Tawanan Tuan Xie

Tawanan Tuan Xie
Part 37 - Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Nathan hanya bisa mengulas senyum ketika melihat Davira yang baru saja keluar dari walk in closet, wanita itu selalu terlihat cantik. Davira tidak pernah gagal dalam berpakaian, semua yang digunakan olehnya pasti akan terlihat memukau.


"Cantik sekali, padahal kita hanya akan pergi ke mall," Nathan segera berdiri dari duduknya kemudian menghampiri Davira, tangan pria itu langsung melingkar di pinggang kecil wanitanya.


"Aku akan selalu terlihat cantik walaupun kau hanya mengajak aku ke sawah sekalipun," sahut Davira membuat Nathan terkekeh.


"Kau ingin ke sawah?"


"Tentu saja tidak, lagi pula di sini tidak ada sawah," jawab Davira kemudian melangkah untuk mengambil tasnya yang ia letakkan di atas meja sebelumnya.


Nathan terus mengikuti langkah Davira tanpa melepaskan tangannya dari pinggang wanita itu.


"Kau terlihat semakin cantik menggunakan liontin itu, ku harap kau tidak akan pernah melepaskannya," Nathan mengecup pundak Davira, menghirup aroma tubuhnya dalam-dalam.


"Aku tidak akan melepaskannya, aku tahu ada alat pelacak di sini," ucap Davira begitu santai.


Nathan terkekeh kecil, "Aku ketahuan rupanya."


Pria itu membenamkan wajahnya di ceruk leher Davira, aroma tubuh wanita itu benar-benar memabukkannya.


"Jika bukan karena kalung ini, mungkin aku sudah mati," Davira mengusap kepala Nathan.


"Tidak akan ku biarkan hal itu terjadi, Davira. Dengan atau tanpa kalung itu, kau pasti akan selalu ku temukan," Nathan mengangkat kepalanya, menatap manik mata Davira yang kini terpaku di tempatnya.


"Benarkah?"


Nathan menganggukkan kepalanya, "Sudah ku katakan bahwa kau adalah milikku, jadi ke mana pun kau pergi, aku akan selalu menemukanmu."


Keduanya saling menatap satu sama lain, keheningan mulai menyelimuti mereka berdua selama beberapa saat. Entah mengapa Davira tidak bisa melepaskan pandangannya dari mata pria itu, Nathan benar-benar sudah berhasil mengobrak-abrik hati dan juga pikirannya.


"Bagaimana bisa aku menjadi seperti ini?" batin Davira yang terus menerus merasa kebingungan.


"Kau sering melamun akhir-akhir ini, apa yang kau pikirkan?" tanya Nathan membuat Davira tersadar.


Davira tersenyum tipis kemudian menggelengkan kepalanya pelan.


"Ini sudah satu minggu semenjak kejadian itu, apakah.......pria bernama Dante yang kau kurung di ruang bawah tanah sudah tiada?"


Nathan mengusap kepala Davira, dia tahu bahwa wanita itu hanya sedang mengalihkan topik pembicaraan. Nathan tahu betul beban pikiran yang saat ini sedang diderita oleh Davira.


"Ingin melihatnya?"


Davira mengernyit, "Jadi kau belum membunuhnya? Kenapa?" tanyanya terlihat kesal karena Nathan membiarkan pria yang sudah mencoba untuk melecehkannya tetap hidup hingga saat ini.


"Kau pasti senang saat melihatnya, Davira. Sebaiknya kau ikut aku ke sana," Nathan menggenggam tangan Davira dan keluar dari kamar wanita itu.


Mereka berdua langsung berjalan ke arah ruang bawah tanah dan memasukinya, beberapa pengawal langsung menyambut kedatangan mereka.


Suara rintihan kini terdengar di telinga keduanya ketika sudah berada di ruang bawah tanah. Langkah kaki keduanya berhenti tepat di depan sebuah ruang tahanan yang dipagari dengan jeruji besi.


Di dalamnya terlihat seorang pria tengah meringkuk dengan begitu menyedihkan.


Davira terperanjat kaget ketika melihat wajah pria itu, bibir Dante terlihat membusuk. Bukan hanya itu, wajahnya juga dipenuhi dengan luka kecil seperti sebuah sayatan silet.


Tubuhnya yang tinggi tegap lenyap begitu saja, Dante kelihatan begitu kurus dan juga ringkih.


Dante menatap mereka berdua dengan tatapan sayu, pria itu benar-benar terlihat menyedihkan. Tidak terlihat lagi wibawanya sebagai seorang mafia dan juga pemimpin sebuah kelompok yang cukup ditakuti.


