Tawanan Tuan Xie

Tawanan Tuan Xie
Part 40 - Perintah Gayatri


__ADS_3

Nathan melirik sekilas para pengawal yang berjaga di depan pintu apartemen yang ditempati oleh sang nenek. Belum sempat Nathan menekan bel-nya, pintu itu sudah terbuka lebar, memperlihatkan seorang pengawal wanita yang selalu menemani Gayatri.


"Silahkan masuk, Tuan. Nyonya Gayatri sudah menunggu," Elena menyingkir dari depan pintu dan menundukkan kepalanya.


Nathan hanya diam kemudian melangkahkan kakinya memasuki ruangan yang begitu luas dan mewah. Langkahnya terhenti saat matanya sudah melihat keberadaan Gayatri, neneknya itu terlihat tengah duduk di atas sofa sembari menatap beberapa lembar foto yang ada di tangannya.


"Nenek," panggil Nathan membuat Gayatri mengangkat kepalanya.


"Nenek kira kau tidak akan datang," Gayatri meletakan foto-foto itu di atas meja, membuat Nathan bisa melihatnya.


Itu adalah foto-foto kebersamaannya dengan Davira saat berada di mall dan juga di pantai, Gayatri benar-benar telah membuntutinya. Nathan tahu bahwa upayanya pergi ke Roma untuk menyembunyikan Davira akan berakhir sia-sia.


"Duduklah, kenapa berdiri?"


"Apakah akan lama?" tanya Nathan membuat wajah Gayatri yang tadinya begitu ramah berubah menjadi dingin.


"Berdiri kalau begitu," Gayatri mengetuk-ngetukkan ujung telunjuknya pada pinggiran sofa.


"Aku akan duduk," Nathan menarik satu kursi dan duduk berseberangan dengan Gayatri, membuat keduanya kini hanya dipisahkan oleh satu buah meja berbahan kaca.


Nathan menatap foto-foto yang ada di atas meja kemudian mengambilnya.


"Davira terlihat sangat cantik," puji Nathan tidak segan-segan.


Bibir Gayatri sedikit berkedut mendengarnya, Nathan memang begitu berani dan bertindak sesuka hatinya.


"Bunuh wanita itu," ucap Gayatri langsung pada inti dari keinginannya.


"Wanita yang mana? Apakah Laura? Sebutkan satu nama, ada banyak wanita menjijikan yang bisa saja ku habisi," Nathan menatap neneknya datar.


"Wanita simpanan mu, wanita yang ada di dalam foto-foto itu. Habisi dia jika kau masih peduli pada keluarga ini," suara Gayatri terdengar begitu tegas dan penuh desakan.


"Aku selalu peduli pada keluarga ini, buktinya aku masih mau mengurus bisnis dan membuatnya semakin maju. Membunuh Davira tidak akan menguntungkan keluarga ini, kenapa nenek serta ayah dan juga ibu menjadi seperti ini? Ikut campur masalah pribadi yang aku bisa memutuskannya sendiri."


"Keluarga Xie memiliki aturannya sendiri, Nathan. Kau tidak bisa bergerak sesukamu, sudah terlalu banyak aturan yang kau langgar. Dan Davira? Wanita itu tidak seharusnya menjadi pasanganmu, dia putra dari Gaffar Handoko. Kau tahu siapa dia? Musuh kita! Gaffar bahkan pernah mencoba untuk menghancurkan bisnis kita!" suara Gayatri mulai terdengar meninggi.


"Kita juga melakukan hal yang sama, bahkan lebih parah!" sentak Nathan membuat Gayatri tertegun dan melayangkan tatapan tajam kepadanya.


"Aku tidak akan membunuh Davira, apapun yang terjadi, Davira akan selalu bersamaku dan menjadi milikku. Jika karena keluarga Xie memiliki aturan, maka aku akan menghapus nama Xie dari belakangku," ucap Nathan terdengar begitu serius.


