Tawanan Tuan Xie

Tawanan Tuan Xie
Part 62 - Kemarahan Aaron


__ADS_3

Nathan cukup terkejut melihat kehadiran Emma yang begitu tiba-tiba, namun saat ia mengingat berada di markas siapa dia sekarang ini, dia menjadi tidak terlalu heran.


Tentu saja Emma mendapatkan informasi dari sang ayah. Nathan langsung melirik ke arah Davira yang sepertinya tidak menyukai kehadiran Emma.


"Kau sudah sembuh?" tanya Nathan membuat Emma segera menghampirinya.


Wanita itu melangkah dengan gaya elegan, ia hanya melirik Davira sekilas. Kali ini tatapannya benar-benar menyiratkan kebencian.


"Apa yang terjadi kepadamu? Kenapa kau harus bertindak sampai sejauh ini, Nathan? Tidak seharusnya kau melawan Aaron hanya karena Davira," ucap Emma seakan Davira tidak berada di ruangan yang sama sepertinya.


"Lalu kau ingin Nathan bertindak seperti apa? Membunuhku?" sahut Davira dengan suara yang terdengar dingin seperti sorot matanya.


Emma langsung beralih menatapnya, tatapan yang begitu tajam dan seolah meremehkan.


"Memang itu yang seharusnya Nathan lakukan, kau sudah membunuh nenek Gayatri," desis Emma di akhir kalimat.


"Emma, sejak kapan kau menjadi lebih membela keluargaku? Kau sudah termakan dengan opini mereka, aku yakin bukan Davira pelakunya," ucap Nathan membuat Davira tersenyum tipis penuh kemenangan.


"Kau dengar? Nathan membelaku, Nathan bahkan rela mati untuk menyelamatkanku dari Aaron. Jadi sekarang kau tahu seberapa penting aku untuknya? Berhenti berusaha membuat Nathan membenciku, dia tidak akan membunuhku bahkan saat aku menodongkan pistol ke kepalanya," Davira berdiri dari duduknya.


Kedua wanita itu kini berdiri berhadapan dengan Davira yang terlihat lebih tenang.


"Jangan terlalu percaya diri Davira, semuanya akan terbongkar," Emma mengepalkan tangannya kuat hingga kuku-kukunya yang panjang menggores telapak tangannya sendiri.


"Begitukah? Semoga saja, aku memang berharap semuanya terbongkar. Pembunuh keluargaku dan pembunuh nenek Gayatri memang harus segera terlihat dengan jelas bukan?"


"Sebaiknya turunkan sedikit kesombongan mu! Kau sudah bukan siapa-siapa lagi sekarang ini!" suara Emma mulai terdengar meninggi.


Nathan hanya diam di tempatnya, dia hanya ingin memperhatikan bagaimana kedua wanita itu saling membenci. Ia ingin melihat bagaimana Emma membenci Davira padahal sebelumnya Emma tidak pernah memperlihatkan kebenciannya.


"Aku memang bukan siapa-siapa, jadi berhati-hatilah denganku. Karena sekarang aku tidak memiliki apa-apa, aku bisa merebut apa yang kau miliki."


Mata Emma seketika melebar mendengarnya, matanya terlihat memerah karena menahan amarah.

__ADS_1


Bibir Davira sedikit berkedut, "Sebaiknya kau urus sahabatmu agar dia segera sembuh."


Davira berlalu begitu saja meninggalkan Emma yang sedang diselimuti oleh emosi, ia hanya menatap sekilas Lydia yang berdiri di depan pintu. Davira merasa jengah melihat wajah Emma, tapi Davira sangat terkejut karena hari ini Emma begitu berani menunjukkan kebenciannya di depannya.


Tidak ia sangka bahwa Emma yang selalu bersikap lugu seolah suci dan tidak memiliki amarah mampu membentaknya di hadapan Nathan.


"Apakah dia sudah lelah bersandiwara?" gumam Davira dengan kaki yang terus melangkah menyusuri lorong demi lorong untuk menemui Jakob dan juga yang lainnya.


Emma mencoba untuk mengatur emosinya, ia segera menoleh kepada Nathan lalu duduk di tepi ranjang.


"Ada apa denganmu? Tidak biasanya kau seperti ini," tanya Nathan membuat Emma berdehem singkat.


"Aku tidak bisa bersikap baik lagi kepadanya, Nathan. Wajar jika aku marah dan membencinya, dia sudah membunuh nenek Gayatri. Davira juga sudah membuat hubunganmu dengan semua anggota keluarga menjadi renggang, bahkan cenderung bermusuhan."


