Tawanan Tuan Xie

Tawanan Tuan Xie
Part 59 - Merasa Panik


__ADS_3

Mobil mereka semua langsung dipersilahkan masuk oleh para penjaga yang berjaga di luar gedung tua tempat yang dijadikan oleh Arthur sebagai salah satu markas.


Para penjaga itu pastinya sudah mendapatkan informasi dari Arthur bahwa Paul akan datang. Penjaga-penjaga itu tidak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka saat melihat Paul, Jakob dan yang lainnya turun memperlihatkan diri mereka.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau bisa terluka seperti ini? Dan di mana Tuan Xie?" tanya seorang pria lokal dengan menggunakan bahasanya sendiri, namun apa dikatakan oleh pria itu tentunya bisa dimengerti oleh Jakob atau yang lainnya.


"Tuan ada di mobil, Tuan terluka parah, dia tertembak dan harus di obati," jawab Paul membuat mata pria bernama Rolan itu melebar.


"Kau bisa menyuruh para penjaga untuk membantu mengangkat Tuan Nathan dan membawanya masuk ke dalam?"


Rolan langsung mengangguk, "Tentu saja!"


Selaku orang yang dipercaya oleh Arthur untuk memegang markas dan bertanggung jawab atas segala hal yang terjadi, Rolan tentunya memiliki kuasa di sana. Bisa dikatakan bahwa dia adalah pemimpin dari semua pekerja yang ada di markas itu.


Tiga orang penjaga langsung bergerak melakukan perintah Rolan, mereka mengangkat tubuh Nathan dengan sangat hati-hati dan membawanya masuk ke dalam.


"Kau juga terluka, aku harus memanggil dokter pribadi yang biasanya disediakan oleh Tuan Scott."


"Tidak perlu, Rolan. Aku sudah menelepon Tuan Scott dan dia mengatakan sudah menghubungi dokter itu untuk datang ke sini," ucap Paul membuat Rolan bernafas lega.


Pria berbadan tinggi tetapi kurus dengan otot kecil dan berpenampilan urakan itu melirik ke arah Jakob serta anak buahnya, ia menatap mereka dari atas hingga ke bawah.


"Aku...... seperti mengenal mereka, setahuku mereka bukan bagian dari kelompok Xie. Pria itu juga mempunyai bisnis sendiri," suara Rolan lebih pelan, tetapi sebenarnya masih didengar oleh orang yang dia maksud.


"Namanya Jakob Moore, dan lima pria itu anak buahnya. Ceritanya cukup rumit, mungkin aku akan menceritakannya nanti, tetapi sekarang mereka adalah bagian dari kami untuk sementara. Jadi tolong obati juga mereka," pinta Paul sembari menepuk pelan pundak Rolan.


"Perkenalkan, namaku Rolan," ucap pria itu, namun tidak mendapat tanggapan sama sekali, mereka yang disapa hanya menatapnya datar.


Paul menghela nafas panjang, "Jangan tersinggung, Rolan. Sebaiknya abaikan saja mereka."


Rolan mengangkat kedua bahunya, ia sama sekali tidak merasa tersinggung karena dia adalah orang yang sangat santai dan tidak terlalu mempedulikan hal-hal seperti itu.


"Sebaiknya kau masuk, ajak juga Tuan Moore dan anak buahnya itu. Kalian bisa istirahat atau membersihkan tubuh selagi dokter belum datang."


"Davira, kau bisa berjalan?" tanya Luca dengan sigap menghampiri Davira yang masih berada di dalam mobil dan bersandar, wanita itu terlihat begitu kelelahan.


"Biar aku gendong, dia tidak akan sanggup," sahut Liam membuat Luca segera menyingkir dan membiarkan Liam untuk mengangkat tubuh Davira.


Wanita itu tidak banyak protes dan hanya diam, Davira merasa tenaganya benar-benar sudah terkuras habis.


Rolan mengernyit, "Siapa dia?" tanyanya penasaran.


"Kekasih Tuan Xie, panggil saja Nona Davira," jawab Paul mendahului Jakob yang hendak menjawab.


"Baiklah, ayo kita masuk," Rolan menggiring mereka semua untuk memasuki gedung yang ternyata begitu luas dan memiliki 6 lantai.


