Tawanan Tuan Xie

Tawanan Tuan Xie
Perundingan - Part 83


__ADS_3

Saat ini suasana di dalam sebuah ruangan terasa begitu dingin dan mencekam, wajah orang-orang yang berada di sana terlihat begitu serius dan mengeras.


Hampir seluruh anggota keluarga Xie berkumpul untuk merundingkan permasalahan yang tidak kunjung selesai sejak beberapa bulan yang lalu.


Sekarang mereka sudah melihat dengan jelas siapa yang sudah membunuh Gayatri, pelakunya benar-benar bukan orang yang mereka curigai dan hal itu mengagetkan mereka semua.


Julian meletakkan kedua tangannya di atas meja, ia menatap wajah keluarganya satu persatu. Dapat ia lihat wajah dan mata yang menyiratkan kemarahan.


"Ini tidak bisa dibiarkan, kita tidak bisa tinggal diam. Pelaku yang sebenarnya sudah terlihat, tidak mungkin kita melepaskannya begitu saja."


"Sebaiknya kita kumpulkan seluruh orang-orang kita untuk menyerang kediaman Scott, kita juga harus menyelamatkan Atvita."


"Ku dengar Erick juga terlibat, apa kita juga harus menyerang keluarganya?" tanya salah satu sepupu Julian yang bernama Arya, pria dengan luka memanjang di pipi itu memang selalu bertindak brutal.


"Tidak perlu, cukup Erick saja yang kita bunuh. Lagi pula dia pasti sedang bersama dengan Emma saat ini."


"Bagaimana Julian? Apa kau sudah memberitahukan hal ini kepada Arthur? Apa dia tahu tentang hal ini? Jika dia tahu, maka itu artinya dia sudah berkhianat kepada kita dengan membiarkan putrinya meracuni Bibi Gayatri."


Julian menghembuskan asap rokoknya kasar sembari mengetuk-ngetukkan ujung jari telunjuknya di atas meja.


"Aku baru saja meneleponnya."


"Dan apa tanggapannya Julian?"


Julian tertegun untuk sejenak, darahnya terasa mendidih mengingat pembicaraannya dengan Arthur beberapa saat yang lalu.


"Dia mengakui kesalahan Emma, dan dia berkata bahwa dia tidak tahu apa-apa sebelumnya.


"Apa Arthur akan menyerahkan putrinya kepada kita? Ku rasa kita bisa berbaik hati dengan hanya membunuh Emma tanpa harus melibatkan seluruh keluarga Scott."


Arya terkekeh kecil mendengarnya, "Arthur tidak akan mengorbankan putrinya begitu saja, aku mengenalnya. Arthur sangat mencintai putrinya itu."


"Yang dikatakan oleh Arya benar, Arthur mengatakan kepadaku bahwa apapun yang terjadi dia akan tetap melindungi Emma. Dia bahkan mengatakan kepadaku bahwa kita tidak akan bisa menyentuh Emma bahkan seujung kuku pun."


Braak.


"Sialan, itu artinya Arthur menantang kita!"


"Kalau begitu tunggu apa lagi? Kita harus membunuh Arthur dan juga Emma."


"Lalu bagaimana dengan kesepakatan bisnis kita dengannya?"


"Persetan dengan bisnis, kita hancurkan Arthur, kita balas dendam atas kematian bibi Gayatri. Lalu ambil alih bisnisnya."


"Aku setuju dengan perkataan Bara, aku akan menghubungi semua anak buah keluarga Xie. Kita kumpulkan orang-orang kita, aku yakin kita akan menang. Ini hanya masalah jumlah dan mental, Erick, Arthur dan Emma akan mati di tangan kita. Mereka salah karena sudah berani-beraninya mencari masalah kepada kita."


"Aku sangat terkejut, ternyata putri Arthur sangat gila. Dia menyukai Nathan tapi membunuh bibi Gayatri, sangat disayangkan karena tindakan bodohnya itu membuat rugi dirinya dan keluarganya sendiri."

__ADS_1


"Apa keputusanmu Julian? Kau setuju jika kita menyerang kediaman Arthur bukan?"


"Aku sangat setuju, tidak ada ampun untuk orang yang sudah membunuh ibuku. Nyawa dibayar dengan nyawa, prinsip itu tidak akan pernah hilang dari keluarga kita. Tidak peduli siapa Arthur dan bagaimana hubungan kita dengannya, kita akan tetap membalas perbuatan putrinya. Dia ikut campur atau mencegah, maka artinya dia terlibat dan siap mati."


"Tunggu dulu, jangan gegabah. Kita harus mempersiapkan semuanya dengan matang."


"Tidak ada waktu, nyawa putriku dalam bahaya. Aku tidak ingin Atvita terluka."


"Kapan kita bisa memerintahkan orang-orang kita untuk menyerang kediaman Arthur?"


"Aku sudah mendapatkan informasi dari Paul, Arthur ada di mansionnya. Erick juga terlihat berada di sana, dan itu artinya Atvita juga ada."


"Lalu Emma? Bagaimana jika dia kabur?"