"Apa yang kau lakukan dengan bibirnya?" tanya Davira merasa ngilu melihat bibir Dante yang sepertinya tidak akan bisa membuat pria itu berbicara dengan jelas seperti sebelumnya.


"Dia menciummu, Davira. Aku tidak akan membiarkan dia tetap memiliki bibirnya setelah berani menciummu," jawab Nathan membuat Davira menatapnya tak percaya.


"Kau....... terdengar seperti psikopat."


"Benarkah?"


Davira menganggukkan cepat, "Sepertinya kau harus periksa ke psikiater, mental mu benar-benar mengalami kelainan, Nathan."


Pria itu hanya tertawa mendengarnya, dia tahu bahwa Davira hanya bercanda ketika mengatakan hal itu. Davira adalah wanita yang sudah terbiasa melihat atau bahkan melakukan kekerasan. Karena Davira memang tumbuh di lingkungan yang seperti itu, bahkan Papa Davira pun begitu kejam dan senang menyiksa musuh-musuhnya.


"Kenapa tidak langsung membunuhnya?"


"Karena itulah yang dia inginkan, kematian. Dante sangat menginginkan hal itu sedari awal, aku tidak akan membiarkan dia mati begitu saja setelah apa yang dia lakukan kepadamu. Tamparan, ciuman, itu benar-benar tidak bisa ku maafkan."


Davira mengusap tangan Nathan yang menggenggamnya.


"Sebaiknya bunuh dia secepatnya, Nathan. Aku ingin dia tiada malam ini juga," ucap Davira membuat Nathan tertegun untuk sejenak.


Nathan tahu bahwa Davira menyuruhnya melakukan itu lantaran karena kasihan melihat keadaan Dante, selama ini Davira tidak pernah melakukan penyiksaan seperti yang Nathan lakukan.


"Baiklah jika itu mau mu," Nathan beralih menatap Dante.

__ADS_1


"Berterima kasihlah kepada Davira, kau akan segera di eksekusi malam ini," setelah mengatakan hal itu, Nathan segera mengajak Davira keluar dari ruang bawah tanah yang begitu pengap itu.


"Kau merasa kasihan kepadanya?"


"Tidak, aku hanya ingin dia cepat tiada," jawab Davira cepat.


"Di mana Paul? Sudah beberapa hari ini aku tidak melihatnya," Davira kebingungan saat bukan Paul yang menyambut mereka di luar mansion.


"Dia sedang melakukan pekerjaan penting," jawab Nathan lalu masuk ke dalam mobilnya, begitu juga dengan Davira setelah pria berpakaian hitam membukakan pintu mobil untuk mereka berdua.


"Kita ke pusat perbelanjaan, Elio."


"Baik Tuan," sahut pria bernama Elio yang bertugas untuk menggantikan Paul selama dia masih belum menyelesaikan tugas penting dari Nathan.


"Jadi namanya Elio, pengganti Paul?"


"Iya, sementara. Dia adalah salah satu anak buah yang bisa di andalkan, pekerjaan akan terasa mudah ketika kita memiliki anak buah yang pintar dan cekatan," jawab Nathan yang mana membuat Davira seketika tertegun.


Tiba-tiba saja Davira teringat akan bisnisnya yang pastinya sudah dikuasai oleh Liana dan juga Aidan. Davira sangat yakin bahwa semua dokumen di mansion-nya telah raib dibawa oleh ibu dan anak itu.


Davira menatap ke luar jendela, memperhatikan jalanan yang cukup sepi. Tidak pernah ia bayangkan bahwa hidupnya akan berubah se-drastis ini, sekarang tubuh dan juga hatinya terjebak bersama seorang pria yang telah membunuh calon suaminya dan berkemungkinan sebagai dalang di balik pembantaian keluarganya.


Tiba-tiba saja Davira merasakan tangannya diraih dan dikecup membuatnya segera menoleh.


"Dokumen-dokumen penting, aset-aset berharga milikmu sudah ku amankan. Bibi Liana dan Aidan tidak akan bisa menemukannya apalagi menguasainya," ucap Nathan begitu mendadak, Nathan hanya ingin mengurangi sedikit beban pikiran Davira.


Davira mengerjapkan matanya beberapa kali, ia menatap Nathan dengan tatapan tidak percaya.


"Apa kau serius Nathan?" tanyanya membuat Nathan segera mengangguk.


"Aku mengamankannya sebelum membawamu ke Osaka, dokumen itu ada padaku sudah cukup lama. Ingin melihatnya?"


Senyuman lebar sontak mengembang di wajah cantik Davira, wanita itu spontan memeluk tubuh Nathan. Tentu saja Nathan langsung melingkarkan tangannya di pinggang Davira.