Gayatri menatapnya tidak percaya, "Kau jangan gila hanya karena satu wanita Nathan! Ada banyak yang seperti Davira, bahkan lebih!"


"Tidak ada, jangan mengatakan hal itu karena tidak ada yang melebihi Davira di mataku. Aku gila bukan karena Davira, tapi karena kalian. Apa nenek tidak pernah sadar bahwa aku gila karena keluarga ini? Anggota keluarga Xie tidak ada yang benar-benar waras."


Gayatri mengepalkan tangannya kuat dengan mata yang sudah memerah menahan amarah, tidak pernah ada anggota keluarga yang berani melawannya, hanya Nathan dan selalu pria itu.


"Kau akan segera kehilangan Davira, Nathan. Nenek tidak main-main," ancam Gayatri membuat rahang Nathan mengeras mendengarnya.


"Kalau begitu bekerjasama lah dengan ayah dan ibu, mereka sudah menjalankan rencana gila. Sepertinya nenek belum tahu, mereka menyuruh salah satu anak buah keluarga Xie untuk memberitahu Dante mengenai keberadaan ku. Dan nenek tahu apa yang terjadi? Tentu saja Davira berhasil diculik olehnya, tapi apa yang terjadi kepada Dante setelah itu, nenek?"


Gayatri sontak tertegun di tempatnya, ia teringat dengan kabar angin yang sempat ia dengar. Mengenai menghilangnya Dante yang cukup menggemparkan kalangan bawah dan pastinya membuat keluarga Dante menjadi begitu sibuk untuk mencari keberadaannya.


Nathan tersenyum miring, "Percuma nenek datang ke Roma, apakah hanya ancaman itu yang akan nenek berikan? Ku kira nenek akan mengancam akan menghapus ku dari daftar warisan atas semacamnya, ternyata aku salah."


Nathan segera berdiri dan mengambil semua foto yang berada di atas meja. Nathan menatap wajah Gayatri yang tentunya sedang begitu marah kepadanya, tetapi ia sangat yakin bahwa Gayatri tidak akan pernah mengancamnya perihal harta atau masalah bisnis. Karena Gayatri tidak akan mengambil resiko, jika Nathan meninggalkan bisnis dan juga keluarga Xie. Mereka akan kehilangan banyak klien dan citra kuat yang dibangun oleh Nathan setelah kematian kakeknya.


Bahkan Julian sekalipun tidak se-berperngaruh Nathan di dunia bawah.


"Matamu benar-benar sudah buta, apa kau yakin bahwa Davira tidak akan menusukkmu saat kau lengah nanti? Kau yakin wanita seperti dia akan diam saja setelah semua yang terjadi? Davira akan membalas dendam kepadamu, Nathan. Kau akan menyesal karena sudah mempertahankan dia."


"Satu tusukan tidak akan menjadi masalah," sahut Nathan kemudian melangkahkan kakinya menjauh.


Namun baru beberapa langkah, ia kembali berhenti dan segera berbalik.


"Pengambilan fotonya sangat bagus, aku akan membawanya untuk tambahan koleksi."


"Pertemuan satu Juli, jangan melupakannya Nathan. Kau harus datang, seluruh keluarga kita berkumpul di malam itu. Di pertemuan kali ini akan di adakan di Roma," ucap Gayatri dengan masih menahan emosi yang sudah berada di ubun-ubun.


"Aku pasti akan datang ke acara membosankan itu, lagi pula aku memang harus datang bukan? Selalu diharuskan setiap tahunnya."


"Akan ada Emma di sana."


Nathan mengernyit, "Dia bukan anggota keluarga."


"Tapi nenek mengundangnya," ucap Gayatri membuat Nathan tersenyum kecil.


"Aku baru tahu bahwa di pertemuan satu Juli itu ternyata bisa mengundang orang lain dengan bebas," Nathan segera melangkahkan kakinya keluar dari unit apartemen Gayatri.


