Tawanan Tuan Xie

Tawanan Tuan Xie
Part 22 - Balasan dari Nathan


__ADS_3

Davira semakin membenamkan wajahnya di dada bidang Nathan ketika hidungnya menghirup aroma yang begitu menyegarkan dan terasa memabukkan. Davira benar-benar ingin terus menghirup aroma itu sehingga tanpa sadar ia semakin merapatkan tubuhnya kepada Nathan.


Nathan yang saat ini juga tengah terlelap masih tetap memeluk erat pinggang Davira seolah alam bawah sadarnya pun tidak membiarkannya untuk melepaskan Davira barang sebentar saja. Keheningan kini menyelimuti kamar itu, tidak ada suara apapun selain deru nafas keduanya yang terdengar begitu teratur.


Waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi, dan Davira mulai terbangun dari tidur panjangnya. Wanita itu mengerjapkan matanya beberapa kali kemudian menjauhkan wajahnya dari dada Nathan. Davira mengernyit kebingungan menatap dada bidang di depannya, ia segera mengangkat kepalanya, matanya seketika melebar melihat wajah Nathan terpampang jelas di depannya.


Davira menutup mulutnya yang terbuka lebar, ia benar-benar merasa terkejut saat ini. Melihat wajah Nathan yang begitu tenang dan merasakan tangan pria itu melingkar di pinggangnya membuat ia merasa marah dan juga kesal.


"Nathan!" teriak Davira lalu berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan Nathan yang ternyata begitu erat.


"Lepaskan aku!"


Mendengar suara teriakan Davira tentu saja membuat Nathan membuka matanya, ia menghela nafas panjang kemudian tersenyum tipis karena merasa tidurnya begitu nyenyak dan kini dia bangun dengan memeluk Davira.


"Lepaskan aku sialan," umpat Davira lalu mendorong kuat dada Nathan kemudian berusaha untuk turun dari tempat tidur.


Namun Nathan dengan cepat menarik pinggangnya membuat ia kembali ke dalam pelukan pria itu, Nathan bahkan meletakkan kakinya di atas paha Davira. Hal itu membuat Davira benar-benar terkunci dan tidak bisa bergerak sama sekali.


"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku Nathan! Sejak kapan kau tidur di sini bersamaku?!"


Davira menatap Nathan dengan wajahnya yang sudah memerah karena marah, tangan Davira memukul-mukul dada Nathan berusaha untuk membebaskan diri dari kukungan pria itu.


"Kau sudah gila, Nathan. Berhenti memelukku!" Davira meronta-ronta di dalam pelukan Nathan.


"Sssstttt.......diamlah, Davira," suara serak khas bangun tidur terdengar begitu seksi di telinga Davira, wanita itu sampai tertegun untuk sejenak.


Davira menggelengkan kepalanya cepat agar segera tersadar, dapat Davira rasakan lengan kekar Nathan memeluk pinggangnya dengan erat. Hal itu membuat tangan Davira harus bertumpu pada dada telanjang Nathan agar tubuh mereka tidak terlalu menempel.


"Ke-kenapa kau bertelanjang dada seperti ini? Apa yang sudah kau lakukan?" tanya Davira mulai susah payah menelan salivanya.


Nathan terkekeh kecil kemudian mengusap lembut kepala Davira, wajah keduanya saling berhadapan dengan jarak yang begitu dekat.


"Menurutmu apa yang ku lakukan?" Nathan tersenyum, ia sengaja ingin membuat Davira merasa panik. Padahal dia bertelanjang dada karena memang sudah menjadi kebiasaannya, dia akan lebih cepat tidur saat tidak memakai baju.


"Aku akan membunuhmu," desis Davira lalu menarik tangan Nathan dan menggigitnya tanpa diduga-duga.


"Akhh!" Nathan berteriak karena merasa kaget dan gigitan Davira juga cukup menyakitkan.


Bughh.


"Kau tidak bisa macam-macam denganku, dasar pria brengsek," bukan lagi tamparan, tetapi pukulan yang Davira layangkan di wajah Nathan kali ini.


Davira segera melepaskan diri dari pelukan Nathan, wanita itu langsung melompat dari atas tempat tidur karena kakinya yang memang sudah membaik.


Nathan terkekeh melihat bekas gigitan di tangannya, pria itu tiba-tiba saja mengecupnya membuat Davira melotot melihat hal itu.


"Arghh kau sudah gila!"


Davira bersandar di tembok dengan nafas yang terengah-engah dan gaun tidur yang sudah acak-acakan, begitu juga dengan rambutnya.