"Aku senang mendengarnya, kenapa tidak memberitahuku sejak awal, Nathan?" tanya Davira tidak mengerti, ketika dia meminta pria itu membawanya ke Sevilla untuk menemui Liana dan Aidan yang saat itu sedang berada di sana, Nathan tidak mengatakan hal apapun dan membiarkan dia ketakutan mengenai dokumen serta aset-asetnya.


"Hubungan kita sangatlah buruk, Davira," ucap Nathan membuat Davira tersadar dan segera melepaskan pelukannya.


Tetapi tidak dengan Nathan, pria itu masih melingkarkan tangannya di pinggang Davira.


"Nathan!" pekik Davira begitu terkejut ketika pria itu tiba-tiba saja mengangkat tubuhnya sehingga kini dirinya berada di pangkuan Nathan dengan duduk menyamping.


"Kenapa melepaskan pelukanmu?" Nathan merapikan rambut Davira yang sedikit berantakan.


"Memangnya ingin berpelukan sepanjang jalan?" nada bicara Davira langsung terdengar ketus.


"Aku ingin, kau tidak?" tanya Nathan kemudian meletakkan dagunya di pundak Davira.


"Tidak, sekarang katakan, jadi apa yang kau lakukan saat pergi ke Sevilla waktu itu? Bukankah kau menemui bibi Liana dan juga Aidan yang berada di mansion ku?"


"Aku hanya ingin bertemu mereka untuk memberitahu bahwa kau sedang berada bersamaku, begitu juga dengan dokumennya."


Davira tercengang mendengarnya, "Hanya untuk memberitahu mereka tentang hal itu?"


"Iya, dan aku menyesal. Karena hal itu aku menjadi harus meninggalkanmu sendirian di mansion, dan kau berhasil melarikan diri dariku. Jika saja aku tahu, maka aku tidak akan pernah pergi ke Sevilla hanya untuk bertemu dengan dua orang itu."


Davira sontak menggigit bibir bawahnya saat mengingat bagaimana cara dia melarikan diri dan betapa menyedihkannya dirinya saat berada di jalanan, seperti orang gila yang sedang dikejar-kejar. Dan parahnya lagi ia bertemu dengan para berandalan.


Cup.


Kecupan singkat mendarat di bibir Davira hingga mata wanita itu terlihat melebar menatap wajah Nathan.


"Jangan pernah melarikan diri lagi, Davira," Nathan memeluk erat tubuh wanita itu.


Davira hanya terdiam di tempatnya, tangannya bergerak ragu mengusap kepala Nathan yang sedang terbenam di dadanya.


Tidak butuh waktu terlalu lama, mereka kini sudah berada di pusat perbelanjaan yang tampak begitu ramai. Ada begitu banyak pengunjung, mungkin karena weekend.


"Belilah sesuatu," ucap Nathan dengan tangan yang terus menggenggam tangan Davira, seolah begitu takut jika wanita itu terlepas darinya atau bahkan melarikan diri.


"Bahkan barang-barang yang ku beli bersamamu waktu itu belum semuanya ku gunakan," Davira menatap sekitarnya merasa kebingungan.


"Tidak masalah jika membeli lagi, karena kau membeli karena suka, bukan untuk digunakan, apa aku benar?"


Davira terkekeh mendengarnya, "Kau sudah sangat hapal rupanya."


"Tentu saja, tiga tahun aku menguntit mu," sahut Nathan tidak berniat untuk menutup-nutupi.


"Dasar Tuan penguntit, kau benar-benar menyeramkan."


Mereka berdua mulai membeli beberapa barang yang disukai oleh Davira, dan juga keperluan Nathan. Davira terlihat lebih bersemangat ketika melihat pakaian untuk pria itu.

__ADS_1


"Tidak yang itu, Davira," tegur Nathan saat Davira memegang sebuah kemeja berwarna merah muda.


"Kenapa? Ini bagus, kau seperti tidak memiliki pakaian lain jika hanya menggunakan satu warna. Hitam dan selalu hitam," Davira menggerutu kemudian mengambil beberapa kemeja serta kaos dengan berbagai macam warna membuat Nathan memijit pelipisnya.


Tidak bisa ia bayangkan jika nantinya dia memakai kemeja berwarna merah muda yang benar-benar Davira bawa ke kasir tanpa menghiraukan tegurannya.


Setelah menyelesaikan proses transaksi, Nathan segera membawa Davira keluar dari toko dengan brand ternama itu.


"Ingat, Nathan. Kau harus memakai semua yang ku pilihkan itu."


