Tawanan Tuan Xie

Tawanan Tuan Xie
Part 41 - Pertemuan Keluarga


__ADS_3

Davira termenung sendirian di balkon kamarnya, dia benar-benar tidak menyangka bahwa Nathan akan membawanya hadir sebagai pasangan pada pertemuan besar keluarga Xie. Ini benar-benar di luar dugaan, Nathan begitu berani, bisa-bisanya pria itu berpikiran akan memperlihatkannya kepada seluruh keluarga besar Xie yang jelas-jelas tidak akan menyukainya.


"Bagaimana ini? Apa yang harus ku lakukan? Ini adalah kesempatan. Tapi.....apa aku bisa? Bagaimana jika Nathan mengatakan kebenaran? Bagaimana jika Nathan tidak tahu-menahu atas pembantaian keluargaku?" batinnya begitu kebingungan tentang langkah apa yang harus dia ambil.


Di satu sisi dia akui Nathan memang sudah berhasil menarik perhatiannya dan membuatnya jatuh cinta dengan semua sikap serta perlakukan pria itu kepadanya. Tapi di sisi lain, rasa dendam dan amarah masih belum juga menghilang. Dan Davira tidak yakin dendamnya bisa menghilang begitu saja.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Nathan berdiri di samping Davira.


"Aku memikirkan tentang pertemuan itu, bagaimana jika aku dihujani peluru oleh keluargamu?" Davira sama sekali tidak menatap wajah Nathan.


Matanya menatap lurus ke arah depan, melihat hamparan rumput hijau yang begitu luas.


"Itu tidak akan terjadi, aku akan memelukmu jika sampai hal itu terjadi," ucap Nathan membuat Davira tersenyum kecil.


"Sebenarnya untuk apa mengajakku ke sana?" tanya Davira masih tidak percaya bahwa Nathan benar-benar akan se-berani itu.


"Untuk menunjukkan kepada mereka, bahwa aku tidak bisa di ancam ataupun dilarang. Tidak ada yang bisa mengendalikan ku, sedangkan aku memegang kendali penuh atas diriku sendiri, dan atas apa yang harus ku lakukan kepadamu."


"Singkatnya, hidup ataupun mati ku, ada di tanganmu. Apa aku benar?" Davira menoleh ke samping, membuat netra keduanya saling bertubrukan.


Nathan mengangguk pelan, "Tapi akan ku pastikan bahwa aku tidak akan memberikan kematian untukmu."


Davira hanya bisa diam, dia tidak tahu lagi apa yang harus dia katakan saat ini.


Keheningan menyelimuti keduanya selama beberapa saat, masing-masing dari mereka berkutat dengan pikiran yang tentu saja berbeda.


"Nathan," panggil Davira memecah keheningan.


"Aku ingin melihat dokumen serta berkas-berkas penting milikku yang kau simpan, apa kau membawanya ke sini?"


"Aku selalu membawanya, kenapa tiba-tiba ingin melihatnya?" Nathan mengernyit.


"Hanya ingin memastikan bahwa kau tidak membohongiku," jawab Davira membuat Nathan terkekeh kecil.


"Ada di ruangan ku, ingin melihatnya sekarang juga?" Nathan meraih tangan Davira untuk ia genggam.


Davira hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, mereka berdua akhirnya keluar dari kamar Davira dan berjalan menuju ke ruang kerja Nathan.


Sesampainya di sana, pandangan mata Davira langsung tertuju pada beberapa lembar foto yang berserakan di atas meja kerja pria itu. Davira segera mengambilnya, foto-foto itu memperlihatkan kebersamaannya bersama Nathan.


"Fotonya bagus?" tanya Nathan sembari membuka lemarinya.


"Apakah orang suruhan mu yang mengambil foto ini?"


"Bukan, tapi orang suruhan nenekku. Dia membuntuti kita, fotonya bagus, maka dari itu aku mengambilnya."


Davira geleng-geleng kepala, "Dasar gila."


"Sangat disayangkan jika foto sebagus itu disimpan oleh nenekku, kau juga terlihat bahagia di sana. Jadi lebih baik aku yang menyimpannya."


Nathan meletakkan sebuah koper tas kecil berwarna silver di atas meja membuat Davira segera merapikan beberapa lembar foto agar menumpuk menjadi satu. Nathan segera membuka koper tersebut, memperlihatkan tumpukan berkas serta dokumen-dokumen penting yang berkaitan dengan bisnis.