Suara Emma terdengar lebih lembut dari pada sebelumnya.


"Bukan Davira, tapi akulah yang sudah membuat hubunganku dan mereka menjadi renggang. Untuk racun yang sudah membunuh nenekku, aku masih akan menyelidikinya. Bagaimana cara Davira memasukkan racun itu ke dalam minuman nenekku, itu sangatlah janggal dan aku masih belum menemukan jawabannya. Tapi aku akan terus mencari tahu."


Emma berdehem singkat kemudian menatap perban yang menutupi luka bekas tembakan di dada Nathan. Tangannya bergerak mengusap permukaan perban dengan hati-hati.


Nathan hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.


"Apa kau tahu di mana keberadaan Aaron saat ini?" tanya Nathan langsung mendapat gelengan kepala dari Emma.


"Aku tidak mencari tahu tentang Aaron, mendengar kalian berkelahi yang ku pikirkan adalah dirimu. Aku sangat khawatir, Nathan. Kenapa kau selalu meletakkan dirimu sendiri dalam bahaya hanya untuk Davira?" tatapan Emma terlihat sendu.


"Kau akan menginap di sini?" tanya Nathan tanpa menanggapi apa yang dikatakan oleh Emma sebelumnya.


"Iya, aku akan tidur di sini untuk menemanimu. Lihat, kau masih belum sembuh. Apa kau baru saja sadarkan diri?" tebak Emma.


"Aku sudah baik-baik saja, kau yakin akan menginap di markas seperti ini? Ku rasa kau akan tidak nyaman."


"Ingin bagaimana lagi? Atau kau ingin pindah dari markas ini, aku akan menyiapkan semuanya. Kita kembali ke Roma, dan kau akan mendapatkan pengobatan yang lebih baik dari pada di sini."

__ADS_1


Nathan berdecak, "Aku tidak butuh pengobatan, dan aku tidak akan kembali ke Roma dalam waktu dekat ini."


Emma mengernyit, "Kenapa? Kau akan terus di sini?"


Nathan tertegun untuk sejenak, ia tidak berniat untuk menjawab pertanyaan Emma. Dia juga tidak ingin memberitahu tentang rencananya pergi ke Republik Dominika bersama Davira pada besok hari. Entah mengapa ada keraguan yang ia rasakan kepada Emma.


"Sebaiknya kau pulang, aku masih memiliki banyak urusan."


"Kau mengusirku? Aku sudah jauh-jauh datang ke sini untukmu, Nathan," raut wajah Emma terlihat kesal.


"Emma, begini, di sini tidak aman. Dan aku masih melihat banyak sekali urusan, dan aku tidak akan kembali ke Roma dalam waktu dekat ini."


"Memangnya urusan apa? Aku bisa membantumu."


"Tidak, Emma. Kau tidak boleh ikut campur dalam urusan pribadiku atau urusan bisnisku, aku tidak ingin kau terlibat, ku harap kau akan mengerti."


Emma menghembuskan nafas kasar, "Aku tidak akan kembali sebelum kau kembali bersamaku."


Nathan hanya menatapnya datar, dia tidak mengatakan apapun lagi karena otaknya saat ini sedang memikirkan sebuah rencana.


Sedangkan di tempat yang berbeda, Aaron terlihat berdiri di depan orang-orangnya yang masih tersisa. Mereka semua terlihat begitu ketakutan karena Aaron tampak diliputi oleh amarah.


"Kenapa kalian bisa menjadi sangat pengecut? Harusnya kalian serang Jakob dan lima anak buahnya itu! Bukan malah kabur!"


Mereka semua hanya bisa diam, tidak berani membuka suara. Percuma saja menjelaskan kepada Aaron, pria itu tidak akan mau mengerti.


"Sekarang Andreas sudah mati! Tapi kalian malah pergi tanpa balas menembaki orang-orang Jakob," dada Aaron terlihat naik turun.


Wajah yang dipenuhi dengan lebam dan luka kecil kini terlihat mengeras.


"Katakan, apa kalian sudah mencari tahu di mana keberadaan Davira saat ini?"


"Be-belum Tuan," jawab salah satu dari anak buahnya dengan terbata.

__ADS_1


"Cari tahu saat ini juga! Di mana mereka bersembunyi dan pastikan apakah Nathan masih hidup atau sudah mati."


__ADS_2