Nathan yang memang berniat menjahili Davira, segera beranjak dari atas tempat tidur. Dapat ia lihat wajah panik Davira yang begitu menggemaskan di matanya.


"Jangan mendekat Nathan! Keluar sekarang juga!" teriak Davira menatap Nathan was-was.


Namun hal itu membuat Nathan semakin mendekat kepadanya, Nathan berhenti tepat di hadapan Davira dan hanya memberi wajah mereka jarak beberapa inci saja.


Tubuh keduanya bahkan kembali menempel saat ini, Davira sontak menahan dada Nathan dengan kedua tangannya hingga Davira bisa merasakan degup jantung Nathan dari telapak tangannya yang menempel di dada tanpa alas itu, terasa begitu hangat dan hal itu membuat jantung Davira berdebar kencang tidak karuan.


Nathan menurunkan sedikit tubuhnya agar posisi wajah mereka menjadi sejajar, Davira sampai harus menahan nafasnya. Satu tangan Nathan menempel di tembok seolah sedang mengurung tubuh Davira, sedangkan tangan yang satunya mulai bergerak merapikan beberapa helai rambut yang menghalangi wajah cantik wanita itu.


Nathan semakin mendekatkan wajahnya membuat pupil mata Davira terlihat membesar.


"Boleh aku menciummu?" tanya Nathan setengah berbisik.


Davira menurunkan tangannya dari dada Nathan kemudian meraih vas bunga yang ada di atas lemari pendek di sampingnya.


"Dalam mimpimu, Nathan."


Tanpa aba-aba, Davira langsung memukulkan vas bunga yang berharga puluhan juta itu ke kepala Nathan hingga pecah seketika.


Bughh.


Praang.


"Arghh......"

__ADS_1


Davira tertawa di dalam hati kemudian segera mendorong tubuh Nathan dan berlari cepat karena takut dibalas oleh pria itu.


Nathan mengusap darah yang mengalir dari dahinya yang sobek, ia menyekanya pelan lalu tersenyum kecil sembari menghitung mundur di dalam hati.


"Lepaskan!"


Belum habis dia menghitung, suara teriakan Davira sudah terdengar. Wanita itu terlihat kembali ke dalam kamar bersama dengan dua pengawal yang kini memeganginya.


"Lepaskan dia," titah Nathan membuat dua pengawal yang sedang bertugas menjaga di depan kamar Davira itu segera melepaskan pegangan mereka.


"Tuan baik-baik saja?" tanya mereka memastikan.


Nathan mengangguk, "Hanya luka kecil."


Davira berdecih pelan mendengarnya kemudian melangkahkan kakinya dengan santai dan langsung duduk di sofa panjang yang ada di dalam kamarnya. Davira merasa begitu puas telah berhasil melukai Nathan.


"Ini baru permulaan," batinnya.


"Panggilkan pelayan, suruh dia membersihkan kekacauan ini. Dan teruslah berjaga di depan kamar, jangan sampai Davira berhasil kabur."


"Baik Tuan."


Davira berdecak kesal karena Nathan menggunakan bahasa Jepang saat berbicara dengan kedua pengawal itu, dia tidak mengerti dan penasaran tentang apa yang dikatakan Nathan kepada mereka.


Kedua pengawal itu terlihat membungkuk kemudian keluar dari kamarnya, melihat hal itu membuat Davira menghela nafas lega. Ia sudah mengira bahwa Nathan menyuruh mereka untuk mengeksekusinya atau bahkan menyiksanya.


Davira menyandarkan punggungnya dengan wajah tanpa rasa bersalah sedikitpun, wanita itu bahkan menunjukkan ekspresi puasnya.


Nathan mengambil tisu yang ada di atas meja lalu membersihkan darah di dahinya sembari berjalan ke arah Davira, hal itu membuat Davira kembali duduk dengan tegak dan bersikap waspada.


"Kau ingin membalas ku?" tanya Davira penuh dengan kecurigaan.


Nathan berjongkok di hadapan Davira dengan mata yang tidak lepas dari wajah wanita itu.


"Tentu saja aku akan membalas mu, Davira," jawab Nathan membuat Davira terbelalak dan beringsut mundur.


Biar bagaimanapun Davira merasa takut dihabisi oleh Nathan dengan cara yang sangat menyakitkan, Davira memang pernah membunuh atau bahkan menyiksa orang. Dan dia tidak ingin mengalami hal yang sama seperti para korbannya.


"Beginikah wajah takutmu, Davira?"


