
Jakob memeluk erat tubuh Davira, rasanya enggan untuk meninggalkan wanita itu bersama dengan Nathan. Tetapi apa boleh buat? Jakob tidak bisa menampik fakta yang ada, Nathan memang bukan pria yang baik, tapi Nathan adalah pria yang tepat untuk membuat Davira tetap aman dan bahagia.
Lagi pula ini adalah keputusan yang di ambil oleh Davira, dia juga tidak mungkin membawa Davira kembali ke kehidupan yang tidak tentu arahnya.
"Aku akan sangat merindukanmu," Jakob mengusap kepala Davira kemudian melepaskan pelukannya karena melihat raut wajah Nathan yang mulai tidak bersahabat.
Davira tersenyum tipis, dia juga merasa berat berpisah dengan Jakob dan yang lainnya. Tapi dia tidak mungkin meninggalkan Nathan setelah semua yang terjadi, Nathan adalah pria yang mencintaimu dengan tulus tanpa adanya syarat, Davira tidak mungkin meninggalkan pria seperti itu di saat dia sudah pernah ditipu.
"Aku juga akan merindukan kalian, tolong tetap hubungi aku dimanapun kalian berada."
"Itu pasti, Davira. Kami juga akan mengunjungimu sesekali, kita masih bisa bertemu bukan?"
"Tentu saja, Liam. Aku akan menunggu kunjungan kalian," jawab Davira sembari menatap teman-temannya itu.
"Arghh.....akan ada yang kurang, kau melakukan pekerjaanmu dengan baik selama ini. Kami harus membiasakan diri tanpamu," Luca menghela nafas panjang.
"Kalian akan tetap di sini?" tanya Fedrix merasa penasaran.
Nathan menggelengkan kepalanya, "Tidak mungkin kami terus-menerus tinggal di mansion Carlos. Kami akan pergi ke suatu tempat nantinya."
Davira mengernyit mendengarnya, pasalnya Nathan tidak membicarakan tentang hal itu kepadanya sebelumnya.
"Ke mana kalian akan pergi?"
"Aku tidak bisa memberitahu kalian, Mario. Karena aku juga belum memikirkan tempat yang pasti."
"Ke manapun kalian pergi, ku harap kau selalu melindungi Davira, Nathan."
"Itu pasti, Jakob. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan."
Jakob menghela nafas panjang kemudian memasukkan kopernya ke dalam mobil, Carlos memberi beberapa lembar pakaian untuk mereka bawa.
"Kalian akan pergi sekarang?" tanya Davira yang mana langsung mendapat anggukan dari Dex.
"Sampai jumpa, Davira," Dex mengacak-acak rambut Davira sembari terkekeh kecil.
Nathan berdehem singkat, "Jika membutuhkan bantuan atau semacamnya, kalian bisa menghubungiku. Aku akan membantu, harus ku akui, kalian sudah menyelamatkan nyawaku walaupun atas dasar permintaan Davira."
"Tentu saja kau orang pertama yang akan ku hubungi jika aku membutuhkan bantuan, karena kau harus membalas budi kepada kami," sahut Jakob kemudian masuk ke dalam mobilnya.
"Cepat Fedrix, kau yang menyetir."
__ADS_1
"Sampai jumpa cantik," Fedrix buru-buru menyusul Jakob dan segera duduk di balik kemudi.
"Berhati-hatilah saat melakukan pekerjaan, kalian selalu saja menempatkan diri dalam bahaya."
Liam tersenyum kecil mendengar pesan Davira.
"Itu adalah hidup kami, Davira. Begitulah cara kami menjalani hidup," Liam dan Luca memeluk Davira singkat.
Mereka semua segera mengemudikan mobil masing-masing meninggalkan pekarangan mansion Carlos.
Davira menatap kepergian mereka dengan hati yang berat, ia merasa bahwa pertemanannya dengan mereka berlima adalah sesuatu yang berharga.
"Ada apa Davira? Kau merasa sedih?" tanya Nathan sembari memegang kedua pundak Davira dan menatap netra indah wanita itu.
"Ya, untuk pertama kalinya aku memiliki teman. Tapi sayangnya aku harus berjauhan dengan mereka."
"Apa boleh buat? Jakob menolak bekerjasama denganku."
Davira menghela nafas panjang, "Dia tidak suka diperintah, Jakob itu pemimpin di timnya. Tidak mungkin jika dia bekerjasama denganmu dan menjadi bawahanmu."
"Maka dari itu jangan merasa sedih, lagi pula kalian tidak berpisah untuk selamanya. Aku berjanji kau bisa bertemu dengan mereka kapanpun kau mau," ucap Nathan membuat Davira mengernyit heran.
