Tawanan Tuan Xie

Tawanan Tuan Xie
Part 25 - Melarikan Diri


__ADS_3

Setelah mencampurkan banyak obat-obatan berbentuk sirup ke dalam satu botol, Davira segera keluar dari ruang kerja Nathan. Dia berlalu begitu saja tanpa memperdulikan mayat kedua pengawal yang tergeletak di lantai. Davira tidak menyesali perbuatannya, karena kedua pengawal itu memang pantas untuk meninggal.


Davira hanya terkejut, ia tidak menyangka jika obat-obatan yang ia campurkan sampai bisa langsung membunuh orang. Padahal awalnya dia hanya berniat membuat kedua pengawal itu pingsan. Davira segera pergi menuju dapur, ia mengintip lima juru masak yang masih sibuk berkutat dengan pekerjaan mereka.


Merasa tidak memiliki kesempatan untuk menyelinap ke dapur, Davira memutuskan pergi ke ruang makan.


"Makanannya sudah siap, Nona," pelayan yang tadi berbicara dengannya langsung menyambut kedatangannya.


Terlihat beberapa hidangan di atas meja, aromanya cukup mampu menggugah selera Davira. Dan hal itu membuat perutnya mulai meronta-ronta meminta untuk segera di isi.


Davira duduk di kursi dan mulai memakan apa yang disajikan untuknya di atas meja, ia mengunyah makanan yang masuk ke mulutnya dengan mata yang terus melirik ke arah dapur.


"Kenapa para koki itu sangat lama memasak? Kapan makanan itu akan disajikan?" tanya Davira sudah tidak sabar lagi untuk menjalankan aksinya.


"Sebentar lagi mereka selesai, Nona. Kami akan makan secara bergantian," jawab pelayan itu membuat Davira membulatkan sedikit mulutnya pertanda mengerti.


Davira mulai fokus dengan makanannya hingga perutnya terasa kenyang, Davira merasa bersyukur karena masih memiliki kesempatan untuk bisa mengisi perutnya sebelum kabur dari mansion milik Nathan yang sudah mengurungnya selama berminggu-minggu. Davira harus mengisi energinya karena dia tahu bahwa melarikan diri dari tempat ini akan sangat menguras tenaganya.


Pelayan yang sedari tadi menunggu Davira selesai segera membereskan piring dan mangkuk kotor dari hadapan Davira, senyuman lebar kini tercetak di wajah cantik wanita itu ketika ia melihat para juru masak telah meninggalkan dapur.


Ting!


Terdengar suara lonceng yang menggema ke segala penjuru ruangan, Davira yakin itu adalah lonceng pertanda waktu makan siang bagi para pengawal ataupun pelayan. Karena selama berada di mansion ini, Davira cukup sering mendengarnya.


Davira segera masuk ke dalam dapur dengan mengendap-endap, dapur itu terlihat kosong dan sudah bersih. Entah ke mana perginya ke-lima juru masak tadi, Davira mulai mengeluarkan botol berisi campuran obat-obatan yang dia racik.


Aroma masakan menguar di dapur itu, ia menatap panci berukuran besar membuatnya segera menghampiri. Davira membuka penutupnya, terlihat sup ayam lada hitam yang begitu menggoda.


Tanpa ingin membuang banyak waktu, Davira buru-buru menuangkan racikan obatnya ke dalam sup itu lalu mengaduknya hingga tercampur rata.


"Mungkin ini adalah awalan yang pas untuk membalaskan dendam ku, Nathan. Kau sudah membantai keluargaku, dan sekarang aku akan membantai para pengawal mu terlebih dahulu," batin Davira sembari menutup kembali panci itu.


Melihat beberapa pelayan yang datang membuat Davira segera bersembunyi di balik lemari. Ia memperhatikan puluhan pelayan yang tampaknya bertugas untuk menyediakan makan. Sup yang sudah dia beri racun kini dituangkan ke dalam beberapa mangkuk, para pelayan itu membawa makanan-makanan yang ada di dapur secara bertahap.


Mata Davira terus mengikuti sampai pelayan terakhir keluar, Davira segera mengikuti langkah mereka. Lorong demi lorong ia lewati hingga ia menemukan sebuah ruangan besar dengan meja dan kursi yang begitu banyak, cukup mirip dengan ruang makan para pengawal di mansion nya.


