Tawanan Tuan Xie

Tawanan Tuan Xie
Part 47 - Perkelahian


__ADS_3

Nathan menggenggam erat pagar pembatas di balkon kamarnya, matanya terlihat begitu tajam, memperlihatkan kemarahan dalam diri pemiliknya. Nathan sudah mengerahkan semua orang-orangnya, namun Davira dan Jakob menghilang bak ditelan bumi.


Nathan tidak menemukan jejak mereka berdua, rasanya begitu sulit karena Davira mendapatkan bantuan dari pria liar seperti Jakob. Pria itu selalu berpindah-pindah tempat, tidak pernah menetap membuat siapapun yang mencarinya merasa kebingungan karena keberadaannya yang tidak menentu.


Entah bagaimana caranya Jakob selalu berhasil lolos dari kejaran polisi. Dia tidak bisa ditangkap ataupun dicari, padahal Nathan yakin bahwa Jakob tidak bersembunyi.


Nathan menghembuskan nafasnya kasar, ia masih tidak percaya bahwa Davira akan meminta bantuan kepada Jakob Moore dari sekian banyak daftar nama yang ada di dalam berkas itu, tapi kenapa harus Jakob? Nathan sudah melihat CCTV, dan ternyata memang benar Davira telah mencuri ponsel salah satu pelayan dan kembali ke ruangannya untuk melihat berkas miliknya.


Maka dari itu Davira bisa mendapatkan daftar nama serta nomor Jakob.


"Nathan?"


Suara seorang wanita yang sangat ia kenali terdengar memanggil membuatnya segera berbalik untuk melihatnya.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa berada di sini? Sudah malam dan kau harus istirahat," Nathan segera mematikan rokok di tangannya.


"Aku hanya ingin mampir sebentar untuk melihat keadaanmu, bagaimana Nathan? Kau sudah membaik?" tanya Emma sembari melangkahkan kakinya untuk mendekat.


Sekarang Emma bisa melihat dengan jelas luka jahitan bekas peluru di dada kanan Nathan yang saat ini hanya mengenakan kaos senglet berwarna hitam.


"Aku baik-baik saja," jawab Nathan membuat Emma tersenyum tipis.


"Sudah menemukan keberadaan Davira?"


Nathan hanya menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban.


"Nathan, aku tahu kau mungkin sangat mencintai Davira. Tapi dia.....sudah menyakitimu, Davira tidak mencintaimu. Dia bahkan tega menembak mu sebanyak dua kali, selain itu Davira juga telah meracuni nenekmu. Ku harap kau bisa membuka matamu, Nathan. Jangan seperti ini, kau tidak perlu lagi mencari Davira, biarkan keluargamu yang melakukannya."


"Semuanya masih belum jelas, Emma. Ada yang janggal dan aku akan mencari tahunya."


Emma mengernyit, "Ada yang janggal? Apa?"


"Banyak hal, yang jelas aku tidak akan melepaskan Davira begitu saja apalagi membiarkan keluargaku yang menemukannya. Aku tidak akan bisa jika dia tiada, Emma. Kau harus mengerti akan hal itu."


"Lalu bagaimana denganku? Aku juga tidak bisa jika kau tiada, keluargamu akan menjadi musuh mu jika kau masih tetap membela Davira dan melindunginya. Sedangkan dia adalah orang yang sudah membunuh nenekmu, mungkin kau bisa menutup matamu tentang hal itu karena kau mencintai Davira. Tapi keluargamu? Aku bukan bagian dari kalian tapi aku mengenal kalian semua. Kau bisa berada dalam bahaya dan aku tidak ingin itu terjadi, Nathan."


Emma meraih tangan Nathan dan menatapnya lekat-lekat.

__ADS_1


"Maaf Emma, tapi aku tidak akan berhenti mencari Davira. Aku akan melindunginya dan mencari tahu semuanya, aku ragu Davira bisa mendapatkan racun dan memasukkannya ke dalam minuman nenek. Ada yang tidak beres," Nathan menarik tangannya secara perlahan dari genggaman Emma.


"Sebaiknya kau pulang, ini sudah malam. Aku akan mengantarmu ke depan, aku juga sedang sibuk saat ini. Ada banyak urusan yang harus ku selesaikan," Nathan segera mengambil jaket berbahan kulit miliknya lalu memakainya.


"Ku harap kau mempertimbangkan perkataan ku, Nathan. Jangan sampai kau berseteru dengan keluargamu sendiri," Emma melangkahkan kakinya keluar dari kamar Nathan tanpa menunggu pria itu terlebih dahulu.