"Jadi maksudmu aku harus memakai baju berlapis-lapis?" tanya Nathan membuat Davira berdecak kesal.


"Bukan begitu! Kau harus memakai baju-baju itu setiap hari, aku bosan melihatmu dengan warna hitam."


"Hmm," sahut Nathan tidak memiliki niatan untuk membantah.


"Bukankah itu Emma?" tanya Davira membuat langkah kaki Nathan sontak terhenti.


"Dia bersama siapa? Kita harus menyapanya," Davira menarik tangan Nathan setelah memberikan paper bag berisi barang belanjaan mereka kepada Elio yang sedari tadi mengikut.


"Tidak perlu, Davira," Nathan menahan lengan wanita itu, dia tidak ingin menyapa Emma yang sedang bersama dengan musuhnya.


"Kenapa? Kau cemburu dia bersama dengan pria lain?"


Nathan mengernyit, "Tentu saja tidak, jangan berpikiran yang macam-macam, Davira."


"Lalu?" Davira mengangkat satu alisnya.


"Kita sapa dia sekarang," Nathan segera membawanya memasuki restoran itu.


Matanya langsung bertemu dengan netra milik Emma yang tampaknya begitu terkejut melihat kedatangannya.


"Nathan, pura-pura tidak sengaja melihat," bisik Davira pelan.


"Emma? Kau di sini?" tanya Davira segera menghampiri, dia benar-benar berpura-pura sedang terkejut.


Erick sontak menatapnya, "Jadi wanita ini yang dimaksud oleh Emma," batinnya kemudian menetap tangan Nathan yang menggenggam erat tangan Davira.


"Apa kabar Emma? Sudah satu minggu ini kau tidak ke mansion."


"Silahkan duduk, Nona," Erick menarik sebuah kursi untuk Davira.


"Tidak perlu, kami bisa duduk di meja lain," Nathan menahan lengan Davira agar tidak duduk bergabung bersama dengan Emma dan Erick.


"Kabarku baik, Davira. Kau sendiri? Kau....sudah baik-baik saja? Ku dengar kau diculik," Emma mencoba untuk menghilangkan rasa gugupnya.


"Aku sudah baik-baik saja, Nathan datang tepat waktu," jawab Davira kemudian melirik Erick.


"Dia kekasihmu, Emma?"


"Bukan," jawab Emma begitu cepat.


Emma berdehem singkat, "Kalian ingin makan? Sayang sekali kami sudah selesai," ia segera berdiri dari duduknya membuat Erick menatapnya tidak suka.


"Duduk, Emma," ucapnya penuh penekanan.


"Erick, sebaiknya kita pergi dari sini."


"Duduk, kau bahkan belum menyentuh makananmu. Bukankah kau mengatakan bahwa kau lapar?" Erick menatapnya tajam membuat Emma mau tidak mau kembali duduk.


"Kenapa harus terburu-buru, Emma? Makanlah makananmu, kami akan duduk di sana," Nathan membuka suara.


"Kenapa tidak bergabung bersama kami saja?" tanya Erick kemudian tersenyum miring, hal itu membuat Emma merasa was-was.


Sedangkan Davira menatap mereka bertiga dengan rasa bingung yang menghampirinya, pasalnya dia merasakan aura permusuhan yang begitu kentara.


"Aku lebih suka makan berdua dengan kekasihku," jawab Nathan membuat hati Emma langsung terasa perih.


Erick terkekeh, "Bisa-bisanya kau memiliki seorang kekasih."


"Apakah ada yang salah? Jika aku tidak memiliki Davira, maka aku bisa saja bersama dengan Emma. Dan kau? Kau akan benar-benar ku buat kehilangannya, bersyukurlah karena aku masih menganggap Emma sebagai saudariku. Kau tahu aku tidak akan pernah ikut campur urusan saudariku."


Emma segera meraih tangan Erick yang sudah terkepal kuat.


"Nathan," tegur Emma dengan suara lembutnya.


"Sepertinya aku dan Davira akan makan di tempat lain, hubungi aku jika sudah pulang, Emma. Hati-hatilah," ucap Nathan kemudian melangkahkan kakinya bersama Davira, meninggalkan Emma dan Erick di sana.


Emma menatap kepergian mereka dengan dada yang terasa begitu sesak, tanpa sadar tangannya menggenggam Erick dengan begitu kuat. Erick hanya diam lalu mengusap pelan punggung tangan wanita itu.


"Tidak perlu menangis, Emma. Jangan lagi, dia bahkan tidak menghargai perasaan dan pengorbanan mu."

__ADS_1


__ADS_2