Tawanan Tuan Xie

Tawanan Tuan Xie
Part 45 - Hutang Nyawa


__ADS_3


Flashback On -



Nathan melajukan mobilnya, membelah jalan raya yang begitu ramai. Mobil yang dikemudikannya sesekali bersenggolan dengan mobil pengendara lain di jalan. Namun Nathan sepertinya tidak mempedulikan hal itu.


Nathan harus bisa tiba secepat mungkin sebelum terjadi sesuatu yang buruk kepada Emma.


"Sial," umpat Nathan sembari menggenggam kuat setirnya.


Dia benar-benar merasa marah dan tidak terima, Gabriel Luke berusaha untuk menghancurkannya dengan menggunakan orang terdekatnya. Mungkin Gabriel berpikir bahwa Emma adalah kekasihnya karena mereka memang begitu dekat, Emma sangat sering berkunjung ke mansion Nathan jika Nathan sedang berada di Roma.


Kedekatan mereka itulah yang sekarang membawa petaka bagi Emma, sudah berkali-kali Nathan menyuruh Emma agar lebih menjaga jarak dengannya. Namun wanita itu cukup keras kepala, dan apa yang dia takutkan sekarang terbukti.


Gabriel melibatkan Emma dalam permasalahan mereka. Gabriel sangat membenci Nathan karena dua tahun yang lalu Nathan pernah menggagalkan pengiriman barangnya, Nathan bahkan mencuri barang tersebut, membuat Gabriel menjadi orang yang paling disalahkan di dalam keluarganya karena kerugian besar yang mereka alami.


"Ke sisi kiri ku, cepat," ucap Nathan kepada seluruh anak buahnya dan juga orang-orang yang bekerja pada Arthur selaku ayah dari Emma.


Tentu saja Arthur juga mengerahkan orang-orangnya untuk membantu Nathan menemukan putrinya.


"Ada yang mengikuti Tuan."


Suara Paul terdengar dari HT yang saat ini terus digenggam oleh Nathan.


"Tabrak, tembak! Lakukan apapun, jangan sampai mereka berhasil menghalangi kita," perintah Nathan sembari melirik ke arah GPS di mobilnya.


Di sana memperlihatkan letak keberadaan Emma saat ini, beruntung Arthur selalu menyuruh Emma memakai gelang yang memang sudah disimpan alat pelacak di dalamnya.


"Kau tidak akan bisa menghancurkan ku melalui Emma, kau salah besar, Gabriel," gumam Nathan kemudian membawa mobilnya menabrak sebuah gedung bertembok kaca begitu saja.


Semua orang yang berada di dalamnya begitu terkejut ketika Nathan dan anak buahnya keluar dari mobil masing-masing lengkap dengan senjata di tangan mereka.


"Lantai lima," Nathan dan orang-orangnya langsung berlarian memasuki lift untuk menuju ke lantai lima di mana Emma berada.


Dor.


Nathan menembak pintu apartemen milik Gabriel kemudian mendobraknya.


Braak.


Puluhan orang-orang berbadan kekar kini sudah menyambut kedatangan Nathan.

__ADS_1


Bugh.


Nathan langsung melayangkan tinjunya ke wajah salah satu dari mereka. Anak buah Nathan berdatangan, perkelahian sudah tak terelakkan. Mereka semua saling melayangkan tinju ke wajah satu sama lain.


"Arghhh!"


Nathan menghunuskan pisaunya sampai berkali-kali, ia menyerang orang-orang yang menghalangi jalannya dengan sangat brutal.


Dor.


Paul menembaki orang-orang itu membuat jalan menuju ke kamar Gabriel terbuka untuk Tuannya.


Kini Nathan sudah bisa melihat Gabriel yang sedang memeluk Emma dari belakang, namun dengan pistol yang mengarah ke kepala Emma.


"Tenanglah Emma," Nathan menggenggam erat pisaunya yang sudah berlumuran darah.


Matanya menyiratkan kemarahan yang begitu besar kepada Gabriel.


"Bagaimana rasanya dicuri, Nathan?" Gabriel tersebut miring.


"Tidak seharusnya kau melibatkan Emma."


Nathan geleng-geleng kepala, "Jadi sekarang apa yang ingin kau lakukan kepada Emma?"


Nathan mengangkat satu alisnya, bersikap setenang mungkin walaupun saat ini dia sudah begitu ingin menghajar wajah Gabriel.


Gabriel mendorong kasar tubuh Emma hingga wanita itu tersungkur ke lantai.


"Nathan," panggil Emma dengan suara yang terdengar lemah dan bergetar.


"Aku ingin membunuhmu, pencuri," Gabriel mengeluarkan pisaunya kemudian melompat dan berusaha untuk menerjang Nathan.


