkanmu untuk pulang?" Erick tersenyum dengan satu alis terangkat.

__ADS_1


"Apakah semua yang ku lakukan harus atas izin darimu?"


"Tidak semuanya, tapi sekarang aku tidak mengizinkanmu untuk meninggalkanku sendirian di sini. Kau bisa menemaniku," Erick menarik pinggang Emma, melingkarkan tangannya di sana.


Tangan Emma segera menahan dada Erick, tubuh keduanya kini menempel dengan jarak wajah yang begitu dekat.


"Aku hanya memintamu melupakan Nathan, Emma. Maka aku akan memberikan segalanya untukmu," bisik Erick membuat Emma menatap netranya.


"Aku akan memberimu waktu, seret orang itu ke hadapanku. Setelah itu aku akan melupakan Nathan, buktikan bahwa kau akan membuat nyawaku aman."


Erick langsung tersenyum mendengarnya, satu tangannya segera bergerak menarik tengkuk Emma membuat bibirnya kini bertemu dengan bibir wanita itu.


"Tentu saja aku bisa melindungimu," Erick mulai melu*mat bibir Emma yang terasa begitu manis.


Emma membalas ciuman Erick sembari mengalungkan lengannya, dapat ia rasakan tangan Erick yang sudah masuk meraba daerah sensitifnya. Ciuman Erick semakin menuntut, pria itu mulai melepaskan resleting dress yang Emma kenakan membuat Emma melakukan hal yang sama. Tangan halusnya bergerak melepaskan kancing kemeja yang melekat di tubuh Erick satu persatu hingga kini Emma bisa meraba dada bidang pria itu.


"Aku mencintaimu, Emma," bisik Erick disela-sela ciuman panas mereka.


Emma hanya diam dengan tatapan mata yang menyiratkan amarah, ia mengusap belakang kepala Erick kemudian tersenyum kecil.


Sedangkan di tempat yang berbeda, Nathan langsung turun dari mobilnya dan melangkahkan kakinya memasuki gedung apartemen tempat Aaron tinggal saat sedang berada di Roma.


Beberapa orang yang berada di lobi terlihat kebingungan melihat Nathan yang begitu berantakan dengan beberapa lebam di wajahnya. Namun Nathan tidak menghiraukannya, ia terus berjalan dengan cepat bersama Paul yang mengikutinya.


"Sudah Tuan, dan Tuan Aaron tidak pernah memerintahkan anak buahnya untuk mengawalnya saat sedang berada di apartemen."


"Aku bahkan tidak peduli jika saat ini dia bersama anak buahnya," ucap Nathan bersamaan dengan pintu lift yang terbuka.


Nathan segera berjalan hingga sampai di depan pintu unit apartemen milik Aaron, benar-benar tidak ada yang berjaga di depan sana.


Tanpa ingin membuang banyak waktu, Nathan segera menekan bel beberapa kali sampai pintu terbuka, memperlihatkan sosok Aaron dengan wajah yang terlihat mengeras saat bertatapan dengannya.


Bughh.


Satu tinjuan langsung mendarat di wajah Nathan tanpa aba-aba sebelumnya.


"Arghh......sial," umpat Nathan pelan sembari mengusap rahangnya.


"Harusnya kau sudah mati bang*sat!" teriak Aaron kemudian hendak melayangkan bogemannya lagi.

__ADS_1


Namun Nathan langsung menendang perutnya membuat tubuh Aaron terpental ke belakang. Nathan segera masuk ke dalam unit Aaron.


"Tunggu di luar, Paul," Nathan menutup pintunya, membuat dia dan Aaron hanya berdua di dalam unit apartemen yang begitu besar itu.


Aaron bangkit sembari memegangi perutnya yang terasa sakit.


"Apa yang kau inginkan Nathan? Berani-beraninya kau muncul di hadapanku?!"


"Kenapa aku harus merasa takut?" tanya Nathan membuat emosi Aaron semakin tersulut.


"Harusnya kau sudah mati pengkhianat," desis Aaron kemudian berusaha untuk kembali melayangkan tinjunya ke wajah Nathan.


Tetapi Nathan segera berkelit, dengan cepat Nathan meninju wajah Aaron terlebih dahulu.


"Bang*sat!" Aaron menendang perut Nathan dengan dengkulnya lalu mendorong tubuh Nathan membuat sepupunya itu tersungkur membentur meja berbahan kaca.


Praang.


Pecahan kaca langsung berserakan di lantai, Nathan hanya meringis pelan lalu kembali bangkit dan langsung membalas serangan Aaron.


Nathan menyundulkan kepalanya pada perut Aaron membuat pria itu terdorong ke belakang.


"Arghh sialan!"


Aaron menumbukkan sikunya ke punggung Nathan sekuat tenaga saat tubuhnya kini terhimpit di tembok.


Bughh.


Braak.


Nathan memberikan bogeman mentah di wajah Aaron, membuat hidung pria itu langsung mengeluarkan darah.


"Aku ke sini untuk berbicara!" teriak Nathan namun tidak membuat Aaron berhenti.


Aaron terus menyerang Nathan, keduanya saling melayangkan tinju ke wajah satu sama lain.


"Serahkan wanita itu ke hadapan kami Nathan!" teriak Aaron sembari menerjang tubuh Nathan membuat keduanya sama-sama tersungkur ke lantai yang penuh dengan pecahan kaca.


"Arghh.....aku akan memberikan pelaku yang sebenarnya kepada kalian sialan!" Nathan beringsut sembari menendang Aaron yang ingin menindih tubuhnya.

__ADS_1


Aaron seketika terjengkang membuat Nathan segera mengambil kursi di sebelahnya kemudian menindih tubuh Aaron dan mengangkat tinggi kursi di tangannya.


"Nathan hentikan!"


__ADS_2