
Tanpa pikir panjang Davira langsung menjatuhkan tubuhnya ke dalam air membuat Jakob dan yang lainnya begitu terkejut.
"Davira!" teriak Liam kemudian memegang pembatas jembatan.
"Dia bisa berenang," ucap Jakob sembari terus memperhatikan Davira yang tidak menampakkan dirinya ke permukaan.
"Tapi kakinya terluka!"
Sedangkan Davira kini tengah menggerakkan kaki dan juga tangannya untuk berenang menuju ke arah Nathan yang langsung bisa ia lihat saat masuk ke dalam air. Pria itu tampak tidak sadarkan diri dengan tubuh yang tersandar di bebatuan, beruntung air di sana tidak terlalu dalam.
Davira langsung meraih tangan Nathan, air matanya tersamarkan di dalam sana, dadanya terasa seperti sedang dihimpit saat melihat mata Nathan yang terpejam. Davira mengusap pelan pipi Nathan, hatinya terasa sakit, ia merasa takut membayangkan kehilangan Nathan saat ini.
Mereka belum selesai, masih banyak hal yang harus ia ketahui dari Nathan. Dia juga tidak ingin menanggungnya rasa bersalah jika seandainya memang bukan Nathan yang sudah membantai keluarganya.
Davira menatap wajah Nathan sebelum mencoba untuk menarik pria itu agar kepermukaan air bersamanya. Namun tubuhnya sudah terlalu lemah dan lelah, kakinya begitu sakit dan kepalanya mulai terasa pening karena oksigen di dalam paru-parunya perlahan menipis.
Tiba-tiba saja Davira melihat Jakob dan Liam yang sedang berenang ke arahnya membuat ia merasa sedikit lega, Jakob buru-buru mengambil alih Nathan dan membawanya berenang ke permukaan.
Liam menarik pinggang Davira, dapat ia rasakan bahwa Davira begitu lemah dan hampir pingsan saat ini. Dengan mudah kini mereka sudah berenang semakin naik hingga mereka bisa menyembulkan kepala ke permukaan air.
Davira segera meraup oksigen sebanyak mungkin, ia bahkan terbatuk-batuk membuat Liam segera mengusap punggungnya.
"Kau tidak apa?" tanya Liam memastikan.
Davira hanya mengangguk pelan lalu menatap ke arah Jakob yang sedang membawa Nathan naik ke tepi sungai.
"Nathan, tolong dia," ucap Davira setelah ia juga berada di tepi sungai, Davira langsung menghampiri Nathan yang dibaringkan oleh Jakob di tanah.
"Dia tertembak, dia bisa kekurangan banyak darah," Jakob menatap ke arah atas, di sana terlihat Luca, Mario, Dex dan Fedrix yang kelihatan begitu panik.
"Tuan cepat!" teriak Dex membuat Liam dan Jakob mengernyit.
"Kita harus segera pergi dari sini! Polisi setempat bisa saja datang!"
"Sial, bantu aku mengangkat tubuh Jonathan, Liam," pinta Jakob membuat Liam segera bergerak membantunya.
Davira menatap ke arah langit yang terlihat sudah cerah, mereka buru-buru naik kembali ke jembatan dengan rasa panik yang menyelimuti Davira.
"Akan kita bawa ke mana Nathan?" tanya Davira kemudian melirik ke arah Paul yang tampaknya sudah sadarkan diri, ia kira tadinya Paul tiada karena tembakan itu, tetapi ternyata Paul hanya pingsan.
"Aku yakin helikopter kita masih menunggu, kita akan membawanya ke sana," jawab Jakob sembari memasukkan Nathan ke dalam mobil.
__ADS_1
"Tapi bukankah Nathan harus segera mendapatkan pengobatan? Helikopter itu akan membawanya ke mana?"
"Kita tidak mungkin ke rumah sakit, Davira. Sangat tidak mungkin," sahut Luca membuat Davira semakin merasa frustasi.
"Paul, kau tidak apa-apa?" tanya Davira kemudian menghampiri Paul lalu membantunya untuk berdiri.
"Akan kalian bawa ke mana Tuan Xie?" Paul menatap Nathan yang berada di dalam mobil dan sedang tidak sadarkan diri.
"Ka-kami tidak tahu."
"Tuan Xie akan ikut dengan saya, dia akan segera di obati," ucap Paul membuat Jakob dan Liam yang sudah berada dalam mobil segera keluar.
"Kalau begitu bawa mobil itu dan selamatkan Tuan mu."
Jakob meraih tangan Davira, "Kita harus cepat, ada polisi dan mereka benar-benar menuju ke arah sini!"
Suara sirene polisi terdengar menuju ke tempat mereka berada membuat yang lainnya segera masuk ke dalam mobil yang berada di dekat mereka, tidak peduli mobil siapa yang akan mereka gunakan, yang terpenting mobil itu bisa membawa mereka lolos dari polisi.
