
Amara dan Laura keluar dari mansion dengan hati yang bergemuruh, Amara benar-benar tidak menyangka akan diperlakukan seperti itu oleh putranya sendiri. Dia masih tidak percaya bahwa Nathan berani melawannya hanya untuk membela Davira.
Walaupun selama ini dia tahu Nathan memang keras kepala dan tidak bisa di atur, namun Amara tidak pernah menyangka Nathan akan bertindak sampai sejauh ini. Putranya itu benar-benar membuatnya habis kesabaran, dia tidak bisa membiarkan Davira yang notabenenya adalah putri dari Gaffar Handoko menjadi bagian dari hidup Nathan.
Sampai kapanpun dia dan seluruh keluarga Xie tidak akan mungkin menerimanya. Amara memasuki mobilnya, begitu juga dengan Laura.
"Ke mana tujuan selanjutnya, Nyonya?"
pertanyaan dari supir pribadi yang sedari tadi menunggu di abaikan begitu saja oleh Amara, wanita itu kini menyandarkan punggungnya dengan tangan yang terkepal kuat.
"Tante, tenanglah. Aku juga terkejut, Nathan benar-benar sudah keterlaluan," Laura meraih tangan Amara yang berada di atas paha.
"Tante tidak bisa membiarkan Davira terus menerus berada di dekat Nathan, karena wanita itulah Nathan sampai melawan Tante dan juga neneknya. Dia bahkan tidak menghiraukan peringatan ayahnya waktu itu, semenjak mengenal Davira, Nathan semakin sulit dikendalikan. Padahal sedari awal kami sudah melarang, tetapi dia tetap tidak mau mendengarkan."
Wajah Amara yang putih bersih terlihat memerah karena merasa marah, dia begitu ingin menampar wajah Davira. Apalagi saat wanita itu tersenyum penuh kemenangan kepadanya saat Nathan ingin membawanya pergi.
"Aku tidak mengerti mengapa Nathan sampai tergila-gila seperti itu kepada Davira, ku akui dia memang sangat cantik. Tapi ada banyak sekali perempuan cantik selain Davira, tapi yang ada di matanya hanya wanita itu, Tante. Ku pikir awalnya Nathan hanya merasa penasaran dan hanya ingin bermain-main, tapi melihat bagaimana perlakuannya hari ini kepada kita. Sepertinya Nathan benar-benar sudah jatuh hati dan terperangkap dengan kecantikan Davira, Tante. Ini......sangat berbahaya, Tante lihat kedekatan mereka?"
Amara menganggukkan kepalanya, "Tante lihat mereka sangat dekat saat pertama kali kita masuk ke dalam ruang kerja Nathan, sepertinya hubungan mereka sudah sangat jauh. Dan Tante merasa Davira memang bukan wanita baik-baik, tidak mungkin ada wanita yang ingin menjalin hubungan sedekat itu dengan seorang pria yang sudah menghancurkan pernikahannya dan membunuh calon suaminya. Hanya Davira, Tante yakin dia memiliki tujuan."
"Aku juga berpikiran seperti itu, Tante. Davira itu licik dan juga pintar, Tante lihat bagaimana caranya tersenyum kepada kita? Aku benar-benar merasa muak melihatnya, dia seolah-olah sedang mengejek kita!" Laura merasa sangat kesal dan juga takut secara bersamaan.
Laura sudah tidak memiliki kesempatan untuk bisa mendekati Nathan, dan perkataan pria itu begitu menyakiti hatinya. Sekarang dia harus memanfaatkan kedekatannya dengan Amara untuk bisa menyingkirkan Davira, wanita itu yang sudah menyebabkan dirinya kehilangan Nathan. Laura harus menjadi bensin untuk Amara, tidak akan ia biarkan kemarahan Amara padam begitu saja sebelum mereka berhasil membakar Davira.
"Tante akan memberitahu suami Tante dan juga Ibu, mereka lebih tahu apa yang harus dilakukan. Davira pastinya akan dilenyapkan oleh mereka berdua," Amara tahu betul bahwa ibu mertuanya tidak pernah menyukai keluarga Handoko dan pastikan tidak akan terima jika cucunya berhubungan dengan Davira.