"Aku tidak merasa takut kepadamu, Nathan. Aku bisa melukaimu lebih dari ini, seperti yang sudah kau lakukan kepadaku," jawab Davira berusaha agar tetap terlihat tenang dan dia tidak ingin menjadi wanita penakut di hadapan Nathan yang sangat suka mengintimidasi.


Cup.


Tanpa sempat Davira menghindar, tiba-tiba saja Nathan mengecup bibirnya. Kecupan yang begitu singkat, namun membuat tubuh Davira langsung menegang seketika. Davira tercengang di tempatnya, sedangkan Nathan langsung melangkahkan kakinya menjauh sembari membawa bajunya.


"Itu balasan untuk perbuatan mu, Davira."


Nathan segera keluar dari kamar wanita itu, tidak lama terdengar suara teriakan Davira yang menggema membuat para pengawal yang berjaga sontak merasa panik.


"Apa yang terjadi Tuan?"


"Biarkan saja, dia baik-baik saja," jawab Nathan dengan kaki yang terus melangkah.


Para pengawal hanya bisa saling menatap satu sama lain karena merasa kebingungan dengan apa yang terjadi sebenarnya, mereka benar-benar tidak mengerti dengan hubungan Nathan dan Davira. Tiba-tiba saja mereka mendapatkan kabar bahwa tuan muda Xie itu akan datang ke Jepang bersama dengan seorang wanita.


Dan wanita itu diperlakukan seperti tawanan yang harus selalu di awasi di sini.


Nathan langsung masuk ke dalam kamarnya, ia mengambil ponselnya yang berada di atas bantal kemudian menelepon tangan kanannya, yaitu Paul.


"Kau di mana?" tanya Nathan sambil menatap pantulan wajahnya di cermin.


"Saya di lantai bawah, Tuan. Ada apa?" 


"Apakah Laura sudah benar-benar kembali ke Indonesia?"


Nathan meletakkan ponselnya di atas meja kemudian membersihkan darah di dahinya.


"Sudah sejak tiga hari yang lalu, Tuan. Saya memberinya pengawalan tanpa Nona Laura ketahui."


"Bagus, sebaiknya kau ke kamarku saat ini," setelah mengatakan hal itu, Nathan segera memutus sambungan telponnya.


Nathan menarik kursi di belakangnya lalu mendudukinya, pria itu mengambil obat merah dan juga kapas untuk mengobati luka di dahinya sendiri. Sudut bibirnya sedikit tertarik ke samping, ia merasa senang dan ingin tidur dengan memeluk Davira lagi, walaupun dia harus terluka, dia tidak mempermasalahkannya.


"Arghh......aku bisa benar-benar gila," gumam Nathan terus teringat dengan wanita itu.

__ADS_1


Nathan menggelengkan kepalanya pelan berusaha agar tidak terlalu memikirkan Davira, namun nyatanya wajah wanita itu terus-menerus muncul di dalam kepalanya.


Tiba-tiba saja terdengar suara dering ponselnya, ia menatap nama yang tertera kemudian menggeser tombol hijau pada layar. Wajah cantik Laura langsung terlihat, namun wanita itu tampaknya begitu kaget melihat luka di dahi Nathan.


"Nathan, apa yang terjadi?" 


Suara Laura kedengarannya begitu khawatir, sedangkan Nathan kembali melanjutkan kegiatannya, yaitu mengobati lukanya.


"Kau berkelahi? Atau......kau diserang?" 


"Kenapa menghubungiku, Laura?" tanya Nathan tanpa menjawab pertanyaan wanita itu.


"Jawab dulu pertanyaanku, apa yang terjadi kepadamu? Sepertinya kau harus memanggil dokter, lukanya perlu dijahit."


Nathan menghela nafas panjang, "Aku memang akan memanggil dokter."


"Harus, jadi bagaimana bisa kau mendapatkan luka itu?" tanya Laura merasa sangat penasaran.


"Laura, aku tidak perlu menjawab pertanyaanmu. Lagi pula kau tidak perlu sampai sekhawatir ini, kau tahu bagaimana lingkungan dan pekerjaanku," jawab Nathan tidak ingin mengatakan yang sebenarnya.


Nathan hanya tidak ingin jika Laura mengadukan masalah ini kepada neneknya atau bahkan memberitahu keberadaan Davira karena merasa kesal.


"Tapi Nathan kau ha--"


"Katakan sekarang atau tidak sama sekali, jangan membuang-buang waktuku," potong Nathan kemudian melirik ke arah Paul yang sudah memasuki kamarnya.