Nathan hanya dia di tempatnya kemudian mengambil ponselnya.


"Ikuti Emma sampai ke mansion, pastikan dia pulang dengan selamat," ucap Nathan kepada Elio melalui teleponnya.


"Tuan, kami menemukan gedung mencurigakan di pinggiran kota. Gedung itu diduga bekas tempat persembunyian Nona Davira dan Tuan Moore," Paul masuk ke dalam kamarnya.


Nathan segera memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


"Apa maksudmu bekas tempat persembunyian? Jadi Davira ataupun Jakob tidak ada di sana?"


"Kita harus memeriksanya sendiri, Tuan."


Nathan segera melangkahkan kakinya dengan sangat terburu-buru hingga sampai ke garasi. Ia langsung memasuki mobilnya dan melajukannya, diikuti oleh Paul serta puluhan orang-orangnya dari belakang.


Puluhan mobil berkecepatan tinggi itu melaju membelah jalan raya hingga sampai di depan sebuah gedung tua.


"Sial," umpat Nathan segera keluar dari mobilnya dan menyiapkan pistolnya.


Nathan segera memasuki gedung tersebut bersama dengan orang-orangnya, melihat ada satu pintu yang terbuka membuat mereka semua segera masuk.


"Jangan berani-beraninya menyentuh Davira!" suara Nathan terdengar begitu tenang tetapi penuh penekanan.


Nathan menatap sekumpulan orang-orang yang sedang berdiri di depan sebuah ruangan yang ia yakini adalah kamar.


"Aku ingin sekali menyentuhnya, Nathan. Aku ingin membunuhnya, tapi apa yang harus ku lakukan? Dia tidak ada," Aaron keluar dari ruangan tersebut lalu melempar high heels ke arah Nathan.


"Hanya itu yang ku temukan," Aaron tersenyum sinis melihat pistol yang berada di tangan Nathan.


"Kau ingin menembakku jika di sini benar-benar ada Davira dan aku menyakitinya, Nathan?"


"Apa aku perlu menjawab pertanyaan mu" Nathan mengangkat satu alisnya.

__ADS_1


"Kau benar-benar sudah mengkhianati keluarga ini, bagaimana bisa kau dibutakan oleh Davira? Dia sudah membunuh nenek!" suara Aaron terdengar meninggi.


"Itu belum pasti! Ada yang janggal, jangan menuduhnya sebelum fakta yang sebenarnya benar-benar ditemukan," desis Nathan di akhir kalimat.


"Menuduhnya? Itu adalah kenyataan, dia adalah orang yang telah membunuh nenek. Kau bahkan ditembak olehnya, masih ingin membela pela-cur mu itu?"


Tangan Nathan langsung terkepal kuat, ia segera melangkahkan kakinya menghampiri Aaron.


Bughh.


Satu tinjuan langsung mendarat di rahang Aaron.


Bughh.


Tentu saja Aaron membalasnya karena merasa tidak terima, keduanya sama-sama diselimuti oleh amarah dan saling melayangkan pukulan pada wajah satu sama lain.


"Kau tidak berhak berkata seperti itu tentang Davira!" Nathan menendang perut Aaron hingga sepupunya itu tersungkur ke lantai.


Nathan langsung menindihnya dan kembali melayangkan tinjunya.


"Aku akan membunuh Davira jika menemukannya, Nathan," Aaron terkekeh kecil sembari menahan tangan Nathan kemudian meninju wajah Nathan sekuat tenaga.


"Arghh! Maka aku akan membunuhmu terlebih dahulu!"


Bughh.


Paul dan yang lainnya hanya bisa membiarkan tanpa berani melerai ataupun membela. Mereka tidak ingin ambil resiko karena Nathan dan Aaron adalah sepupu, kedua pria itu sama-sama berasal dari keluarga Xie.


"Nathan hentikan!"


"Aaron!"


Suara teriakan Atvita yang baru saja keluar dari kamar setelah mengobrak-abrik isi lemari begitu terkejut melihat Aaron dan Nathan yang sedang bergulat di lantai. Saling menyerang seolah benar-benar akan membunuh satu sama lain.


"Aaron please!"


Atvita melempar asal gaun milik Davira yang ia dapatkan di lemari, ia segera mendekati Nathan dan Aaron yang sibuk melayangkan tinju mereka.

__ADS_1


"Nathan stop!"


__ADS_2