Tawanan Tuan Xie

Tawanan Tuan Xie
Part 30 - Roma


__ADS_3

Senyuman cerah mengembang di wajah cantik Davira, senyuman yang sudah cukup lama tidak terlihat. Nathan terpaku di tempatnya, baru kali ini dia melihat Davira tersenyum seperti itu saat bersamanya. Dan Nathan merasa begitu senang melihatnya, ternyata pilihannya untuk membawa Davira ke Roma adalah pilihan yang sangat tepat.


"Sudah lama aku tidak ke sini," Davira memperhatikan sekitarnya dengan kaki yang terus melangkah menyusuri jalanan di pusat kota.


Mereka berdua langsung pergi jalan-jalan sesuai dengan keinginan Davira, sedangkan barang-barang mereka sudah dibawa oleh anak buah Nathan ke mansion. Tangan keduanya saling bertautan layaknya sepasang kekasih, Paul hanya bisa mengulum senyum melihat kedekatan Davira dan Nathan saat ini.


Paul sudah tidak lagi mendengar suara teriakan dan juga umpatan kasar, melihat Tuan-nya bahagia seperti sekarang ini membuatnya merasa lega. Karena pada akhirnya Nathan mendapatkan wanita yang dia cintai.


"Kau ingin makan?" tanya Nathan memastikan bahwa perut Davira tidak akan merasa kelaparan.


"Aku belum lapar, tapi sepertinya aku ingin shopping. Membeli beberapa pakaian," jawab Davira tanpa rasa sungkan membuat Nathan benar-benar merasa senang.


Nathan mengusap pelan kepala Davira, sikap Davira yang seperti ini membuatnya merasa seakan dia benar-benar sudah memiliki Davira sepenuhnya. Nathan tidak peduli jika sikap Davira sekarang ini hanyalah kepalsuan, dia akan mengesampingkan pemikiran itu dan fokus membuat Davira yang sudah tidak berontak agar merasa bahagia bersamanya.


"Baiklah, mari kita ke pusat perbelanjaan."


Di ujung sana terlihat pusat perbelanjaan yang paling terkenal di kota itu, mereka berdua segera memasukinya dengan Paul yang mengikuti di belakang mereka.


Beberapa anak buah Nathan pun juga sebenarnya mengikuti dan terus mengawasi, namun dari jarak yang cukup jauh agar Davira merasa nyaman, mereka juga tidak ingin menarik perhatian orang-orang sekitar jika membawa banyak pengawal.


"Aku ingin membeli tas," ucap Davira membuat Nathan segera membawanya masuk ke dalam toko brand ternama.


"Ini merek kesukaanmu bukan?" tanya Nathan yang lagi-lagi membuat Davira merasa tercengang, pria itu benar-benar mengetahui banyak hal tentangnya.


Salah satu pegawai toko langsung menyambut kedatangan mereka dengan baik dan mulai menunjukkan beberapa koleksi mereka.


"Ini keluaran terbaru, Nona. Sangat elegan dan cantik, ini di rancang langsung oleh--" pegawai itu terus menjelaskan tentang tas-tas yang dia perlihatkan.


"Kau suka tas yang ini?" tanya Nathan menatap tas berwarna putih yang terlihat sangat cantik dan terkesan mewah.


"Aku suka, tapi sepertinya harganya terlalu mahal," jawab Davira merasa tidak nyaman jika Nathan membelikannya barang semahal itu, walaupun sebenarnya dia akan mampu membelinya sendiri dan tidak akan pikir panjang jika sedang memegang uang. Tapi sekarang dia akan dibelikan oleh Nathan, dia harus sadar diri dan tidak boleh maruk.


Nathan terkekeh kecil, "Memangnya kau pernah membeli barang murah?"


"Kami ambil yang ini," Nathan beralih kepada pegawai toko itu. Beruntung Davira bisa menggunakan bahasa Italia dengan fasih karena memang cukup sering pergi ke sana, entah untuk sekedar liburan, atau menghadiri acara pertemuan.


"Jangan mengatakan hal seperti tadi lagi, Davira. Aku bahkan mampu membelikan mu sepuluh tas yang seperti itu, dan katakan lah apa saja yang kau inginkan. Lihatlah sekelilingmu, masih banyak tas yang terlihat indah. Pilih dan aku akan membayarnya untukmu, aku tahu kau tidak pernah hanya membeli satu barang dalam satu toko. Karena pasti ada barang lain yang menarik perhatianmu di saat kau sedang menjatuhkan pilihanmu," bisik Nathan membuat Davira sekarang mengerti, selama ini dirinya benar-benar telah dipantau oleh pria itu.