"Apakah sebaiknya kita memakai cara halus? Tante bisa tetap memberitahu Om Julian dan juga Nyonya Gayatri, tapi cobalah gunakan cara yang lebih rapi dan aman. Jika Davira tiada karena Tante ataupun Om Julian, maka yang akan kita dapatkan hanyalah kemarahan Nathan yang berkepanjangan. Aku merasa hal itu berbahaya untuk Tante dan juga keluarga Xie. Jadi......pikirkanlah cara yang akan membuat tangan kita tetap bersih, cari kambing hitam untuk perantara kematian Davira."
Amara sontak tertegun mendengarnya, dia tidak berpikiran sampai ke situ karena sekarang sedang diliputi oleh amarah membuatnya ingin bertindak gegabah.
"Apa yang kau katakan itu benar sekali, Laura. Kau sangat pintar, Tante tidak ingin memiliki masalah dengan putra Tante sendiri jika Davira berhasil kita lenyapkan nanti. Biarkan orang lain yang mendapatkan amukan Nathan."
Laura tersenyum tipis mendengarnya, dia tidak sabar menunggu Amara ataupun Julian bergerak. Dia yakin jika mereka berdua sudah mengambil tindakan, maka tidak akan ada lagi yang bisa membuat Davira bernafas, termasuk Nathan sekalipun.
π_π
Davira memejamkan matanya dengan tubuh yang tenggelam di dalam bathtub, aroma wangi yang begitu menenangkan kini terhirup di rongga hidungnya. Davira perlu ketenangan karena sejak kemarin perkataan Amara terus saja terngiang-ngiang di kepalanya. Davira tidak pernah dan tidak akan melupakan hinaan itu. Tapi sekarang dia harus menyingkirkannya terlebih dahulu agar kewarasannya tetap terjaga.
Suara alunan musik dari ponsel pemberian Nathan kini terdengar.
"I can make your life a livin' hell
If I wanted to, wanted to~~"
"Wish this was a love you never felt
And you know it's true, know it's true."
"Love me, love me
Trust me with that heart of yours."
"Feels so heavy
Lying on the bedroom floor."
"I can make your life a livin' hell
If I wanted to, wanted to~~"
Suara Davira yang memang bagus kini terdengar mengikuti lirik lagu yang dinyanyikan oleh Bella Poarch. Davira terus bernyanyi untuk menghilangkan rasa stresnya, dia tenggelam dalam dunianya sendiri hingga tidak menyadari bahwa saat ini satu pasang mata tengah memandanginya.
__ADS_1
"Aku sudah tidak terkejut, sudah ku duga bahwa suaramu memang sebagus ini."
Davira tersentak mendengar suara Nathan dan sontak membuka matanya, di ambang pintu kamar mandi terlihat Nathan yang berdiri menjulang tinggi. Mata Davira melotot seolah akan keluar dari tempatnya.
"Aku yang terkejut bodoh!" teriak Davira semakin menenggelamkan tubuhnya ke dalam bathtub besar penuh busa itu.
"Kenapa kau masuk ke sini? Aku tahu ini adalah mansion mu, tapi seharusnya kau tahu dan mengerti tempat apa saja yang tidak boleh kau masuki di kamar ini!"
"Aku bebas memasuki semua tempat, termasuk kamar mandi yang ada di kamar ini," sahut Nathan membuat Davira menggeram marah.
"Dasar pria mesum!" bentak Davira begitu jengkel.
"Mesum? Aku bahkan tidak melihat apapun selain kepalamu, lagi pula aku akan langsung memperkosa mu di hari pertama aku menculikmu jika aku adalah pria yang mesum," elak Nathan tidak terima.
Davira tertegun untuk sejenak, "Tetap saja kau adalah pria yang mesum, masuk ke sini tanpa izin. Kau juga pernah mencium ku, apakah itu bukan mesum namanya?"
"Itu ungkapan perasaan, bukan mesum," jawab Nathan membuat Davira memutar bola matanya.
"Sekarang katakan, kenapa kau sampai harus menemui ku di sini?" tanya Davira merasa penasaran.
"Aku akan mengatakannya nanti, selesaikan urusanmu sekarang dan cepatlah keluar," Nathan segera keluar dan menutup pintu kamar mandi membuat Davira menghela nafas lega.
"Aaaa!"
"Ingat Davira, langsung keluar dari bathub karena aku tidak ingin menunggu lama. Kita tidak memiliki banyak waktu," Nathan menyembulkan kepalanya di antara celah pintu yang dia buka.