Dengan cepat Nathan menendang perut Gabriel hingga pria itu terpelanting dan punggungnya membentur tembok dengan keras.


"Arghh!"


Nathan langsung menghampirinya, menindih tubuh Gabriel lalu melayangkan tinjunya.


"Jangan pernah melibatkan wanita dalam permasalahan pria, sialan!" Nathan meluapkan amarahnya dengan terus menghajar wajah Gabriel.


Namun tentu saja Gabriel tidak tinggal diam, ia mendorong tubuh Nathan hingga keduanya bergulat di lantai dengan tangan yang memegang pisaunya masing-masing.


Mereka berdua terus berusaha untuk saling menyerang.

__ADS_1


"Akhh......" Nathan meringis pelan saat pisau Gabriel berhasil menusuk bahunya.


Nathan segera mendorong tubuh Gabriel agar menyingkir darinya. Gabriel lagi-lagi terpelanting, dan kali ini tubuhnya membentur meja dengan keras.


"Arghh! Sialan!"


Gabriel memegangi perutnya yang terasa begitu sakit karena membentur meja, ia berusaha bangkit dengan tertatih. Gabriel melirik Emma yang terlihat ketakutan dipojok ruangan.


Senyuman miring langsung tercetak di wajah Gabriel, pria itu segera berlari ke arah Emma. Berniat untuk melukai Emma, namun Nathan segera menerjang tubuhnya. Hingga tanpa sadar pisau yang dipegang oleh Gabriel sudah menusuk perutnya dengan teramat dalam.


"Nathan!" teriak Emma begitu terkejut melihatnya.


"Sudah ku katakan aku akan membunuhmu," bisik Gabriel semakin memperdalam tusukannya, hal itu membuat ginjal Nathan langsung rusak seketika.


Dor.


Satu butir peluru tiba-tiba saja mendarat di kepala Gabriel tanpa diduga-duga, tubuh Gabriel langsung ambruk ke lantai bersama dengan tubuh Nathan. Perut Nathan terlihat mengeluarkan banyak sekali darah, ia menatap wajah Emma yang kini menghampirinya dengan pandangan yang sudah buram.


- Flashback Off -


Nathan segera membuka matanya saat mimpi itu lagi-lagi muncul, bayangan masa lalunya benar-benar mengganggunya.


Nathan selalu dihantui oleh rasa bersalah atas apa yang saat ini terjadi kepada Emma, sahabat masa kecilnya itu harus berada dalam bahaya karenanya. Dan Emma juga harus mengorbankan ginjalnya untuk hidupnya.


Nathan mengusap kasar wajahnya saat mengingat permintaan Emma beberapa saat yang lalu, wanita itu meminta ginjal Davira. Dan hal itu tidak akan pernah Nathan berikan, dia bisa memberikan apapun untuk Emma. Kecuali hatinya dan juga kehidupan Davira, sampai kapanpun Davira adalah segalanya untuknya.


Dia tidak akan pernah mengorbankan Davira hanya untuk Emma. Nathan lah yang sudah berhutang budi, maka Nathan juga yang harus membayarnya. Bukan Davira, wanita itu adalah miliknya. Tidak akan ia biarkan miliknya tiada.


"Paul, di mana ponselku?" tanya Nathan sembari berusaha merubah posisinya menjadi duduk.


"Ini Tuan," Paul segera menyerahkan ponsel milik Nathan.


"Paul, beritahu kepada orang-orang kita, cari ginjal untuk Emma. Secepatnya, Aku ingin Emma kembali sehat dalam waktu satu bulan," ucap Nathan sambil memeriksa GPS di ponselnya.


Terlihat titik merah yang seharusnya menunjukkan posisi Davira berada, namun posisinya berada di jalan raya. Sudah berjam-jam, dan itu artinya Davira sudah membuang kalungnya.


Nathan segera turun dari atas ranjang rumah sakit membuat Paul langsung mengambilkan jas milik Tuannya itu.


"Tuan yakin sudah baik-baik saja?" tanya Paul merasa khawatir.


"Katakan pada dokter bahwa aku tidak akan kembali ke sini, aku harus mencari Davira. Kita harus menemukannya sebelum keluargaku, apa orang-orang mu sudah mendapatkan petunjuk?" Nathan melepaskan infus yang terpasang dipunggung tangannya.


"Belum, Tuan. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Tuan Moore di kota ini."

__ADS_1


Nathan berdecak, "Jakob tidak boleh membawa Davira keluar dari kota ini."


"Cari tahu semua pemberangkatan, Paul. Darat, udara, laut, cari tahu semuanya. Jika Jakob menggunakan jet pribadi, kita pasti bisa menemukannya."


__ADS_2