Davira langsung menunjuk salah satu tas berukuran kecil yang mungkin saja tidak muat apapun selain bedak ataupun lipstik, ponsel pun tidak akan masuk di tas itu saking kecilnya.


"Aku menyukai tas yang itu."


Setelah memilih dan melakukan pembayaran, Davira keluar dari toko brand terkenal itu dengan tiga paper bag di tangannya. Karena ternyata masih ada tas yang menarik perhatiannya di saat Nathan sudah ingin membayar dua tas yang sudah ia pilih sebelumnya.


"Berikan kepada Paul," Nathan mengambil alih paper bag dari tangan Davira dan memberikannya kepada Paul.


Pria berkulit hitam itu hanya bisa tersenyum pasrah, padahal selama bertugas menjadi tangan kanan Nathan. Dia tidak pernah membawa paper bag belanjaan seperti ini, tapi sepertinya sekarang dia harus mulai terbiasa karena Tuan-nya sudah memiliki seorang wanita di sisinya.


"Ada lagi yang kau inginkan? Ku dengar kau ingin membeli beberapa pakaian."


Davira tertegun untuk sejenak memikirkan, awalnya dia merasa tidak enak menggunakan uang Nathan untuk memenuhi keinginannya. Tapi sekarang mungkin waktunya membuat Nathan sadar bahwa dia bukanlah wanita yang baik, dia hanya wanita yang gemar menghambur-hamburkan uang. Karena memang begitu kenyataannya, dia selalu pergi berbelanja dan menghabiskan uangnya untuk membeli barang-barang yang sebenarnya belum tentu akan dia pakai.


"Aku ingin membeli baju di sana," Davira segera melangkahkan kakinya memasuki toko pakaian dengan merek terkenal.


Davira dan Nathan terus berbelanja, membeli beberapa pakaian bahkan perhiasan di pusat perbelanjaan itu. Hingga pada akhirnya Davira merasa lelah dan mereka berdua memutuskan untuk makan.


Nathan menatap Paul yang membawa banyak sekali paper bag di tangannya, dan pria itu sepertinya begitu kesulitan.


"Panggil satu orang kita ke sini untuk membantumu," bisik Nathan membuat Paul menghela nafas lega.


Paul terlihat menghubungi salah satu orangnya agar segera menghampirinya, sedangkan Davira kini tengah memakan hidangan yang baru saja tersaji di hadapannya. Nathan hanya diam memandanginya, dia sampai lupa untuk memakan makanannya membuat Davira mengernyit kebingungan.

__ADS_1


"Kenapa kau tidak makan? Tidak suka menu yang ku pesan?" tanya Davira membuat Nathan tersadar dan segera memakan makanannya.


"Aku hanya sedang fokus memandangi mu, aku menyukai menu yang kau pesan," jawab Nathan tidak ingin membuat Davira merasa tidak dihargai.


Setelah selesai mengisi perut, mereka berdua keluar dari pusat perbelanjaan karena Davira sudah puas membeli barang-barang yang dia inginkan. Sebenarnya Davira merasa kesal karena Nathan tidak marah ataupun melarangnya membeli barang-barang mahal itu, bahkan dia membeli kalung dengan harga fantastis. Tapi Nathan malah terlihat merasa senang membuat Davira benar-benar kebingungan, tidak ada cara yang membuat Nathan merasa muak dengannya.


Davira tahu bahwa Nathan memiliki banyak uang dan kekayaan yang melimpah, tapi tidakkah Nathan menyayangi uangnya yang habis karena barang-barang mahal Davira?


"Ingin ke mana lagi setelah ini?" tanya Nathan membuyarkan lamunan Davira.


"Aku rasa aku ingin naik kapal di sungai itu."


Jawaban Davira sontak membuat Nathan menghentikan langkahnya, sorot matanya langsung berubah menjadi dingin membuat Davira mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh pria itu. Davira sengaja, dia hanya ingin Nathan tahu bahwa hanya sikapnya yang berubah. Tetapi tidak dengan hatinya, Damian masih memiliki kuasa penuh atas hatinya.


"Kau ingin mengenangnya?" Nathan tahu bahwa Davira selalu naik kapal dan menyusuri sungai Roma bersama dengan Damian setiap kali ke sini.


"Tentu saja, Nathan. Biar bagaimanapun, aku merindukannya," jawab Davira tanpa mempedulikan perasaan Nathan.


"Bukankah sudah ku katakan kepadamu sebelumnya? Aku tidak ingin kau mengenang Damian, aku membawamu ke sini hanya agar kau aman dan bahagia. Bukan untuk mengenang pria sialan itu," ucap Nathan penuh penekanan.