Puluhan pengawal terlihat berkumpul, sedangkan para pelayan mulai menyajikan makanan yang mereka bawa di atas meja.


Davira bersorak gembira melihat para pengawal yang makan dengan lahap, Davira segera memanggil salah satu pelayan.


"Apakah semua pengawal berada di sini dan makan?" tanya Davira ingin memastikan.


"Tidak, Nona. Para pengawal makan secara bergantian agar mansion ini tetap terjaga dengan aman."


Davira mengumpat dalam hati mendengar jawaban pelayan itu. Tanpa mengatakan apapun lagi, Davira segera membawa langkah kakinya ke arah pintu utama. Dan benar saja, di sana terlihat ada lima pengawal yang berjaga di sisi kiri dan kanan pintu.


Merasa begitu kesal dan khawatir para pengawal yang makan sudah tiada, Davira segera kembali ke kamarnya dan memikirkan cara agar bisa keluar dari mansion.


Davira pergi ke balkon kamarnya dan menatap ke arah bawah, posisi kamarnya begitu tinggi membuat dia merasa ragu untuk kabur melewati balkon, padahal tidak ada pengawal yang berjaga di sana.


Davira berjalan-jalan mondar-mandir sembari terus berpikir hingga dia kembali mendapatkan ide.


"Arghh kenapa ide ini baru saja muncul?" ia menggerutu karena merasa otaknya terlambat memberinya sebuah ide.


Ia segera berlari keluar kamarnya, dengan sangat terburu-buru ia memasuki lift dan mulai berjalan menghampiri para pengawal yang berjaga di pintu utama. Dengan memasang wajah panik dan mengacak-acak rambutnya sendiri, Davira memulai sandiwaranya.


"Nona, apa yang terjadi?" para pengawal itu menghampirinya merasa khawatir.


"Ada penyusup, dua pengawal yang menjaga kamarku sudah dibunuh!" jawab Davira berusaha agar terlihat meyakinkan.

__ADS_1


"Di mana penyusup itu?"


"Ada di kamarku, mereka berusaha untuk menculik ku. Tapi aku berhasil lolos, jadi sepertinya mereka akan kabur entah lewat mana," Davira sampai memasang raut wajah cemas yang begitu kentara.


Para pengawal itu sontak berlari menuju ke kamar Davira, tidak lupa mereka menekan bel yang ada di tembok pertanda bahwa saat ini ada penyusup. Namun saat bel itu berbunyi nyaring sampai beberapa kali, hanya beberapa pengawal yang datang karena sebagian pengawal telah terkapar di meja makan tanpa mereka ketahui.


Para pengawal yang berjaga di luar terlihat berlarian masuk ke dalam mansion untuk memeriksa, Davira hanya bisa mengulum senyumnya karena rencananya berhasil.


Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Davira segera berlari keluar mansion melewati pintu utama yang terbuka. Ia cukup tercengang melihat luasnya pekarangan mansion yang sepertinya akan membuat dia harus berlari dengan sangat kencang.


Davira mengambil nafasnya dalam-dalam sebelum berlari sekencang yang ia bisa, tiba-tiba saja kakinya terasa berdenyut nyeri membuatnya meringis kesakitan. Namun Davira terus melanjutkan langkahnya dan mengabaikan nyeri pada kakinya.


Melihat beberapa pengawal yang sedang berlarian membuat mata Davira melebar, ia segera bersembunyi di balik patung dan berdiam diri untuk sejenak sampai para pengawal itu benar-benar masuk ke dalam mansion. Davira mengelus dadanya merasa lega, karena dia hampir saja ketahuan.


Davira menatap gerbang yang berada tidak jauh lagi di depannya, ia segera berlari ke arah sana kemudian menekan tombol yang ada di sebelahnya sampai gerbang itu terbuka dengan sendirinya. Davira terbelalak melihat para pengawal yang berlarian keluar dari mansion.


Terdengar teriakan salah satu pengawal dengan menggunakan bahasa Jepang, tampaknya mereka sudah menyadari tipuan yang Davira lakukan. Davira segera berlari keluar, ia mengumpat kasar tidak melihat adanya bangunan apapun di sekitar mansion itu.


Davira terus berlari, sesekali ia menengok ke belakang untuk memastikan bahwa tidak ada yang mengejarnya. Namun ternyata masih ada beberapa pengawal yang berada di belakangnya membuat Davira benar-benar harus berlari lebih kencang lagi.


