Tawanan Tuan Xie

Tawanan Tuan Xie
Part 51 - Taruhan


__ADS_3

Emma meremas kuat bantal yang saat ini tengah ia pangku saat Nathan langsung bergegas pergi meninggalkannya begitu saja setelah mendapatkan telepon dari Paul.


Nathan bahkan tidak berpamitan kepadanya terlebih dahulu, pria itu tidak memberitahunya alasan mengapa dia harus pergi dengan sangat terburu-buru. Namun Emma yakin bahwa informasi yang diberikan oleh Paul ada sangkut pautnya dengan Davira.


Emma mendengar dengan jelas bahwa Nathan menyuruh Paul agar menyiapkan jet pribadi.


"Apa keberadaan Davira sudah diketahui?" gumam Emma merasa was-was.


Emma menggelengkan kepalanya pelan, ia tidak ingin jika sampai Nathan menemukan Davira. Nathan tidak boleh kembali bersama dengan Davira, Nathan hanya boleh bersamanya.


Emma segera mengambil ponselnya di atas meja kemudian menelepon seseorang yang mungkin bisa dia ajak untuk bekerjasama, lebih tepatnya Emma akan memberi bantuan kepada orang itu.


Panggilan pertama berlalu begitu saja, tidak ada jawaban membuat Emma menghembuskan nafasnya kasar. Emma tidak berniat untuk melakukan panggilan kedua, namun baru saja ingin meletakkan ponselnya kembali ke atas meja, benda pipih itu bergetar membuat Emma tersenyum tipis melihat nama yang tertera.


"Ada apa? Aku tidak bisa menengok mu."


Emma sontak menjauhkan ponselnya dari telinga dan menatap benda itu dengan dahi mengkerut.


"Aku bahkan belum berbicara, Aaron. Aku tidak memintamu untuk menjenguk ku," ucap Emma dengan nada yang terdengar ketus.


"Lalu? Katakan dengan cepat, aku sangat sibuk."


Emma memutar bola matanya, "Ini tentang Davira, sepertinya Nathan menemukan keberadaannya."


"Apa kau yakin?"


"Tadi Nathan ke rumah sakit untuk menjenguk ku, tapi tiba-tiba saja Paul menelepon dan setelah itu Nathan buru-buru pergi. Dia juga menyuruh Paul untuk menyiapkan jet pribadi dan juga pengawal, aku yakin ini ada hubungannya dengan Davira. Dia pasti ingin menemui Davira, jadi sebaiknya kau cari tahu kemana Nathan pergi agar kau tahu dimana keberadaan Davira saat ini."


Terdengar suara kekehan kecil dari seberang sana membuat Emma semakin merasa kesal.


"Aaron, tidak ada yang lucu di sini. Aku sedang memberitahukan informasi yang penting tapi kau malah tertawa?"


"Kau yang lucu Emma sayang, sepertinya kau sedang cemburu buta saat ini. Kau ingin aku menemukan Davira terlebih dahulu bukan? Kau tidak ingin Nathan kembali bersamanya."


"Lalu kenapa? Aku memang tidak ingin Nathan kembali bersama dengan Davira, jadi temukan Davira sebelum Nathan yang menemukannya. Kau tidak akan melepaskan pembunuh nenek Gayatri begitu saja bukan?"


"Tanpa kau suruh pun akan langsung bergerak, Emma. Aku akan menemukan Davira sebelum Nathan, terima kasih untuk informasinya."


Panggilan langsung diputus oleh Aaron, Emma menghela nafas panjang lalu meletakkan ponselnya ke atas meja. Ia menatap kotak berisi strawberry yang tadi belum sempat Nathan cuci.


Rasa kesalnya semakin bertambah, harusnya hari ini Nathan menemaninya. Tetapi karena Davira, pria itu menjadi harus meninggalkannya, lagi dan lagi.


"Emma," suara seorang pria yang begitu ia kenali kini terdengar membuat Emma sontak mengangkat kepalanya yang tadinya tertunduk.


Sudut bibir Emma sontak tertarik ke samping melihat kedatangan Erick, pria itu terlihat membawa satu buket bunga mawar putih berukuran besar yang tentunya begitu indah.


"Akhirnya kau mau di operasi, kenapa tidak dari dulu? Padahal mendapatkan donor tidaklah sulit," Erick langsung menghampirinya dan memeluk tubuhnya.


