Tawanan Tuan Xie

Tawanan Tuan Xie
Part 54 - Serangan


__ADS_3

Mereka semua terdiam di tempat masing-masing dengan nafas yang memburu, kini hanya tersisa mereka bertujuh, seluruh anak buah Hotaka sudah habis terkapar di tanah tanpa bisa melakukan apa-apa, termasuk Hotaka sendiri.


Kepala pria bermata sipit itu sudah berlubang akibat timah panas yang berasal dari pistol Davira.


"Tuan," Fedrix segera menghampiri Jakob yang masih terbaring di tanah.


"Akhh.....aku baik-baik saja," Jakob meringis kemudian merubah posisinya menjadi duduk.


"Sial," umpat Jakob saat menyentuh bagian kepalanya yang kini basah karena darah.


Sedangkan Davira hanya bisa menggigit bibir bawahnya, menahan rasa sakit pada pergelangan kakinya yang masih tertancap belati.


"Benda itu harus dicabut," Liam menghampiri Davira kemudian berjongkok di dekatnya.


"Aku tahu," ucap Davira lalu mengambil nafasnya dalam-dalam.


"Kau akan mencabutnya sendiri?" tanya Mario merasa tidak yakin.


Davira hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban sebelum ia menggenggam erat gagang belati tersebut. Dengan tangan yang gemetaran karena rasa sakit, Davira langsung mencabut benda tajam itu membuat teriakan akhirnya lolos dari mulutnya.


"Arghh!"


Darah segar terlihat mengalir dari sana, Davira langsung melempar belati itu ke sembarang arah. Kakinya terasa begitu sakit membuat peluh keringat kini membasahi wajahnya.


"Darahnya harus segera dihentikan," Liam segera melepaskan kain berbentuk segitiga yang terikat di lehernya.


Dengan cepat ia mengikatkannya pada pergelangan kaki Davira yang terluka guna menghentikan pendarahannya.


"Kita harus pergi sekarang juga, jangan sampai Jonathan menemukan kita dan membawa Davira," Jakob buru-buru berdiri dengan kepala yang masih berdenyut nyeri.


"Bantu Davira berdiri," perintah Jakob membuat Liam segera memapah tubuh Davira.


"Arghh ini benar-benar di luar dugaan," gumam Davira sembari melangkahkan kakinya dengan tertatih-tatih dan dengan bantuan Liam.


"Kau bisa ikut mobil Liam," ucap Jakob kemudian mengambil koper berisi uangnya terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam mobil milik Luca.


"Bagaimana dengan narkoba dan juga truknya?" tanya Luca menatap puluhan karung narkoba yang berada di dalam truk mereka maupun di dalam truk milik Hotaka.


"Biarkan saja, kita sudah mendapatkan uangnya," jawab Jakob tidak lagi mempedulikan narkobanya karena sekarang uangnya sudah ia dapatkan.


"Tidak jauh dari sini ada helikopter yang sudah menunggu, kita akan kabur dari Moskow menggunakan helikopter terlebih dahulu," ucap membuat semuanya segera masuk ke dalam mobil masing-masing.


"Kau bisa menahannya?" tanya Liam menatap Davira yang duduk di sebelahnya.


Wanita itu tampak bersandar dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Aku baik-baik saja, cepat jalankan mobilmu. Aku tidak ingin tertangkap oleh Nathan," ucap Davira dengan perasaan yang tidak karuan.


Selain tidak ingin tertangkap, Davira juga mengkhawatirkan Jakob serta teman-temannya. Davira yakin bahwa Nathan tidak akan mengampuni mereka, sedangkan Davira tidak ingin jika seseorang terluka atau bahkan tiada karenanya.

__ADS_1


Davira dan yang lainnya harus bisa melarikan diri dari Nathan.


Mobil mereka melaju dengan kencang membelah jalanan yang cukup sunyi. Davira menatap ke arah luar jendela, angin pagi berhembus dengan kencang membuat rambut Davira semakin berantakan karena kaca jendela yang pecah hingga angin bisa masuk dengan bebas ke dalam mobilnya.


Matahari sudah mulai terlihat menampakkan wujudnya ke permukaan, menggantikan tugas rembulan untuk memberikan sinarnya.


Tiba-tiba saja terdengar suara mesin mobil yang begitu memekakkan, Davira sontak menatap spion, matanya melebar melihat ada banyak mobil yang kini berada di belakang mereka.


"Sial, apa lagi sekarang?" tanya Liam mulai merasa was-was.


Bruk.


"Arghh!"


Mobil yang dikemudikan oleh Liam ditabrak dari belakang, Liam segera menambah laju mobilnya untuk menghindar.


Dor.


Peluru mulai menghujani mobil mereka, Davira segera menunduk sembari mengambil pistol yang tersimpan di dashboard.


