Tawanan Tuan Xie

Tawanan Tuan Xie
Part 53 - Pilihan untuk Jakob


__ADS_3

Davira duduk di atas kap mobilnya sembari memperhatikan Jakob dan seorang pria bermata sipit yang kini tengah melakukan transaksi, mereka terdengar berbicara serius sembari sesekali melirik ke arahnya.


Liam dan yang lainnya mulai terlihat membantu memindahkan beberapa karung narkoba ke dalam truk milik pria bermata sipit itu. Sedangkan Jakob terlihat menerima satu koper berukuran cukup besar yang Davira tahu bahwa koper itu pastinya diisi penuh dengan uang.


"Perlu aku bantu?" tanya Davira segera berdiri.


"Tidak perlu, Davira. Ini tugas kami," jawab Mario membuat Davira kembali duduk, dia tidak ingin memaksa.


Jika disuruh bekerja maka Davira akan bekerja, dan jika disuruh bersantai maka dia akan bersantai.


Beberapa orang yang merupakan anak buah dari klien Jakob terlihat membantu agar pekerjaan mereka bisa selesai lebih cepat, mungkin atas permintaan dari Jakob sendiri.


"Dia......Nona Handoko?" tanya pria asal Jepang bernama Hotaka Isao membuat Jakob sontak tertegun di tempatnya.


Jakob mengumpat di dalam hati, seharusnya dia menyuruh Davira agar tetap berada di dalam mobil atau paling tidak memakai kain untuk menutupi wajahnya selama transaksi mereka berlangsung.


"Anda mengenalnya?" Jakob mulai merasa was-was, sebab ia tahu bahwa keluarga Xie memiliki banyak kolega bahkan keluarga di Jepang.


Hotaka menganggukkan kepalanya, "Jadi Anda yang sudah membantu pelariannya?"


Jakob segera menatap Liam dan juga Luca yang sedari tadi selalu memperhatikannya, Jakob yakin bahwa kedua bawahannya itu pasti mendengar pembicaraan mereka. Jakob memberi isyarat melalui tatapan mata kepada kedua Liam dan Luca agar segera bersiap.


"Anda kerabat, teman, atau memiliki hubungan yang dekat dengan keluarga Xie?" tanya Jakob berusaha agar tetap tenang.


"Sepertinya Tuan Aaron harus mengetahui tentang hal ini, dia mencari Nona Handoko ke mana-mana. Saya dengan wanita itu begitu berani, dia sudah membunuh Nyonya Gayatri," ucap Hotaka kemudian melirik puluhan anak buahnya yang berdiri di sebelahnya.


Hotaka kembali tersenyum, "Sebaiknya Anda serahkan Nona Handoko kepada saya sekarang juga, saya akan menyerahkannya kepada Tuan Aaron."


Davira yang mendengarnya sontak berdiri dan mulai bergerak mundur hingga kini dia berada di samping pintu mobilnya. Davira akan segera melarikan diri jika Jakob menyetujui permintaan pria bermata sipit itu.


"Dia adalah anak buah saya sekarang, Nona Handoko tidak akan saya serahkan kepada siapapun," ucap Jakob begitu tegas.


"Begini, Tuan Moore. Dengan Anda membantu Nona Handoko lari dari keluarga Xie saja, Anda sudah berada dalam masalah. Anda membantu seorang wanita yang saat ini sedang diincar dan dinyatakan sebagai pembunuh Nyonya Gayatri, jadi sepertinya Anda harus menyerahkan dia kepada saya agar Anda tidak terlibat permasalahan ini semakin jauh. Anda bisa mendapatkan pengampunan dari keluarga Xie jika sekarang melepaskan Nona Handoko."


Jakob menatapnya datar, "Saya tidak pernah menginginkan pengampun dari siapapun, Davira akan tetap bersama saya. Saya tidak akan menyerahkannya kepada Aaron yang jelas-jelas akan membunuhnya."


Hotaka yang notabennya adalah rekan bisnis Aaron tentu saja merasa marah karena permintaannya ditolak mentah-mentah, Hotaka tahu saat ini Aaron dan seluruh keluarga Xie sedang mencari-cari Davira, dan dia akan membawakan wanita itu ke hadapan Aaron walaupun sekarang dia harus melawan Jakob.


"Saya sudah memintanya secara baik-baik Tuan Moore," ucapnya sembari mengeluarkan pistol dari balik jasnya.


Jakob melirik ke lima anak buahnya yang sudah bersiaga, dia tahu bahwa saat ini mereka kalah jumlah. Namun Jakob yakin bahwa Liam, Luca, Dex, Mario dan Fedrix bisa mengalahkan seluruh anak buah Hotaka yang berjumlah 17 orang.


Jakob juga yakin bahwa Davira cukup bisa di andalkan, wanita itu bisa bertarung dan dia sudah melatih ketahanan fisik Davira selama menjadi anak buahnya.


"Apa yang ingin Anda lakukan? Saya tidak akan menyerahkan Davira," tanya Jakob seolah sedang menantang.


Hotaka terkekeh kecil kemudian mengarahkan pistolnya ke kepala Jakob.

__ADS_1


Pria itu tetap tenang lalu menganggukkan kepalanya pelan, Jakob segera mengangkat kopernya dan memukulkannya ke kepala Hotaka tanpa diduga-duga.


Bughh.


