
Flashback -
Emma meremas kuat dress yang saat ini sedang ia kenakan, dia benar-benar tidak menyangka Nathan akan begitu berani membawa Davira ke hadapan keluarga besar Xie.
Harga diri Emma terasa diinjak oleh Davira, wanita itu tidak mengenal Nathan sebanyak dirinya. Tidak seharusnya Davira berdiri bergandengan bersama Nathan, melewati pinta masuk utama dan menjadi pusat perhatian.
Seharusnya dialah yang berada di posisi itu, bukan Davira ataupun wanita lain. Melihat Nathan yang begitu memuja Davira membuat wajah Emma terasa ditampar dengan begitu keras. Nathan telah menolaknya secara tidak langsung, pria itu begitu sengaja menunjukkan kepada semua orang bahwa dia sangatlah mencintai Davira.
Padahal Emma yakin jika sebenarnya Nathan mengetahui perasaannya, Nathan pasti tahu betul bahwa Emma mencintainya lebih dari dirinya sendiri. Bahkan Emma rela melakukan apa saja agar bisa menarik perhatian Nathan dan mendapatkan cinta pria itu.
Tapi sayangnya semua usahanya tidak membuahkan hasil, dia kalah oleh wanita bernama Davira Handoko yang bahkan tidak berjuang sedikitpun untuk Nathan.
Jika dulu Emma pernah mengorbankan dirinya dan hampir mati untuk Nathan, maka malam ini dia juga akan melakukan hal yang sama. Dia akan melakukan sesuatu yang gila agar Davira menyingkir dari kehidupan Nathan tanpa harus mengotori tangannya sendiri.
Keberadaan Davira sebagai seorang putri tunggal keluarga Handoko yang notabenenya adalah musuh utama keluarga Xie sangatlah tepat, di acara ini semua keluarga tengah berkumpul dan ide gila tentunya langsung terlintas di dalam otak Emma.
Tanpa mempertimbangkan banyak hal dan memikirkan resikonya, Emma segera beranjak dari kursinya kemudian menelepon salah satu anak buahnya.
"Aku ingin racun," ucapnya setelah panggilan terhubung.
"Maaf Nona? Racun?"
"Ya, aku tidak perlu mengulanginya. Temui aku di tempat pertemuan keluarga Xie dan bawa racun yang paling ampuh, racun yang bisa membuat seseorang langsung mati di tempat, aku perlu dua botol. Secepatnya, dan ingat satu hal, jangan sampai ada yang mengetahui tentang hal ini, Lidya. Termasuk ayahku, kau mengerti?"
"Baik Nona, secepatnya saya ke sana. Kita memiliki racun seperti itu di gudang."
"Akan ku tunggu," Emma segera memutus sambungan teleponnya kemudian kembali duduk di mejanya sembari terus memperhatikan Nathan dan juga Davira.
Amarah yang Emma simpan semakin membesar saat Nathan dan Davira bergabung di mejanya, membuatnya terpaksa harus tersenyum dan menekan perasaannya.
Setelah beberapa saat, akhirnya dia menerima telepon dari Lidya. Emma buru-buru bergegas keluar dari gedung dan segera menemui Lidya yang sudah menunggunya di dekat basement, beruntung di sana sangatlah sepi.
"Racun itu benar-benar ampuh?" tanya Emma yang mana langsung mendapat anggukan kepala dari Lidya.
__ADS_1
"Jika dicampurkan ke dalam wine apakah akan berfungsi?" Emma langsung memasukkan dua botol kecil racun yang diberikan oleh Lidya.
"Racun ini sangat mematikan Nona," jawab Lidya membuat Emma tersenyum miring.
"Sebenarnya......siapa yang akan Nona racuni? Bukankah ini pertemuan keluarga Xie?" tanya Lidya merasa sangat penasaran.
Emma berdehem singkat kemudian sedikit mendekat kepada Lidya.
"Karena berita ini pastinya akan menyebar, aku akan memberitahu hal ini kepadamu agar kau tidak merasa terkejut dan buka mulut. Aku akan meracuni Nenek Gayatri," ucap Emma membuat mata Lidya sedikit membulat mendengarnya.
"Kenapa Nona ingin melakukan hal itu?" Lidya terlihat begitu terkejut.
"Karena Davira ada di dalam, jika Nenek tiada karena keracunan, siapa yang akan dituduh selain Davira? Satu racun ini akan ku letakkan di dalam tas Davira, dan yang satunya akan ku taruh di minuman nenek. Dia akan langsung mati saat selesai bersulang, dan Davira? Kau bisa membayangkan apa yang akan terjadi? Davira akan dihujani peluru dari keluarga besar Xie, aku tidak perlu membuat tanganku kotor untuk menyingkirkannya."
"Tapi Nona, itu ide yang sangat gila. Dan kenapa harus Nyonya Gayatri?"
"Dia sudah merencanakan banyak hal untuk menyingkirkan Davira, jadi akan masuk akal jika dia adalah orang pertama yang ditargetkan oleh Davira. Lagi pula dia sudah tua," Emma menghela nafas panjang.
"Ingat Lidya, aku mempercayaimu mulai sekarang. Ini akan menjadi rahasia kita berdua, terkadang memang harus ada yang dikorbankan dan disingkirkan untuk memiliki apa yang kita inginkan. Itu yang selalu dikatakan oleh ayahku."