Davira tersenyum melihatnya, "Aku senang kau menyimpannya, tidak bisa ku bayangkan bagaimana jika semua dokumen ini jatuh ke tangan Bibi Liana."


"Aku tahu semua ini berharga untukmu," Nathan kembali menyimpan koper itu ke dalam tempatnya.


"Apa aku boleh menyimpan satu?" tanya Davira memperlihatkan satu foto yang menunjukkan potret Nathan yang sedang melepaskan high heels-nya ketika berada di pantai.


Nathan menatap manik mata Davira untuk sejenak, entah mengapa perasaannya menjadi tidak nyaman.


"Kau boleh menyimpannya," jawab Nathan membuat Davira tersenyum.


Tiba-tiba saja Nathan memeluk tubuh Davira, pelukan yang begitu menenangkan dan penuh kasih sayang. Davira selalu bisa merasakan hal itu dari Nathan, keinginan memiliki dan rasa obsesi yang begitu besar.


"Aku tidak tahu apa yang ada di dalam pikiranmu saat ini, Davira. Ku harap kau benar-benar telah mempercayaiku," batinnya.

__ADS_1


Nathan mengecup puncak kepala Davira, membenamkan wajahnya di sana untuk menghirup aroma rambut wanita itu. Aroma yang begitu manis dan membuatnya selalu ingin menghirupnya.


"Aku berharap kau akan selalu ada di sisiku, Davira. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika kau meninggalkanku."


Davira tertegun di dalam pelukan Nathan, ia mengeratkan pelukannya dengan perasaan yang tidak karuan.


π_π


Davira tersenyum melihat pantulan dirinya di cermin, tubuhnya terlihat begitu sempurna dengan balutan dress berwarna hitam yang melekat di tubuhnya. Belahannya yang panjang memperlihatkan paha mulus dan kaki jenjangnya.


Sebuah kalung berlian berwarna biru yang berharga fantastis terpasang lehernya, terlihat begitu mewah dan juga elegan. Rambutnya yang panjang sengaja di gulung ke atas dan hanya menyisakan beberapa helaian kecilnya.


Suara ketukan high heels yang ia kenakan terdengar berirama saat ia berjalan di walk in closet miliknya untuk mengambil tas yang akan ia gunakan.


Davira tertegun saat melihat sebuah kalung berbentuk X dan D yang waktu itu sempat ia kenakan, Davira segera mengambilnya kemudian memasukkannya ke dalam tasnya.


Ia mengambil nafasnya dalam-dalam, berusaha untuk meyakinkan dirinya bahwa langkah yang akan ia ambil adalah langkah paling benar.


Davira segera keluar dari walk in closet, ia langsung tersenyum ketika melihat Nathan yang sudah berdiri di dalam kamarnya.


"Cantik sekali," puji Nathan tampaknya begitu terpukau dengan penampilan Davira.


"Aku khawatir para sepupuku akan merasa tertarik kepadamu jika melihat kau secantik ini," Nathan menghampiri Davira kemudian meraih tangannya.


Cup.


Nathan mendaratkan kecupan di sarung tangan Davira, wanita itu terlihat seperti seorang bangsawan.


"Kenapa wajahmu terlihat sangat gugup?" tanya Nathan membuat Davira berdehem singkat, ia berusaha untuk bersikap setenang mungkin.


"Siapa yang tidak gugup? Aku akan bertemu dengan seluruh keluarga besar Xie yang notabenenya adalah musuh keluargaku, sudah sejak lama keluarga kita bersaing, Nathan. Dan bisa-bisanya dirimu tertarik kepadaku tanpa memikirkannya terlebih dahulu."


Nathan terkekeh kecil, "Kau yang menarikku, Davira," baiknya tepat di telinga wanita itu.


Davira mengalungkan tangannya di leher Nathan kemudian mendaratkan kecupan singkat di bibir pria itu.


Menge-capnya pelan dan mel*matnya, memperdalam ciumannya hingga membuat Davira hampir kehabisan nafas. Nathan melepaskan pagutan bibirnya kemudian menempelkan dahinya pada dahi Davira.


"Aku mencintaimu," ucapnya dengan suara yang begitu serak.


Davira hanya diam, nafasnya terdengar memburu.


"Tidak ada yang ingin kau katakan kepadaku?"


Davira tersenyum kecil, "Kita berangkat sekarang?"