"Kau tahu apa alasanku," ucap Emma lalu menyambut buket bunga pemberian Erick.


"Alasan yang sangat konyol, hanya untuk mendapatkan perhatian Nathan kau rela cuci darah setiap bulan selama bertahun-tahun lamanya," Erick mengacak-acak rambut Emma kemudian duduk di tepi ranjang.


Erick tersenyum tipis menatap wajah cantik Emma yang begitu polos tanpa riasan sedikit pun.


"Jangan membahasnya, Erick," Emma menatapnya tidak suka.


Emma merasa malu karena Erick mengetahui banyak hal tentangnya, Erick bahkan tahu alasannya tidak pernah menerima donor ginjal yang ditawarkan oleh ayahnya ataupun oleh pria itu. Emma melakukan semua itu semata-mata untuk tetap mendapatkan perhatian dan simpati dari Nathan, jika Nathan melihatnya kesakitan setiap bulannya, maka Nathan akan terus mengingat pengorbanannya.


Tapi Emma sudah lelah, nyatanya semua itu tetap tidak bisa membuatnya mendapatkan cinta dari Nathan. Hanya sedikit perhatian yang ia dapatkan, dan kasih sayang sebagai sahabat yang tidak pernah Emma inginkan.


Sekarang Emma berpikir bahwa ia harus benar-benar pulih dan melakukan cara lain untuk bisa mendapatkan hati Nathan, dia sudah muak dengan cara lama. Rasa iba Nathan sudah tidak ia butuhkan lagi kali ini.


"Sekarang aku merasa lega, kau sudah tidak akan merasa sakit lagi," Erick menatap Emma lekat-lekat dengan perasaan yang kini tidak karuan.


"Terima kasih sudah menjenguk ku, Erick. Terima kasih juga untuk bunganya," Emma tersenyum sembari memeluk buket bunga itu.


"Maaf karena aku tidak menemanimu saat operasi, dimana ayahmu saat ini?"


"Seperti biasa, dia melakukan pekerjaan kotornya itu," jawab Emma membuat Erick terkekeh kecil.


Namun hanya untuk sesaat, wajah itu langsung berubah menjadi datar. Erick meraih tangan Emma membuat sang empu merasa kebingungan dengan tatapan mata Erick yang seolah sedang berusaha untuk mengulik sesuatu darinya.


"A-ada apa Erick?" tanya Emma mulai tidak nyaman.


Erick menghela nafasnya panjang lalu menggeser duduknya agar lebih mendekat.


"Kenapa kau harus melakukan hal itu, Emma? Kenapa kau selalu melakukan hal bodoh hanya untuk Nathan?"


Deg.


Jantung Emma seakan berhenti berdetak untuk beberapa detik.


"Apa maksudmu?"


"Aku tahu semuanya, kenapa harus melakukannya, Emma? Kau akan berada dalam bahaya, ini seperti bom waktu. Hanya perlu menunggu waktu untuk meledak, entah kapan kita tidak pernah tahu," ucap Erick dengan suara yang pelan.


Emma sontak meletakkan satu tangannya di atas tangan Erick yang masih menggenggamnya. Wajahnya sudah terlihat pucat pasi, ia menatap Erick dengan perasaan yang begitu panik.


"Erick, ba-bagaimana kau bisa tahu?"


Erick mengangkat tangan Emma yang berada dalam genggamannya lalu mengecupnya pelan.


"Tenang saja, Emma. Aku akan melindungimu, tidak akan ada orang yang mengetahuinya."


Emma sontak menarik tangannya kasar, menatap Erick dengan jantung yang berdebar-debar.


"Bagaimana bisa kau mengetahuinya?!" suaranya mulai terdengar meninggi.


Nafas Emma memburu, "Panggil orang itu! Bunuh dia jika kau ingin melindungiku Erick! Dia pasti meninggalkan jejak, kau sudah mengetahui semuanya. Tidak menutup kemungkinan Nathan juga akan mengetahuinya!"

__ADS_1


Emma terlihat begitu ketakutan, tangannya bahkan sampai gemetaran membuat Erick segera meraihnya.


"Emma kau harus tenang, sudah ku katakan aku akan melindungimu."


"Aku tidak perlu perlindungan darimu, bagaimana bisa kau mengetahuinya Erick?!" teriak Emma, matanya mulai terlihat memerah.