Rasa dingin kini dapat ia rasakan karena dia hanya menggunakan dress yang cukup tipis.


"Ada di Jepang bagian mana aku ini?" Davira bergumam merasa kebingungan, di depannya sudah mulai terlihat bangunan-bangunan dan juga jalanan yang cukup ramai.


Davira terperanjat kaget saat melihat puluhan mobil mulai terlihat di belakangnya, Davira segera melipir memasuki gang sempit agar tidak terlihat. Davira terus berjalan menyusuri gang itu hingga ia bertemu dengan sebuah restoran cepat saji, baru saja ingin masuk ke sana untuk bersembunyi, matanya melihat beberapa orang berpakaian hitam kini sudah berada di dalam restoran itu terlebih dahulu.


Dan mereka terlihat sedang mencari-cari seseorang, Davira sangat yakin bahwa orang-orang itu adalah pengawal yang ada di mansion. Davira mengurungkan niatnya dan kembali melanjutkan langkah kakinya tanpa tujuan yang jelas.


Mata Davira bergerak mencari-cari telepon umum yang tidak kunjung ia temukan, ia terus membawa kakinya melangkah hingga keluar dari gang itu. Matanya berbinar karena tidak jauh di depannya terlihat ada telepon umum, namun beberapa orang mencurigakan terus saja berlalu-lalang di sana seolah sedang menjaga telepon itu.


"Sial," umpat Davira merasa frustasi.


"Naze kono yōna fukusō o shite iru nodesu ka? Totemo samuidesu, gomibako no chikaku de nani o shite imasu ka?"


( Kenapa kau berpakaian seperti ini? udaranya sangat dingin, apa yang kau lakukan di dekat tempat sampah? ).


Tiba-tiba saja seorang wanita paruh baya yang sedang memegang kresek berwarna hitam berisi sampah kini tengah berdiri tepat di hadapannya. Davira mengigit bibir bawahnya, ia mengumpat dalam hati. Dia bahkan tidak mengerti dengan perkataan wanita itu, dan sekarang sepertinya dia sudah ketahuan.


"Soko o kakuninshitekudasai!"


( Periksa di sana! )


Terdengar suara teriakan dan derap langkah kaki yang terdengar mendekat ke arahnya, Davira sontak melayangkan tatapan tajam kepada wanita paruh baya yang tampaknya merasa kebingungan.


Tidak ingin tertangkap dan pelariannya berakhir dengan sia-sia, Davira segera berlari dan mendorong tubuh wanita itu.


"Davu~ira senseideshita! Isoide kare no ato o otte kudasai!"


( Itu adalah Nona Davira! Cepat kejar dia! ).


Davira berlari sekencang mungkin, di belakangnya terlihat puluhan pengawal yang sedang mengejarnya.


"Arghh wanita tua sialan!" teriak Davira untuk meluapkan kekesalannya.


Davira segera memasuki sebuah restoran membuat para pengawal itu menyusulnya, beberapa tamu yang sedang makan begitu terkejut karena Davira mendorong kursi serta meja hingga acak-acakan. Davira mengambil piring salah satu pengunjung yang sedang makan dan melemparnya ke arah para pengawal.


Praang.


Suara teriakan dan pecahan kaca terdengar memenuhi seisi restoran berukuran cukup besar itu, Davira berlari ke arah dapur kemudian langsung menguncinya.

__ADS_1


"Nona Davira! Buka!" teriak salah satu pengawal dengan menggunakan bahasa yang Davira mengerti.


Seluruh koki yang sedang memasak di dapur terlihat kebingungan menatapnya.


"Di mana pintu keluar?" tanya Davira membuat salah satu koki sontak menunjuk satu pintu bertuliskan exit dengan tatapan yang masih begitu kebingungan.


Braak.


Davira segera berlari ketika pintu dapur berbahan besi itu berusaha didobrak oleh para pengawal.


"Thank you!" teriak Davira sebelum keluar melalui pintu itu.


"Aaaaa!"


Bughh.


Davira tersungkur karena jalan yang licin, lututnya membentur aspal dengan keras membuat darah langsung mengalir dari sana.


Rasanya Davira ingin menangis karena kesialan benar-benar menghampirinya saat ini, sungguh tidak ada keberuntungan. Bahkan jalanan pun tidak berpihak kepadanya, Davira berusaha untuk kembali bangkit dan berjalan dengan tertatih-tatih.