Nathan menganggukkan kepalanya, tidak ingin memaksa Davira agar mengungkapkan isi hatinya. Nathan menggenggam tangan Davira dan berjalan keluar dari kamar wanita itu.


Mereka melangkahkan kaki bersama-sama hingga sampai ke garasi, di sana Elio terlihat sudah menunggu dan dengan sigap membukakan pintu mobil untuk keduanya.


"Paul masih belum menyelesaikan tugasnya?" tanya Davira merasa penasaran, sebab Paul sudah cukup lama tidak terlihat.


"Iya, sebentar lagi mungkin akan selesai," jawab Nathan setelah mereka masuk ke dalam mobil.


Nathan terus menggenggam tangan Davira selama perjalanan, dia tahu bahwa wanita itu pastinya merasa gugup dan juga was-was.


"Jadi pertemuan keluarga Xie di adakan pada tanggal satu Juli dan bertempat di Roma? Kenapa tidak di mansion saja kalau begitu?"


Nathan terkekeh, "Biasanya acaranya di adakan di Rio, tapi sekarang di Roma, nenek merubahnya sesuka hatinya."


Tidak memerlukan waktu lama, akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Elio berhenti tepat di depan sebuah gedung pencakar langit yang terlihat begitu megah. Beberapa pengawal yang berjaga langsung menyambut kedatangan mereka.


Nathan turun terlebih dahulu dan segera membukakan pintu untuk Davira. Nathan mengulurkan tangannya membuat Davira langsung menyambutnya dengan rasa ragu yang kini menyelimutinya.


"Semuanya akan baik-baik saja," bisik Nathan setelah Davira menggandeng lengannya.

__ADS_1


Davira mengambil nafasnya dalam-dalam, wajahnya langsung berubah menjadi begitu percaya diri dan juga dingin seperti Davira biasanya. Nathan langsung tersenyum tipis melihatnya, wajah dingin itulah yang membuat dia merasa tertarik pada malam pertama kali ia melihat wanita itu.


"Aku selalu menyukai rasa percaya dirimu."


"Aku hampir lupa bagaimana cara melakukannya," ucap Davira sembari melangkahkan kakinya.


Pintu utama terbuka lebar, mereka berdua segera masuk layaknya sepasang kekasih. Seluruh mata langsung menatap ke arah keduanya, suasana seketika berubah menjadi menegangkan.


Mata semua orang tidak lepas dari Davira dan juga Nathan yang baru saja masuk ke dalam ruangan aula tempat seluruh keluarga Xie berkumpul. Terdengar bisikan-bisikan dan suara umpatan pelan, mereka semua tentunya begitu terkejut melihat keberadaan Davira.


"Apa yang Nathan lakukan?" Julian mengepalkan tangannya kuat-kuat, begitu juga dengan Amara, darahnya terasa mendidih melihat senyuman tipis di wajah Davira yang kini menatapnya tanpa rasa takut sedikitpun.


Gayatri tersenyum miring, itu artinya orang-orangnya tidak akan bisa membunuh Davira seperti rencana awalnya. Namun otaknya masih memiliki banyak rencana yang bisa ia gunakan untuk menyingkirkan Davira dari kehidupan cucunya.


"Nathan sengaja menantang kita, Julian. Tenanglah, ibu sudah memiliki rencana. Menghadapi Nathan tidak bisa dengan kekerasan," Gayatri membuka suara dan berusaha untuk tetap tenang walaupun sebenarnya dia ingin menembak kepala Davira saat ini juga.


"Rencana apa, ibu? Kita bahkan bisa membunuhnya saat ini, Nathan mengantarkan mangsa ke hadapan kita."


"Jangan bodoh, Julian. Diamlah dan tahan amarahmu, kau akan melihat bagaimana rencana ibu berjalan dengan baik. Davira sendiri yang akan pergi dari Nathan, dan saat itu tiba, maka kita akan membunuhnya."


Sedangkan Emma kini hanya bisa tertegun di tempatnya, ia menatap kedatangan Davira dan Nathan tidak percaya. Pantas saja Nathan menolak untuk menjemputnya, ternyata pria itu lebih memilih untuk membawa Davira. Dan hal itu membuat kebenciannya kepada Davira semakin membesar.


Terdengar suara tawa kecil di sebelahnya membuat Emma segera menoleh.