Gayatri menghembuskan nafasnya kasar kemudian merogoh ponselnya dengan tangannya yang terlihat sudah begitu keriput.


"Davira akan sendirian di dalam mansion Nathan pada tanggal satu Juli, bunuh dia di tempat."


π_π


Davira duduk bersandar dengan kaki yang menyilang dan menampilkan sorot dingin di matanya. Salah satu pelayan terlihat datang dengan membawa nampan kemudian meletakkan minuman serta beberapa kue kering di atas meja lalu pergi begitu saja.


"Ada di mana Nathan? Kau tidak menjawab pertanyaan ku itu sedari tadi," tanya Emma sudah mulai jengah duduk berdua di ruang tamu bersama dengan Davira yang menatapnya dengan penuh intimidasi.

__ADS_1


"Dia akan segera kembali, tunggulah," jawaban yang sama lagi-lagi keluar dari mulut Davira.


Emma menghela nafas panjang kemudian berdiri dari duduknya.


"Ingin ke mana?"


"Aku ingin ke dapur dan memasak makanan untuk Nathan," Emma melangkahkan kakinya ke arah dapur membuat Davira buru-buru mengikutinya.


"Tidak perlu, kau tidak melihat ini jam berapa? Sudah jam 2 siang, untuk apa lagi memasak? Nathan bahkan sudah makan saat bersamaku," ucap Davira, namun tidak membuat Emma menghentikan langkahnya.


"Kalau begitu aku akan membuatkannya kue."


Davira mencibir pelan, "Kau ingin membuat Nathan gemuk?"


"Bisakah kau diam?" Emma menatap Davira dengan tatapan begitu sinis membuat Davira begitu terkejut melihatnya.


Davira tersenyum miring, sekarang sifat asli Emma mulai diperlihatkan kepadanya secara perlahan. Sudah ia duga bahwa Emma memiliki perasaan kepada Nathan, dan Emma pasti tidak menyukai keberadaannya. Emma hanya bersikap munafik, Davira harus selalu waspada.


"Aku tidak bisa diam, tapi sepertinya aku harus meninggalkan mu agar kau bisa fokus membuat kue," Davira geleng-geleng kepala.


"Kenapa kau bersikap seperti pemilik mansion ini, Emma? Apa yang membuatmu sampai-sampai bisa menggunakan dapur di sini tanpa izin terlebih dahulu dari pemiliknya?"


"Tidak perlu izin, aku bahkan memiliki kamar sendiri di mansion ini," jawab Emma lalu menampilkan senyum manisnya.


"Memiliki kamar sendiri?" ulang Davira baru mengetahuinya, namun dia tidak ingin terlihat begitu terkejut.


"Ini sangat tidak adil, kau memiliki kamar sendiri sedangkan aku harus berbagi kamar bersama Nathan. Padahal aku yakin ada banyak kamar di mansion ini," Davira berdecak kesal, namun dengan hati yang bersorak gembira melihat raut wajah Emma.


Davira segera melangkahkan kakinya keluar dari dapur, wanita itu menatap pintu utama yang dijaga ketat. Lebih ketat dari sebelumnya, mungkin karena Nathan merasa khawatir kejadian waktu itu terulang kembali.


"Nona tidak boleh keluar," cegah salah satu pengawal saat Davira baru saja berada di ambang pintu.


"Aku tidak akan kabur, aku hanya ingin menunggu Nathan di taman depan," tunjuk Davira pada taman yang ada di pekarangan mansion.


"Kalian bisa menemaniku, kalian bahkan bisa mengawasiku dari sini," ucap Davira lalu berjalan hingga sampai ke taman yang terlihat cukup indah di matanya.


Ada kolam buatan dan air mancur di sana, beberapa lampu juga terpasang, dia yakin saat malam hari akan terlihat lebih indah. Sayangnya dia selalu berada di dalam kamar ketika malam tiba.


"Kenapa tidak ada bunga?" gumamnya benar-benar tidak mengerti, taman tanpa bunga bukanlah taman baginya.