"Baiklah, aku menghubungimu karena ingin memberitahu bahwa Aidan mencarimu. Dia membuat keributan, Nathan. Nyonya Gayatri merasa marah karena saat ini bibi Liana dan juga Aidan mencari Davira ke mansion yang ada di sini."


"Aidan sampai senekat itu? Lalu apa yang terjadi?"


"Hampir saja terjadi baku tembak, tapi.....ku rasa Aidan dan juga ibunya itu tidak begitu berani. Mereka segera pergi setelah para pengawal saling menodongkan senjata, aku pun juga sangat kaget karena tiba-tiba saja Aidan dan rombongannya datang ke mansion saat aku sedang bersama dengan Nyonya Gayatri."


"Apa lagi yang Aidan lakukan?" Nathan meremas kuat kapas berlumuran darah di tangannya.


Dia merasa bingung dan juga marah, sejak kapan Aidan sampai sepeduli itu kepada Davira? Nathan yakin bahwa ada maksud yang terselubung hingga Aidan dan ibunya itu sampai mencari-cari keberadaan Davira.


"Setelah itu aku tidak tahu lagi, dia dan rombongannya pergi."


Mendengar jawaban Laura membuat Nathan langsung memutus sambungannya secara sepihak.


"Paul, panggilkan dokter untukku. Setelah itu cari tahu tentang Aidan, aku yakin dia pasti ke Sevilla untuk mencari keberadaan Davira."


Paul menganggukkan kepalanya, "Baik, Tuan," pria yang selalu berpakaian rapi itu segera keluar dari kamar Nathan.


π_π


Setelah selesai mandi dan lukanya di obati, Nathan kini sudah duduk di depan meja makan yang di atasnya sudah tersaji makanan lezat untuk ia santap. Dia duduk sendirian, membiarkan begitu banyak kursi kosong tanpa ada yang menempati karena di mansion itu dia memang benar-benar hanya tinggal sendiri.


Tidak ada satupun keluarganya yang tinggal di sana, hanya ada pelayan dan juga para pengawal. Hal itu menjadikan mansion ini tempat paling aman untuknya menahan Davira.


Nathan mulai memasukkan sepotong daging berukuran cukup besar ke dalam mulutnya, pria itu kemudian menyeruput kuahnya yang kaya akan kaldu. Bibirnya sedikit berkedut ketika telinganya mulai mendengar suara teriakan dan juga umpatan kasar dari kejauhan.


Suara itu semakin mendekat ke arahnya membuat Nathan langsung mengangkat kepalanya.


"Kau tidak bisa memaksaku seperti ini, Nathan. Apa kau benar-benar menganggapku sebagai hewan peliharaan? Aku bisa makan sendiri jika aku lapar, tanpa harus dipaksa seperti ini," Davira menatapnya dengan dada naik turun, wanita itu terlihat begitu emosi saat ini.


Nathan mengisyaratkan kedua pengawalnya agar melepaskan tangan Davira. Ia mengulum senyum karena melihat penampilan Davira yang masih mengenakan handuk di kepalanya.


"Makanlah, jangan sampai makananmu dingin," Nathan melirik kursi yang sudah dia siapkan untuk Davira di sebelahnya.


Davira mengambil nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya kasar.


"Setidaknya beri perintah kepada kedua pengawalmu itu agar menunggu sampai aku selesai mengeringkan rambutku," Davira menggerutu kemudian duduk di kursi paling ujung membuat Nathan melayangkan tatapan dingin.


"Kursimu di sini, makananmu juga ada di sini."


"Tapi aku tidak ingin duduk di dekatmu," Davira segera berdiri dan mengambil piring serta mangkuk makanan di depan Nathan dan memindahkannya ke ujung meja membuat keduanya kini duduk dengan saling berhadapan.


Braak.


Nathan menggebrak meja kemudian berdiri dari duduknya membuat Davira menggenggam erat garpu di tangannya. Nathan berjalan menghampiri Davira dan mendekatkan wajahnya kepada wanita itu.


Davira sampai harus bergerak mundur, namun punggungnya langsung ditahan oleh Nathan.


"Jangan menguji kesabaran ku, makanlah dengan tenang di dekatku, Davira," ucap Nathan penuh dengan penekanan dan tatapan mengintimidasi.

__ADS_1


Namun Davira membalas tatapan itu dengan berani.


"Tapi kau yang sudah menguji kesabaran ku dengan menciumku tanpa izin, Tuan Xie yang terhormat!" 


__ADS_2