Davira begitu kaget sehingga tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Melihat pintu yang kembali tertutup, Davira segera keluar dari bathtub tanpa mengenakan sehelai benangpun. Dengan cepat ia mengunci pintu kamar mandi dan membilas tubuhnya di bawah derasnya air shower.
Setelah di rasa bersih, Davira segera memasang handuk kimono berwarna putih ke tubuhnya. Tidak lupa dia membungkus rambutnya yang basah dengan menggunakan handuk, dia keluar dari kamar mandi dan hanya melirik sekilas Nathan yang sedang duduk di sofa.
Davira masuk ke dalam walk in closet dan tercengang ketika melihat ada dua pelayan yang terlihat sedang mengemas beberapa pakaiannya dan memasukkannya ke dalam koper.
"Nona ingin membawa ini?" bukannya menjawab, salah satu dari pelayan itu malah balik bertanya sembari menunjukkan satu set perhiasan berbentuk kupu-kupu kecil dengan berlian yang tentu saja menghiasinya.
"Jawab, Davira. Mereka bertanya, ada banyak perhiasan dan pakaian yang belum pernah kau kenakan. Akan kita bawa jika kau mau, tapi jika tidak ingin, maka kita bisa membeli yang lain saat sudah tiba di sana."
Tiba-tiba saja Nathan datang dan memeluknya dari belakang, pria itu bersikap seolah-olah mereka adalah sepasang kekasih yang akan berpergian.
"Tunggu, kenapa barang-barang itu dimasukkan ke koper? Apakah kau mengusirku? Atau aku akan dilepaskan? Kau ingin mengembalikan aku ke Sevilla?" tanya Davira merasa was-was, pasalnya dia belum berhasil balas dendam kepada Nathan ataupun keluarga Xie.
"Apakah dia sudah mulai bosan denganku?" batin Davira bertanya-tanya.
"Bukankah sudah ku katakan berkali-kali bahwa aku tidak akan pernah melepaskan mu?" bisik Nathan di telinganya sehingga Davira bisa merasakan hembusan nafas pria itu.
"Lalu kita akan ke mana?" tanya Davira tanpa sadar membiarkan Nathan terus memeluknya dari belakang.
"Ke suatu tempat, yang lebih aman dan tidak akan diketahui oleh siapapun. Tempat ini sudah diketahui oleh ibuku dan aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu," jawab Nathan membuat Davira terdiam selama beberapa saat.
Davira bisa merasakan perubahan sikap Nathan dan caranya berbicara, pria itu menjadi lebih lembut ketika dia menjadi gadis penurut seperti sekarang ini. Padahal dulu dia selalu mendapatkan tatapan mengintimidasi dan perkataan yang penuh dengan ancaman.
"Jadi kau ingin melindungiku dari ibumu?"
"Dari semua orang yang berbahaya untukmu, sekarang pilihlah pakaian-pakaian yang ingin kau bawa. Dan bawalah beberapa perhiasan itu, aku membelikannya untukmu. Tapi kau tidak pernah memakainya."
"Aku selalu berada di mansion ini, untuk apa memakai perhiasan?"
"Untukku," jawab Nathan kemudian menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Davira dan menghirup aroma tubuh wanita itu dalam-dalam.
Kedua pelayan yang berada di sana hanya bisa mengalihkan pandangan mereka dan tetap fokus mengerjakan tugas mereka, melihat Nathan yang begitu memuja Davira membuat mereka cukup terkejut karena Nathan tidak pernah seperti itu kepada wanita lain.
"Nathan, lepaskan!" teriak Davira sengaja agar dia tidak dicurigai, jika dia terlalu pasrah dan menerima setiap perlakukan Nathan, maka pria itu lama kelamaan akan merasa curiga dengan perubahan sikapnya.
__ADS_1
Davira menatap Nathan tajam setelah pria itu melepaskan pelukannya, Davira melepaskan handuk dari kepalanya kemudian melangkahkan kakinya untuk memilih beberapa perhiasan yang semuanya terlihat sangat indah di matanya. Davira melirik ke arah Nathan, perhiasan-perhiasan yang tersedia semuanya sesuai dengan seleranya.
"Bagaimana bisa Nathan mengetahui seleraku mengenai perhiasan?" Davira membatin dengan perasaan yang tidak karuan.
Nathan mengetahui begitu banyak tentangnya, bahkan hal terkecil yang sebenarnya tidak terlalu penting sekali pun.