Lidya menatap Emma tidak percaya, Lidya tidak menyangka bahwa wajah polos Emma hanyalah topeng. Lidya merasa begitu terkejut mendengar rencana yang begitu licik keluar dari mulut seorang wanita seperti Emma.
Braak.
Emma dan Lidya sontak tersentak kaget dan menoleh ke asal suara, terlihat seseorang yang lari menjauh membuat Lidya segera mengejarnya.
"Sial," umpat Emma mulai merasa ketakutan.
Bugh.
Lidya langsung menendang punggung seorang security membuatnya tersungkur, Lidya segera menyeret pria itu ke basement, Emma buru-buru mengikutinya.
"Kau mendengar semuanya?" tanya Emma sembari berjongkok.
"Argghh!' suara teriakan security itu tertahan saat Lidya menusuk pahanya dengan sebilah pisau berukuran kecil yang tentunya sangatlah tajam.
Lidya membekapnya kuat-kuat, mengunci pergerakan pria itu sekuat tenaga. Emma menatap name tag yang terpasang di dada kiri pria itu.
__ADS_1
"Dario Steffano, aku tahu kau mendengar semuanya. Aku tidak akan membunuhmu, kau hanya harus tutup mulut agar tidak ada yang mengetahui tentang hal ini. Karena jika ada yang tahu, aku bukan hanya akan membunuhmu tapi juga keluargamu. Hal itu mudah ku lakukan, jadi jangan main-main denganku. Aku akan memberi harga untuk diammu."
Dario mengangguk pelan dengan tubuh yang mulai gemetar ketakutan, pasalnya dia tahu betul siapa Emma dan dari mana Emma berasal.
Emma tertegun untuk sejenak kemudian menatap Lidya.
"Kau adalah security biasa, tidak penjaga tetap keluarga Xie. Hanya security gedung, pantas saja kau mudah sekali dikalahkan. Tapi ku rasa kau bisa melakukan sesuatu untukku, kau sudah mengetahui semuanya. Maka buatlah dirimu berguna."
Emma mencengkram kuat rahang Dario membuat kukunya yang panjang menggores kulit pria itu.
"Masuk ke ruang cctv, dan ambil rekaman mulai satu jam sebelumnya lalu setelah kejadian itu, ambil semua rekaman cctvnya lalu serahkan kepadaku. Kau mengerti?"
"Sa-saya tidak bisa melakukannya Nona," Dario terlihat begitu ketakutan.
"Kau bisa, dan hanya kita bertiga yang mengetahui rencana ini. Aku tidak mungkin pergi ke ruang cctv, begitu juga dengan pengawalku. Tapi kau bisa, jadi lakukan tugas yang ku berikan. Aku akan memberikan pilihan yang mudah untukmu, lakukan tugas itu dan tutup mulutmu sampai kapanpun atau menjadi mayat pada besok hari bersama dengan anak istrimu?"
Dario sontak tertegun di tempatnya, kedua pilihan itu membahayakan nyawanya. Dia tidak ingin mati saat ini, apalagi anak serta istrinya juga akan dibunuh jika ia menolak tugas dari Emma. Namun jika dia menerima tugas itu, maka dia akan terlibat dalam kasus pembunuhan salah satu anggota keluarga Xie, dia juga bisa mati jika ketahuan.
"Kau terlalu lama berpikir, aku tidak mempunyai banyak waktu," Emma langsung mengambil pisau dari tangan Lidya kemudian mengarahkannya ke leher Dario.
"Lakukan tugasku dan tutup mulut, atau mati?" tanya Emma tidak main-main dengan ancamannya.
Dario menelan salivanya susah payah, ingin berteriak, namun Lidya mengarahkan pistol di kepalanya, dia benar-benar berada di jalan buntu.
Dario terpaksa menganggukkan kepalanya ragu membuat Emma tersenyum miring.
"Tenang saja, Dario. Setiap hal ada harganya, aku akan membayarmu, kau akan aman selama mulutmu terkunci rapat."
- Flashback Off -
Dario termenung di tempatnya mengingat kejadian pada malam itu, dia tidak pernah menyangka akan berada dalam situasi seperti sekarang ini. Jika bisa memilih, maka dia tidak akan pernah ingin mendengarkan pembicaraan Emma dan Lidya pada saat itu.
Sekarang dia harus pergi dengan perasaan was-was yang selalu menghantuinya.
Setelah menerima sejumlah uang dan menyerahkan rekaman cctv kepada Emma, Dario memutuskan untuk melarikan diri dengan membawa salinan rekaman itu untuk berjaga-jaga jika seandainya keluarga Xie mencurigainya. Dia akan menyerahkan rekaman itu sebagai bukti bahwa bukan dia yang sudah meracuni Gayatri.
Dario terpaksa kabur karena dia tahu bahwa Emma tidak akan membiarkannya hidup begitu saja, dia sangat yakin bahwa Emma akan membunuhnya jika situasi mulai kacau.
__ADS_1
Dan Dario memutuskan untuk melarikan diri sebelum itu terjadi, sayangnya istri dan juga anaknya lebih memilih tetap berada di Italia dan pergi ke desa asal mereka dari pada ikut kabur bersamanya.
Sekarang Dario hanya bisa berharap dan berdoa agar kedua orang yang ia cintai tidak terlibat dalam masalahnya.