Luca langsung menyerang anak buah Hotaka begitu juga dengan yang lainnya. Dalam sekejap, suasana yang tadinya begitu tenang dan sepi kini berubah menjadi bising dengan suara tembakan dan juga pukulan.


Liam menembaki anak buah Hotaka yang tentunya juga balas menembak, sesekali Liam bersembunyi di balik truk untuk menghindar dari peluru.


Bughh.


Jakob menendang perut Hotaka hingga tersungkur, ia melemparkan koper yang masih ia pegang ke sembarang arah lalu menginjak tangan Hotaka yang masih menggenggam erat pistolnya.


"Arghh!" teriak Hotaka merasa kesakitan.


Melihat beberapa anak buah Hotaka yang ingin menyerang Jakob membuat Mario dan Dex segera mengambil tongkat bisbol yang ada di dalam mobil mereka kemudian menyerang orang-orang itu.


Bughh.


Mario dan Dex memukul kepala anak buah Hotaka dengan membabi buta.


Bughh.


"Akhh!"


Tubuh Dex terdorong saat sebuah balok kayu berhasil menghantam punggungnya.


Dor.


Brukk.


Tubuh Davira tersungkur karena seorang pria tiba-tiba saja menerjangnya, pistolnya seketika terlepas dari tangannya. Davira kembali berdiri dengan siku yang terlihat sobek dan mengeluarkan darah karena bergesekan dengan aspal.


Bughh.


Luca langsung melayangkan bogemannya pada pria yang tadi menerjang Davira dan kini ingin menangkap tubuh wanita itu.


Bughh.


Luca menendang dan meninju pria itu tanpa ampun, mereka berdua terlihat saling melayangkan tinju masing-masing, berusaha untuk mengalahkan satu sama lain.


Davira mengedarkan pandangannya, Liam terlihat dikerumuni oleh 4 anak buah Hotaka sekaligus membuat Davira segera mengambil pistolnya dan membidik orang-orang itu.


Dor.


Davira menembaki anak buah Hotaka satu persatu, walaupun terkadang tembakannya meleset karena tergetnya yang terus bergerak kesana-kemari.


Sedangkan Jakob kini tengah bertarung hebat dengan Hotaka, pria asal Jepang itu ternyata pandai berkelahi. Dengan tangan kosong, keduanya berusaha untuk saling menghabisi.

__ADS_1


Bughh.


"Akhh!"


Jakob bergerak sedikit mundur saat tendangan Hotaka berhasil mengenai perutnya, Jakob segera mengeluarkan belatinya kemudian kembali bergerak menyerang Hotaka.


"Arghh!" teriak Hotaka saat belati Jakob berhasil menggores lengan kirinya.


Hotaka langsung menendang tulang kering Jakob membuat pria itu tersungkur, Jakob mengambil pasir yang ada di aspal lalu melemparkannya ke arah Hotaka, membuat lawannya itu meringis kesakitan karena pasir itu mengenai matanya.


Jakob menarik kuat kaki Hotaka hingga pria itu tersungkur bersamanya, dengan cepat Jakob menindihnya dan langsung menghunuskan belatinya ke dada Hotaka.


"Arghh......" erang Hotaka dengan matanya yang kini terlihat memerah.


Hotaka berusaha untuk menahan tangan Jakob yang ingin menghunuskan belatinya kembali.


"Tidak seharusnya kau ikut campur," desis Jakob yang kini diselimuti oleh emosi.


Bughh.


"Jakob!" teriak Davira melihat salah satu anak buah Hotaka berhasil menghantam kepala Jakob dengan balok kayu.


Davira begitu terkejut melihatnya, tubuh Jakob seketika terjatuh membuat Hotaka langsung mendorongnya agar menyingkir.


Jakob menatap langit yang masih terlihat gelap, ia menggelengkan kepalanya yang kini terasa berputar dan berdenyut nyeri. Darah segar mulai keluar dari belakang kepalanya, pukulan orang itu begitu keras dan tidak sempat ia hindari.


Melihat Hotaka yang mengambil belati milik Jakob, Davira segera menarik pelatuknya.


"Sial," umpat Davira saat pelurunya habis.


Bughh.


Fedrix datang dan langsung memukul kepala anak buah Hotaka dengan tongkat bisbolnya, sedangkan Davira segera berlari dan menendang Hotaka tepat di wajahnya agar pria Jepang itu tidak berhasil menusuk Jakob dengan menggunakan belati.


Bughh.


Fedrix terlihat memukuli orang itu dengan penuh amarah, tongkat bisbol-nya kini sudah dipenuhi dengan darah, namun ia tidak berhenti memukul hingga kepala orang yang ia pukul sudah tidak berbentuk lagi.


Braak.


"Arghh!" Davira berteriak saat kakinya ditarik oleh Hotaka membuatnya tersungkur, pria itu langsung menancapkan belati ke pergelangan kakinya membuat Davira menggeram kesakitan.


"Pria sialan!" umpat Davira lalu menendang wajah Hotaka dengan satu kakinya yang masih bisa bergerak dengan bebas.


"Akhh!"


Davira beringsut mundur, ia segera mengambil pistol yang tergeletak di tanah. Entah milik siapa pistol itu, Davira langsung menarik pelatuknya tanpa pikir panjang lagi.

__ADS_1


Dor.


__ADS_2