"Itu Jonathan," gumam Jakob saat melihat mobil berwarna hitam kini mendahului mereka dengan teramat cepat.


Kini mereka dikepung oleh beberapa mobil di sisi kiri dan kanan.


"Tabrak," ucap Jakob membuat Luca segera menabrakkan mobilnya ke samping.


Bruuk.


Dor.


"Tuan yakin itu adalah Tuan Xie dan anak buahnya?" tanya Luca sembari terus mengemudikan mobilnya agar bisa menghindar dari tabrakan mobil-mobil yang kini mengepung mereka.


"Aku yakin, siapa lagi jika bukan dia?!"


"Tuan, kita dikepung! Kita tidak akan bisa sampai ke tempat tujuan jika seperti ini!" teriak Dex membuat Jakob mulai memutar otaknya.


"Apa kita berhenti saja? Hadapi orang-orang itu!"


"Jangan gila Fedrix! Kita bisa mati jika berhenti!" sahut Davira melalui HT yang saat ini ia genggam.


Tanpa mengatakan apapun, Dex langsung menabrak mobil yang berada tepat di depannya.


"Kita harus menyingkirkan mereka dari jalan!"


"Bagaimana caranya?! Mobil kita hanya lima!" teriak Mario, pria itu terdengar panik karena mobilnya kini dihimpit di antara dua mobil.


Dor.


Praang.

__ADS_1


Kaca jendela mobil Mario langsung pecah seketika.


"Sialan!" merasa tidak terima, Mario tentu saja balas menembak.


Tiba-tiba saja mobil yang Jakob yakini dikemudikan oleh Nathan melaju dengan sangat cepat, menjauh dari depan mereka.


"Apa yang akan dia lakukan?" tanya Luca kebingungan melihat mobil Nathan yang sudah melaju begitu jauh dari mereka.


"Ku rasa ini bukan sesuatu yang baik," gumam Jakob melihat mobil Nathan kini berbalik arah.


Mobil yang dikemudikan oleh Luca dihimpit membuatnya tidak bisa bergerak.


"Siapapun halangi mobil Jonathan! Dia akan menabrak kami!" teriak Jakob melihat mobil Nathan yang melaju ke arah mereka.


"Aku datang!" sahut Liam lalu menabrak mobil yang berada di sekitarnya.


Dor.


Davira berhasil menembak ban dari beberapa mobil yang menghalangi.


"Pegangan yang erat Davira! Akan terasa sakit!"


Jantung Davira terasa berdebar-debar, ia menatap Liam dengan rasa panik yang sudah menyelimutinya sedari tadi.


"Apa maksudmu Liam?!"


Mata Fedrix terbelalak melihat mobil Liam yang melaju mendahului mereka yang saat ini sedang dihimpit.


"Apa yang akan dilakukan Liam?!" teriak Dex menelan salivanya susah payah.


"Jangan gila Liam! Ada Davira di dalam mobilmu!" ucap Jakob saat mobil Liam kini berada di depannya seolah sedang menghadang mobil yang dikemudikan oleh Nathan.


"Tidak ada yang bisa menolongmu! Semuanya juga sedang terperangkap!" sahut Liam lalu melajukan mobilnya ke arah mobil Nathan membuat nafas Davira langsung tercekat.


Nathan yang memang berada di balik kemudi itu kini tersenyum miring, ia semakin menginjak pedal gasnya membuat mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi. Wajah tampannya tampak mengeras dengan sorot matanya yang tajam, setelah sebulan lebih dia mencari-cari keberadaan Davira. Akhirnya dia bisa menemukan wanita itu dan Nathan tidak akan pernah membiarkan Davira terlepas darinya lagi.


Nathan harus meluruskan banyak hal, dia tidak ingin terpisah dari Davira dan dia tidak ingin Davira terus membencinya seumur hidupnya. Untuk kematian neneknya, Nathan masih harus mencari tahunya. Nathan tidak ingin bertindak gegabah, dia merasa tidak yakin jika benar-benar Davira pelakunya.


"Aku datang, Davira," gumamnya.


Davira menatap Liam yang terlihat begitu serius kemudian beralih menatap mobil yang melaju di depan mereka. Tanpa pikir panjang lagi, Davira segera menyembulkan kepalanya di jendela kemudian mengarahkan pistolnya.


Dor.


Davira melepaskan pelurunya beberapa kali, namun sayangnya terus meleset membuatnya berdecak kesal.


"Apa yang kau lakukan Davira?! Duduk dan berpegangan! Mobil ini akan segera tabrakan!"


Davira tidak mendengarkan teriakan Liam, ia memicingkan matanya membidik ban mobil Nathan sebelum menarik pelatuknya.

__ADS_1


Dor.


"Kena!"


__ADS_2