Tawanan Tuan Xie

Tawanan Tuan Xie
Part 77 - Terbongkar


__ADS_3

Jantung Atvita terasa berdebar-debar, perasannya tidak karuan sejak mereka tiba di Spanyol. Setelah sekian lama, akhirnya dia kembali negara yang penuh akan kenangan.


Atvita pernah berjanji kepada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan pernah lagi ke Spanyol setelah kejadian itu, namun sepertinya takdir berkata lain. Nyatanya sekarang dia kembali dengan pikiran yang terus mengingat tentang pria itu.


"Are you alright?"


Pertanyaan Aaron sontak membuat Atvita tersadar dari lamunan panjangnya, wanita itu langsung menoleh kepada Aaron yang tengah menyetir.


Atvita hanya mengangguk sebagai jawaban membuat Aaron menghela nafas panjang.


"Kau seperti patung, Atvita. Selama perjalanan kau tidak bicara sama sekali," keluh Aaron membuat Atvita tersenyum tipis.


"Sejak kapan kau senang berbicara? Biasanya kau akan marah jika aku terlalu banyak bicara, sekarang aku diam. Jadi fokus saja menyetir."


"Kau memikirkannya, berharap akan bertemunya di sini? Ayolah Atvita, Spanyol luas. Kalian tidak akan bertemu, dan jika seandainya aku melihatnya, maka aku akan langsung membunuhnya."


Atvita memutar bola matanya malas, "Jangan coba-coba melakukannya, Aaron. Aku akan membencimu jika itu terjadi."


Aaron terkekeh sembari sesekali melirik adiknya itu.


"Sudah ku duga kau masih mencintainya, kau harus mulai melupakannya, Atvita. Dia sudah mempermainkanmu."


Atvita menghela nafas kasar mendengarnya kemudian memilih untuk memalingkan wajahnya, memperhatikan rumah-rumah yang berjejer di pinggir jalan.


"Shitt, kenapa Nathan cepat sekali?" Aaron segera menambah kecepatan laju mobilnya agar tidak tertinggal dari Nathan yang berada di depan mereka.


"Kau yang terlalu lambat Aaron."


"Diam Atvita!" Aaron mulai kembali fokus mengemudi saat mobil Nathan mulai menghilang dari pandangannya.


"See? Tadi kau menyuruhku untuk bicara dasar bodoh."


"Jangan mengumpat padaku baby," tegur Aaron sembari membunyikannya klaksonnya agar Nathan sedikit memelankan laju mobilnya.


"Nathan ingin balapan atau apa? Mobil ini tidak bisa secepat itu dasar orang gila!" teriak Aaron merasa kesal.


Kedua mobil yang dikemudikan oleh dua pria berwajah tampan itu terus melaju hingga akhirnya Nathan berhenti terlebih dahulu di depan gang yang ukurannya cukup sempit.


"Kau ingin balapan hah? Kita bisa balapan lain waktu! Dengan mobil yang lebih cepat," Aaron turun dari mobilnya bersama dengan Atvita dengan rasa kesal kepada Nathan.


"Aku hanya ingin cepat," sahut Nathan lalu melangkahkan kakinya menyusuri gang itu.


Beberapa anak-anak terlihat bermain bola dan para penduduk sekitar mulai memperhatikan mereka bertiga.


"Ide bodoh, kita ke sini tanpa satupun pengawal," bisik Atvita yang kini menggandeng lengan kakaknya.


"Kami berdua bisa melindungimu, lagi pula mereka tidak akan macam-macam mereka hanya penduduk biasa."


"Maksudku bukan penduduknya, tapi Dario Steffano, bagaimana jika dia memiliki banyak teman atau anak buah?"


Aaron berdecak, "Dia hanya seorang security, dan dia tidak memiliki satu orang pun keluarga di sini. Steffano benar-benar kabur ke tempat yang asing untuknya, mungkin dia berpikir dengan begitu dia akan sulit ditemukan, pemikiran bodoh."


"Bisakah kau berhenti mengumpat Aaron? Aku tidak ingin mendengarnya," ucap Atvita merasa jengah.

__ADS_1


"Siapa itu?" tanya Atvita saat seorang pria menghadang mereka.