Davira terpaku ketika matanya melihat satu kalung liontin, dia segera membuka lemari kaca itu dan mengambilnya, liontin berbentuk huruf X dan D kecil yang menyatu terlihat begitu indah dengan taburan berlian kecil pada kedua huruf itu.
"Kau ingin memakainya?" tanya Nathan menghampiri.
Davira hanya mengangguk pelan dengan mata yang tidak lepas dari Nathan, entah mengapa hatinya terasa hangat ketika mendapat perlakuan seperti ini dari Nathan.
Nathan tersenyum tipis kemudian mengambil alih liontin itu dari tangan Davira, Nathan bergerak mendekat dan memakaikan liontin itu dengan kedua tangan yang seakan sedang memeluk Davira. Tanpa sadar, jantung Davira terasa berdebar-debar saat wajah Nathan berada tepat di samping wajahnya.
"Sudah sangat lama aku ingin melihatmu menggunakan kalung ini," gumam Nathan kemudian bergerak sedikit mundur untuk melihat bagaimana tampilan kalung itu di leher Davira yang jenjang.
"Sangat cantik," puji Nathan membuat Davira segera menatap ke arah cermin.
"Kalungnya memang indah, kau memesan ini bukan?"
"Aku memesan ini setahun yang lalu, saat tanggal 2 Desember," jawab Nathan membuat Davira mengusap kalung itu dengan perasaan yang tidak bisa ia jelaskan.
"Itu adalah ulang tahunku."
"Kalung ini adalah hadiah yang seharusnya ku berikan setahun yang lalu, tapi karena aku tahu kau tidak akan pernah memakai hadiah dariku. Aku memutuskan untuk menyimpannya," ucap Nathan menjelaskan.
Davira meremas kuat handuk yang sekarang ia pegang, Davira menggelengkan kepalanya pelan mencoba untuk menepis sesuatu yang dirasakan oleh hatinya. Davira segera melangkahkan kakinya untuk melihat-lihat perhiasan lainnya.
"Aku ingin ini dibawa, ini juga," Davira menunjuk beberapa perhiasan indah yang ingin ia kenakan nantinya.
Setelah selesai memilih beberapa, kedua pelayan itu segera membawa 2 koper besar berisi barang-barang Davira keluar dari walk in closet dan membiarkan Davira mengganti pakaiannya di dalam sana.
π_π
Angin kencang meniup rambut panjang Davira, membuatnya berkibar ke sana kemari dengan begitu indahnya. Davira melangkahkan kakinya dengan tangan yang digenggam erat oleh Nathan. Davira menatap para pengawal yang terus mengikuti mereka dari balik kacamatanya.
"Kenapa harus membawa banyak sekali pengawal?" tanya Davira merasa penasaran.
"Hanya untuk berjaga-jaga," jawab Nathan singkat.
"Apakah posisiku sangat tidak aman?"
"Posisimu aman selagi kau bersamaku, Davira."
"Apa ibumu sudah mengadukan tentang kejadian kemarin kepada Tuan besar Xie dan juga Nyonya Gayatri?" Davira terus bertanya agar rasa penasarannya menghilang.
"Aku tidak tahu, aku tidak peduli."
Para pramugari terlihat berjejer dengan rapi menyambut kedatangan mereka berdua, kata-kata sambutan terdengar dengan menggunakan bahasa Jepang. Setelah itu, Davira dan Nathan segera menaiki undakan tangga satu persatu hingga pada akhirnya mereka berada di dalam jet pribadi milik Nathan.
Di dalam sana terlihat begitu mewah dengan interior yang sangat elegan.
"Nathan, kau belum menjawab pertanyaan ku yang sebelumnya," Davira melepaskan kacamatanya.
Ia segera duduk di kursinya kemudian mengambil botol wine dan menuangkannya ke dalam gelas yang sudah disediakan di atas meja, Davira menyesapnya pelan sembari melirik Nathan.
"Pertanyaan yang mana?" tanya Nathan pura-pura tidak mengerti, pria itu mendekat dan mengambil alih gelas berisi wine dari tangan Davira lalu menegaknya hingga tandas. Dia minum tepat dibekas bibir Davira.
"Ke mana tujuan kita sebenarnya? Aku ingin tahu, Negera apa lagi yang akan kau gunakan untuk menawanku."
Nathan terkekeh kecil, "Kita akan ke Italia, lebih tepatnya Roma. Aku tahu kau menyukai Negera itu."
__ADS_1