"Jangan berkata kasar mengenai Damian, aku tidak suka mendengarnya. Kau harus menghormati dia!" suara Davira mulai meninggi membuat Nathan menguatkan cengkeramannya di pergelangan tangan Davira sehingga akan meninggalkan bekas kemerahan nantinya.


Keduanya saling menatap tajam membuat Paul dan anak buah yang mengikuti mereka menelan saliva susah payah. Paul hanya bisa tersenyum miris karena lagi-lagi melihat Nathan dan Davira bertengkar. Sebenernya Paul merasa kesal karena Davira selalu saja memancing kemarahan Nathan yang memang mudah tersulut emosi.


"Menghormatinya? Untuk apa? Sebaik itukah dia di matamu? Kau tidak tahu apa-apa tentang Damian."


"Aku mengetahui semua tentangnya! Dia adalah kekasihku sampai dia tiada di tanganmu, Nathan. Dan kau? Tahu apa kau tentangnya? Kau hanya mengetahui kehidupan kami berdua dengan cara menguntit, apa kau yakin informasi yang kau dapatkan seratus persen benar?" Davira menatap mata Nathan yang terlihat memerah dengan sangat berani.


Nathan tertegun untuk sejenak dengan tangan yang terkepal kuat, sebisa mungkin dia menahan diri agar tidak menyakiti Davira.


"Kau akan tahu suatu saat nanti, dan aku bersumpah kau akan menyesal karena telah begitu mencintai pria brengsek seperti dia," Nathan segera menarik tangan Davira dan melangkahkan kakinya dengan cepat membuat wanita itu mau tidak mau berjalan mengikutinya.


"Lepaskan aku Nathan! Aku tidak akan pernah merasa menyesal telah mencintai Damian!"


"Tutup mulutmu, sebelum aku habis kesabaran. Jangan pernah mengatakan hal itu lagi karena aku akan membuatmu tidak bisa berbicara, lebih baik kau diam untuk selamanya dari pada aku harus terus mendengar mu mengatakan tentang cintamu kepada pria itu!"


Nathan terdengar begitu serius dengan perkataannya membuat Davira merasa panik.


"Kau sudah gila," desis Davira kemudian berteriak kesakitan karena tiba-tiba saja high heels yang ia kenakan tersangkut membuat kakinya terasa begitu sakit.


Nathan sontak menghentikan langkahnya mendengar teriakan Davira, Paul pun begitu terkejut.


"Ada apa?"


"Dasar brengsek, kau bertanya? Kau menyeret ku sangat cepat! Kaki ku sakit," wajah Davira sudah terlihat memerah.


Nathan segera berjongkok dan melepaskan high heels berwarna hitam itu dari kaki Davira, sedangkan wanita itu kini berpegangan pada pundak Paul agar tidak hilang keseimbangan.


"Kau membuangnya?" Davira terbelalak kaget saat melihat Nathan membuang high heels yang dia tahu harganya begitu mahal, namun Nathan membuangnya begitu saja.


"Naiklah," Nathan sedikit membungkukkan tubuhnya di hadapan Davira.


"Aku tidak mau," tolak Davira membuat Nathan segera memberi isyarat kepada Paul.


"Aaaa!"


Davira terperanjat kaget karena Paul langsung mengangkat tubuhnya dari belakang dan membuatnya kini berada di dalam gendongan Nathan. Karena takut jatuh, Davira segera mengalungkan tangannya di leher Nathan.


"Aku tidak perlu digendong," Davira terus menggerutu, namun Nathan tidak menghiraukannya.


Beberapa orang terkadang menatap ke arahnya membuat Davira menenggelamkan wajahnya di leher Nathan, dan hal itu membuat Nathan cukup terkejut. Namun karena dia masih merasa marah, dia hanya diam tanpa mengatakan sepatah katapun hingga kini mobil berwarna hitam terparkir di sebelahnya.

__ADS_1


Paul segera membukakan pintu mobil membuat Nathan segera menurunkan Davira dan menyuruh wanita itu untuk masuk, Davira hanya menurut, ia duduk di dekat jendela dengan wajah yang enggan menatap ke arah Nathan.


Setelah Paul memasukkan barang belanjaan Davira, pria itu segera masuk dan duduk di kursi depan, di samping supir yang akan membawa mereka menuju mansion. Nathan duduk di sebelah Davira dan membiarkan keheningan menyelimuti mereka selama di perjalanan.


Pikiran Davira melayang memikirkan semua perkataan Nathan tentang Damian.