"Tenang saja, dia yang memberi kita informasi," jawab Nathan kemudian menghampiri pria berpenampilan urakan itu.


"Apa Dario Steffano benar-benar berada di rumah yang kau maksud?" tanya Nathan yang mana langsung mendapat anggukan kepala darinya.


"Dia ada di dalam rumahnya, Tuan. Dario sangat jarang keluar rumah. Dia terus mengurung diri, sekarang aku tahu apa alasannya, ternyata dia sedang dicari oleh orang-orang seperti anda."


"Ini untuk informasi yang ku dapatkan darimu," Nathan memberikan beberapa lembar uang cash karena sebelumnya Paul sudah mentransfer kepada pria itu, Nathan hanya ingin memberi bonus atas informasi penting yang dia dapatkan.


"Tapi saya sudah mendapatkannya Tuan," ucap pria itu namun tetap menerima uangnya sembari terkekeh.


"Tidak ada orang yang datang sebelum kami bukan?" tanya Aaron memastikan.


"Tidak ada, kalian bisa langsung mendatanginya. Aku yakin dia ada di dalam."


"Tunggu apa lagi Nathan? Kita harus segera menanyainya, aku yakin dia terlibat. Tidak mungkin jika dia sampai pergi sejauh ini jika tidak karena terlibat dalam kasus pembunuhan nenek."


Nathan mengangguk kemudian melangkahkan kakinya terlebih dahulu, diikuti oleh Aaron dan juga Atvita di belakangnya.


Tanpa pikir panjang, Nathan langsung mendobrak pintu kayu di depannya membuat Dario yang sedang berada di dalam kamarnya terperanjat kaget.


Nathan dan Aaron segera masuk, melihat seorang pria yang berlari ke arah belakang membuat keduanya buru-buru mengejarnya.


Atvita yang melihatnya segera berlari secepat mungkin memutari rumah hingga bertemu dengan seorang pria yang ia yakini adalah Dario.


Bughh.


Sebuah pukulan langsung Atvita layangkan ke wajah Dario yang baru saja keluar melalui pintu belakang rumahnya.


Bughh.


Atvita menendang perut Dario hingga pria itu tersungkur ke tanah.


"Bagus Atvita!" seru Aaron membuat Atvita tersenyum kecil.


Sedangkan Nathan langsung menindih tubuh Dario dan melayangkan tinjunya ke wajah pria itu.


Bughh.


Bughh.


"Akhhh!"


Dario mencoba untuk melawan, namun tangannya langsung diinjak oleh Aaron membuatnya berteriak kesakitan dan tidak bisa bergerak sama sekali.


"Katakan! Kau yang sudah meracuni nenekku?!" teriak Nathan sembari menarik kerah baju Dario.


"Akhh.....bu-bukan saya yang meracuninya," jawab Dario diiringi dengan ringisan, sudut bibirnya yang pecah membuatnya kesulitan berbicara.


Bugh.


"Jangan berbohong kepada kami! Kau akan ku bunuh bang*sat!" umpat Aaron dengan terus menginjak tangan Dario, membuat tangan pria itu terasa akan patah.

__ADS_1


"Arghh! Me-memang bukan saya pelakunya!"


"Berhenti mengelak, kau sudah membuat Davira tertuduh!" Nathan kembali melayangkan tinjunya berkali-kali hingga wajah Dario terlihat membiru dan memerah karena darah.


Atvita segera menahan lengan Nathan sembari mendorong tubuh Aaron agar berhenti menginjak tangan Dario.


"Jangan sampai dia pingsan, kita harus cepat. Kita tidak bisa menunggunya hingga sadar dari pingsannya, aku yakin dia akan mengaku."


"Katakan, kau yang sudah meracuni nenek kami? Nyonya Gayatri, kau adalah salah satu security yang berjaga di luar gedung pada malam itu. Aku yakin kau terlibat, kau hanya orang biasa, jadi pasti ada seseorang yang menyuruhmu bukan? Sekarang katakan siapa dia?" tanya Atvita sembari berjongkok.


"Akhh.....bukan saya yang meracuninya, benar-benar bukan saya. Saya tidak membunuh siapapun," Dario meringis kesakitan.