"Emma tidak terlihat keluar mansion, tapi kita tidak pernah tahu. Yang pasti kita serang kediaman Arthur terlebih dahulu untuk menyelamatkan Atvita."


"Aku setuju, keselamatan Atvita adalah yang paling penting. Bagaimana dengan putramu Julian? Apa kau sudah memberitahunya? Apa dia akan segera kembali?"


"Dia dan Aaron sudah dalam perjalanan, mereka akan tiba jam enam sore."


"Selagi menunggu mereka, kita persiapkan orang-orang kita terlebih dahulu."


Julian segera beranjak dari duduknya, matanya menatap layar yang masih memperlihatkan video rekaman saat Emma memasukkan racun di minuman Gayatri.


π_π


"Bagaimana keadaan di mansion, Paul?" tanya Nathan kepada Paul yang saat ini tengah menyetir.


"Seluruh anggota keluarga berkumpul, Tuan. Mereka menunggu Anda dan juga Tuan Aaron untuk menjalankan rencana."


Nathan hanya mengangguk pelan, dia sudah tahu apa hasil dari perundingan keluarga besarnya. Tidak mungkin ada kata damai, tidak mungkin jika Emma dilepaskan begitu saja, apalagi setelah Atvita diculik oleh Erick.


Apa yang dilakukan Erick tentunya semakin memancing amarah keluarganya.


Setelah cukup lama perjalanan, mobil mereka akhirnya memasuki pekarangan mansion yang begitu luas.


Puluhan mobil yang digunakan oleh orang-orang Alvar pun ikut masuk membuat beberapa pengawal yang melihatnya merasa kebingungan karena yang kembali bukan hanya Aaron dan juga Nathan.


"Cepat Nathan, kita sudah ditunggu," ucap Aaron setelah mereka semua keluar dari mobil masing-masing.


Aaron segera masuk terlebih dahulu tanpa menoleh kepada Alvar yang memaksa ikut.


"Davira, kita sudah sampai," Nathan mengusap pipi Davira membuat wanita itu menggeliat.


"Bangunlah."


Davira mengerjapkan matanya beberapa kali kemudian keluar dari mobil bersama dengan Nathan.

__ADS_1


"Kau tidur?" tanya Dex yang mana langsung di angguki oleh Davira.


"Kita masuk sekarang, kalian bisa menunggu di ruang tamu."


Nathan menggenggam erat tangan Davira sembari melangkahkan kakinya memasuki mansion.


Alvar, Jakob dan yang lainnya segera duduk di sofa tanpa dipersilahkan. Sedangkan orang-orang yang Alvar bawa menunggu di mobil mereka.


"Aku akan menemui keluargaku."


"Apa aku harus ikut?" tanya Davira merasa tidak yakin kedatangannya akan disambut dengan baik oleh keluarga besar Xie.


"Kau harus ikut bersamaku menemui mereka, kau tidak bersalah."


Nathan dan Davira segera berjalan meninggalkan ruang tamu, melangkah menyusuri lorong yang begitu panjang hingga bertemu sebuah pintu berukuran besar berwarna coklat.


Nathan langsung membuka pintu itu membuat orang-orang yang berada di sana sontak menoleh ke arahnya.


"Akhirnya kau datang, Nathan."


"Masuklah, kau membawa Davira Handoko?"


"Iya, tidak masalah bukan? Dia tidak bersalah."


"Sama sekali tidak masalah," sahut Arya membuat Nathan segera masuk bersama dengan Davira. Terlihat Aaron yang sudah duduk di sebelah ayahnya.


"Jadi apa keputusannya?"


"Kita akan menyerang kediaman Scott, kita selamatkan Atvita dan bunuh Emma. Ingat, bunuh siapapun yang menghalangi. Semuanya sudah kami persiapkan, orang-orang kita sudah siap melakukan penyerangan, tinggal menunggu keputusan kalian berdua."


"Aku setuju!" sahut Aaron tanpa pikir panjang lagi.


"Bagaimana denganmu Nathan?" tanya Julian yang tahu betul bagaimana hubungan Nathan dan Emma selama ini.


"Apakah keputusanku penting? Kalian akan tetap membunuh Emma walaupun aku tidak setuju."


"Itu benar, Nathan. Tapi yang ingin ku tanyakan saat ini adalah apakah kau akan ikut bersama dengan orang-orang kita untuk menyerang kediaman keluarga Scott?"


Nathan tertegun untuk sejenak kemudian menatap wajah Davira. Bayangan bagaimana teganya Emma membunuh neneknya dan menjebak Davira membuat Nathan langsung menganggukkan kepalanya.


"Aku akan ikut menyelamatkan Atvita, urusan Emma akan ku serahkan kepada kalian."


"Bagus, perintahkan orang-orang kita untuk bergerak sekarang juga. Kalian bersiaplah."


"Ku dengar kita mendapatkan banyak tambahan orang, Alvar Martez ikut ke sini bersama dengan anak buahnya. Itu akan memperbesar peluang kita untuk menang dari Arthur."


Nathan hanya mengangguk, "Davira, aku akan mengantarmu ke kamar. Kau harus istirahat."

__ADS_1


"Aku akan ikut menyelamatkan Atvita."


__ADS_2