"Ku kira Nathan akan datang bersamamu, Emma. Ternyata dia datang dengan tawanannya itu," Aaron tersenyum sembari menyesap sampanye-nya pelan.


Aaron berdecak, "Sangat cantik, pantas saja Nathan tergila-gila. Sepertinya aku harus menyapanya, suasana di sini agak menegangkan."


Sepupu Nathan itu segera meletakkan gelas sampanye miliknya di atas meja, Emma hanya diam dan tidak menanggapi perkataan Aaron. Dia tahu segila apa pria itu, Aaron mungkin terlihat ramah. Namun dia tidak seramah itu, lakukan kesalahan sedikit saja, maka Aaron akan langsung membunuhmu.


"Lama tidak bertemu, Nathan," Aaron langsung memeluk singkat tubuh Nathan kemudian beralih menatap Davira.


Aaron memberikan senyumannya lalu meraih tangan Davira yang dibalut dengan sarung tangan berwarna hitam setelah itu mengecupnya.


"Senang bertemu denganmu, Nona Handoko. Apakah sepupuku ini memperlakukanmu dengan baik?" tanya Aaron membuat Nathan menghela nafasnya panjang.


Aaron adalah salah satu sepupu yang paling menyebalkan dan dia tidak pernah menyukai keberadaan Aaron. Entah mengapa Nathan tidak pernah menyukai semua sepupunya, bisa dikatakan bahwa Nathan lah yang bermasalah di sini.


"Tidak perlu menjawab pertanyaannya, Davira," bisik Nathan membuat Aaron yang masih mendengarnya tertawa kecil.


"Kalian menjadi pusat perhatian di sini, lihatlah mata mereka. Terus memandangi kalian berdua, kenapa membawanya Nathan? Ku dengar nenek ingin dia kau habisi, tapi kau membawanya ke sini," Aaron geleng-geleng kepala.


"Sebaiknya tutup mulutmu Aaron," ucap Nathan masih bersikap tenang.


"Nenek, tidak ingin menyapa tamu kita?" tanya Aaron berbalik untuk menatap Gayatri.


Laura yang juga di undang oleh Gayatri kini hanya bisa memutar bola matanya melihat keberadaan Davira yang benar-benar telah mengejutkan semua orang. Siapa yang menyangka bahwa Nathan akan seberani itu membawa Davira ke acara pertemuan keluarga ini? Kebencian Laura semakin mendalam melihatnya.


Gayatri tersenyum tipis kemudian melangkahkan kakinya bersama dengan Amara, sedangkan Julian hanya diam di tempatnya. Julian tidak ingin berbicara kepada Nathan di saat dia sedang diselimuti oleh emosi seperti sekarang ini.


"Selamat datang, Davira. Tidak ku sangka kau akan datang ke sini, kau sangat berani," ucap Gayatri masih dengan senyuman di wajahnya.


"Nathan mengajakku, katanya dia akan memperkenalkan aku kepada kalian semua agar aku tidak lagi di anggap sebagai simpanan," Davira sengaja mengatakan hal itu untuk menyindir Amara.


"Memang itu kenyataannya, Davira. Seharusnya kau malu telah memperlihatkan dirimu di hadapan kami semua, kau tahu ada berapa banyak keluarga Xie yang saat ini sedang berada di sini? Mereka semua tengah menatapmu, tidakkah kau malu? Kau tidak diterima di keluarga ini," desis Amara dengan suara yang begitu pelan agar yang lain tidak mendengarnya.


"Aku yang menerimanya, ibu. Untuk apa Davira merasa malu? Dia bahkan yang paling bersinar di antara kalian," Nathan menggenggam erat tangan Davira kemudian mengecupnya di hadapan Gayatri dan juga Amara.


Hal itu membuat mata Aaron melebar melihatnya, pria itu kemudian terkekeh kecil melihat keberanian Nathan, dia senang dengan suasana menegangkan seperti ini.


Biasanya acara keluarga yang di adakan setahun sekali ini selalu terasa membosankan, tetapi kali ini sangatlah berbeda. Nathan benar-benar memberikan warna dan suasana yang baru.


"Amara, apa yang kau katakan? Kita harus menyambut tamu Nathan dengan baik," Gayatri tersenyum kepada Nathan lalu beralih kepada Davira.


Gayatri geleng-geleng kepala, "Kau benar-benar membuatku merasa terkejut, Nathan."

__ADS_1


"Aku suka membuat kejutan."


__ADS_2