"Apakah Nathan akan segera di obati?" suara Davira terdengar lemah, wanita itu masih bersandar di dada Liam yang menggendongnya.


"Tuan akan segera ditangani, dokter sebentar lagi sampai."


"Katakan pada dokter itu untuk mengobati Nathan terlebih dahulu."


"Itu pasti Nona."


Mereka menyusuri lorong dengan suara-suara seorang wanita dan pria yang terdengar dari beberapa bilik membuat bulu kuduk terasa merinding. Fedrix dan Dex saling menatap dengan pikiran yang sama, mereka menelan saliva dengan susah payah.


"Mereka sedang bekerja, jadi maaf jika berisik. Jika ingin, kalian bisa menonton secara live," ucap Rolan sembari terkekeh.


"Apa kamar kami harus melewati ruangan-ruangan tempat pekerja kalian beradegan mesum?" tanya Luca merasa tidak nyaman.


"Kami sama sekali tidak menyiapkan kamar untuk kalian, mungkin nanti akan kami siapkan. Kalian terlalu mendadak, jadi sekarang kalian akan ku bawa ke kamar yang lebih layak dari pada kamar yang lain di gedung ini. Ya walaupun kalian harus melewati suara-suara itu terlebih dahulu, tapi aku yakin kalian menyukainya."


Rolan kembali tertawa, "Kalian tahu sendiri bahwa film-film yang disukai orang-orang bukan hanya tentang adegan, tetapi tentang suara. Tapi kalian tenang saja, kamar yang akan kalian tempati kedap suara, jadi kalian tidak akan mendengarnya."


"Baguslah," gumam Mario.


Mereka berhenti tepat di depan pintu kamar yang terbuka.


"Kamar ini akan ditempati oleh Tuan Xie, yang paling bagus. Kau bisa tidur di sini bersamanya, Paul."


"Baiklah, terima kasih banyak," Paul memasuki kamar yang terlihat bersih namun tidak ada sentuhan mewah sama sekali.

__ADS_1


Kamar itu terlihat sederhana, hanya ada ranjang, lemari dan juga beberapa sofa lengkap dengan mejanya, tetapi cukup luas.


Paul duduk di sofa panjang sembari memperhatikan Nathan yang terbaring di atas ranjang, dia merasa sangat khawatir dengan keadaan Tuannya itu.


"Lalu kamar kami di mana?" tanya Fedrix sudah sangat kelelahan, tubuhnya benar-benar harus di istirahatkan.


Rolan segera membuka beberapa pintu yang ada di lorong itu.


"Silahkan ingin menempati kamar yang mana, aku akan menyuruh dokter masuk ke kamar kalian setelah dia selesai mengobati Tuan Xie dan juga Paul."


Mario menatapnya tidak suka, "Kau tidak melihat luka-luka ini?" tunjuknya pada luka-luka yang berada si sekujur tubuhnya.


"Ingin bagaimana lagi? Dokter yang akan datang hanya satu orang, jika ingin cepat ditangani, maka pergilah ke rumah sakit."


"Sudahlah Mario, lagi pula kita tidak memilik luka tembakan," Luca menepuk pundaknya sebelum masuk terlebih dahulu ke dalam kamar yang akan dia gunakan untuk istirahat.


"Aku akan menyuruh pelayan yang ada di sini untuk menyiapkan makanan dan memberikan beberapa pakaian yang layak untuk kalian, tunggulah."


"Terima kasih, Rolan. Namaku adalah Liam Thiago."


Rolan tersenyum tipis kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan mereka semua.


"Liam, bisa turunkan aku?"


"Kau ingin menempati kamar yang mana?" tanya Jakob.


"Aku ingin melihat keadaan Nathan, bawa aku ke kamarnya," ucap Davira membuat Liam sontak menatap Jakob.


Jakob hanya menganggukkan kepalanya, Liam segera memasuki kamar Nathan lalu meletakkan tubuh Davira di atas sofa panjang yang ada di sudut kamar dan berada di samping ranjang tempat Nathan sekarang berbaring.


"Terima kasih Liam."


Davira meringis pelan, tubuhnya terasa sakit dan kakinya kini masih mengeluarkan darah.


Liam ikut duduk di sebelahnya, "Sepertinya lukamu harus dijahit."


"Ku rasa begitu," Davira beralih menatap Paul.