"Kalian sebaiknya ikuti saya! Nona Davira, saya sarankan agar Anda ikut. Karena Anda benar-benar harus melihat bukti itu!" teriak Paul membuat Davira segera masuk ke dalam mobilnya tanpa pikir panjang lagi.
"Sial," umpat Jakob kemudian segera membuka pintu mobilnya dan mengambil koper berisi uang miliknya sebelum mendekat kepada Paul.
"Keluar, biar aku yang mengemudi, kau tinggal arahkan ke mana kita harus pergi."
"Bagaimana dengan helikopternya?!" tanya Mario merasa kebingungan.
"Ikuti aku! Sepertinya kita tidak akan meninggalkan Moskow hari ini!" jawab Jakob lalu melajukan mobilnya.
Dex dan juga Fedrix saling menatap, "Arghh ini benar-benar di luar rencana!"
"Tunggu apa lagi? Kita ikuti mobil Tuan, aku juga merasa penasaran tentang siapa yang sudah mengacaukan hidup Davira," ucap Liam lalu menyusul Jakob dengan mobilnya sendiri.
"Cepat Luca, polisi ada di belakang!" teriak Mario merasa panik.
"Diamlah, sejak kapan kita merasa terancam hanya karena polisi?" Luca terlihat begitu tenang namun tetap menambahkan kecepatannya.
"Bagus, sekarang kita bukan hanya menjadi buronan polisi, tetapi keluarga Xie yang sedang bermasalah dengan Jonathan!" Fedrix menghembuskan nafasnya kasar.
Dex yang sedang mengemudi bersamanya hanya meliriknya sekilas.
"Ku rasa kita harus mengundurkan diri dari pekerjaan ini, bagaimana jika kita ganti Tuan?"
__ADS_1
Fedrix geleng-geleng kepala, "Bersama Jakob adalah yang paling aman untuk saat ini, lagi pula aku tidak bisa bekerja dengan yang lain. Kau lupa sudah berapa lama kita menjadi bawahan Jakob?"
Dex berdecak lalu menyandarkan punggungnya dengan nyaman.
"Ku harap Jonathan tidak menembaki kita saat dia sadarkan diri."
Davira memangku Nathan sembari mengusap rambutnya yang basah, wajah Nathan tampak pucat dan kulitnya terasa begitu dingin. Davira tidak memperlihatkan ekspresi apapun, wajahnya terlihat begitu datar karena pikirannya sedang tidak bersamanya saat ini.
"Para polisi itu sudah tidak lagi mengejar?" tanya Jakob sambil menengok ke belakang karena kaca spionnya yang pecah.
"Sudah tidak, mereka tidak akan bisa menyusul," jawab Paul yang terus memegangi bahu kirinya, peluru masih bersarang di sana dan darah masih terus saja keluar.
"Akan ke mana kita sebenarnya?" Jakob melirik ke Paul, tentu saja dia merasa was-was dan tidak akan bisa percaya sepenuhnya.
"Ke markas."
"Jadi kalian memiliki markas di Moskow"
Paul menggeleng pelan, "Bukan milik Tuan Xie, tapi milik Tuan Scott. Dan bukan di Moskow, tapi di Saltykovka. Anda tidak sadar kita sudah tidak berada di wilayah Moskow?'
Jakob mengernyit, "Ya, kau benar. Dan maksudmu.....Tuan Scott itu adalah Arthur Scott atau aku salah? Markas apa yang dia miliki di sini?"
"Memang Tuan Arthur Scott, dia memiliki markas yang digunakan untuk memproduksi film por*no di Saltykovka yang jarang diketahui oleh orang-orang."
Jakob hanya membulatkan mulutnya pertanda mengerti.
"Apakah tidak apa jika kami ikut ke markas?"
Paul tertegun untuk sejenak, "Aku akan menjelaskannya kepada Tuan Scott, yang terpenting sekarang adalah keselamatan Tuan Nathan."
"Siapa yang ingin kau telepon?" Jakob menatap Paul yang sedang mengeluarkan ponselnya.
"Tentu saja Tuan Scott agar dia memberitahu kepada anak buahnya yang berjaga, kalian tidak ingin langsung dihujani tembakan saat sampai di sana bukan?"
"Lakukan apa yang harus kau lakukan, dan ingat, setelah Jonathan bangun, maka dia harus menjelaskan semuanya kepada Davira. Dia juga tidak boleh memaksa Davira jika Davira tidak ingin bersamanya."
Paul terkekeh, "Jangan mengatakan hal itu kepada saya, sebaiknya Anda langsung berbicara kepada Tuan Nathan."
"Berapa lama lagi Paul?" tanya Davira membuka suara.
"Di depan sana ada gedung markas yang saya maksud, tapi kita tidak bisa langsung ke sana. Saya harus menelepon Tuan Scott terlebih dahulu."
__ADS_1
Davira hanya diam mendengarnya, ia kembali beralih menatap wajah Nathan.
"Ku harap kau tidak mengecewakanku dengan mengatakan kebohongan, kali ini aku benar-benar akan membunuhmu jika ternyata kau hanya mengarang perihal kejahatan Damian."