Nathan menatapnya tajam kemudian menarik tangannya dari cekalan Atvita.


"Katakan semua yang kau tahu, karena aku yakin kau mengetahui sesuatu."


Dario menelan salivanya susah payah, dia sudah tahu hal ini akan terjadi. Dia pasti akan ditemukan keluarga Xie atau orang-orang Emma, ini hanya masalah waktu. Dan sekarang adalah waktunya, entah apa yang akan terjadi kepadanya jika mengatakan semuanya saat ini. Namun mengaku ataupun tidak, dia merasa bahwa dia tetap akan mati.


"Waktu itu saya tidak sengaja mendengar pembicaraannya dan saya di ancam, saya dipaksa terlibat. Arghh...... saya tidak pernah ingin berada di situasi ini, tapi saya di ancam. Saya terpaksa mengambil semua rekaman cctv itu karena saya tidak ingin keluarga saya dibunuh. Saya memang terlibat, tapi saya hanya mengambil rekaman cctv. Bukan meracuni, dia sendiri yang melakukannya."


Bughh.


"Akhhh!"


"Katakan, siapa dia yang kau maksud?" tanya Nathan sembari menahan amarahnya.


Dario tidak langsung menjawabnya, jujur saja dia merasa begitu takut. Entah mengapa dia merasa benar-benar akan mati setelah ini.


"Sebaiknya kau mengatakan siapa pelaku yang sebenarnya karena saat ini anak dan istrimu diculik oleh dia yang kau maksud! Anak istrimu tidak ada di rumah, jika kau mengatakannya maka kami akan tahu siapa pelakunya dan istri serta anakmu bisa kami selamatkan."


Mata Dario seketika membulat mendengarnya, dia kira Emma hanya akan mencarinya, tapi ternyata Emma benar-benar melibatkan anak serta istrinya yang tidak bersalah.


"Anak dan istrinya bukan urusan kita Emma," ucap Aaron tidak setuju.


"Jika kita tahu siapa pelakunya, kita bisa membunuhnya dan menyelamatkan keluarga Steffano, dia juga korban."


"Kau mempercayainya?"


"Aku percaya, aku melihat dia sangat ketakutan dan tertekan. Tidak ada salahnya menyelamatkan keluarganya."


Mendengar hal itu membuat Dario memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya. Karena jika sekarang dia berbohong, maka dia akan mati di tangan keluarga Xie dan keluarganya mati di tangan Emma.


"Sekarang katakan, kamu tidak memiliki banyak waktu, begitu juga anak dan istrimu."


"Akhh......Emma Scott, dia pelakunya!"


Nathan, Aaron dan juga Atvita sontak tertegun di tempat mereka. Ketiganya saling bertatapan satu sama lain merasa tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.


Atvita mengerjapkan matanya beberapa kali, dia merasa begitu terkejut mendengar nama yang disebutkan oleh Dario. Nama yang tidak pernah ia pikirkan sama sekali, ini benar-benar di luar dugaannya.


Sedangkan Nathan kini segera menyingkir dari tubuh Dario dengan perasaan yang tidak karuan, tidak ia sangka bahwa Emma benar-benar akan melakukan hal yang begitu gila. Dia tahu Emma sangat terobsesi kepadanya, dan rela melakukan apapun untuknya, termasuk mengorbankan nyawanya sendiri.


Maka dari itu Nathan selalu berusaha menjaga jarak agar Emma sadar bahwa Nathan tidak akan pernah mencintainya bahkan saat wanita itu sudah berkorban nyawa untuknya. Namun ternyata Emma malah menjadi semakin gila.

__ADS_1


Sekarang dia mengerti, Emma melakukan semua ini untuk memilikinya. Membunuh neneknya di acara pertemuan keluarga saat Davira ada, itu adalah ide yang benar-benar licik dan membahayakan nyawa Davira. Emma ingin Davira mati di tangan keluarga Xie, Emma ingin menyingkirkan Davira dari kehidupannya.


"Kenapa kau harus bertindak nekad seperti ini Emma? Sekarang aku harus apa?"


__ADS_2