"Kau akan memberikan bukti itu sekarang? Atau saat Nathan sadarkan diri?"


"Ada di mana?"


"Kita harus pergi ke Republik Dominika untuk menemui bukti itu, kami sengaja mengirimnya ke sana agar tidak ada yang menculiknya."


Davira mengerutkan dahinya, "Bukti itu berupa orang?"


"Iya Nona, orang, barang serta video, sangat lengkap. Semua itu akan membuktikan bahwa perkataan Tuan Nathan memang benar adanya, Tuan Damian Lee lah yang sudah melakukan pembantaian itu."


Davira sontak mengalihkan pandangannya, matanya terasa memanas. Dadanya begitu sesak, memikirkan jika hal itu benar membuat hatinya langsung hancur seketika. Davira sangat mempercayai Damian, ia mencintai Damian dan menganggap bahwa pria itu sandarannya.


Apakah Damian benar-benar setega itu kepadanya? Apakah Damian memang sejahat itu? Rela mengorbankan cinta dan hubungan mereka, menghancurkan hatinya hanya untuk menguasai sebuah bisnis?


Davira menatap wajah pucat Nathan lekat-lekat, antara Nathan dan Damian, dia tidak ingin kedua pria itu terlibat dalam pembantaian keluarganya.


Liam hanya diam setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Paul kepada Davira, ia menatap Davira dan tahu bahwa hati wanita itu pastinya sedang terluka.


"Kau akan ikut Jonathan ke Republik Dominika saat dia sudah sembuh? Atau kembali bersama kami?"


Davira mengambil nafasnya dalam-dalam untuk mengurangi rasa sesak di dadanya.


"Aku akan membicarakannya dengan Jakob dan kalian," Davira mendekatkan sedikit mulutnya ke telinga Liam.


"Hanya kita yang boleh mengetahui pembicaraan itu, aku akan membuat rencana, itupun jika kalian setuju. Sebuah rencana cadangan kalau-kalau Nathan menipuku."


π_π


Saat ini Emma sudah berada di mansionnya, dia sudah merasa benar-benar sehat setelah mendapatkan donor ginjal. Sekarang dia akan lebih bebas bergerak tanpa perlu lagi khawatir kelelahan atau kesakitan. Dia bertekad untuk menjadi wanita yang kuat, Emma sudah lelah, ia tidak ingin lagi terlihat lemah. Lagi pula hal itu tidak membuat Nathan mencintainya, hanya rasa iba yang ia dapatkan.


Melihat Nathan yang mencintai Davira, Emma menjadi ingin seperti wanita itu. Menjadi seorang wanita yang kuat dan pemberani, namun fisiknya memang tidak sekuat Davira. Itulah alasan mengapa dia harus lebih mengandalkan otaknya.


Emma menatap makanan yang tersaji di meja makan kemudian menatap kursi-kursi yang kosong. Hanya ada dia sendirian, duduk di antara puluhan kursi di sana.

__ADS_1


Senyum di wajahnya seketika luntur, selera makannya langsung hilang. Emma selalu merasa kesepian, dia benar-benar lelah dengan suasana seperti sekarang ini.


Emma segera mengambil ponselnya yang ia letakkan di atas meja makan, ia langsung menghubungi nomor seseorang, namun tidak mendapat jawaban membuatnya berdecak kesal.


Tetapi kali ini Emma tidak menyerah, Emma terus menghubungi nomor itu sampai panggilan akhirnya terhubung.


"Kenapa sangat lama mengangkat teleponku? Apakah kau berhasil mendahului Nathan? Davira berhasil kau culik bukan?"


"Maaf Nona, Emma. Tapi Tuan Aaron masih belum sadarkan diri."


Suara seorang pria yang terdengar membuat mata Emma melotot.


"Apa?! Apa maksudmu?!"


"Tuan Nathan mendahului Tuan Aaron, saat kami sampai, Tuan Nathan dan anak buahnya sudah berniat untuk membawa Nona Davira."


"Lalu terjadi perkelahian?" tebak Emma merasa was-was.


"Iya Nona, sialnya Tuan Nathan mendapat bantuan dari Tuan Jakob serta anak buahnya. Mereka sangat lihai dan sulit dikalahkan."


"Tidak perlu memberi alasan! Lalu bagaimana keadaan Aaron saat ini?"