"Arghhh! Nathan pasti juga akan mengetahuinya!"


"Emma, kau harus percaya kepadaku. Aku akan membereskan permasalahan ini untukmu. Tidak seharusnya kau melakukan hal seperti itu, kau benar-benar sudah gila, Emma. Kau membahayakan nyawamu sendiri."


"Diamlah Erick! Aku tidak ingin mendengarnya!"


Dada Emma terlihat naik turun, ia menatap tangannya yang digenggam erat oleh Erick saat ini.


"Bunuh dia jika ingin melindungiku, Erick. Kau bisa melakukannya?"


π_π


Jakob langsung bertepuk tangan saat melihat kemampuan mengemudi Davira yang sudah sangat meningkat dari pada sebelumnya, wanita itu sangat pemberani dan cepat belajar.


"Bagaimana?" tanya Davira dengan senyuman cerah di wajahnya.


"Masih jauh di bawahku," sahut Mario dengan santainya berlalu sembari mencubit dagu Davira.


Davira berdecak kesal, baru saja ingin mengumpat, Luca melakukannya terlebih dahulu.


"Jangan menyentuh dia sialan," ucap Luca kemudian terkekeh kecil karena melihat raut wajah kesal Davira.


Terkadang Davira terlihat seperti wanita polos tanpa dosa, Davira bisa terlihat seperti seorang anak kecil yang menggemaskan membuatnya lupa bahwa Davira berada di lingkungan yang sama dengan mereka semua.


Dalam artian, Davira bukanlah wanita polos. Davira juga kotor seperti mereka, uang, pakaian dan semuanya mereka dapatkan dari cara yang tidak benar.


"Kemampuan mu sudah sangat meningkat, sepertinya kau bisa menandingi Dex," ucap Liam membuat Dex yang sedari tadi sibuk merokok sontak menatapnya tidak terima.


"Kenapa wajahmu seperti itu? Meremehkan ku?" tanya Davira bersedekap dada.


"Bukan meremehkan, Nona. Tapi kau tidak akan bisa mengalahkan ku."


Fedrix seketika bersorak mendengarnya, ia langsung merangkul Davira dengan mulut yang masih mengunyah permen karet.


"Kalian tidak ingin balapan saja?" Fedrix menatap keduanya secara bergantian.


Davira tersenyum miring lalu menyingkirkan tangan Fedrix yang merangkul pundaknya.


"Balapan? Dengan Davira?"


"Kenapa? Kau takut Dex?" Davira menatapnya seakan-akan sedang menantang.


"Aku akan bertaruh untuk balapan ini," Jakob mengeluarkan uang dari saku jaketnya membuat Liam melakukan hal yang sama.


"Aku juga, bagaimana Dex?" Liam tersenyum kecil melihat mata Dex yang langsung berbinar melihat uang.


"Aku ingin balapan kalau seperti itu! Ayolah Dex, kita harus balapan. Mereka sudah menaruh uang yang banyak!" seru Davira penuh semangat.


Dex segera menganggukkan kepalanya, "Aku tidak akan mengalah, Nona."


Davira menatapnya datar, "Aku tidak menyuruhmu untuk mengalah."


"Wohoo ini akan sangat menyenangkan!" Mario langsung duduk di atas kap mobilnya dengan bir yang sudah berada di tangannya.


Davira dan Dex segera masuk ke dalam mobil mereka, lalu mengambil posisi. Jalanan besar itu terlihat begitu sepi tanpa ada pengendara lain yang melewatinya. Davira menatap Dex dengan senyuman miring di wajahnya kemudian segera menghidupkan mesin mobilnya.


"Kalian sudah siap?!" tanya Fedrix yang langsung mendapat anggukan kepala dari keduanya.


Jakob terkekeh dengan banyaknya uang yang saat ini tengah ia genggam untuk hadiah bagi yang menang dalam acara balapan mendadak ini.


"Lets do it!"


Mobil yang dikemudikan oleh Davira dan Dex sontak melaju dengan begitu cepat.


"Kau harus menang baby!" teriak Fedrix memberi semangat.


"Arghh dia gadis gila," gumam Liam.


"Siapa kira-kira yang akan menang?" tanya Luca membuat Mario segera berdiri.


"Tentu saja Dex," jawabnya begitu yakin, pasalnya Dex memang sangat lihai dalam mengemudi.


Jakob berdecak, "Kau meragukan Davira."