Davira duduk sembari menatap air mancur yang airnya sesekali terciprat mengenai wajahnya. Merasa bosan, Davira merogoh ponselnya lalu mulai bermain game di sana.


"Sial," umpatnya begitu fokus bermain sampai-sampai tidak menyadari kehadiran Nathan yang sudah berdiri di hadapannya.


"Kenapa bermain di sini?" tanya Nathan membuat Davira mengangkat kepalanya.


"Baru saja, ku lihat ada mobil Emma. Kau tidak di dalam bersamanya?"


"Dia sedang memasak di dapur, aku sudah melarang karena kau sudah makan. Tapi dia mengatakan bahwa akan membuat kue."


"Ingin ke dalam atau di sini?"


"Ke dalam saja, Emma pasti menunggumu. Dia bisa menangis," Davira terkekeh membayangkan wajah Emma yang menangis.


Nathan geleng-geleng kepala mendengarnya lalu meraih tangan Davira untuk ia genggam, mereka berdua segera berjalan memasuki mansion.


"Apa Emma benar-benar memiliki kamar di mansion ini?" tanya Davira hanya untuk sekedar memastikan.


"Iya, tapi sudah lama tidak dia tempati. Itu kamar khusus jika dia sedang menginap."


Davira membulatkan sedikit mulutnya, ada perasaan tidak suka saat mendengar hal itu.


"Kau juga sering tidur bersamanya?"


"Tentu saja tidak, Davira. Aku tidur di kamarku," jawab Nathan begitu cepat.


"Aku tidak percaya," ucap Davira membuat Nathan merasa panik.


"Jangan seperti itu, aku benar-benar tidak pernah tidur bersamanya. Kenapa kau berpikiran seperti itu?"


Davira sontak tertawa melihat raut wajah Nathan yang terlihat begitu panik.


"Kenapa harus panik Nathan? Aku percaya, aku juga tidak marah. Aku tahu bahwa aku adalah satu-satunya yang spesial, apa aku benar?"


Nathan tersenyum tipis mendengarnya kemudian mengusap kepala Davira penuh kasih sayang.


"Kau benar, Davira. Aku bisa tidur lebih cepat hanya jika sedang memelukmu."


Mereka berdua memasuki dapur dengan bergandengan tangan membuat Emma hanya bisa menahan rasa cemburunya dan menampilkan senyumannya kepada Nathan.


"Kau sudah kembali, kau dari mana saja Nathan?"


"Mengurus bisnis," jawab Nathan berbohong, dan Davira tahu.


"Kau pasti sangat lelah, tapi..... bisakah kau menunggu sampai kue ku selesai? Setelah mencobanya kau bisa langsung istirahat."


"Tentu saja aku akan menunggu," sahut Nathan membuat Emma tersenyum kecil.

__ADS_1


Nathan menarik satu kursi untuk Davira duduki.


"Sudah lama di sini?" tanya Nathan sebagai basa-basi.


"Eumm....... cukup lama, kue ku hampiri selesai."


"Kue apa yang sedang kau buat itu?" tanya Davira merasa penasaran.


"Cannoli," jawab Emma singkat, namun masih terdengar ramah.


"Aku suka isian tiramisu," ucap Davira membuat Emma memutar bola matanya merasa malas.


"Aku tidak membuat kue untukmu," batin Emma merasa kesal.


"Tapi Nathan menyukai keju ricotta."


"Benarkah?" tanya Davira menatap Nathan, dia memang tidak mengetahui banyak hal tentang pria itu.


"Iya, Davira," jawab Nathan sembari mengusap lembut pipi wanita itu.


"Aku juga sudah membuat semuanya di isi dengan keju ricotta."


"Baiklah kalau begitu, tidak masalah," Davira tersenyum tipis.


Setelah cukup lama, akhirnya Emma selesai membuat Cannoli. Dia segera meletakkannya di atas meja dengan senyum yang mengembang di wajah cantiknya.