"Tuan hanya pingsan, walaupun ada beberapa luka parah, tapi Tuan Aaron akan baik-baik saja. Dia tidak terkena tembakan atau tusukan serius."


"Tunggu, kalian kalah atau menang?" tanya Emma merasa khawatir dengan keadaan Nathan.


"Kami menang, Nona. Tapi Tuan Aaron terluka karena perkelahiannya dengan Tuan Jonathan sehingga dia bisa disandera oleh Tuan Jakob saat seluruh anak buah Tuan Jonathan habis kami kalahkan. Kami terpaksa mundur karena tidak ingin Tuan Aaron mati di tangan Tuan Jakob."


Emma mengigit bibir bawahnya, "Lalu bagaimana keadaan Nathan saat ini?!"


"Saya tidak tahu, Nona. Tapi..... sepertinya tidak akan tertolong."


Mendengar hal itu tentu saja membuat Emma merasa emosi, ia bahkan sampai menggebrak meja, membuat makanan di meja berantakan. Para pelayan sontak keluar dari dapur, tetapi tidak berani mendekat melihat ekspresi wajah Emma.


"Sepertinya?! Aku tidak ingin mendengar hal itu! Katakan dengan pasti! Memangnya apa yang terjadi kepada Nathan?! Bukankan kau tadi mengatakan bahwa Aaron terluka parah karena Nathan?!"


"Ma-maaf Nona, jadi begini....Tuan Aaron memang kalah saat berkelahi dengan Tuan Nathan. Tapi Andreas datang membantu dan langsung menembak Tuan Jonathan, saya tidak tahu pasti peluru itu mengenai bagian tubuh Tuan Jonathan yang mana, yang jelas setelah dia tertembak. Tuan Aaron mendorongnya hingga jatuh dari jembatan."


"Arghh apa yang Aaron lakukan?!" teriak Emma kemudian mengambil piring di meja lalu melemparnya.


"Nona, apa yang terjadi?" tanya salah satu pelayan memberanikan diri.


Namun Emma tidak mendengarkan, Emma terus melempar semua benda yang ada di atas meja.


"Arghhh! Aku akan membunuhmu Aaron!"


Emma benar-benar merasa frustasi, jika saja ia tahu, maka dia tidak akan pernah memberitahu informasi itu kepada Aaron. Dia akan bergerak sendiri untuk bisa menyingkirkan Davira tanpa harus menyakiti Nathan.


"Sial!"


Dada Emma terlihat naik turun, matanya sudah begitu memerah bersamaan dengan air mata yang luruh. Ia kembali berteriak dan menangis sejadi-jadinya membayangkan kepergian Nathan.


Tiba-tiba saja terdengar suara dering ponselnya membuat ia langsung mengangkat panggilan tanpa pikir panjang lagi.


"Emma, ayah tidak tahu pasti apa yang terjadi. Tapi saat ini Nathan berada di markas kita bersama dengan Paul, dan dia terluka."


Mata Emma langsung melebar mendengarnya, jantungnya sudah berdebar-debar. Ada perasaan lega karena Nathan masih selamat.


"Dari mana Ayah tahu?"


"Paul menelepon untuk meminta izin."


"Ada di markas mana?"


"Saltykovka, katanya dia tertembak. Maka dari itu Paul membawanya ke markas kita yang ada di sana karena itu adalah tempat terdekat dari posisi saat mereka berada."


Emma mengernyit, "Markas apa yang ayah maksud? Aku juga baru tahu ayah mempunyai markas di sana."


"Markas tempat pembuatan film dewasa," jawab Arthur membuat Emma mengerti.


Emma menggenggam erat ponselnya, dia benar-benar sudah ketakutan dan dia harus melihat bagaimana kondisi Nathan dengan mata kepalanya sendiri.

__ADS_1


"Katakan kepada anak buah ayah atau orang kepercayaan ayah untuk menemani aku ke Saltykovka. Aku harus melihat keadaan Nathan, dan ku harap ayah tidak melarangku karena aku akan tetap pergi dengan atau tanpa izin ayah sekalipun. Ayah tinggal memilih, aku berangkat sendirian atau ditemani para pengawal. Ayah harus tenang, karena aku sudah baik-baik saja."


Emma langsung memutus sambungan teleponnya secara sepihak kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan ruang makan yang berantakan.


__ADS_2