"Bukan ragu, Tuan. Ku akui Davira memang hebat, tapi mustahil jika dia bisa mengalahkan Dex begitu saja."


"Aku yakin Davira yang akan menang, gadis itu penuh dengan kejutan," ucap Luca kemudian menyalakan sebatang rokok yang sudah terselip di antara bibirnya.


Liam hanya tersenyum kecil lalu mengeluarkan ponselnya yang bergetar, ia langsung menggeser tombol hijau yang ada di layar untuk menghubungkan panggilan.


"Ada apa?" tanya Liam melangkah sedikit menjauh.


Liam sontak tertegun mendengar apa yang dikatakan oleh salah satu orang mereka dari seberang sana.


"Apa kau serius? Dia benar-benar sudah berada di sini?"


"Belum sampai, tapi akan. Mungkin besok hari."


"Baiklah, aku akan memberitahu hal ini kepada Jakob, terus beri informasi," Liam langsung memutus sambungan teleponnya kemudian menghampiri Jakob.


"Kenapa?" tanya Jakob menatap raut wajah Liam yang tidak sesantai sebelum ia menerima telepon.


"Ini gila! Bagaimana bisa!"

__ADS_1


Liam yang baru saja ingin menjawab sontak menatap ke arah mobil Davira yang sampai terlebih dahulu sebelum mobil Dex, bahkan mobil Davira hampir saja menabrak tubuh Fedrix.


"Hati-hati Nona! Jangan membalas dendam dengan cara seperti ini!" Fedrix segera menyingkir.


Davira tertawa puas lalu keluar dari mobilnya begitu juga dengan Dex. Jakob tersenyum tipis kemudian segera menghampirinya.


"Gadis ini benar-benar di luar dugaan," Jakob langsung memberikan pelukan singkat.


"Uangku," Davira melirik ke arah Dex dengan senyuman kemenangan.


"Ku kira kau adalah amatir, Nona," Dex menatapnya tidak percaya.


"Jangan salah, Dex. Amatir juga bisa menang," Davira langsung menerima uang yang diberikan oleh Jakob.


"Kau harus mentraktir kami malam ini Davira, aku ingin pizza!" seru Mario.


"Jangan Davira, dia bahkan tidak mendukungmu," ucap Fedrix membuat Mario langsung menatapnya tajam.


"Mario bahkan tidak percaya bahwa kau akan menang," kali ini Luca menambahkan.


"Kau benar-benar mematahkan hatiku, Mario," Davira geleng-geleng kepala lalu tertawa kecil.


"Jakob, sepertinya kami harus pergi ke klub," ucap Davira sembari menghirup aroma uang yang begitu khas.


"Aku setuju! Sudah lama kita tidak bersenang-senang," sahut Fedrix kemudian melakukan high five dengan Davira.


"Ku dengar gadis-gadis Moskow sangat seksi," ucap Mario begitu bersemangat.


"Apa aku di ajak Davira?" tanya Dex membuat Davira sontak tertawa.


"Kau bisa ikut tapi bayar pakai uangmu sendiri, kau lebih kaya dari pada aku," jawab Davira lalu kembali menatap Jakob.


"Apakah boleh?" tanyanya penuh harap.


"Tenang saja, Tuan. Kami akan menjaga Davira dengan baik," ucap Luca membuat Davira tersenyum mendengarnya.


"Apa kalian semua lupa? Malam ini kalian memiliki pekerjaan," Jakob menatap mereka semua dengan tatapan datar.


"Kami tidak lupa, bukankah kau membuat janji jam empat pagi? Sedangkan kami akan pergi ke klub pukul sebelas malam ini, paling lambat kami kembali pukul tiga," ucap Davira yang langsung mendapat anggukan dari Fedrix.


"Sebaiknya Tuan mengizinkan kami, percuma kami memiliki banyak uang jika tidak bisa digunakan untuk bersenang-senang. Lagi pula ini Moskow, klub di sini adalah yang terbaik!"


Jakob menghembuskan nafasnya kasar lalu menganggukkan kepalanya.


"Jangan sampai kalian mabuk saat membawa barang ku."


Davira langsung tersenyum lebar mendengarkannya, ia sontak melompat kegirangan saking senangnya.


"Let's party!"