"Makanlah Nathan," suruh Emma membuat Nathan segera memakan kue tersebut, tidak lupa juga Nathan menyuapi Davira yang memang terlihat begitu manja. Namun melihat ekspresi Davira yang sepertinya tidak terlalu menyukai keju ricotta membuat Nathan berhenti menyuapi wanita itu dan buru-buru menghabiskan kuenya bersama dengan Emma.


"Apakah seenak itu?" tanya Emma merasa senang karena Nathan menghabiskan kue buatannya.


"Selalu enak, Emma. Terima kasih."


Tiba-tiba saja dering ponsel Emma terdengar membuat Emma segera mengambilnya dari tas yang ia letakkan di atas meja.


"Aku akan segera pulang, ayah. Aku sedang berada di mansion Nathan," Emma kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas kemudian segera melepaskan celemek yang ia kenakan.


"Nathan, aku harus segera pulang."


"Baiklah, berhati-hatilah. Apa pengawal ku perlu mengantarkan mu sampai ke mansion?"


Bukan tawaran itu yang sebenarnya Emma inginkan, tetapi tawaran Nathan untuk mengantarnya.


"Tidak perlu, Nathan. Aku membawa pengawal ku sendiri, sampai jumpa," Emma memeluk singkat tubuh Nathan kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan dapur.


"Kau ingin isian tiramisu?" tanya Nathan segera berdiri dari duduknya.


"Apa yang ingin kau lakukan?" Davira menatapnya kebingungan.


"Masih banyak sisa adonan, dan aku memiliki tiramisu di sini. Aku akan membuatkannya untukmu."


"Kau bisa?"


"Aku sering melihat Emma membuatnya, maaf karena tidak menyuruh Emma membuatkan isian tiramisu untukmu. Aku hanya tidak ingin dia tersinggung."


"Tidak masalah, aku merasa lebih senang karena kau lah yang akan membuatkannya untukku," Davira menarik kursinya agar lebih dekat.


Nathan terkekeh melihatnya, ia segera menggulung lengan kemejanya hingga lengannya yang kekar kini terlihat. Davira menatapnya dengan perasaan yang semakin membesar.


"Bagaimana bisa kau melakukan apapun untukku, Nathan?" batin Davira benar-benar tidak bisa menepis perasaannya kepada Nathan. Tetapi otaknya masih terus saja menyangkalnya.


"Apa yang nenekmu katakan? Aku yakin dia menyuruhmu menemuinya untuk membicarakan tentangku," Davira merasa penasaran.


"Kau benar, dia membicarakan tentangmu."


"Dia menyuruhmu melepaskan aku?" tanya Davira membuat Nathan tertegun untuk sejenak.


"Dia menyuruhku untuk membunuhmu," jawab Nathan tanpa berusaha untuk menutup-nutupi.


Davira mengerjapkan matanya, "Jujur sekali."


"Kau akan melakukannya?" Davira mengangkat satu alisnya.


Nathan menggeleng pelan kemudian berbalik untuk menatap Davira, Nathan melangkah mendekat kemudian berjongkok di hadapan Davira yang sedang duduk.


"Tidak akan ku lakukan hal gila itu, aku juga akan mati jika aku melakukannya, Davira."


Davira mengusap kepala Nathan pelan dengan senyuman tipis yang ia perlihatkan.


"Kau menentang seluruh keluargamu, kau.....tidak merasa takut?"


"Tidak, sedari awal aku sudah menentang mereka," jawab Nathan.


"Apa kau benar-benar akan terus menjadikanku tawanan mu? Menyimpan ku agar aman dari keluargamu?"


Nathan mengusap wajah Davira dengan tangannya yang kotor membuat Davira terkekeh geli.


"Aku akan memperlihatkan mu kepada seluruh keluarga Xie pada pertemuan satu Juli, mereka akan melihatmu sebagai pasanganku. Bukan tawanan apalagi simpanan ku."

__ADS_1


__ADS_2