"Kau serius? Ada apa denganmu? Kau..... sedikit berbeda," Davira menatapnya tidak percaya.
"Ke mana kita akan pergi setelah ini?"
"Ke mana kau ingin kita pergi?" tanya Nathan membuat Davira tertegun untuk sejenak.
"Roma."
Jawaban Davira tentu saja membuat Nathan menggelengkan kepalanya.
"Kenapa Roma? Pilih tempat lainnya, Davira. Kita tidak akan ke Roma."
"Kenapa tidak? Kau akan terus-menerus membawaku lari dari keluargamu seolah aku benar-benar pembunuh nenekmu? Aku lelah jika harus terus melarikan diri, berpindah tempat seperti orang yang memang melakukan kesalahan."
"Kau memang bukan pelakunya, Davira. Tapi kau harus menghindar dari keluargaku untuk sementara waktu, aku tidak ingin kau terluka, kau harus berada di tempat yang aman sebelum aku menemukan bukti tentang siapa pelaku yang sebenarnya. Kali ini dengarkan aku Davira, aku akan menyelesaikan ini semua dan membuat keluargaku menangkap pelaku yang sebenarnya."
Nathan menangkup wajah Davira, keduanya saling bertatapan dengan mata yang menyiratkan perasaan terhadap satu sama lain.
"Apa ada seseorang yang kau curigai? Pelayan, keluarga, hanya mereka yang ada di dalam acara pertemuan itu. Apakah tidak ada satupun yang kau curigai, Nathan?"
__ADS_1
"Aku tidak bisa mengatakannya kepada siapapun sebelum aku menemukan buktinya, jadi bersabarlah. Besok pagi aku akan kembali ke Roma, kau akan tetap berada di sini, tunggu aku sampai kembali."
"Apa yang akan kau lakukan di sana?" tanya Davira penasaran.
"Bertemu ayahku dan bertemu dengan Aaron, aku harus membuat mereka berhenti mengejarmu."
"Itu bukan ide yang bagus, Nathan. Aku tahu yang akan kau temui itu adalah ayah dan juga sepupumu, tapi apakah tidak akan berbahaya? Setelah semua yang terjadi, setelah kau dan Aaron yang berusaha untuk saling membunuh, kau masih akan bertemu dengannya?"
"Aku harus menemuinya, Davira. Aku akan baik-baik saja, aku ingin masalah ini segera selesai agar kau bisa aman dari ancaman keluargaku."
Nathan mengusap pipi Davira kemudian mengecup dahi wanita itu. Davira hanya diam di tempatnya dengan perasaan yang tidak karuan.
"Aku ingin mengajakmu ke pantai, aku ingin menghabiskan waktu bersamamu hari ini," ucap Nathan sembari menggenggam tangan Davira.
Davira tersenyum mendengarnya kemudian menganggukkan kepala.
π_π
Senyuman cerah pada akhirnya terlihat di wajah cantik Davira saat mobil yang dikemudikan oleh Nathan berhenti di pantai yang terlihat begitu sunyi dan juga indah.
Davira segera turun dari mobil dan bergandengan dengan Nathan menuju ke tepi pantai. Nathan terus memandangi wajah Davira, wanita itu terlihat begitu cantik dengan rambut panjangnya yang berkibar kesana-kemari tertiup oleh angin pantai yang berhembus kencang.
"Come on baby," Nathan berjongkok di depan Davira membuat wanita itu segera naik ke punggungnya.
Davira terkekeh saat Nathan mengangkatnya dengan begitu mudah.
"Aku belum pernah ke sini sebelumnya," gumam Davira merasa sangat senang Nathan membawanya ke pantai yang begitu indah.
"Aku akan membawamu ke tempat-tempat yang belum pernah kau kunjungi sebelumnya, kita akan terus bepergian, melihat dunia bersama-sama."
Davira mengusap rambut Nathan kemudian mengecup pundak pria itu.
"Aku ingin sekali melakukannya, kau harus benar-benar mengajakku kemanapun kau pergi, Nathan."
"Aku berjanji, setelah semuanya selesai aku akan selalu membawamu bersamaku."
Davira meletakkan dagunya di pundak Nathan, pria itu kini membawanya hingga ke bibir pantai. Sesekali ombak menerjang kakinya, Nathan merasa senang karena berhasil membuat Davira tersenyum hari ini.
"Nathan," panggil Davira membuat Nathan menoleh ke samping.
Wajah keduanya kini berjarak begitu dekat hingga mereka bisa merasakan hembusan nafas satu sama lainnya.
__ADS_1
Davira tersenyum kecil kemudian mengecup singkat bibir Nathan lalu menempelkan dahi mereka.
"Aku akan selalu bersamamu."