"Kenapa Nathan selalu mengatakan bahwa Damian tidak sebaik yang ku pikirkan? Kenapa Nathan begitu yakin aku akan menyesal suatu saat nanti karena telah mencintai Damian?" batin Davira mulai merasa kebingungan dan juga penasaran.


Davira menggelengkan kepalanya pelan dan berusaha untuk menepis perkataan Nathan dari pikirannya.


"Aku yakin Nathan mengatakan semua itu hanya agar aku melupakan Damian dan merasa kebingungan, aku tidak boleh meragukan Damian. Nathan lah yang sudah begitu jahat dan membuatku menderita," batinnya berbicara, Davira mencoba meyakinkan dirinya sendiri.


Sesampainya di mansion, Nathan berlalu begitu saja tanpa mengatakan sepatah katapun kepada Davira. Wanita itu semakin merasa kesal, ia berdiri di tengah-tengah ruang utama mansion yang begitu megah dengan interior khas Eropa.


"Mari Nona, saya antar ke kamar," Paul dan beberapa anak buah yang membawakan barang belanjaan Davira segera menuntun wanita itu menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua.


Tentu saja kamarnya berada di satu lantai yang sama dengan Nathan, Paul membukakan pintu kamarnya membuat isi ruangan yang akan ia tempati itu terlihat.


Desain kamarnya begitu mewah dan juga elegan, Davira masuk dengan tertatih karena kakinya yang terasa sakit. Anak buah Nathan segera meninggalkannya bersama dengan Paul setelah meletakkan puluhan paper bag di atas sofa panjang yang ada di kamar itu.


"Nona tunggulah di sini, akan ada pelayan yang datang dan membantu Nona meletakkan barang belanjaan," Paul membungkukkan sedikit tubuhnya sebelum keluar dari kamar wanita itu.


Davira menghela nafasnya panjang kemudian duduk di atas tempat tidurnya yang berukuran king size dengan aroma yang begitu harum menandakan bahwa kamar itu sudah disiapkan untuknya sebelum ia datang.


Davira menghela nafasnya panjang sembari menatap kakinya yang memerah dan terasa begitu sakit.


"Apa aku terkilir?" gumamnya bersamaan dengan terdengarnya suara ketukan pintu.


"Masuk saja!" sahut Davira kemudian menoleh dan mendapati tiga pelayan dengan pakaian yang sama masuk ke dalam kamarnya.


"Apakah barang-barang ini ingin diletakkan ke dalam lemari, Nona?"


"Iya, letakkan saja," jawab Davira tidak terlalu peduli dengan barang-barang itu.


Kedua pelayan langsung terlihat mengambil puluhan paper bag dari atas sofa, mereka membawanya memasuki sebuah ruangan yang Davira yakini adalah walk in closet-nya.


"Saya dengar kaki Nona terkilir," ucap pelayan yang sudah terlihat berumur dengan rambut putih dan keriput di wajahnya.


"Iya, kau bisa mengobatinya?"


"Bisa Nona," jawabnya kemudian bersimpuh di lantai.


"Di atas saja," perintah Davira merasa tidak nyaman karena pelayan itu sangat jauh lebih tua dari pada dirinya.


"Siapa namamu?" tanya Davira saat pelayan itu sudah duduk di tepi kasur tanpa menolak perintahnya.


"Berta," pelayan bernama Berta itu meminta izin untuk memegang kaki Davira.


"Lakukan saja apa yang bisa membuat kakiku sembuh, Berta," ucap Davira sembari menahan rasa sakit ketika Berta mulai mengurut kakinya.


Davira menatap wajah Berta lekat-lekat kemudian berdehem singkat.


"Kau sudah lama bekerja di sini?" tanya Davira sebagai basa basi.


"Sudah sangat lama Nona, bahkan sebelum Tuan muda Xie di lahirkan."


Davira cukup terkejut mendengarnya, itu artinya Berta sudah bekerja untuk Nathan begitu lama.


"Selama bekerja kau hanya bertugas di mansion ini?"


Berta tersenyum kecil, "Iya Nona, dulunya di sini mansion utama yang ditempati oleh Tuan Julian dan Nyonya Amara. Mereka cukup lama tinggal di sini, sejak belum mengandung Tuan Nathan, sampai Tuan Nathan dilahirkan dan berumur lima belas tahun."

__ADS_1


"Jadi masa kecil Nathan dihabiskan di sini?"


"Iya Nona, sebelum akhirnya mereka pindah ke Indonesia atas permintaan Nyonya Gayatri. Namun Tuan Nathan masih sering ke sini untuk sekedar berkunjung. Dalam setahun, Tuan pasti ke sini."


__ADS_2