Mereka semua terlihat begitu senang, membuat Jakob terkekeh melihatnya. Namun Liam yang hanya diam membuatnya kebingungan, Jakob segera melangkahkan kakinya ke samping mobil agar sedikit menjauh dari Davira dan yang lainnya.


Liam yang mengerti segera mendekatinya, ia menatap Davira dan teman-temannya yang tengah tertawa lepas.


"Apa ada masalah?"


"Kau tidak melupakan dari mana kau mendapatkan Davira bukan?"


"Tentu saja aku tidak lupa, kenapa?"


Liam menghembuskan asap rokoknya kasar lalu membuangnya begitu saja.


"Nathan sudah mengetahui keberadaan kita, orang-orang kita menelepon dan memberitahu bahwa Nathan akan tiba di sini besok hari."


Jakob berdehem singkat mendengarnya, dia sudah tidak terkejut. Dia tahu bahwa Nathan pasti akan menemukan mereka cepat atau lambat.


"Kita tidak bisa terus di sini jika tidak ingin tertangkap, kita harus segera pergi."


"Tidak bisa, aku sudah membuat janji dengan klien. Dia memesan narkoba dalam jumlah yang sangat banyak, ini bagaikan tambang uang untukku."


"Lalu? Nathan akan membunuh kita, Jakob."


"Tidak akan karena kita akan pergi setelah tugas kalian selesai, ini pekerjaan terakhir kita di Moskow. Setelah ini kita akan pindah lagi, jadi lakukan semuanya dengan cepat. Aku ingin transaksi selesai hanya dalam waktu dua jam, keberangkatan kita akan siap pukul enam pagi."


"Apakah kau akan tetap membiarkan mereka pergi ke klub? Kenapa tidak memanfaatkan waktu itu untuk mengantar barang? Suruh klien mu untuk memajukan jam transaksi," saran Liam merasa ragu bisa menyelesaikan tugas hanya dalam waktu 2 jam.


"Tidak bisa, tidak semudah itu mengatur ulang janji. Kalian akan tetap pergi bersenang-senang malam ini, lalu antar narkoba itu dan bawa uangku dengan selamat. Ingat, waktu kalian hanya dua jam."


Lian menghembuskan nafasnya panjang lalu menganggukkan kepalanya.


"Apakah mereka harus ku beritahu?"


"Tentu saja, agar mereka tahu bahwa waktu kita terbatas. Mereka juga harus membuat diri mereka puas malam ini, karena ini malam terakhir kita berada di Moskow."


"Davira, dia juga harus diberitahu?"


Jakob langsung menggeleng, "Kecuali dia, Davira tidak perlu tahu bahwa Nathan sudah mengetahui keberadaannya di sini. Aku tidak ingin dia menjadi tidak fokus saat bekerja nanti, aku akan memberitahunya saat kita akan berangkat."


Jakob menatap Davira yang kini terlihat duduk di atas kap mobilnya bersama dengan Luca sembari menikmati sebatang rokok mereka masing-masing.


Davira terlihat tertawa dan tampak bahagia, walaupun Jakob tahu bahwa terkadang Davira menangis ketika sedang sendirian ataupun di malam hari sebelum terlelap.


"Aku tidak akan membiarkan Davira jatuh ke tangan monster itu lagi, Nathan sudah menghancurkan hidup Davira. Dan aku tidak ingin jika Davira tersiksa saat kembali bersama dengannya."


Liam menepuk pelan pundaknya, "Kita harus menjaganya dari Nathan, kita semua memang baru saja berteman dekat dengannya, bekerja bersama, tapi aku merasa bahwa menjaga dia adalah kewajiban kita saat ini. Aku tidak ingin jika dia kembali terperangkap oleh Nathan. Lihatlah, gadis itu memiliki jiwa yang bebas, bagaimana bisa Nathan menjadikannya seorang tawanan?"


Sedangkan Davira kini tertegun di tempatnya melihat bagaimana Liam dan Jakob yang saat ini tengah menatapnya dengan pandangan yang begitu sulit untuk dia artikan.


"Hati-hati, mereka bisa saja bertaruh untuk mendapatkan mu," bisik Luca kemudian tertawa.

__ADS_1


Davira hanya menatapnya tajam lalu mengusap kalung di lehernya, tiba-tiba saja Nathan muncul di dalam pikirannya begitu saja. Dan hal itu langsung membuat senyuman yang tadinya terukir di wajah cantiknya langsung luntur seketika.


__ADS_2