Rasa perih di lututnya tidak bisa membuatnya berlari, nafasnya sudah terdengar tersengal-sengal, namun dia tidak memiliki niatan untuk berhenti barang sebentar saja. Dia tidak memiliki waktu banyak untuk sekedar menikmati rasa sakit di lututnya.


Davira terus melangkah dengan mata yang mencari-cari keberadaan telepon umum, dia ingin menelepon salah satu rekan bisnisnya. Davira yakin rekan-rekan ayahnya pasti akan bersedia menolongnya, apalagi dia tahu bahwa banyak dari mereka yang mengincarnya. Jadi Davira percaya bahwa dia akan mendapatkan bantuan jika saja dia bisa menelpon salah satu dari mereka saat ini.


Davira menatap sekelilingnya dengan waspada, ia segera masuk ke dalam toko baju saat melihat beberapa mobil terlihat hilir mudik di jalanan.


Terdengar suara seorang wanita Jepang yang sepertinya adalah pemilik toko tersebut, walaupun tidak mengerti bahasanya, Davira bisa melihat kemarahan dari raut wajah yang wanita itu tunjukkan. Davira menatapmu tajam, jika saja dia tidak dalam keadaan seperti ini, Davira yakin bahwa wanita itu bahkan mungkin akan bersedia mencium kakinya.


"Tunggu saja sampai aku kembali dan membeli toko kecilmu ini," Davira segera keluar dari toko itu.


Ia tertegun untuk sejenak melihat pantulan dirinya dari kaca yang ada di di depan toko, keadaannya benar-benar terlihat kacau. Rambutnya sangat berantakan dengan lututnya yang masih mengeluarkan darah, pantas saja pemilik toko tadi merasa marah saat tiba-tiba dia masuk ke sana.


Davira merobek ujung dress yang ia kenakan dengan mudah kemudian melilitkannya pada luka di lututnya. Setelah itu, ia kembali melanjutkan langkah kakinya karena tidak ingin tertangkap jika masih berada di sana.


Ia menajamkan matanya ketika melihat sebuah banner yang ada di depan toko.


"Jadi ini kota Osaka?" batinnya saat membaca ada kata 'Osaka' pada banner itu.


Davira merasa sedikit mendapatkan pencerahan, sekarang dia tahu letak posisi pastinya di mana. Satu tetes air tiba-tiba saja jatuh di puncak kepalanya, Davira sontak menatap langit yang ternyata sudah begitu hitam dan siap menumpahkan air untuk mengguyur bumi.


"Arghh......kenapa aku sangat sial?" Davira mengacak-acak rambutnya benar-benar merasa frustasi.


Davira segera berteduh di depan toko yang tutup, namun tempat itu tentu saja tidak aman untuknya. Terlalu terbuka sehingga para pengawal yang mencarinya akan langsung melihat keberadaannya, Davira menjadi bingung harus ke mana. Jika dia pergi ke penginapan, dia tidak memiliki uang sama sekali.


"Itu mereka, arghhh Nathan sialan!" umpat Davira segera berlari dari depan toko itu.


Beberapa orang yang berlalu lalang sudah mulai berteduh dan menggunakan payung mereka, sedangkan Davira harus berlarian di tengah derasnya hujan yang mana membuat tubuh Davira semakin merasa kedinginan.


Davira menatap gang di depannya, tanpa pikir panjang, dia segera masuk ke dalam sana untuk bersembunyi dari mobil-mobil para pengawal Nathan. Dengan tubuh yang sudah menggigil, Davira terus melangkah menyusuri jalanan yang sudah basah seperti dirinya.


Perasaannya mulai tidak nyaman karena gang itu begitu sepi dan di depan sana terlihat perkumpulan pria berpakaian urakan membuatnya segera menghentikan langkahnya.


Dapat ia lihat para pria itu memegang botol minuman keras sembari menatapnya, alarm tanda bahaya dalam kepala Davira berbunyi nyaring membuat Davira segera melangkah mundur secara perlahan dan kemudian berbalik arah. 


Tubuh Davira seketika menegang ketika wajahnya langsung berhadapan dengan wajah seorang pria Jepang berpenampilan sama dengan orang-orang yang kini berada di belakangnya.


"Kono on'nanoko o mitekudasai, totemo utsukushīdesu!"


( Lihatlah gadis ini sangat cantik! )

__ADS_1


__ADS_2